Chapter 07
Baru saja kita bertemu! "Benar, tapi kau menghancurkan hidup Cu Wangwe, kau mengobrak-abrik rumahnya dan membakar isinya. Apa yang mau kau katakan tentang ini?" "Hm," Kwee Han membusungkan dada. "Ada akibat tentu ada sebab, Taijin. Sebaiknya kau tanya dulu saudaramu itu kenapa semuanya itu terjadi. Dia sewenang-wenang terhadap buruhnya, menindas dan membuat mereka kelaparan. Dan karena tindakannya sudah di luar batas dan kami tak tahan, maka dia menerima hukuman dan rumahnya dibakar. Mungkin, kalau dia tidak melarikan diri, tentu tubuhnya yang dibakar, direbus hidup-hidup!"
Menteri itu marah. "Lancang! Kau orang kecil tak tahu adat, bocah She Kwee. Sudah memasuki mulut harimau masih juga pentang bacot, tahukah kau dengan siapa kau berhadapan? Tahukah kau hukuman apa yang bakal kau terima?" "Orang tak bersalah tak mungkin dihukum, Taijin. Aku tahu dengan siapa berhadapan tapi aku tidak takut!" Cu Wangwe menampar Kwee Han. "Kau kurang ajar, bocah She Kwee. Kau tak tahu adat dan minta dihukum. Baiklah, biar Khek Taijin meminta pengawal menguliti tubuhmu!"
Kwee Han bangkit berdiri, terhuyung menerima tamparan itu. "Siapa berani mengganggu diriku? Kau dan pengawal? Lihat, aku ingin tahu seberapa jauh kalian akan menggangguku, Wangwe. Lihat apa yang kubawa dan siapa yang berani kurang ajar...." Secercah sinar memancar, muncul dari tangan Kwee Han, dan Cu Wangwe serta pengawal tertegun. Mereka melihat sebuah cincin gemerlapan di tangan pemuda itu, cincin emas dengan mata berlian, mencorong dan berkilauan bagai bintang kejora.
Hebat benda itu, sekali lihat orang pasti akan tahu bahwa cincin ini bukanlah benda sembarang, jelas mahal dan merupakan mustika dunia. Cu Wangwe terbelalak dan melotot, kaget dan heran, melihat benda itu hanya sebagai benda, tapi Khek Taijin tiba-tiba berseru tertahan, mundur, dan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. Dan ketika Cu Wangwe dan lima pengawal tak mengerti apa yang dihawasi pemuda itu, maka Khek Taijin sudah gemetar dan berkata terbata-bata. "Kami tak tahu kau membawa benda ini. Hormat dan selamat datang untuk sahabat Sri Baginda...!"
Menteri itu membentak, menyuruh pengawalnya dan Cu Wangwe berlutut. "Cu Pa, mohon ampun kepada Kwee-kongcu!" Cu Wangwe terkejut, kaget melihat perubahan drastis itu, mendengar bentakan saudaranya dan kedipan penuh rahasia, tentu saja tersentak dan tak mengerti. Tapi karena kakaknya bersungguh-sungguh dengan muka yang pucat serta tubuh yang menggigil, jelas tidak main-main, akhirnya dengan gugup dan bingung, hartawan ini meminta ampun, tanpa mengerti ampunan untuk apa. "Kwee Han, ampunkan aku. Maaf.....!" Khek Taijin terkejut, tapi mengangguk dan buru-buru menghampiri adiknya, Cu Wangwe. Menteri ini berkata, "Pa-te, Kwee-kongcu masih ingin menghukummu. Ayo berlutut dan cium kakinya!"
Cu Wangwe, hartawan yang tak mengerti dan penasaran itu, pucat. Dibentak dan dihardik seperti ini, tiba-tiba dia tak berkutik, beringsut, dan mendekati Kwee Han. Dan ketika dia berlutut dan menggigil mencium kaki pemuda itu, maka Kwee Han menendang hartawan ini, tepat mengenai mukanya. "Enyahlah, aku muak melihat mukamu, Wangwe! Pergi dan jangan temui aku lagi...dukk!" Dagu hartawan itu terangkat, Cu Wangwe terlempar, dan Kwee Han telah membalas hinaannya.
Kwee Han tiba-tiba menjadi orang yang amat ditakuti di situ. Dan ketika pemuda ini menyuruh pergi dan hartawan itu beringsut bagai anjing melipat buntut, maka Khek Taijin tertawa dan sudah membawa pelayan yang berdatangan satu per satu, membawa makanan dan minuman, dan segera meja besar di situ penuh dengan aneka masakan lezat. Arak dan anggur tak lupa ketinggalan. Inilah jamuan besar-besaran bagi Kwee Han. Tapi ketika pelayan berseliweran dengan harum semerbak silih berganti meletakkan makanan dan minuman, ternyata Kwee Han menolak, bangkit berdiri. "Taijin, aku tak mau semuanya ini. Biarlah kau masukkan lagi, dan aku pulang."
Pembesar itu gugup. "Aku ingin menghargaimu, Kongcu, juga ingin meminta maaf, kenapa engkau buru-buru?" Kwee Han menjawab, "Tidak, aku ingin kembali, Taiji. Aku tak merasa lapar ataupun haus." Pembesar itu terbata. "Apakah Kongcu tak kasihan pada mereka dan membiarkan segala hidangan ini tak tersentuh? Ah, jangan, Kongcu. Demi mereka dan ucapan maafku, biarlah Kongcu duduk dulu dan cicipi ini. Aku akan melayani." Kwee Han tersenyum, tiba-tiba tertawa. "Aku sebenarnya ingin menghajarmu pula, Taijin. Tapi karena kau belum membuat kesalahan berarti, biarlah aku ampuni dirimu, tapi suruh adikmu itu mencium kakiku!"
Khek Taijin terkejut, tapi mengangguk dan buru-buru menghampiri adiknya, Cu Wangwe. Menteri ini berkata, "Pa-te, Kwee-kongcu masih ingin menghukummu. Ayo berlutut dan cium kakinya!" Cu Wangwe, hartawan yang tak mengerti dan penasaran itu, pucat. Dibentak dan dihardik seperti ini, tiba-tiba dia tak berkutik, beringsut, dan mendekati Kwee Han. Dan ketika dia berlutut dan menggigil mencium kaki pemuda itu, maka Kwee Han menendang hartawan ini, tepat mengenai mukanya. "Enyahlah, aku muak melihat mukamu, Wangwe! Pergi dan jangan temui aku lagi...dukk!" Dagu hartawan itu terangkat, Cu Wangwe terlempar, dan Kwee Han telah membalas hinaannya.
Kwee Han tiba-tiba menjadi orang yang amat ditakuti di situ. Dan ketika pemuda ini menyuruh pergi dan hartawan itu beringsut bagai anjing melipat buntut, maka Khek Taijin tertawa dan sudah membawa pelayan yang berdatangan satu per satu, membawa makanan dan minuman, dan segera meja besar di situ penuh dengan aneka masakan lezat. Arak dan anggur tak lupa ketinggalan. Inilah jamuan besar-besaran bagi Kwee Han. Tapi ketika pelayan berseliweran dengan harum semerbak silih berganti meletakkan makanan dan minuman, ternyata Kwee Han menolak, bangkit berdiri. "Taijin, aku tak mau semuanya ini. Biarlah kau masukkan lagi, dan aku pulang."
Pembesar itu gugup. "Aku ingin menghargaimu, Kongcu, juga ingin meminta maaf, kenapa engkau buru-buru?" Kwee Han menjawab, "Tidak, aku ingin kembali, Taiji. Aku tak merasa lapar ataupun haus." Pembesar itu terbata. "Apakah Kongcu tak kasihan pada mereka dan membiarkan segala hidangan ini tak tersentuh? Ah, jangan, Kongcu. Demi mereka dan ucapan maafku, biarlah Kongcu duduk dulu dan cicipi ini. Aku akan melayani." Kwee Han tersenyum, tiba-tiba tertawa. "Aku sebenarnya ingin menghajarmu pula, Taijin. Tapi karena kau belum membuat kesalahan berarti, biarlah aku ampuni dirimu, tapi suruh adikmu itu mencium kakiku!"
Khek Taijin terkejut, tapi mengangguk dan buru-buru menghampiri adiknya, Cu Wangwe. Menteri ini berkata, "Pa-te, Kwee-kongcu masih ingin menghukummu. Ayo berlutut dan cium kakinya!" Cu Wangwe, hartawan yang tak mengerti dan penasaran itu, pucat. Dibentak dan dihardik seperti ini, tiba-tiba dia tak berkutik, beringsut, dan mendekati Kwee Han. Dan ketika dia berlutut dan menggigil mencium kaki pemuda itu, maka Kwee Han menendang hartawan ini, tepat mengenai mukanya. "Enyahlah, aku muak melihat mukamu, Wangwe! Pergi dan jangan temui aku lagi...dukk!" Dagu hartawan itu terangkat, Cu Wangwe terlempar, dan Kwee Han telah membalas hinaannya.
Kwee Han tiba-tiba menjadi orang yang amat ditakuti di situ. Dan ketika pemuda ini menyuruh pergi dan hartawan itu beringsut bagai anjing melipat buntut, maka Khek Taijin tertawa dan sudah membawa pelayan yang berdatangan satu per satu, membawa makanan dan minuman, dan segera meja besar di situ penuh dengan aneka masakan lezat. Arak dan anggur tak lupa ketinggalan. Inilah jamuan besar-besaran bagi Kwee Han. Tapi ketika pelayan berseliweran dengan harum semerbak silih berganti meletakkan makanan dan minuman, ternyata Kwee Han menolak, bangkit berdiri. "Taijin, aku tak mau semuanya ini. Biarlah kau masukkan lagi, dan aku pulang."
Pembesar itu gugup. "Aku ingin menghargaimu, Kongcu, juga ingin meminta maaf, kenapa engkau buru-buru?" Kwee Han menjawab, "Tidak, aku ingin kembali, Taiji. Aku tak merasa lapar ataupun haus." Pembesar itu terbata. "Apakah Kongcu tak kasihan pada mereka dan membiarkan segala hidangan ini tak tersentuh? Ah, jangan, Kongcu. Demi mereka dan ucapan maafku, biarlah Kongcu duduk dulu dan cicipi ini. Aku akan melayani." Kwee Han tersenyum, tiba-tiba tertawa. "Aku sebenarnya ingin menghajarmu pula, Taijin. Tapi karena kau belum membuat kesalahan berarti, biarlah aku ampuni dirimu, tapi suruh adikmu itu mencium kakiku!"
Khek Taijin terkejut, tapi mengangguk dan buru-buru menghampiri adiknya, Cu Wangwe. Menteri ini berkata, "Pa-te, Kwee-kongcu masih ingin menghukummu. Ayo berlutut dan cium kakinya!" Cu Wangwe, hartawan yang tak mengerti dan penasaran itu, pucat. Dibentak dan dihardik seperti ini, tiba-tiba dia tak berkutik, beringsut, dan mendekati Kwee Han. Dan ketika dia berlutut dan menggigil mencium kaki pemuda itu, maka Kwee Han menendang hartawan ini, tepat mengenai mukanya. "Enyahlah, aku muak melihat mukamu, Wangwe! Pergi dan jangan temui aku lagi...dukk!" Dagu hartawan itu terangkat, Cu Wangwe terlempar, dan Kwee Han telah membalas hinaannya.
Kwee Han tiba-tiba menjadi orang yang amat ditakuti di situ. Dan ketika pemuda ini menyuruh pergi dan hartawan itu beringsut bagai anjing melipat buntut, maka Khek Taijin tertawa dan sudah membawa pelayan yang berdatangan satu per satu, membawa makanan dan minuman, dan segera meja besar di situ penuh dengan aneka masakan lezat. Arak dan anggur tak lupa ketinggalan. Inilah jamuan besar-besaran bagi Kwee Han. Tapi ketika pelayan berseliweran dengan harum semerbak silih berganti meletakkan makanan dan minuman, ternyata Kwee Han menolak, bangkit berdiri. "Taijin, aku tak mau semuanya ini. Biarlah kau masukkan lagi, dan aku pulang."
Pembesar itu gugup. "Aku ingin menghargaimu, Kongcu, juga ingin meminta maaf, kenapa engkau buru-buru?" Kwee Han menjawab, "Tidak, aku ingin kembali, Taiji. Aku tak merasa lapar ataupun haus." Pembesar itu terbata. "Apakah Kongcu tak kasihan pada mereka dan membiarkan segala hidangan ini tak tersentuh? Ah, jangan, Kongcu. Demi mereka dan ucapan maafku, biarlah Kongcu duduk dulu dan cicipi ini. Aku akan melayani." Kwee Han tersenyum, tiba-tiba tertawa. "Aku sebenarnya ingin menghajarmu pula, Taijin. Tapi karena kau belum membuat kesalahan berarti, biarlah aku ampuni dirimu, tapi suruh adikmu itu mencium kakiku!"
Khek Taijin terkejut, tapi mengangguk dan buru-buru menghampiri adiknya, Cu Wangwe. Menteri ini berkata, "Pa-te, Kwee-kongcu masih ingin menghukummu. Ayo berlutut dan cium kakinya!" Cu Wangwe, hartawan yang tak mengerti dan penasaran itu, pucat. Dibentak dan dihardik seperti ini, tiba-tiba dia tak berkutik, beringsut, dan mendekati Kwee Han. Dan ketika dia berlutut dan menggigil mencium kaki pemuda itu, maka Kwee Han menendang hartawan ini, tepat mengenai mukanya. "Enyahlah, aku muak melihat mukamu, Wangwe! Pergi dan jangan temui aku lagi...dukk!" Dagu hartawan itu terangkat, Cu Wangwe terlempar, dan Kwee Han telah membalas hinaannya.
Terpaksa, pembesar ini kelabakan. Dia memberi isyarat kepada seorang pelayan yang cantik. Siong Hi, cepat pelayan itu mengerti dan tersenyum menghampiri Kwee Han. Lenggangnya yang manis dan senyumnya yang menawan sudah cukup menggetarkan hati pemuda itu. Dan ketika Kwee Han bersikeras dan gadis ini sudah membungkuk, maka Siong Hi, pelayan yang disuruh majikannya itu, berkata, halus dan merdu. "Kongcu, kalau Kongcu ingin pulang, baiklah, barangkali masakan kami kurang enak bagi Kongcu. Tak apa, Taijin akan memberikan kereta, dan mari Kongcu kuantar!" Kwee Han terkejut. Ganti pemuda ini gugup menghadapi pelayan cantik itu, Kwee Han tak biasa dan jarang dia bergaul dengan wanita, apalagi secantik dan selembut Siong Hi ini, gadis yang sebenarnya menjadi pelayan "luar dalam" bagi menteri Khek, gadis yang matang dan penuh pengalaman.
Dan ketika Kwee Han gugup dan tampak kebingungan, maka Khek Taijin, yang tahu gelagat dan diam-diam gembira, cepat-cepat keluar. "Benar, kusiapkan kereta, Kongcu. Kalau kau ingin kembali, biarlah akuambil kereta dan kusuruh kusir mengantarmu!" Kwee Han tinggal berdua. Dalam waktu begitu cepat, tiba-tiba pelayan yang lain pergi, kini pemuda itu tinggal bersama Siong Hi, si pelayan cantik. Dan ketika Kwee Han mendelong dan gugup, harus bagaimana, maka tangan yang lembut dari pelayan cantik ini telah mencegat tangannya.
"Kongcu, mari. Bukankah kau ingin pulang? Kota raja ke Ming-ciang tak berapa jauh, aku akan ikut dan mengantarmu." Kwee Han sadar, buru-buru melepaskan tangan-tangan yang lembut itu, yang membuat tengkuknya meremang! "Tidak... jangan, biarkan aku sendiri, nona. Aku dapat pulang sendiri dan tak perlu dihantar!" "Aku Siong Hi, panggil namaku Siong Hi, Kongcu. Aku tak berani membiarkanmu sendiri dan marilah, dengar kereta sudah datang!" Benar saja, di luar terdengar suara ketepak kaki kuda. Khek Taijin muncul dan seorang kusir menjatuhkan diri berlutut, Khek Taijin sendiri melipat punggung.
Dan ketika Kwee Han tertegun dan terbelalak memandang mereka, Khek Taijin sudah berseru. "Kongcu, kereta sudah kami siapkan. Kalau Kongcu ingin pergi, silahkan. Sais ini dan Siong Hi akan mengantar!" "Ah, tak usah repot," Kwee Han mau menolak. "Aku dapat pulang sendiri, Taijin, dan juga tak perlu diantar!" "Tidak. Aku tak berani, Kongcu. Kalau Sri Baginda mendengar, tentu aku mendapat hukuman. Biarlah Kongcu naik kereta dan beberapa pengawalku juga akan menjaga di perjalanan." Lalu memberi isyarat agar kusir mendekatkan keretanya, menteri ini menghampiri Kwee Han, mempersilahkan, dan menggandeng lengannya lembut, disisi yang lain Siong Hi juga merangkul lengan pemuda itu, jadilah Kwee Han diapit dan dituntun.
Dan ketika Kwee Han tak dapat menjawab dan gugup serta merah mukanya, maka Khek Taijin sudah membawa pemuda itu ke dalam kereta, yang ternyata di dalamnya sudah penuh dengan barang-barang hadiah, emas dan uang serta kain sutera. "Kongcu, sayang kau bersikeras tak mau disini. Tak sudahlah, hormat dan pujiku untukmu. Sedikit barang-barang ini, barangkali dapat membuat Kongcu senang, jangan ditolak dan selamat jalan!" Pembesar itu menjura, hormat dan manis, dan Siong Hi pun sudah mendahului naik ke dalam kereta. Di situ gadis ini duduk dan mengulurkan lengannya, menyuruh Kwee Han naik pula.