Chapter 10
Bangsa Tar-tar nyaris menjadi bangsa yang punah jika tidak diselamatkan oleh Kim-mou-eng. Peperangan demi peperangan telah menjadikan bangsa ini keras dan tegar, tetapi juga cenderung kasar. Namun, setelah Kim-mou-eng tinggal di antara mereka dan dikenal sebagai pendekar yang lembut dan berhati lunak, bangsa Tar-tar seakan-akan menjadi harimau jinak yang patuh dan tunduk di bawah Pendekar Rambut Emas itu.
Tidak seperti ketika mereka dipimpin oleh Gurba, mendiang suheng Kim-mou-eng yang tewas akibat perbuatan sendiri. Semua itu sudah diceritakan dalam kisah-kisah yang lalu. Dan ketika pagi itu Kim-mou-eng mendengar bahwa istrinya hamil muda, tentu saja pendekar ini girang dan senang.
Beberapa bulan ini, sejak pernikahan mereka yang sederhana namun dihadiri kaisar, merupakan suatu kehormatan bagi Kim-mou-eng dan suku bangsa-nya. Kim-mou-eng memang mendambakan hadirnya seorang anak. Dan dia agak gelisah. Tujuh bulan ini istrinya tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Kim-mou-eng sering mengerutkan alis. Dia mendambakan seorang anak laki-laki, keturunan yang gagah dan yang tentu saja dicita-citakannya untuk menggantikan dirinya memimpin bangsa Tar-tar.
Maka ketika beberapa bulan istrinya masih saja biasa dan baru pada pagi itu dia mendapat berita mendadak, pendekar ini seakan kejatuhan ndaru dan senang bukan kepalang. "Aku ingin anak laki-laki," begitu katanya berulang-ulang. "Kita didik dan gembleng anak kita agar menjadi patriot dan pemimpin bangsa!" "Hm, kalau perempuan kenapa sih? Memangnya tak dapat melakukan hal-hal seperti yang biasa dilakukan laki-laki? Kalau aku laki-perempuan sama saja, suheng. Asal sehat dan selamat serta panjang umur!" "Ah, kau tahu apa? Gerak wanita tak sebebas laki-laki, sumoi. Aku ingin laki-laki karena leluasa dan bebas ke mana dia suka. Dan untuk pemimpin tentu saja aku lebih senang laki-laki daripada perempuan!" "Huh, kalian laki-laki memang selalu mengunggulkan kaum sendiri. Kalau tak ada perempuan tentu laki-laki juga tak ada!" "Ha-ha, jangan marah, sumoi. Aku hanya menyatakan pendapat semata demi kelangsungan hidup bangsa kita. Perempuan memang perlu. Tapi kasihan kalau harus memimpin dan melakukan tugas berat. Sudahlah, tak perlu kita cekcok dan nantikan saja apa kelak bayi kita, laki-laki ataukah perempuan!" Begitulah, Kim-mou-eng telah menyatakan pendapatnya.
Memang pendekar ini menginginkan anak laki-laki. Dan ketika pagi itu didengarnya istrinya hamil, maka kegirangan pendekar ini tak dapat dikata lagi. "Wah, apa kira-kira kelamin bayi kita ini?" Pendekar itu teringat cekcoknya dulu. "Laki-laki ataukah perempuan?" "Mana aku tahu? Laki-perempuan bagiku sama saja. Suheng. Pokoknya sehat dan montok!" Istrinya menjawab. "Ya. Tapi aku ingin tahu, sumoi. Barangkali uwak Chi dapat menolong... hheeii!" Kim-mou-eng menggapai. "Ke sini sebentar, uwak Chi. Ada pertanyaan untukmu!" "Ada apa?" Wanita itu mendekat. "Apa yang dapat kubantu?" "Aku ingin tahu kelamin bayiku, wak. Dapatkah kau menolong?" "Hm." Wanita ini tersenyum. "Aku pribadi tak dapat, Taihiap. Tapi dukun Cani tentu bisa. Bagaimana kalau diperiksakan dia?" "Dukun bayi itu?" "Ah, benar. Mari ke sana!" Dan Kim-mou-eng yang melompat tertawa tiba-tiba menyambar istrinya. "Heii...!" Sang isteri terkejut. "Nanti dulu, suheng. Jangan buru-buru!" "Ha-ha, aku terlampau girang, sumoi. Ayo cepat dan jangan buang waktu!" "Tapi uwak Chi harus ikut, aku ingin dia bersama kita." "Wah, baiklah. Ayo, uwak Chi...!" Dan Kim-mou-eng yang tertawa menyambar uwak itu pula akhirnya terbang dan meluncur ke timur lembah.
Sepanjang jalan begitu gembira dan uwak ini berkali-kali mengeluh kaget. Dia disendal dan dibawa lari cepat, kaki sendiri tak menginjak tanah dan mengambang mirip peri, begitu juga dua majikannya yang tertawa-tawa di kiri kanan tubuhnya. Tapi ketika mereka tiba di tempat dukun Cani dan di saat Kim-mou-eng melepas wanita itu, maka uwak Chi menggigil mengusap keringat dingin. "Taihiap, terbangmu seperti iblis!" "Ha-ha, jangan takut, uwak. Aku bukan iblis meskipun terbangku seperti iblis. Sudahlah, kita temui dan cari bibi Cani!" Pendekar Rambut Emas masuk ke rumah sederhana itu, disambut wanita tua yang rambutnya riap-riapan, pipi dan dahi berkeriput tapi cepat-cepat wanita tua itu memberi hormat ketika tahu siapa yang datang.
Dan ketika Salima menyusul dan wanita itu tampak tertegun memandang perut Salima, tiba-tiba dukun bayi yang rupanya awas dan tajam perasaannya ini berseru. "Ah, lihiap berbadan dua. Bangsa kita akan mendapat tamu baru!" Salima terkejut. "Kau tahu, bibi? Dari mana?" "Ah, wajahmu mengeluarkan sinar, lihiap. Dan bentuk pinggul serta buah dadamu berubah. Kau tampak lebih montok dan menggairahkan! Aih, apa maksud kalian ke mari? Ada apa?" Salima tersipu, semburat. "Hm...." Suaminya yang menjawab, berseri-seri. "Kami datang memang untuk itu, bibi Cani. Minta tolong padamu agar menentukan jenis kelamin bayi!" "Heh heh. Ingin tahu sebelum lahir?" "Ya, suhengku tak sabar, bibi. Aku dipaksa dan dibawa ke mari!" Wanita tua itu terkekeh. Dia adalah dukun bayi yang terkenal di situ, hampir semua suku Tar-tar ke sini.
Dan ketika Salima cemberut memandang suaminya, sementara Kim-mou-eng tersenyum menyeringai, maka wanita ini menyuruh Salima duduk di atas balai-balai. "Duduklah, mari kuperiksa...!" Salima duduk. Ia agak berdebar ketika dukun itu mengusap perutnya, dengan ibu jari tangan kanan menekan dan mengusap seperti bola, dipijit dan akhirnya berhenti di perut sebelah kiri. Wanita itu tertawa. Dan ketika dia membungkuk dan memijit ibu jari kaki Salima akhirnya, dia bangkit berdiri dan berseru. "Laki-laki, bayi yang akan dilahirkan adalah seperti ayahnya, berjenis kelamin laki-laki!" "Ha ha!" Kim-mou-eng melonjak. "Laki-laki; bibi? Kau yakin?" "Ya," Dukun ini tersenyum. "Laki-laki. Taihiap, tak salah. Aku berani potong kepala bahwa yang akan dilahirkan isterimu ini adalah laki-laki." "Ah, terima kasih...." Dan Kim-mou-eng yang menyambar serta mengangkat istrinya tiba-tiba tertawa bergelak. "Sumoi, laki-laki. Anak kita pertama laki-laki....!" Dan Kim-mou-eng yang melempar serta menangkap kembali istrinya itu lalu terbang keluar rumah.
"Hei, ke mana?" Salima berteriak, terkejut tapi juga tak dapat menymbunyikan kegembiraannya. Sepasang suami-istri itu gembira mendengar kabar berita itu. Anaknya laki-laki, dukun Cani dapat dipercaya dan selama ini belum pernah dukun bayi itu meleset. Dan ketika suaminya tertawa tergelak dan meneruskan larinya ke dalam lembah, akhirnya tiga orang menyambut dan berseru menjatuhkan diri berlutut. "Taihiap, selamat. Kami bangsa Tar-tar menghaturkan selamat...!" "Eh!" Pendekar ini berhenti, langsung tertegun. "Ada apa kalian ke mari? Mau apa?" Sang isteri diturunkan, terbelalak memandang tiga laki-laki gagah itu dan seorang di antaranya tersenyum. Mereka adalah pembantu-pembantu suami-istri ini, menyatakan bahwa mereka telah mendengar berita bahagia itu. Bangsa Tar-tar ingin merayakan kebahagiaan ini dan mengucap selamat.
Dan ketika Salima berseru kecil dan langsung semburat, tiba-tiba wanita ini berkelebat memasuki rumah, tersipu. "Kami ingin merayakan dengan pesta adat, Taihiap. Menyambut calon pemimpin baru menyatakan kebahagiaan. Kalau taihiap setuju malam nanti juga kita siapkan pesta sekaligus mencari nama baru bagi putera taihiap." "Hu-ha. Boleh. Lakukan itu. Cukri. Malam nanti isteriku hadir dan biar kukumpulkan nama untuk calon puteraku!" Kebahagiaan kembali meleduk. Bangsa Tar-tar malam itu benar-benar bahagia, kiranya berita dari mulut ke mulut telah menyebar luas. Dukun Cani telah menebak calon keturunan pemimpin mereka, laki-laki, bukan main gembiranya.
Dan ketika malam itu Salima menemui rakyatnya dan kembali bertemu bibi Cani, akhirnya tak dapat ditahan wanita yang berbahagia ini menanyai dari mana dukun itu mendapatkan "resepnya" menebak jenis kelamin bayi. "Heh-heh, mudah lihiap. Dari letak dan gerakannya!" "Letak dan gerakannya?" "Ya, artinya begini, lihiap. Kalau bayi berada di sebelah kiri perut dan sering bergerak di daerah situ maka berarti menjauhi irus (pengaduk atau penyendok sayur). Tapi kalau bergerak dan terletak di sebelah kanan maka berarti mendekati atau memegang irus. Yang menjauhi irus tentu laki-laki. Karena laki-laki tak biasa memasak. Sedang yang mendekati irus tentu perempuan. Karena perempuan tugasnya masak. Nah, sederhana kan. Ini dapat dijadikan patokan paling gampang dan mudah diingat!" Salima bengong. Ternyata "resep" itu begitu bersahaja. Hampir tertawa dia. Agaknya tak masuk akal. Tapi ketika beberapa bulan kemudian dia melahirkan dan bayinya ternyata benar laki-laki, mendadak wanita yang telah menjadi ibu ini terkejut, kagum.
Mendengar tangis bayi dan kembali bangsa Tar-tar ribut. Kim-mou-eng melonjak gembira dan untuk kedua kalinya suami yang berbahagia itu mendapat kebahagiaan. Bayinya laki-laki, tepat dan cocok seperti ramalan dukun Cani. Bukan main girangnya. Dan ketika bayi itu dia upacarai adat dan menjalan "pasaran" atau "selapanan", ternyata kaisar mengutus orangnya untuk menyatakan kegembiraan, datang diwakili Bu Ciangkun, panglima Bu yang gagah dan brewokan itu. "Ha-ha. Selamat, taihiap. Selamat! Kim-mou-eng tertegun. "Ipa kpadaku, taihiap?" "Tidak. Tentu saja tidak! Tapi, eh... bagaimana kau bisa tahu ini, ciangkun? Kapan kalian mendengarnya!" "Ha-ha, bangsa Tar-tar dan bangsa Han adalah sahabat, taihiap. Bagaimana kami tak mendengar kalau kami tak pernah berjauhan? Sri baginda mengutus dan memberi ini, taihiap. Juga sebuah nama untuk putera taihiap itu, kalau taihiap suka!" Panglima brewok itu menuding sepuluh kereta berisi barang-barang hadiah, mengambil sebuah mainan dari batu giok hijau yang indah dan menyerahkannya pada Kim-mou-eng, secara simbolis menyerahkan semua barang-barang di kereta itu.
Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan teringat nama-nama yang dipilih untuk puteranya, tiba-tiba Cukri pembantunya yang gagah itu tampil ke depan. "Taihiap, pemberian nama kaisar Han adalah sesuatu yang amat berharga.