Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 101

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 101

Untuk kedua kalinya, ia mendongkol kepada Bu-beng Sian-su. Mengapa kakek dewa itu membesarkan hati orang-orang ini untuk bersikap sombong? Mengapa kakek itu mengizinkan dan seolah menyatakan benda itu untuk semua orang?

Kalau semua orang melihat dan mengetahui bahwa di balik cermin itu terdapat pelajaran silat tinggi, tentu ia akan susah. Semua orang bisa mempelajari itu dan posisinya terancam. Maka, ia menggeleng dan bersikeras tidak memperbolehkan jago pedang ini berkata.

"Tidak, apa pun tak kuizinkan kalian melihat, Cuwi Pangcu. Apalagi aku pribadi belum bertemu Bu-beng Sian-su sendiri. Aku khawatir kalian bohong!"

"Hm!" Ketua Khong-tong tiba-tiba bangkit berdiri. "Atas dasar apa kau mencurigai kami seperti itu, Taihiap? Kalau kami tidak terikat dengan kedudukan kami sebagai ketua-ketua partai besar, mungkin saja kami bohong! Tapi kami sungguh-sungguh, kami hanya ingin melihat dan meminjam benda itu atas izin Bu-beng Sian-su!"

"Keparat, kenapa nama kakek ini kalian bawa-bawa? Aku tak dapat memberikannya, Pangcu. Kecuali kalau kakek itu ada di sini sendiri dan bertemu dengan aku!"

"Jadi, Taihiap tak mempercayai kami?"

"Ya, terus terang saja tidak. Aku tak percaya!"

"Hm, baiklah," Bi Kong Hwesio tiba-tiba mengebutkan jubahnya, menyabarkan teman-temannya. "Tak apa kalau kau tak mengizinkan, Hu-taihiap. Tapi pinceng ingin bertanya bagaimana kau mula-mula mendapatkan benda ini, atas pertanyaan Sian-su pula."

Hu Beng Kui terkejut. "Kau juga tak mau menjawabnya, Taihiap? Baiklah, kami juga tak mendesak dan biarlah kami kembali. Dua hari lagi kami datang untuk menjadi saksi pertandinganmu dengan Kim-mou-eng!"

Setelah menjura dan mengajak teman-temannya pergi, ketua Siu-lim itu sudah berkelebat dan keluar pintu. Namun, Hu-taihiap yang tersentak dan ingin tahu sesuatu tiba-tiba berkelebat. "Tunggu, aku ingin bertanya, Lo-suhu. Apakah kalian sudah bertemu Kim-mou-eng?"

"Tidak," Hwesio ini berbalik. "Tapi kami bertemu Sian-su, Taihiap. Dan ia berpesan agar kau berhati-hati."

"Hm, apa kata kakek itu?"

"Perlukah kami beritahukan?"

"Ya, katakan padaku, Lo-suhu. Barangkali saja aku mengubah pikiranku!"

"Sian-su berkata kau tak berjalan lagi di atas kebenaran. Bahwa sebagai Bengcu, kau lupa pada kebenaran dan keadilan!"

Hu Beng Kui tertegun. "Maaf, kami kembali, Taihiap. Dan barangkali tak perlu kami beritahukan bahwa kau mulai dikelilingi orang-orang yang ingin merebut Cermin Naga."

"Aku tahu, dan aku tak takut!"

Bi Kong Hwesio yang menjura dan berkelebat pergi akhirnya meninggalkan senyum tawar yang membuat si jago pedang tidak enak. Melihat enam orang tamunya lenyap, kini Hu Beng Kui merasa berada di tengah-tengah bahaya; Cermin Naga sudah diketahui orang dan benda itu terancam. Dia marah dan gusar sekali terhadap Enam Iblis Dunia yang mula-mula menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut, hingga akhirnya dia merasa tersudut. Namun, karena ia memiliki Khi-bal Sin-kang dan Lu-ciang Hoat serta Cui-sian Gin-kang juga sudah ada di tangannya, maka jago pedang ini tersenyum mengejek dan tidak takut.

Yang harus diperhatikan hanyalah Cam-kong dan teman-temannya itu, juga Kim-mou-eng. Ketika sehari lewat dan akhirnya hari kedua tiba, benar saja ratusan orang—hampir seribu jumlahnya—telah berkumpul di sekeliling rumahnya, bahkan ada yang mulai berteriak-teriak.

"Hu-taihiap, serahkan Cermin Naga!"

"Hu-taihiap, berikan pemberian Bu-beng Sian-su itu kepada kami!"

"Benar, atau kami meluruk ke dalam!"

Ketika keributan itu terpaksa membuat pendekar ini keluar, dengan bengis jago pedang itu memandang semuanya, yang tiba-tiba berhenti bersuara.

"Siapa ribut-ribut tentang Cermin Naga, harap maju ke depan. Ke sini!"

Ratusan orang itu hening.

"Hayo, siapa ingin mendapatkan benda itu? Ke mari, tikus-tikus busuk. Hadapi aku dan kuhajar kalian!"

"Tenang," Bi Kong Hwesio tiba-tiba berseru, mengangkat kedua tangannya. "Hari ini Hu-taihiap tak berurusan dengan Cermin Naga, Saudara-saudara. Dia hendak menghadapi pertandingan dengan Kim-mou-eng. Harap Cuwi tidak mengacau dan bicara yang bukan urusannya!"

Suara berisik terdengar di sana-sini. Bi Kong Hwesio dan para ketua yang lain sudah ada di samping Hu Beng Kui. Mereka berada di atas panggung dan semua dapat melihat jelas. Hari itu, sesuai janjinya, para ketua partai menemani Hu-taihiap menunggu Kim-mou-eng. Tentu saja mereka mengetahui datangnya orang-orang kang-ouw itu yang, selain ingin menyaksikan pertandingan, juga ditunggangi Enam Iblis Dunia untuk mengacau urusan Cermin Naga—hal yang sudah santer terdengar dan menjadi berita hangat.

Ketika Bi Kong Hwesio mengangkat lengan dan bicara seperti itu, mendadak terdengar suara tanpa rupa, terkekeh. "Hi-hik, kami tahu, Bi Kong Hwesio. Suruh cepat Hu-taihiap itu bertanding. Panggil Kim-mou-eng dan suruh Pendekar Rambut Emas itu merobohkannya!"

Semua menoleh. Bi Kong Hwesio tidak melihat apa-apa dan yang lain pun meremang. Itulah suara Nenek Naga yang entah berasal dari mana. Di sudut, tampak segulung asap hitam, dan tiba-tiba orang di dekat sana menyingkir. Semua bergidik melihat itu. Suara itu terdengar dari sana, tapi orangnya tidak kelihatan!

Ketika Bi Kong Hwesio mengerutkan kening dan terbelalak marah, di tempat lain tak jauh dari situ, terdengar tawa yang besar dan lantang. "Ha-he, benar, Bi Kong keledai gundul. Kami belum melihat Kim-mou-eng. Suruh Pendekar Rambut Emas itu merobohkan Hu-taihiap. Kami ingin menonton dan setelah itu bicara tentang Cermin Naga!"

"Beh-beh, betul!" Nenek Toa-ci menjawab seperti ringkik kuda di tempat yang lain. "Suruh mereka bertanding, Bi Kong Hwesio. Dan kami memegang Kim-mou-eng!"

"Ha-ha, cocok! Aku memegang Kim-mou-eng dan Hu Beng Kui pasti roboh. Kali ini Pendekar Rambut Emas akan menjadi Bengcu dan kami mendukung!" Siauw-jin, Iblis Busuk dari Kubur, tertawa melengking.

Empat dari Enam Iblis Dunia telah mengeluarkan suaranya dan Hu Beng Kui tentu saja marah. Jago pedang itu tahu di mana mereka. Begitu Siauw-jin menutup kata-katanya, tiba-tiba jago pedang ini menggerakkan lengannya dan dari jauh sebuah pukulan dahsyat menghantam setan cebol itu yang bersembunyi di balik ilmu hitamnya, di sebelah kanan Toa-ci.

"Blarr!"

Orang melihat segumpal asap terpental. Hek-bong Siauw-jin, yang diserang dan disambar pukulan Hu-taihiap, tampak menjerit kaget dan tiba-tiba kelihatan. Hu-taihiap menyerangnya dengan Lu-ciang-hoat, dan pukulan sinar putih itu sekaligus membuyarkan ilmu hitam yang dipakai iblis cebol ini. Ketika Hek-bong Siauw-jin jungkir balik dan buru-buru menghilang dengan ilmu hitamnya lagi, orang pun tertegun tidak melihat iblis itu di tempatnya.

