Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 05

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 05

Kwee Han mengangkat tangannya dan berseru tiba-tiba mengeluarkan suara lantang. "Kawan-kawan, tenang. Kemarin kita telah berjanji untuk tidak mengganggu Lie-taijin. Dia bukanlah musuh kita, musuh kita adalah Cu-wanggwe. Dan karena hartawan itu tak mau datang dan kita harus menghajarnya, maka marilah ke sana dan tangkap serta temui si penindas itu dan ikat hartawan itu!"

"Betul, kita ke sana, Kwee Hun. Tangkap dia!" "Ya, dan bakar pula gedungnya kalau tak ada di rumah. Jangan-jangan dia bersembunyi dan sudah melarikan diri!" Begitulah, Kwee Han mengangguk. Gerakan ini terlanjur menjadi "perang terbuka". Da sendiri telah merasakan kesewenang-wenangan hartawan itu dengan coba mempengaruhi Lie-taijin untuk menangkap dan mungkin membunuhnya.

Hartawan itu patut dihajar dan diberi pelajaran, kesombongan dan kesewenangan hartawan itu perlu disambut keras. Dan karena Lie-taijin gagal membawa hartawan itu dan Kwee Han minta teman-temannya untuk mendatangi dan menangkap hartawan itu sendiri, akhirnya jadilah gerakan kaum buruh ini menjadi gerakan ganas yang siap membekuk hartawan itu.

Sakit hati dan kebencian yang sudah lama dipendam-pendam bangkit. "Demonstran" ini ada sebabnya kau pejuang. Begitu semangat dan penuh keberanian mereka. Kwee Han telah membangkitkan semangat mereka. Dan ketika mereka bergerak dan meninggalkan gedung itu menuju ke tempat hartawan She Cu, maka di tengah jalan, sambil bersorak dan mengeluarkan teriakan gaduh, mereka berhasil menarik orang-orang yang simpatik terhadap gerakan ini, nimbrung, dan jumlah mereka semakin banyak.

Hal ini menggegerkan Ming-ciang. Mereka bergerak ke rumah Cu-wangwe. Tapi ketika mereka tiba di sana dan Cu-wangwe siap diseret, ternyata puluhan tukang pukul menyambut, menghalang-halangi. Tak ayal, kerusuhan terjadi lagi. Gerakan massa yang sudah emosi ini langsung meluruk. Ratusan buruh nelayan menghambur dan melempar tukang-tukang pukul itu, menyerbu.

Datang pengawal kota yang coba memadamkan kerusuhan itu, disambut, dan bahkan dicaci-maki kaum nelayan. Terjadilah perkelahian, dan terjadilah semacam perang kecil. Dan karena jumlah mereka kalah banyak dan kaum nelayan menjadi beringas dan bersorak menyerbu, maka perkelahian tak imbang terjadi. Lie-taijin diam-diam menyuruh orang-orangnya bergerak, tak mampu, akhirnya kalah.

Dengan pekik dan sorak seakan perajurit menang perang, mereka mencari hartawan itu, mengobrak-abrik rumahnya, rusak, dan hancur oleh kemarahan buruh nelayan ini. Dan ketika Cu-wangwe tak diketemukan dan hartawan itu rupanya sudah melarikan diri, maka rumah atau tempat tinggal hartawan itu dibakar. "Bakar rumahnya! Hancurkan segala isinya!" Kekejaman kasar dampak di sini. Buruh nelayan itu tak dapat dicegah lagi menumpahkan segala kemarahannya kepada rumah Cu-wangwe.

Apa yang tampak disambar dan dibakar, meja kursi dibanting. Dan ketika tak lama kemudian api telah berkobar di tempat itu, maka jago merah mengamuk dan ganti melaksanakan tugasnya menggantikan amukan buruh nelayan itu. Kwee Han bersinar-sinar. Dia sengaja membiarkan teman-temannya bertindak brutal, emosi, dan hawa amarah memang perlu disalurkan saat itu. Juga untuk memberi pelajaran bagi juragan-juragan kaya yang lain agar mereka tak sewenang-wenang.

