Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 09

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 09

Kwee Han menggigil. Ia mencium Siong-hi sekali, nyaris luput. Lucu! Tapi ketika Siong-hi "membetulkan" dan keduanya sama-sama terkekeh, akhirnya siang itu Kwee Han tak meneruskan perjalanan, memenuhi permintaan Siong-hi agar tinggal dulu beberapa hari di situ.

Kwee Han menginap di sebuah losmen dan merasa gembira. Di situ terjadi "malam pertama" bagi Kwee Han. Pemuda itu mabok dan karena Siong-hi pandai memikat, Kwee Han jatuh cinta. Akhirnya, pemuda ini malah tak mau kembali ke Ming-ciang!

"Khek-taijin dapat mengatur teman-temanmu di sana," kata Siong-hi. "Percayalah, setelah taijin tahu siapa kau, tentu tak berani dia main gila dan nasib teman-temanmu pasti diperhatikan. Kudengar Cu-wangwe diusir pergi, hartawan itu memang buruk dan tamak!"

"Ya, aku tahu," jawab Kwee Han. "Tapi aku harus kembali, Siong-hi. Teman-temanku tentu menunggu berita-ku dan ingin tahu keselamatanku."

"Ah, dapat kukirim kabar, Kwee-koko," kata Siong-hi. "Aku akan membantumu dan tak perlu kau khawatir."

Kwee Han mengangguk dan mencium Siong-hi dengan mesra. "Baiklah, tapi masa kita akan terus di sini, Siong-hi? Bukankah aku perlu tempat tinggal?"

"Aih, ini pun tak perlu repot-repot, koko," kata Siong-hi. "Hadiah dan uang dari Khek-teijin dapat dipergunakan sebaik mungkin. Kau dapat membeli rumah di kota raja, membuka toko dan berdagang, dan aku akan setia membantumu!"

Kwee Han mengangguk-angguk, gembira dan percaya. Cincin yang dikenakan itu membuat menteri Khek jerih, tersenyum dan teringat akan si pemberi cincin itu, tertawa.

Dan ketika dia setuju dan Siong-hi menjamin kehidupan teman-temannya di Ming-ciang lewat Khek-taijin, akhirnya pemuda ini ternina-bobokan dan mabok dalam pelukan Siong-hi. Seminggu berada di Telaga Tiga Naga dan akhirnya tak jadi kembali ke Ming-ciang.

Dia tak tahu apa yang terjadi di kota kecilnya itu, membeli rumah di kota raja dan membuka toko, berdagang. Khek-taijin lagi-lagi membantu dan memberi banyak hadiah lagi, nyaris isi toko pemuda ini pemberian menteri itu.

Beberapa bulan kemudian, Kwee Han mempererat cintanya dengan Siong-hi dan akhirnya menikah. Pemuda yang kini kaya-raya itu hidup enak dan tenggelam dalam kebahagiaan bersama Siong-hi, juwitanya.

Di tempat indah di sebuah lembah, seorang wanita cantik membangunkan sesorang yang sedang bersila, duduk sejak malam dan pagi itu wajahnya disiram embun, membuka mata dan menyorotlah sepasang cahaya lembut dari pria ini, pria tampan dengan rambut keemasan.

"Kau mengganggu orang bersamadhi?" tanya wanita itu.

"Hi-hik, kau tidak bersamadhi, suheng," jawab pria itu. "Kau melamun dan tersenyum-senyum. Jangan bohong. Kau sadar sejak tadi."

Wanita itu menggelandot manja, dipeluk dan akhirnya menerima sebuah ciuman. Dan ketika si pria menarik napas dan melihat daging panggang di atas api unggun, tiba-tiba ia tertegun.

"Kau membakar daging kelinci?" tanyanya.

"Ya, kusambar di hutan, suheng," jawab wanita itu. "Aku pingin dan ingin mengajakmu sarapan!"

"Tapi kularang kau membunuh binatang lucu itu," kata pria itu. "Kelinci di sini tinggal sedikit, sumoi. Jangan lakukan lagi dan biar kita makan daging yang lainnya saja!"

Wanita itu tiba-tiba terisak. "Suheng, kau tak sayang padaku?" tanyanya.

Pria itu terkejut. "Apa? Tak sayang lagi? Ha-ha, ada-ada saja kau ini, sumoi. Kalau tak sayang tentu tak menikah. Aku tetap sayang dan kasih padamu, lihatlah!"

Pria ini menyambar pinggang yang ramping itu, mengangkatkannya dan mulut tahu-tahu menempel di bibir yang sedang cemberut itu. Kecup lembut terdengar di sini dan si wanita itu pun mengeluh.

Tapi ketika bibir itu hendak dicium lagi dan pria ini terengah, mendadak wanita menolak.

"Sudah...tidak mau!!" serunya.

"Kenapa?" tanya pria itu.

"Aku masih ingin menangkap kelinci beberapa ekor lagi, suheng," jawab wanita itu. "Dan kau tentu marah!"

Pria ini tiba-tiba tak senang. "Kelinci di sini jangan dihabiskan, sumoi. Aku melarang karena ingin agar mereka berkembang-biak. Kenapa ngotot dan ingin menangkapi lagi? Bukankah ada makanan lain selain itu? Ayam hutan umpamanya, atau harimau!"

"Aku tak suka, aku sedang ingin yang ini!" jawab wanita itu.

"Dan menghabiskan mereka semua?" tanya pria itu.

"Tidak...tapi...ah...kau tak mengerti, suheng...Kau tak mengerti....!" Dan wanita itu yang menangis memutar tubuhnya tiba-tiba meloncat pergi dan marah-marah.

Pria ini tertegun, memanggil tapi tak dihiraukan dan pertengkaran tiba-tiba mulai terjadi.

Dia tak suka isterinya itu, wanita cantik itu, menangkapi dan membunuh kelinci di situ. Beberapa bulan ini isterinya menurut, tapi pagi itu tiba-tiba berubah.

Setelah sekian lama jinak, kini mendadak melanggar, tentu saja dia marah.

Dan ketika dia tertegun, mengerutkan kening dan terganggu oleh masalah kecil ini, tiba-tiba seorang wanita setengah baya muncul.

"Kau tak tahu, Taihiap," kata wanita itu. "Isterimu sedang ngidam. Janganlah marah dan bersikaplah yang lembut."

Pria ini terkejut. "Ngidam, uwak Chi? Dia..."

"Ya, dia hamil muda, taihiap," jawab wanita itu. "Tadi pagi memberi tahu padaku dan biarkanlah dia melakukan sesukanya. Karena itu, janganlah marahi dia dan bersikaplah sabar!"

Pria ini sadar tiba-tiba dan berkelebat tertawa lebar.

"Sumoi, tunggu...Aku mengerti!"

Dan lenyap dari depan wanita tua itu. Pria tampan ini mengejar isterinya, melihat isterinya menangis di balik sebatang pohon, daging panggang di sana terlupa dan cepat dia menyambar isterinya itu.

Dan ketika isterinya terbelalak dan menepis, meronta, tiba-tiba laki-laki itu sudah mendaratkan ciuman bertubi-tubi.

"Ha-ha, kenapa tidak bilang, sumoi? Siapa tahu kau akan menjadi calon ibu? Wah, jangankan berapa ekor, biar semua kelinci kau habiskan di sini, aku tak marah lagi, isteriku sayang. Ayo, kembali dan nikmati kelinci panggang itu.....!"

Pria ini memutar-mutar tubuh isterinya, diangkat dan digoda, dan sang isteri tiba-tiba cemberut. Dia malu namun girang.

Dan ketika dia bertanya dari mana suaminya tahu, maka dijawab dengan tertawa bergelak.

"Uwak Chi, dialah yang memberi tahu dan aku kini mengerti mengapa sikapmu demikian aneh..."

Dan ketika pria itu menurunkan isterinya itu, sang isteri malu-malu mencium suaminya, maka pria ini terbahak membawa isterinya ke tempat semula dalam satu lompatan yang mengagumkan.

"Sumoi, kamu seharusnya memberi tahu ini langsung, kenapa uwak Chi dulu? Ah, kau harus dihukum. Ayo, habiskan paha dan daging nikmat ini ..!"

Dan si suami yang menjejali mulut isterinya dengan paha kelinci dan daging yang montok akhirnya disambut ketawa geli wanita cantik ini, menolak dan justeru memberikan daging itu kepada suaminya.

Ditolak tapi akhirnya dikembalikan lagi. Dan ketika masing-masing coba memberikan agar yang lain makan dulu, maka wanita ini berkata.

"Suheng, kalau kau sayang padaku, tak boleh kau menolak lagi. Ini permintaan terakhir dari si jabang bayi. Kaugigit dulu dan baru setelah itu aku!"

"Ha-ha, begitu? Baik, sumoi, nama si jabang bayi membuat aku kalah!"

Dan si pria yang menggigit paha kelinci dan ganti menyerahkan sisanya pada si wanita, lalu tertawa bergelak dan mendaratkan kembali dua ciuman sayang, begitu bahagia dan gembira, dan kali ini mereka sama-sama tertawa menikmati kelinci panggang itu.

Si pria merangkul dan memeluk isterinya, sementara tangan menggoda mengusap nakal perut isterinya itu. Perut itu telah berisi keturunan mereka, buah kasih mereka, alangkah senangnya.

Dan ketika pagi itu masing-masing menikmati daging panggang dengan tersenyum serta tertawa bahagia, maka uwak Chi, wanita setengah baya yang melihat semuanya itu dari kejauhan, mengusap dua titik air matanya tanda haru dan turut bahagia.

Siapakah mereka ini? Sudah kita kenal, bukan lain Kim-mou eng dan isterinya, Salima. Dulu dalam kisah "Pedang Tiga Dimensi" telah kita ketahui bahwa mereka akhirnya menikah.

Kim-mou eng atau Pendekar Rambut Emas itu pulang ke tengah-tengah suku bangsanya, bangsa Tar-tar. Tapi karena kehidupan di tengah-tengah suku bangsa itu terlalu ramai dan hiruk, maka Kim-mou eng mengajak isterinya mencari tempat sendiri, di lembah itu di mana sebuah sungai mengalir tenang dengan airnya yang jernih, tak begitu jauh dengan pusat suku bangsanya.

Kim-mou eng adalah pemimpin bangsa itu setelah mendiang suhengnya yang gagah tewas, Gurba si raksasa tinggi besar. Dan karena mereka telah menjadi suami isteri dan Salima atau si Dewi Bertangan Besi ini membantu suaminya, maka tak ada bangsa-bangsa lain yang berani mengganggu bangsa Tar-tar itu.

Siapa berani mengganggu? Siapa berani coba-coba main api dengan Kim-mou-eng dan suku bangsanya? Tak ada. Hal itu sama dengan coba-coba memelintir kumis singa!

Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas adalah seorang tokoh yang disegani, begitu juga sumoinya, wanita yang telah menjadi isterinya itu. Dan karena mereka merupakan orang-orang hebat dengan kepandaian tinggi, maka selama ini bangsa Tar-tar hidup aman dan damai, apalagi setelah Kim-mou-eng tak meninggalkan suku bangsanya lagi, ngemong dan memimpin bangsanya dengan bijak, sering mengarahkan dan mengendalikan suku bangsanya yang suka berperang ini, pernah hancur ketika menyerang kota raja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment