Chapter 06
Aku memenuhi tuntutanmu, aku memikirkan nasib mereka. Mereka akan kukekerjakan seperti dulu dan menangkap ikan lagi.
Tapi tak ada Cu-wangwe. Pemilik perahu yang lain telah kuajak bicara, Kwee Han. Mereka sanggup dan mau menampung teman-temanmu ini. Mereka akan menambah perahu dan teman-temanmu dapat bekerja lagi! Dengan bagi hasil macam apa? Separuh? Separuh, Kwee Han, sesuai kembali seperti dulu! Kwee Han tertegun.
Liem taijin telah berseru pada nelayan-nelayan yang ada di situ bahwa mereka dapat bekerja lagi, bahwa mulai detik itu para pemilik perahu akan menampung dan mempekerjakan mereka. Pembagian kembali adil, satu banding satu. Para nelayan tentu saja bersorak dan gembira. Itu rejeki mereka!
Kwee Han tiba-tiba saja terlupa dan kegembiraan meluap membuat para nelayan ini lupa diri. Pemilik perahu berkata bahwa biang keladi kini tak ada, Cu-wangwe telah pergi dan kini juragan perahu itu tak perlu lagi bersaing harga seperti dulu, ketika Cu-Wangwe ada. Dan karena janji serta ajakan itu memang manis memikat dan kaum buruh, yang sebagian besar berpikiran sederhana dan mendekat bodoh itu menerima, maka Kwee Han dibawa ke kota raja dan hanya satu dua saja yang mengkhawatirkan nasib pemuda itu.
Sudahlah, kalian sudah mendapatkan perbaikan nasib. Aku gembira dan ikut senang. Tak perlu kalian cemas dan biar aku mempertanggungjawabkan perbuatanku di muka kaisar. Kwee Han berangkat. Liem taijin cerdik dan licin, dia rupanya memang lebih "siluman" ketimbang pendahulunya. Pengikut Kwee Han berhasil direbut simpatinya dengan janji dan kata-kata manis.
Sementara itu, memang pemilik perahu menerima ratusan nelayan ini dengan pekerjaan baru, pembagian dibual satu bagi satu, jadi seperti dulu. Mula-mula memang berjalan lancar dan menggembirakan, tapi ketika Kwee Han tak kembali dan para pemilik perahu diam-diam mengadakan kasak-kusuk, maka beberapa bulan kemudian, di saat iblis dan siluman menyatakan ketidakpuasannya, maka ganti pemilik perahu yang berkoar.
Sialan, keuntunganku menipis! Dulu waktu satu dibanding sepuluh aku bisa bersenang-senang dengan sebelas selir. Tapi setelah sekarang perbandingan menjadi sam, dan kebutuhan selirku tak dapat kupenuhi, semuanya tiba-tiba empat di antara mereka minggat dan lari entah ke mana. Benar, aku juga begitu, Cit-wangwe. Dulu aku mampu setiap minggu pulang balk ke kota raja menikmati hiburan-hiburan mahal. Sekarang sebulan sekali belum tentu dan cukup dengan hiburan biasa di rumah Ang-hwa! Ang-hwa, sebuah rumah pelacuran menjadi pembicaraan. Juragan-juragan perahu yang hari itu berkumpul mulai membicarakan penghasilan mereka yang merosot tajam, tentu saja begitu karena diukur atau dibandingkan dengan pembagian seperti dulu, waktu satu banding sepuluh.
Lupa mereka itu bahwa perbandingan yang menyolok itu justeru membuat buruh nelayan mogok dan akhirnya terjadi geger dan sebulan dua bulan mereka tak bekerja, perahu-perahu menjadi nganggur dan juragan-juragan ini gigit jari. Mereka tak memikirkan itu dan kini membicarakan kesenangannya sendiri dan enaknya sendiri.
Dan ketika yang lain-lain juga menyokong dan mendukung pendapatnya itu bahwa pendapatan mereka jatuh merosot dan banyak di antaranya yang kehilangan selir atau kesenangan-kesenangan lain yang sifatnya amat individualistis, maka beberapa hari kemudian, setelah Kwee Han tak ada di situ, bagi hasil pun mulai "diprmainkan", ulah dari setan atau iblis yang tamak akan harta.