Dan ketika hari itu rumah Cu-wangwe dibakar dan segala isinya dirusak binasakan, maka Ming-ciang yang biasanya tenang dan aman mendadak menjadi kota rusuh yang tidak bersahabat. Nama Kwee Han mencuat tinggi. Pemuda itu adalah pemimpin kerusuhan. Kaum nelayan benar-benar mendukung dan berdiri di belakang pemuda ini.

Dan ketika seminggu kemudian rumah Cu-wangwe rata dengan tanah dan hartawan itu ternyata melarikan diri ke kota raja, maka sepasukan baju hitam datang ke kota sungai itu, menghadap Lie-taijin, dan entah apa yang dibicarakan. Orang tak tahu karena pembicaraan berlangsung dalam pintu tertutup, mungkin percakapan rahasia di sana.

Dan ketika seminggu ini berjalan dengan tegang dan Kwee Han tetap di tengah-tengah kerumunan teman-temennya, maka orang mendengar Lie-taijin dicambuk dan ke kedudukan Lie-taijin didepak, orang tak tahu beritanya diganti orang lain, pembesar Liem. Entah kenapa pembesar itu diganti. Namun setelah suasana agak tenang, tiba-tiba Kwee Han dipanggil, disuruh menghadap pembesar baru ini.

"Kami ingin meminta pertanggung jawaban pemuda itu. Suruh dia ke mari." Kwee Han dicari, dilindungi teman-temannya, dan tentu saja pemuda itu tak dibiarkan sendiri menghadap si pembesar baru. Di sana Kwee Han dicecar, istilah halusnya diarabkan. Dan ketika Liem-taijin, pembesar baru itu, meminta pertanggungjawaban Kwee Han, maka pemuda ini membalas.

"Pertanggungjawaban apa, taijin? Yang memulai semua ini bukanlah aku, melainkan hartawan She Cu itu. Kalau kau mau meminta pertanggungjawaban, maka hartawan itulah yang kau tuntut, bukan aku!" "Tapi kau telah membuat onar, teman-temanmu membakar dan merusakkan rumah hartawan itu," "Benar, karena hartawan ini telah menyakiti kami, taijin. Kalau tak ada kebencian atau kemarahan di hati kami, tentu kami semua tak akan melakukannya."

"Jadi kau mau lepas tanggung jawab?" "Taijin," Kwee Han menjadi marah. "Kau bukanlah hakim di sini. Kau hanya kepala daerah. Kalau kau ingin menghakim dan memeriksa aku, maka hartawan She Cu itu juga harus kau ajukan dan tuntut di sini. Aku mau diadili asal Cu-wangwe itu pun kau adili, boleh kau mengadu kami dan lihat siapa yang benar, siapa yang salah."

"Tapi kau dan teman-temanmu main hakim sendiri!" "Siapa bilang?" Kwee Han memotong. "Yang main hakim adalah Cu-wangwe dan teman-temannya itu, taijin. Dia mencekik dan membuat kelaparan seluruh nelayan di sini. Kalau dia mau datang baik-baik dan menemui kami, tentu semuanya itu tak bakal terjadi. Cu-wangwe mengandalkan kekayaannya. Dia sewenang-wenang dan semena-mena terhadap rakyat kecil, tentu rakyat pun tak akan mengganggunya, dan kami dapat hidup dengan pantas!"

Liem-taijin, pembesar baru itu, melotot. Sebagai orang yang baru ditugaskan atasan dan duduk di situ, tentu saja dia ingin membuat sesuatu. Artinya, ingin berbuat sesuatu agar konduitenya naik, dengan begitu dia mendapat nama dan penghargaan. Tapi melihat ketegaran Kwee Han dan kawan-kawannya yang ada di belakang, tampak melindungi dan siap bergerak kalau dia mengganggu pemuda itu, akhirnya pembesar ini, yang tentu saja telah mendengar semua masalah dan coba menyudutkan Kwee Han, tiba-tiba membelokkan percakapan.

