Chapter 04
Dia dianggap tidak kompeten sebagai pemimpin oleh atasan, dan salah langkah bisa berakibat pada pemecatannya. Karena dia bingung dan sulit mengambil keputusan, pembesar itu berkata dengan gemetar.
"Baik, baiklah... Aku akan menemui Cu-wangwe dan meminta Kwee Han ke sini. Sekarang, tolong kawan-kawanmu pergi dulu." "Mana bisa?" Kwee Han mengejek. "Justru mereka ingin melihat kau membuktikan omonganmu, taijin, dan juga sumpah jabatanmu bahwa kau di sini membantu rakyat, bukan sebaliknya!" Pembesar ini menjadi serba salah.
"Jadi, bagaimana?" Lie-taijin pucat. "Kau panggil hartawan itu, atau kita bersama dan beramai-ramai mengambilnya!" "Ah, tidak, jangan begitu. Hartawan itu akan tersinggung." Lie-taijin yang menyuruh pembantunya memanggil Cu-wangwe, lalu menunggu dan gemetar di tengah kerumunan kaum nelayan yang tak sabar.
Beberapa di antaranya bahkan siap mengetok kepala pembesar itu. Lie-taijin dianggap antek dan sahabat Cu-wangwe. Dan ketika utusan kembali dan menyatakan Cu-wangwe tidak ada di rumahnya, pembesar ini lega sekaligus khawatir.
"Nah, aku telah berusaha. Kwee Han, bagaimana kalau besok kita ulangi? Aku berjanji memanggil hartawan itu, kalian akan kutemukan dan mendengar maafnya." "Kalau tidak?" "Aku yang akan minta maaf pada kalian!" "Hm, enaknya," Kwee Han mendengus. "Tadi kau mau menangkap dan sewenang-wenang kepadaku, taijin. Kalau tak ada teman-temanku ini, tentu kau akan memukulku dan entah apa lagi."
"Baiklah, karena kau sudah berjanji, besok biarlah kita bertemu lagi. Kuharap hartawan itu mau meminta maaf atau kami akan meluruk ke rumahnya, menghajarnya." "Tidak, jangan, Kwee Han. Ini wilayahku, ini daerahku. Aku bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan setiap wargaku. Aku berjanji akan bertemu kalian besok bersama Cu-wangwe."
Kwee Han membubarkan teman-temannya. Kemarahan kaum nelayan dapat diatasi. Kwee Han memang pemimpinnya, dan para nelayan patuh. Janji Lie-taijin dipegang. Dan ketika Kwee Han pergi, Lie-taijin bingung oleh masalah yang gawat ini, maka buru-buru dia mencari hartawan dan ketemu, tentu saja tahu kira-kira hartawan itu bersembunyi.
Mereka bersahabat dan tahu sama tahu, utusannya tadi berpura-pura, dan tentu saja Lie-taijin harus menyelamatkan hartawan itu. Secara cerdik dan licik, dia melindungi hartawan ini. Dan ketika mereka bertemu, Lie-taijin meminta pendapat, wajah Cu-wangwe menyemprotinya.
"Taijin, kau kurang berwibawa. Kalau aku melaporkan ini pada kakak misanku, menteri Khek, tentu kau dipecat! Mana itu bantuanmu kepadaku? Mana itu kekuasaanmu yang tak berdaya menghadapi nelayan-nelayan hina? Apakah kau minta aku melapor ke saudaraku di istana, agar kau diganti?" "Ah-ah, sabar dulu... nanti dulu!" Pembesar ini gugup.
"Aku telah menyelamatkanmu, Wangwe. Aku telah melindungimu! Siapa bilang aku tak memberi bantuan padamu. Kalau utusanku benar-benar menemuimu, tentu kau sudah dihadapkan nelayan-nelayan itu, Wangwe, dan kita berdua tentu celaka!" "Hmm, sekarang apa maumu? Kenapa kau ke sini?" Mata hartawan itu bersinar-sinar, marah.
"Aku datang untuk meminta pendapatmu, Wangwe. Bagaimana sebaiknya menghadapi Kwee Han dan kawan-kawannya itu?" "Aku benci mereka." "Aku juga. Aku minta agar bocah she Kwee itu disingkirkan. Bunuh atau tangkap dia!" "Tapi teman-temannya melindungi, urusan ini terlanjur menjadi urusan terbuka. Mana mungkin aku melakukan itu? Tidak, ini berbahaya, Wangwe. Mereka tentu tahu kalau Kwee Han ditangkap atau dibunuh. Mereka bisa mengamuk dan kita semua menjadi sasaran!"
"Lalu apakah aku harus dihadapkan mereka, Kau menghendaki tikus-tikus busuk itu merajam dan menghukum aku?" "Tidak, tidak... bukan begitu. Tapi aku ingin agar semuanya berjalan baik dan aku mau pun kau selamat. Mereka memang menghendaki kau ke sana, Wangwe, meminta maaf dan merobah cara mu selama ini. Bocah she Kwee itu menekan aku agar dapat membawamu besok pagi!" "Lalu apa jawabmu?" "Aku mengiyakan, aku... berjanji untuk membawamu ke sana?" "Kau berani bicara bodoh! Kau pembesar tengik, taijin. Kalau aku melapor ini pada kakak misanku, tentu kedudukanmu sudah dicopot! Ku mengiyakan mereka perlu di depan mereka?"