"Siluman, hebat sekali Hek-bong Siauw-jin ini. Ih!"

"Tapi Hu-taihiap lebih hebat, Kawan. Dia buktinya dapat menyerang iblis itu dan membuatnya terpental!"

"Ya, padahal kita tak tahu di mana setan cebol itu bersembunyi. Ah, apakah Hu-taihiap akan menyerang yang lain?"

Namun tidak. Hu Beng Kui, yang telah menghajar dan membuat Hek-bong Siauw-jin tutup mulut, ternyata tidak melanjutkan serangannya. Di lain tempat, terdengar kekeh dan tawa Nenek Naga Bumi. Nyatalah tokoh-tokoh dari Enam Iblis Dunia itu memancingnya agar mengeluarkan tenaga. Kalau itu dilayani dan Hu Beng Kui lelah, tentu bahaya baginya jika Kim-mou-eng muncul dan mengajaknya bertanding.

Ketika orang terbelalak karena Hek-bong Siauw-jin menghilang dengan ilmu hitamnya lagi, Hu Beng Kui membentak menyuruh Enam Iblis Dunia itu menutup mulut. "Nenek siluman, aku pun siap melayani kalian. Majulah kalau Kim-mou-eng sudah kurobohkan!"

"Heh-heh," Cam-kong kali ini bicara. "Kau tak perlu membakar kami, Hu-taihiap. Justru kami yang akan membakarmu kalau nanti Kim-mou-eng sudah muncul. Kami sudah bertaruh bahwa kau akan roboh!"

Lalu, sementara Hu Beng Kui melotot dan Bi Kong Hwesio serta yang lain-lain terbelalak melihat iblis-iblis yang tidak kelihatan ini, terdengar Cam-kong menyambung dengan ilmu jarak jauhnya, kata-kata yang tak didengar orang lain. "Hu-taihiap, kau terlalu sombong. Kalau kau tak mau kami bantu, maka kami akan membantu Kim-mou-eng. Lihat, berapa lama kau bertahan!"

Jago pedang ini menggigil. Kalau saja Swat Lian ada di situ, tentu disuruhnya puterinya itu menyerang iblis-iblis ini. Sayang, di saat terakhir itu pun puterinya tak muncul. Kemarahan dan kebencian Hu Beng Kui menjadi bercampur aduk, baik terhadap Kim-mou-eng maupun terhadap Cam-kong dan kawan-kawannya. Kalau tidak ingat harus menghemat tenaga, barangkali jago pedang itu akan menerjang enam lawannya. Dia dapat melihat jelas mereka dengan mata batinnya; memang jago pedang itu sudah memiliki kesaktian sedemikian hebat, ilmunya tinggi, dan mata batinnya pun tajam.

Tapi karena lawan bermaksud membakar perasaannya dan saat yang dijanjikan tiba, maka jago pedang itu menggeram dan tidak melayani kata-kata Cam-kong. Hatinya sebenarnya berdebar karena kalau Enam Iblis itu maju, tentu Bi Kong Hwesio dan teman-temannya tak akan tahu. Dengan ilmu hitam mereka, pasti Cam-kong dan kawan-kawannya dapat mengganggu dari jauh. Dia tidak takut, tapi janjinya merobohkan Kim-mou-eng dalam dua puluh jurus bisa terganggu. Jago pedang ini mulai pucat dan gelisah.

Ketika dia menggeram dan saat yang ditunggu akhirnya tiba, tampaklah sebuah bayangan kuning emas di kejauhan sana, di atas bukit.

"Hu-taihiap, aku datang!"

Semua orang terkejut. Kim-mou-eng, yang ditunggu-tunggu, muncul. Pendekar Rambut Emas itu terbang dari atas bukit di luar Ce-bu. Jadi, jaraknya masih jauh, tapi suaranya yang sudah mendahului dan tampak menggetarkan orang-orang di situ tiba-tiba membuat gaduh suasana. Bi Kong Hwesio dan lima ketua yang lain tampak berubah; mereka tegang namun gembira. Pertandingan besar akan terjadi, perebutan kursi Bengcu!

Ketika bayangan kuning emas itu lenyap menuruni bukit dan di luar kota tiba-tiba Kim-mou-eng sudah berkelebat, ia tampak langsung melewati kepala ratusan orang kang-ouw, berhenti, dan melayang turun tepat di depan jago pedang itu, di atas panggung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment