Chapter 100
Ketika Hu Beng Kui menggeram dan menyerang ke sana kemari, tiba-tiba Cam-kong berseru agar mereka semua pergi.
"Tak usah layani dia. Kita pergi dan cari Kim-mou-eng!"
"Benar, dan siarkan berita ini kepada semua ketua partai, Cam-kong. Biar orang bernama Hu ini dikerubut dari mana-mana!"
"Hi-hik, betul, Siauw-jin. Ayo kita menyingkir dan pergi... wut!"
Nenek Naga Bumi yang berkelebat dan berjungkir balik menghindari sebuah pukulan, akhirnya melesat dan nyaris terkena hantaman si jago pedang yang meledak, mengeluarkan dentum bagai meriam menghajar tanah. Lima orang lainnya mengangguk, berniat mempermainkan Hu Beng Kui. Mereka harus pergi agar jago pedang itu kelabakan saat tahu mereka menyebarkan perihal Cermin Naga.
Begitu mereka berlompatan dan terbang meninggalkan Hu Beng Kui, sang pendekar tertegun karena keenam lawannya berpencar ke enam jurusan. Tentu saja pendekar itu bingung sekaligus marah; dia tak tahu harus mengejar yang mana lebih dulu. Namun, teringat bahwa Hek-bong Siauw-jin adalah setan cebol yang mula-mula membicarakan Cermin Naga, pendekar ini segera berkelebat dan membentak, mengerahkan Jing-sian-eng-nya.
"Siauw-jin, berhenti!"
Hek-bong Siauw-jin terkekeh. Dia tahu dirinya dikejar, lalu membalik dan tiba-tiba melempar tiga granat tangan. Ketika Hu Beng Kui harus berjungkir balik dan mendengar granat meledak di bawahnya, iblis cebol itu menyelinap dan lenyap memasuki hutan.
"Heh-heh, kau tak dapat menangkap aku, Hu-taihiap. Cobalah kalau tidak percaya!"
Jago pedang ini membentak marah dan mengejar, tetapi karena Hek-bong Siauw-jin adalah manusia kate yang sangat lincah saat menyelinap di hutan, Hu Beng Kui kehilangan jejak. Dia keluar lagi untuk mencari yang lain, namun Cam-kong dan kawan-kawannya sudah lenyap memasuki hutan di sekitar Ce-bu.
Hu Beng Kui marah-marah. Memang hutan adalah tempat yang baik untuk bersembunyi. Ketika gagal menangkap mereka, pendekar ini kembali ke Ce-bu dengan gelisah, cemas akan ancaman Enam Iblis Dunia dan rahasia Cermin Naga yang disimpannya. Dia takut kalau orang-orang bakal meluruk ke tempatnya untuk merampas barang berharga itu. Karena ancaman ini membuatnya tak tenang, beberapa hari kemudian, dunia kang-ouw geger oleh berita tersebut.
Benar saja, beberapa bayangan mulai berkelebatan di sekitar rumahnya. Hu Beng Kui merah padam; dalam saat seperti itu, tiba-tiba dia merasa sendirian. Swat Lian, puterinya, tak ada di situ. Ketika suasana kian hangat dan para ketua partai mulai menunjukkan pandangan yang berbeda kepadanya, Hu Beng Kui semakin marah dan waswas. Ancaman Enam Iblis Dunia telah terbukti, dan tempat tinggal jago pedang itu seakan sekam panas yang sewaktu-waktu dapat meletus dan terbakar.
Menjelang hari pertandingan, tepat seminggu sebelum tanggal tujuh, mendadak ketua-ketua Khong-tong dan lainnya menghilang. Hu Beng Kui tak tahu ke mana mereka pergi. Jago pedang ini dibuat tidak nyaman dan tidak tenang oleh banyaknya bayangan yang datang dan pergi; jumlahnya bukan lagi belasan, melainkan puluhan. Ketika satu dua orang mulai terang-terangan menanyakan Cermin Naga, Hu Beng Kui membentak.
"Aku tak tahu apa yang kalian bicarakan. Pergi atau semua kuhajar!"
"Hm, bagaimana kalau ketua Liong-san atau Siu-lim ingin tahu? Mereka ingin melihat bengcu. Atau kalau boleh, malah meminjam!"
"Keparat, siapa yang memberi tahu ini?"
"Cam-kong dan teman-temannya, Enam Iblis Dunia!"
"Dan kalian percaya?"
"Percaya, bengcu. Dan katanya Cermin Naga itu justru untuk semua, bukan dimiliki oleh satu atau dua orang saja..."
"Plak!"
Hu Beng Kui mengibas dan menampar orang itu. Dia menjadi berang dan menghardik, "Siapa berani macam-macam lagi, akan kubunuh. Pergi semuanya dan jangan ganggu!"
Orang-orang itu pergi dengan hati tidak senang. Beberapa di antaranya mulai menggerutu dan memaki pendekar pedang yang gampang main hakim sendiri itu. Seharusnya, seorang pemimpin tak boleh sembarangan memukul. Hu Beng Kui mulai dimusuhi orang-orang kang-ouw. Ketika persoalan Cermin Naga hangat kembali, dunia kang-ouw pun guncang.
Dikabarkan oleh Enam Iblis Dunia bahwa Hu Beng Kui memiliki Cermin Naga secara tidak sah. Cermin itu adalah pemberian dari Bu-beng Sian-su, kakek dewa yang dikenal memberikan ilmu kepada siapa saja, tak peduli baik atau jahat. Karena orang-orang dunia kang-ouw haus akan ilmu tinggi, api yang disulut Enam Iblis Dunia mengenai sasaran.
"Hu-taihiap itu bisa maju pesat karena Cermin Naga. Tanpa Cermin Naga, tak mungkin dia dapat mengalahkan kami. Siapa ingin berdiri di belakang kami untuk merebutnya?"
"Kami...!"
Setelah dibujuk oleh enam iblis itu, ratusan orang mendapat janji dari Cam-kong dan kawan-kawannya. Mereka berjanji bahwa Cermin Naga akan dipinjamkan secara adil, siapa pun dapat menikmatinya bila kelak cermin itu berhasil dirampas. Janji tersebut membuat orang-orang kang-ouw bersemangat. Maklum, tanpa pelopor Enam Iblis Dunia, tak mungkin mereka berani menghadapi Hu Beng Kui yang dikenal hebat dan lihai.
Ketika Cam-kong dan kawan-kawannya berhasil mempengaruhi massa, ada yang bertanya kapan Cermin Naga akan direbut.
"Tunggu saja, belum waktunya. Biarkan jago pedang itu berhadapan dengan Kim-mou-eng. Baru setelah seorang di antaranya roboh dan yang seorang lagi kelelahan, kita bergerak. Tentu mudah merampasnya!"
Semua mengangguk. Licik dan cerdiknya Cam-kong dan kawan-kawannya membuat Hu Beng Kui khawatir, karena betapapun lihainya, tak mungkin dia menghadapi ratusan atau ribuan orang kang-ouw. Dia mengumpat, "Keparat, kalian licik, Cam-kong. Kalian jahanam dan curang. Kalau tidak terikat dengan pertandingan yang sudah dekat, tentu kucari dan kubunuh kalian!"
Hu Beng Kui menyesal puterinya tak ada di situ. Kalau Swat Lian ada di sampingnya, tentu dia tak perlu khawatir menghadapi ratusan orang. Namun, karena puterinya tak diketahui rimbanya, jago pedang ini sempat terpikir untuk melarikan diri dari Ce-bu. Meski begitu, dia merasa malu dan harga dirinya hilang jika harus lari.
Sambil mengepalkan tinju dan mengeratkan gigi, dia menggebrak meja, lalu berkelebat ke kamarnya untuk mengambil Cermin Naga. Setelah keluar rumah, pendekar ini lenyap untuk menyembunyikan benda itu di suatu tempat agar aman. Namun, jago pedang ini masih akan menghadapi banyak hal yang mengejutkannya.
Dua hari sebelum pertandingan, mendadak ketua-ketua partai muncul. Mereka menghadap dan membuat si jago pedang tertegun. Ketika enam tamunya duduk menyatakan maksud mereka, Hu Beng Kui terkejut dan gusar.
"Kalian juga percaya omongan Cam-kong dan kawan-kawannya itu? Keparat, aku tak tahu-menahu tentang Cermin Naga, Yang Te Cinjin. Cermin itu tak ada di sini dan tidak di tanganku!"
"Tapi kepandaianmu kau dapat dari cermin itu. Bukankah dulu-dulu kau juga tak dapat mengalahkan Kim-mou-eng, Taihiap? Dan kami sudah bertemu kakek dewa Bu-beng Sian-su, mendapat izinnya!"
"Izin apa?" Hu Beng Kui tersentak.
"Melihat dan mencari rahasia Cermin Naga!"
Hu Beng Kui tertegun. Disebutnya nama kakek dewa itu membuatnya terkejut. Kenapa kakek dewa itu menyetujui orang-orang ini mencari Cermin Naga? Dengan marah, jago pedang itu bangkit berdiri.
"Cuwi pangcu (para ketua), agaknya tak perlu lagi kusangkal bahwa Cermin Naga memang ada di tanganku. Tapi cermin itu adalah milikku, hak-ku. Siapa yang ingin mendapatkannya tentu saja harus berhadapan dengan aku secara jantan. Kita adalah orang-orang kang-ouw yang biasa mendapatkan sesuatu dengan jalan kekerasan. Kalau cuwi ingin mendapatkannya, silakan rebut benda itu dengan cara gagah!"
"Hm," Bi Kong Hwesio, ketua Siu-lim, batuk-batuk. "Kami tak bermaksud mencari permusuhan, Taihiap. Kami datang atas saran Bu-beng Sian-su bahwa benda itu katanya untuk siapa saja, boleh dilihat dan diamati. Kalau kami meminjam dan melihatnya di sini saja, apakah tidak diperkenankan?"
"Benar," Ciu Sek, ketua Liong-san-pang, menimbrung. "Kami tak bermaksud merampas atau mengangkanginya, Taihiap. Kami hanya ingin melihat dan meminjam benda itu, di sini. Bu-beng Sian-su mengatakan kepada kami bahwa benda itu penting untuk semua orang."
Jago pedang ini tertegun.