Lie-taijin terbelalak, harga dirinya sebagai pembesar benar-benar terinjak-injak. "Kau dengarkan kata-katuku dulu, Wangwe. Aku menipu dan sengaja menjebak mereka. Aku sebenarnya bohong kalau menyatakan akan membawamu ke sana!" "Hm, apa ini? Apa maksudmu?" "Begini, Wangwe," pembesar itu berkeringat. "Aku sesungguhnya tak bermaksud membawamu ke sana dalam arti yang benar. Aku membohongi mereka, aku menipu mereka. Tapi karena aku telah berjanji dan tentu saja harus menyelamatkan diriku pula, maka kita atur bagaimana baiknya agar mereka tak memburu-buru lagi dan kau pun selamat. Aku ingin minta pendapatmu bagaimana sebaiknya urusan ini diselesaikan. Bagaimana supaya mereka reda dan kita semua aman?"
"Kalau aku, sebaiknya pemuda she Kwee itu ditangkap dan diburu dengan alasan memberontak dan membalas." "Berbahaya, Wangwe. Buruh nelayan tentu jadi bagaimana maumu?" Hartawan ini mengerutkan kening. "Bukankah kau minta pendapatku?" "Benar, tapi yang kuminta adalah kedua pihak sama-sama tak dirugikan, Wangwe. Karena kalau caramu itu dilaksanakan, tentu Ming-ciang akan menjadi gempar dan nelayan-nelayan itu mengamuk. Aku kurang sependapat. Bagaimana kalau, hm... maaf, kau pergi saja dari sini, Wangwe, pindah dan berusaha di lain tempat?" "Kau mengusirku?" "Maaf, bukan begitu, Wangwe. Tapi demi semata keselamatan kita bersama." "Tidak, aku tak sudi! Itu sama dengan memenangkan nelayan-nelayan busuk itu. Heh, kau mulai melantur tak keruan, taijin. Kalau kau tak dapat membereskan ini, biarlah aku meminta bantuan saudaraku, dan kau saja yang pindah!"
Lie-taijin pucat. Pembesar ini memang berada di persimpangan jalan yang rumit. Cu-wangwe lalu mengata-ngatainya dengan kata-kata tak pantas lagi, bahwa dia tak mau pergi dan justru pembesar itulah yang pergi. Cu-wangwe telah merasa sebagai raja di situ. Dan karena tak ada kesepakatan di antara mereka, sementara Cu-wangwe bersikap mau menangnya sendiri saja, akhirnya waktu pun habis dan hari itu Lie-taijin cuma-cuma mengeluarkan omongan, tak dapat membujuk, dan bahkan didamprat.
Kini hartawan itu terang-terangan menyatakan akan "memecat" pembesar itu melalui saudaranya yang berpengaruh, menteri Khek. Dan karena hartawan ini memang mempunyai "backing" dan backing itu juga tidak main-main, akhirnya dengan gemetar dan bingung serta tak keruan, pembesar ini bangkit berdiri.
"Wangwe," begitu katanya memelas. "Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, tapi aku telah berusaha sekuat tenagaku. Kalau kau berkeras dengan tekadmu dan tak mau pergi, maka besok Kwee Han dan teman-temannya itu akan datang ke sini dan menyeretmu dengan paksa. Aku tak berdaya, terserah kau mau bikin apa." Cu-wangwe terkejut. "Bukankah kau memiliki pengawal?" "Ya, dan kau juga memiliki tukang pukul, Wangwe. Tapi apa artinya dibanding ratusan buruh nelayan yang ada di sini? Bukankah Ming-ciang dipenuhi buruh-buruh nelayan? Kau telah menetapkan keputusanmu, Wangwe, dan aku tak dapat berbuat apa-apa. Maaf..."
Pembesar itu pergi, lunglai dan cemas karena besok pagi nelayan tentu menuntut. Benar saja, keesokannya, Kwee Han dan teman-temannya itu datang. Jumlahnya semakin banyak karena anak isteri mereka pun ikut. Bukan main. Ini benar-benar gerakan massal dari rakyat kecil yang ingin menyatakan ketidakpuasannya.
Dan ketika pembesar itu menyatakan kegagalannya dan minta maaf atas nama pribadi, maka teriakan marah dan riuh terdengar di sana-sini. "Tentu dia telah melindungi hartawan itu, agar percaya dan mengelabuhi kami!" "Pembesar ini bohong, Lie-taijin berkomplot. Semalam." "Benar, kau dusta, taijin. Kau tak dapat dipercaya." "Seret saja hartawan itu, bekuk bersama."
Dan ketika teriakan dan suara ramai mencaci dan tak mempercayai pembesar itu, maka Lie-taijin beringsut dan minta pengawalnya melindungi, melihat kaum nelayan bergerak dan mau menyerangnya.