Kami tak dapat bekerja lagi. Keuntungan merosot tajam, bagaimana kalau bagi hasil satu banding dua? Ah, kami tak dapat menerima, Wangwe. Anak istri kami tak dapat makan dan tentu kelaparan. Tapi dulu satu banding sepuluh kalian mampu, masa sekarang satu banding dua tak bisa! Jadi bagaimana maksud Wangwe? Aku ingin mengembangkan usahaku, anak-anak yang baik. Dan bagi hasil harus dirobah atau aku tak menyewakan perahuku lagi dan biar aku berhenti bekerja.
Buruh nelayan terkejut. Kalau juragan sudah mengancam begitu, tentu saja mereka kalah. Sekarang suasananya lain, Kwee Han tak ada di situ lagi dan mereka tak dapat membabat hutan. Kalau juragan menghentikan sewa perahunya dan "mogok" tak menerima mereka, tentu mereka kelabakan. Buruh tak akan menang kalau "diadu" dengan juragan. Juragan bisa hidup beberapa bulan atau tahun dengan sisa kekayaannya, sementara mereka pasti mati "tercekik" saat itu juga.
Itulah kelemahan mereka. Dan karena kaum juragan ini sudah kompak dan juragan sini maupun juragan disana juga sama-sama meminta bagi hasil berubah, akhirnya, apa boleh buat, para nelayan, mereka orang kecil. Bagi hasil satu banding dua masih tak merugikan mereka, bahkan dulu satu banding sepuluh juga mereka masih dapat hidup, meskipun hidup dengan mawut, tentu saja.
Dan karena ancaman mogok majikan ini dan terjadi di serentak dan sungguh langka melihat kejadian macam ini, maka sebagaimana biasa, pihak yang lemah terpaksa mengalah dan mau menerima, bekerja dengan bagi hasil yang mulai berubah dan "keadilan" dulu itu ternyata hangat-hangat tahi ayam.
Apa yang dijanjikan Liem-taijin, sang kepala daerah baru, tak berjalan lama, mereka tak tahu bahwa itu sebenarnya memang sudah diatur jauh hari sebelumnya, yakni siasat yang disebut "mendinginkan ular memanaskan kepiting". Mendinginkan dulu kaum nelayan itu, baru kemudian "menggebuk" lagi setelah kuat.
Orang kecil tentu saja tak tahu permainan orang-orang pintar ini. Dan ketika ular yang dulu mengamuk itu sudah berhasil dijinakkan dan kini kepiting dipanaskan untuk menjepit atau menggigit mereka secara perlahan-lahan, maka tak lama kemudian, ketidakadilan seperti dulu muncul.
Kwee Han, si kuat, telah tak ada. Para juragan mulai main gila lagi. Mereka merubah lagi siasat bagi hasil: satu banding tiga, satu banding empat, dan akhirnya satu banding tujuh. Di sini keributan mulai terjadi. Para nelayan mau berontak, tapi Liem-taijin buru-buru menengahi.
Dengan sigap, pembesar itu mengumpulkan pemilik-pemilik perahu ini, dan ketika mereka bertemu dan langsung diadakan "rapat", maka pembesar ini berkata: Kita tak boleh menimbulkan kekacauan seperti dulu. Betapapun bagi hasil sekarang ini lebih dari cukup bagi kita. Karena itu, agar ketenteraman dan keamanan kota tetap berjalan baik, biarlah bagi hasil berhenti di sini dan jangan ditambah. Mereka toh akan tetap miskin, kita tetap dapat menguasai mereka dan tak perlu menciptakan kerusuhan baru. Lebih baik begini daripada satu banding sepuluh tapi mereka berhenti bekerja!
Begitulah, pembesar ini berhasil membri pengarahan. Ketamakan kaum majikan direm, semuanya sadar. Dan karena apa yang dikatakan pembesar itu benar dan mereka sudah jauh dari pada cukup menikmati harta dan kesenangan, maka sampai di sini bagi hasil tak dirobah lagi.
Kaum nelayan lega. Keputusan yang diambil pembesar itu dianggap sebagai kebijaksanaan atau pertolongan besar, tentu saja Liem-taijin mendapat pujian. Kepala daerah itu mendapat simpatik. Tak ada yang tabu bahwa sebenarnya, di balik "pertolongan" itu, Liem-taijin sebenarnya menyelamatkan diri sendiri, bukan buruh-buruh kecil itu.
Karena di balik layar, tanpa diketahui orang banyak, diam-diam pembesar ini juga memiliki seratus perahu yang di atas namakan juragan lain. Begitulah. Alhasil, pembesar ini menyelamatkan harta benda dan kedudukannya hingga atasan di kota raja pun dikelabuhi. Licin!
Bagaimana dengan Kwee Han? Ada kejutan. Waktu itu, ketika Kwee Han dibawa, pemuda ini langsung dihadapkan kaisar, begitu katanya. Tapi ketika pemuda itu tiba di kota raja dan para pengawal menurunkannya dari atas kuda, ternyata Kwee Han dibawa ke menteri Khek, dan di situ menteri itu sudah menunggu, berikut Cu-wangwe!
Nh, inilah, Jin-ko. Kwee Han yang kuceitakan itu. Si pengacau! Cu-wangwe menyambut, mendahului, marah, dan turun dari undak-undakan batu, dan Kwee Han terkejut. Dia memandang si pengawal yang sudah mundur, berhadapan dengan Cu-wangwe dan seorang laki-laki lain yang berpakaian gemerlapan, angkuh, dan tidak bersahabat, dan Kwee Han sudah melihat senyum yang dingin itu.
Perjumpaan yang tidak disangka. Dan ketika Cu-wangwe marah-marah dan laki-laki berpakaian gemerlapan itu sinis memandang Kwee Han, maka Kwee Han bertanya di mana sesungguhnya dia berada, terbelalak melihat adanya Cu-wangwe yang ada di situ, yang rumah serta segala isinya sudah dibakar.
Kau berada di gedung menteri Khek, ayo cepat beri hormat dan berlutut! Cu-wangwe membentak, memukul pemuda itu, namun Kwee Han menangkis. Dengan marah tak mau ia dihina, pengawal maju, dan kini pemuda itu ditodong tombak, Kwee Han dipaksa berlutut.
Dan ketika Khek-taijin, menteri itu, turun dari anak tangga dan mendengus melihat Kwee Han, keluarlah kata-katanya yang tidak ramah. Jadi kau yang bernama Kwee Han? Kau yang membakar dan merusak rumah saudaraku di Ming-ciang? Benar, tapi bukan aku yang melakukannya, taijin. Melainkan teman-temanku yang tidak puas atas sepak terjang hartawan ini.
Tutup mulutmu, kita selesaikan di dalam! Khek-taijin yang marah membentak pemuda itu, lalu memberi tanda, dan lima pengawal menyeret Kwee Han masuk, naik, dan akhirnya lenyap di gedung indah itu. Kwee Han tergetar, namun tidak takut, hebat pemuda ini.
Dan ketika dia di dalam dan lima pengawal siap "mempermaknya" sesuai kehendak majukan, maka di sini Khek-taijin menyuruh ikat pemuda itu. Tidak, aku tak bersalah. Aku tak mau diikat! Kwee Han memberontak, gagah, dan tegak di depan pembesar itu, dan Khek-taijin tertegun. Dia sebenarnya heran melihat betapa sedikit pun pemuda ini tak takut sejak bertemu pertama kalinya, dia terbelalak.
Tapi karena lima pengawal ada di situ dan Kwee Han tak mungkin lari, akhirnya menteri ini memulai pembicaraannya, sebuah tuntutan dingin. Bocah she Kwee, kau mengetahui kesalahanmu tidak? Kau siap mengaku dosa atau tidak? Apa yang kulakukan? Kwee Han menantang. Aku tak mengganggumu atau merugikanmu, taijin.