"Baik, kami akan menuntut Cu-wangwe pula, Kwee Han. Tapi sekarang coba sebutkan kenapa kau membabat hutan dan menyuruh teman-temanmu memiliki tanah itu. Kau melanggar undang-undang, hutan dan seisinya itu adalah milik kaisar. Kau dan teman-temanmu dapat dijatuhi tuduhan merampok." "Hm," Kwee Han terkejut. "Kami melakukan itu semua demi menyelamatkan diri sendiri, taijin. Kalau kami tidak membabat hutan dan bertani, tentu kami kelaparan karena kami tak dihidupi lagi oleh Cu-wangwe sebagai nelayan."

"Tapi kau tak meminta izin. Kau membabat hutan seenak perutmu sendiri!" "Baiklah, kalau begitu taijin dapat memberi pengganti!" Pembesar ini melengak. "Pengganti apa?" "Berikan kehidupan yang lain pada teman-temanku ini, taijin. Dan hutan itu akan kami kembalikan!" "Keparat!" Pembesar ini marah-marah. "Kehidupan kalian adalah masalah kalian sendiri, Kwee Han. Aku tak ada sangkut pautnya dengan itu!"

"Kalau begitu apa hubungannya taijin di sini? Bukankah kau kepala daerah yang ingin memimpin dan mengurus rakyatmu? Kalau kau bilang itu urusan kami sendiri, maka kedudukan dan keberadaan di sini percuma, taijin. Kau bukan kepala daerah yang baik karena membiarkan dan acuh saja terhadap masalah kehidupan rakyatmu!" Pembesar ini terbelalak. Kwee Han lalu menyerangnya dengan kata-kata gencar lagi, bahwa sebagai "bapak" yang baik, tak seharusnya pembesar itu bicara seperti itu.

Nasib atau kehidupan rakyat di situ haruslah menjadi pikirannya, meskipun tak sepenuhnya. Tak bisa pembesar itu mengacuhkan penduduk Ming-ciang dalam kedudukannya sebagai kepala daerah. Kwee Han memberi contoh dirinya sendiri, lihat dia itu, betapa ia berusaha dan berjuang memberi makan minum teman-temannya. Pembesar ini tersudut dan tak dapat menjawab.

Dan ketika Kwee Han membuat pembesar itu marah dan naik pitam, tiba-tiba Liem-taijin mengusir pemuda ini dan mengancam hukuman berat, bahwa bagaimanapun Kwee Han tak dapat lepas dari tanggung jawab. Semua kegeran dan kekacauan di kota itu itu Kwee Hanlah biang keladinya. Kini Liem-taijin menitikberatkan persoalan pada masalah pembabatan hutan, licik pembesar itu, dengan begitu Cu-wangwe jadi tak disebut-sebut, dan Kwee Han dipojokkan, dan nama kaisar dibawa-bawa, dan Kwee Han tentu saja repot.

Dia lupa bahwa pada masa itu negara dan seisinya adalah milik kaisar. Tanpa kaisar, rakyat menjadi tak berguna, ituah kealpaan Kwee Han. Dan ketika Kwee Han dipojokkan dan masalah Cu-wangwe digeser menjadi masalah "perampokan" hutan, maka Kwee Han akhirnya ditangkap dan berurusan dengan pemerintahan pusat, kota raja, beberapa hari kemudian!

"Kami sekarang bukan bicara masalah Cu Wangwe. Masalah itu akan diselesaikan di lain kesempatan. Kami datang untuk membicarakan masalah hutan; bahwa Kwee Han telah mengajak teman-temannya merampok milik kaisar, dan biar kepada kaisar pemuda itu kami hadapkan. Kalian kaum nelayan tunggu di sini dan jangan melawan!" Buruh kecil itu tertegun. Disebut-sebutnya nama kaisar membuat mereka gentar, pengaruh dan kewibawaan kaisar memang hebat.

Rakyat kecil akan dianggap pemberontak kalau berani melawan kaisar. Terpaksa, mereka membiarkan Kwee Han dibawa ke kota raja karena Kwee Han dituduh merampok hutan. Ini tuduhan berat, hutan dan seisinya adalah milik kaisar. Dan ketika Kwee Han coba bertanya bagaimana nasib teman-temannya kalau hutan yang sudah dibabat itu tak boleh dikerjakan lagi, maka Liem-taijin menjawab.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment