Chapter 08
Kwee Han duduk dan langsung dipepet, jantungnya berdebur kencang disambut tubuh hangat dan senyum yang tak pernah meninggalkan mulut manis itu. "Taijin, kami barangkali akan jalan-jalan dulu, keliling kota raja. Kalau Kwee-kongcu tak keberatan, aku akan mengajaknya ke tempat-tempat indah agar tahu bagaimana isi kota raja sebenarnya," kata Siong-hi.
Khek-taijin tertawa, kali ini mendapat kerling rahasia dari pelayannya itu, dan tirai pun ditutup. Kwee Han berada di dalam kereta berdua dengan pelayan cantik itu, pemuda ini hampir tak berani bergerak saking tegangnya dipepet seperti itu. Maklum, Siong-hi selalu menggeser tubuhnya seolah tak sengaja dan memberikan lengan dan pundaknya yang halus di tubuh pemuda itu, tentu saja membuat aliran darah di tubuh pemuda ini semakin gencar.
Kereta dihentak, dan beberapa pengawal melompat di atas punggung kudanya, maka kereta pun bergerak, dan tiga pengawal mengikuti di belakang. Suara kaki kuda meluncur di jalanan yang halus itu. Kwee Han sudah dibawa, pengawal mengiring, dan Siong-hi mulai mengajak bercakap-cakap. Lincah dan memikat, gadis ini mengajak tamunya bicara, mula-mula persoalan ringan dan lucu.
Menceritakan kehidupan di kota raja dengan penduduknya yang beraneka ragam, keberhasilan kaum hartawan, dan juga pemerintahan yang baik dari kaisar dan para pembantunya. Nama Khek-taijin tak disebut-sebut, begitu juga Cu-wangwe. Gadis ini mengajak bicara soal lain, tak ada hubungannya dengan dua orang itu.
Dan ketika perjalanan mulai kencang, dan kusir mencambuk kuda berulang-ulang, mendadak gadis ini membuka tirai kereta dan berseru, "Paman Sam, jangan cepat-cepat! Kami tak ingin buru-buru!" Kereta mulai perlahan kembali. Kini gonjangan tak sekeras tadi, kereta berjalan perlahan, Siong-hi pun melanjutkan pembicaraannya.
Dan ketika gadis itu bercerita tentang beberapa tempat wisata yang ada di sekitar kota raja dan indah-indah, maka mulailah ia membujuk. "Ada Telaga Tiga Naga. Kongcu, sudahkah kau dengar nama ini dan melihatnya?" "Belum," jawab Kwee Han. "Aih, sayang. Kau perlu melihatnya. Telaga ini indah, kongcu, juga romantis. Airnya tiga warna: hijau, kuning, dan merah."
Kwee Han mulai tertarik. "Masa? Ada telaga begitu rupa, Siong-hi?" "Ya, dan banyak pelancong serta bangsawan menikmati telaga ini, kongcu. Bahkan berhari-hari mereka tinggal dan menginap di situ. Konon, siapa dapat berendam satu jam saja di air telaga itu, maka keberuntungan pun bertambah!" "Ah, ada-ada saja," Kwee Han tertawa. "Itu omong kosong belaka, Siong-hi. Aku tak percaya."
"Kongcu tak percaya? Mau bertaruh?" tanya Siong-hi. "Eh!" Kwee Han terkejut. "Bertaruh bagaimana? Aku tak punya apa-apa, Siong-hi, aku nelayan miskin!" "Tidak, bukan bertaruh uang, kongcu, melainkan taruhan lain. Misalnya, main gendongan atau apa. Siapa kalah, dia menggendong, dan siapa menang, dia digendong. Aku juga pelayan dan tak punya uang!"
Kwee Han terkesiap. Apa yang diucapkan gadis ini membuat mukanya tiba-tiba merah, jantungnya seketika berdetak, dan dia pun menelan ludah. Gadis itu berani. Tapi karena Siong-hi menunjukkan kewajarannya dan kata-kata itu pun bernada kekanak-kanakan, akhirnya Kwee Han tertawa dan menenangkan degupan jantungnya tadi, dan berkata, "Siong-hi, kau lucu. Kenapa main taruhan seperti anak-anak? Kalau aku menang, tentu aku pun tak sanggup menggendongmu. Ha-ha, tak mungkin!"
"Siapa bilang?" Gadis itu tiba-tiba menantang. "Tubuhmu paling-paling enam puluh kilo, kongcu. Dan aku sudah biasa mengangkat air enam puluh atau tujuh puluh kilo!" Kwee Han tertegun. "Untuk apa?" "Mengisi bak mandi!" Dan Siong-hi yang tertawa dengan suara lepas tiba-tiba terguncang ketika roda kereta terantuk batu, terpekik, dan entah sengaja atau tidak, mendadak tubuhnya terguling, tepat sekali di pangkuan Kwee Han.
Dan mencengkeram paha pemuda ini, Kwee Han berjengit. Miliknya yang paling berharga hampir tersentuh! Dan ketika Siong-hi mengeluh dan tampak kaget, maka dengan tersipu-sipu dan muka merah, gadis itu meminta maaf. "Tak apa," Kwee Han menggigil, panas dingin. "Jalanan rupanya berbatu, Siong-hi. Sudahlah, jangan salahkan kereta dan tenanglah," Kwee Han teringat pelukannya, tadi memeluk gadis itu, dan kini melepas Siong-hi.
Rambut yang harum dan tubuh yang lunak hangat lebih dirasakannya lagi, apalagi dia tadi hampir "kesetrum". Meremang Kwee Han. Dan ketika kereta kembali berjalan dan ketepak kaki kuda berirama rata dan datar, tiba-tiba Kwee Han yang tertarik akan Telaga Tiga Naga itu minta ke sana, sekedar melihat-lihat.
"Jadi Kongcu mau ke sana?" Siong-hi girang. "Mau berendam dan mencoba keberuntungan?" "Ah, sekedar melihat keindahannya saja, Siong-hi. Dan lagi, rupanya kau ingin menunjukkan benar keindahan telaga itu." Siong-hi berseru keluar kereta, membuka tirainya. "Belokkan kereta ke Telaga Tiga Naga, Paman Sam. Kwee-kongcu ingin melihat dan mau ke sana."
"Apa?" "Kwee-kongcu ingin melihat keindahan telaga, Paman Sam. Arahkan kereta ke sana dan jangan buru-buru!" "Baik," Dan kereta yang berderap lembut dan tampak diputar tiba-tiba dilecut dan mencongklang lagi, menuju ke timur, dan Siong-hi tertawa-tawa. Ada kegembiraan dan kesenangan besar di hati gadis ini.
Tamunya berhasil dibujuk, Kwee Han terpengaruh. Dan ketika Siong-hi kembali mengajak bercakap-cakap, dan kali ini pembicaraan tertumpu pada Telaga Tiga Naga, maka Siong-hi mulai lebih berani daripada tadi dan bertambah berkesan manja. Kwee Han menanyai dari mana gadis itu sebenarnya berasal, ternyata ayah gadis ini adalah bekas seorang nelayan pula, sudah meninggal, dan kini ibunya tinggal di desa, hidup dari sebidang tanah yang dimiliki keluarganya.
Dan ketika Kwee Han terharu karena Siong-hi ternyata juga berasal dari keluarga miskin, tiba-tiba mereka menjadi akrab, dan tanpa terasa, pemuda ini terseret oleh daya pikat Siong-hi. Kwee Han balas memegang lengan orang, dan tanpa terasa, rasa haru menjadikan rasa suka. Dan ketika rasa suka itu berkembang menjadi rasa cinta, dan entah kenapa Kwee Han jatuh sayang pada gadis ini, mendadak di saat kereta sudah mendekati Telaga Tiga Naga, sekonyong-konyong gadis itu berani merebahkan dirinya di dada Kwee Han dan menangis.
"Aku gadis tak beruntung, Kongcu. Sungguh bahagia kalau kau menaruh perhatian begini besar kepadaku," kata Siong-hi. "Hm..." Kwee Han mengusap rambut kepala itu. "Jangan bersedih, Siong-hi. Aku juga tahu rasanya miskin dan kekurangan. Sudahlah, bangunlah, dan hapus air matamu, nanti orang bertanya-tanya, tak enak nanti."
Tapi setelah ini, kita berpisah, Kongcu tentu tak ingat aku lagi, dan tak akan mengenal Siong-hi! "Siapa bilang? Aku tetap mengenangmu, Siong-hi. Kau gadis baik dan..." Kereta berhenti, sang kusir berteriak, dan Kwee Han menghentikan percakapan. Lelaki tua itu memberi tahu bahwa mereka sudah tiba di telaga tujuan, Siong-hi menyingkap tirainya, dan Kwee Han tertegun.
Sebuah telaga terpampang di depan jendela kereta, luas gemerlapan dengan airnya yang berwarna-warni, hijau, kuning, dan merah. Dan ketika Kwee Han bengong, dan Siong-hi tersenyum lebar, tiba-tiba air mata itu sudah dihapus, dan gadis ini melompat turun, menyeret Kwee Han sadar. Diseret dan disambar tangan-tangan yang halus itu, dia tergugah, Telaga Tiga Naga ternyata telaga yang indah, air di tepinya beriak, pohon-pohon banyak di sekeliling tempat itu, dan beberapa rumah pun dibangun di sana-sini.
Sungguh asri. Dan ketika Siong-hi tertawa, dan tiga pengawal berkuda mendekat, dan meloncat turun, maka Kwee Han tersipu, dan tiba-tiba merasa terganggu. "Kongcu, silakan perintah kami dengan apa saja. Butuh perahu atau ingin memancing?" Kwee Han mengerutkan kening. "Bisakah mereka pergi?" Bisiknya pada Siong-hi. "Aku risih dengan kehadiran mereka, Siong-hi. Tempat ini indah, dan aku tak ingin banyak orang!"
"Tentu," Siong-hi tersenyum, mengangguk. Lalu menghadapi tiga pengawal itu, dia memberi kedipan. "Lui-toako, tolong jangan ganggu kami. Kongcu minta kalian pulang, dan pergilah!" Tiga pengawal terkejut. "Bagaimana kata Khek-taijin nanti?" "Aku yang bertanggung jawab, katakan Kwee-kongcu tak menghendaki kalian, dan merasa aman di sini."
"Baiklah, begitukah, Kongcu?" Lalu ketika Kwee Han mengangguk, dan sedikit memerah, melihat pengawal itu senyum penuh arti, tiba-tiba para pengawal itu membungkuk, memberi hormat, dan akhirnya meloncat di atas punggung kudanya masing-masing. Dan begitu sang pemimpin menggeprak, dan memutar kudanya, akhirnya tiga pengawal itu pergi, dan Siong-hi tertawa.
"Mengganggu saja," ujarnya. "Bukankah sekarang kita dapat lebih bebas, Kongcu? Kau mau apa? Memancing atau berperahu?" "Aku ingin melihat-lihat, mungkin juga berperahu." "Atau mancing?" "Di Ming-ciang, aku sering menangkap ikan, Siong-hi. Rasanya tak suka itu, dan biar aku berjalan-jalan dulu."
"Baik..." Dan Siong-hi yang mengikuti serta melempar kerling pada sang kusir berkata, "Lopek, tolong kau tunggu kami di sini. Awas barang-barang di kereta, jangan sampai hilang!" Dan ketika sang kusir mengangguk, dan Siong-hi berjalan bersama Kwee Han, akhirnya tanpa malu-malu atau likat-likat lagi, gadis ini sudah menyambar lengan pemuda itu, memeluk, dan menggandengnya, dan segera Kwee Han tidak menolak.
Setelah "warming-up" di dalam kereta tadi, Kwee Han sudah mulai biasa, gerak, dan daya pikat si pelayan cantik ini telah menembus hatinya. Dan ketika mereka mulai berjalan berdua, dan kemesraan mulai tampak, dibalas pemuda itu, maka Siong-hi bersikap genit, dan mengeluarkan tehnik pergaulannya, lincah, dan ceria, dan tak lama kemudian gadis ini mengajak ke tempat-tempat rimbun.
Di situ memang banyak pepohonan besar-besar. Kalau berduaan, dan jalan bersentuhan tubuh, tentu tak banyak mata melihat, tempat itu memang romantis. Dan ketika Kwee Han menjadi gembira, dan percakapan demi percakapan membuat pemuda itu merasa cocok, dan seakan mabok didampingi si cantik, maka tak lama kemudian pemuda ini jatuh dalam cinta pertamanya, balas memeluk, dan merangkul, dan tak lama kemudian mereka pun mulai berciuman.