Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 102

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 102

Persis garuda atau elang yang menyambar!

"Hu-taihiap, aku datang!" sorak gemuruh tiba-tiba menggegap-gempita.

Kim Mou-eng, yang telah menunjukkan kepandaian dan kehebatannya, tiba-tiba disambut teriakan dan sorakan ramai. Apa yang dilakukan pendekar itu memang mengagumkan. Ratusan orang kang-ouw, yang terdiri atas banyak kepala, ternyata dilewati begitu mudah oleh Pendekar Rambut Emas ini yang meluncur dan terbang di atas kepala mereka tanpa menginjak. Sebuah demonstrasi ilmu tingkat tinggi dalam hal ginkang, yaitu ilmu meringankan tubuh.

Ketika semua memuji dan bersorak, Hu Beng Kui menggetarkan lengan dan cepat menyambut lawannya itu dengan penuh emosi. "Kim-mou-eng, kau pemuda tak tahu aturan. Kembalikan puteriku dan kuhajar kau!"

"Hm," Kim-mou-eng, yang berseri-seri dan tampak bercahaya, tiba-tiba tersenyum. Tampan dan gagah sekali pendekar muda ini. Prana atau cahaya mukanya memancar begitu terang, membuat Bi Kong Hwesio dan lain-lain kagum; tanda kebersihan batin atau kekuatan roh yang memancar begitu kuat.

Ketika Hu Beng Kui marah-marah dan membentaknya dengan begitu keras, Kim-mou-eng malah menjura. "Maaf, aku heran atas pertanyaanmu, Hu-taihiap. Apakah kau melihat puterimu kuculik? Apakah dirimu tak dapat melindungi puterimu itu hingga lolos keluar rumah? Aku datang menomor-satukan urusan pibu (pertandingan), Taihiap. Tapi kau mengajak bicara tentang puterimu terlebih dahulu. Baiklah, aku tak membawa puterimu itu. Dia tak ada di sini dan justru pertandingan ini ingin kujadikan pertandingan bersyarat. Aku ingin memenangkan pertandingan dan mengadakan tukar-menukar masalah puterimu!"

"Apa maksudmu?" Hu Beng Kui tertegun.

"Begini," Kim-mou-eng tersenyum. "Kudengar kau ingin merobohkan aku dalam dua puluh jurus, Taihiap. Benar dan tidak salahkah janjimu itu?"

"Benar!" Hu Beng Kui membentak. "Aku akan merobohkanmu dua puluh jurus, Kim-mou-eng. Lebih dari itu, anggap kau yang menang!"

"Nah," Kim-mou-eng tiba-tiba membalik. "Dengar, cuwi enghiong (orang-orang gagah sekalian). Hu-taihiap menjanjikan untuk merobohkan aku dalam dua puluh jurus. Lebih dari itu, dia dianggap kalah. Dengarkah cuwi sekalian?"

"Dengar...!" suara dari bawah menggegap-gempita. "Lekas kalian bertanding, Kim-mou-eng. Rebut kursi bengcu! Setelah itu kami ingin merampas Cermin Naga yang dikuasai Hu-taihiap!"

"Hmm," Kim-mou-eng tertawa kecut. "Masalah itu urusan pribadi kalian, cuwi enghiong. Aku tak mau ikut campur dan biar Hu-taihiap berhadapan dengan kalian sendiri. Hanya aku ingin melontarkan gagasan, pertandingan ini merupakan pibu bersyarat sekaligus tukar-menukar!"

"Apa yang kau maksud?" Yang Te Cinjin tiba-tiba melompat maju, berseru. "Kami menjadi saksi dari pertandingan ini, Kim-mou-eng. Dan kami ingin mendengar apa yang kau inginkan."

"Begini," Pendekar Rambut Emas itu menghadapi ketua Liong-san-pang. "Aku tak ingin bunuh-membunuh, Pangcu. Aku menghendaki bila waktunya selesai, baik aku maupun Hu-taihiap harus berlaku jujur. Sudah menjadi ketentuan bahwa siapa menang dialah bengcu. Tapi karena aku bangsa asing dan kudengar suara-suara sumbang bahwa kalian tak suka dipimpin orang asing, maka aku hendak mengadakan tukar-menukar dengan Hu-taihiap: bahwa jika aku menang, maka kedudukan bengcu kuserahkan padanya, tapi puterinya, Hu Swat Lian, kuminta untuk menjadi pendamping hidupku!"

"Ha-ha, lamaran aneh!" Tok-ong tiba-tiba tertawa bergelak, menyembunyikan diri di balik ilmu hitamnya. "Kalau mau bicara urusan perempuan sebenarnya bukan di panggung, Kim-mou-eng. Tapi di kamar dan bisik-bisik dengan lawanmu itu. Hu-taihiap bisa kebakaran jenggot kalau kau bicara di tempat terbuka!"

Kim-mou-eng membalik, tersenyum. "Tak usah kau ikut campur, Tok-ong. Aku telah mengetahui apa yang kalian rencanakan. Tunggu saja, kalian berenam pasti kuhajar lagi seperti di puncak Himalaya dulu!"

Ribut dan ramailah suara orang. Kata-kata Kim-mou-eng ini sama halnya sebuah pengakuan bahwa Enam Iblis Dunia tak dipandang sebelah mata. Berdepan dengan Kim-mou-eng, ia berani bicara seperti itu, tanda bahwa Enam Iblis Dunia pernah dikalahkannya dan semakin kukuhlah pendapat dunia bahwa Kim-mou-eng sekarang memang bukan seperti Kim-mou-eng beberapa bulan yang lalu.

Ketika Tok-ong menggereng dan tiba-tiba segumpal asap hitam menyambar, Pendekar Rambut Emas tiba-tiba menggerakkan tangan dan menangkis asap itu, sebuah pukulan jarak jauh yang dilancarkan Tok-ong.

"Dess!" Orang mendengar teriakan Tok-ong. Kakek tinggi besar itu, yang bersembunyi dan berlindung di balik ilmu hitamnya, ternyata terpental, tertolak, dan akhirnya terbanting. Pukulan sinar putih yang dilancarkan Kim-mou-eng tadi justru membuyarkan pula ilmu hitam kakek tinggi besar itu, terbukti karena Tok-ong tiba-tiba kelihatan. Kakek yang tadi tak tampak mata itu mendadak terlihat. Namun, setelah membentak dan bergulingan melengking tinggi, tiba-tiba kakek ini mengebutkan lengan dan lenyap lagi dari pandangan orang.

"Iblis, Tok-ong benar-benar iblis!"

"Aih, tapi Kim-mou-eng benar-benar dapat menghadapinya. Wah, kalau begitu setingkat dengan Hu-taihiap!"

Ketika orang ramai membicarakan itu dan Tok-ong lenyap dalam ilmu hitamnya, penonton pun ribut dan Bi Kong Hwesio serta yang lain-lain tertegun. Mereka sekarang melihat bahwa Kim-mou-eng benar-benar luar biasa. Pendekar Rambut Emas itu mampu membanting Tok-ong dalam sebuah tangkisan. Jadi, segebrakan itu saja dapat terlihat siapa yang unggul. Ketika Cam-kong dan empat temannya yang lain berseru agar tidak mengganggu Kim-mou-eng lagi, maka Kim-mou-eng sudah berhadapan kembali dengan Hu-taihiap, juga Yang Te Cinjin.

"Nah, kalian dengar kata-kataku tadi, Totiang. Aku sebenarnya tak ingin menjadi bengcu karena aku orang asing. Hanya karena peraturan pibu menyebutkan begitu dan kalau aku menang mestinya aku menjadi bengcu, maka biarlah kutukar kedudukanku itu dengan puteri Hu-taihiap. Aku telah memintanya secara baik-baik tapi Hu-taihiap menolak pinanganku, padahal kami berdua telah saling mencinta. Dan karena kini aku akan bertanding dan aku yakin dapat mengalahkan calon lawanku, maka Hu-taihiap kutantang untuk beranikah menerima syaratku tadi, tukar-menukar!"

Hu Beng Kui menggereng. Sebenarnya hal ini ringan baginya, kedudukannya tak terancam karena menang atau kalah tetap saja dia menduduki kursi bengcu. Tapi karena kekalahan seperti sebuah penghinaan dan kata-kata Kim-mou-eng itu pedas dan tajam melebihi pedang, maka jago pedang ini lebih terpukul oleh kata-kata itu daripada persoalan puterinya.

"Baik, kuterima tantanganmu, Kim-mou-eng. Tapi kalau kau kalah, aku akan membunuhmu!"

Kim-mou-eng tertawa, melirik Yang Te Cinjin. "Bagaimana, Totiang? Kalian dapat menjadi saksi?"

"Hm." Ketua Liong-san-pang ini merah mukanya. "Pinto menjadi saksi, Kim-mou-eng. Dan Bi Kong lo-suhu serta yang lain-lain juga mendengar kata-katamu."

Semua ketua partai merah padam. Mereka terpukul oleh kata-kata Kim-mou-eng bahwa mereka tak menyukai pemimpin bangsa asing, padahal sebenarnya ibu Kim-mou-eng adalah orang Han juga, jadi Kim-mou-eng itu sebetulnya peranakan dan tak tepat kiranya menuduh Pendekar Rambut Emas itu bangsa asing karena dia adalah berdarah campuran. Tapi karena Hu-taihiap telah menerima dan mereka juga lega bahwa menang atau kalah Hu-taihiap tetap menduduki kursi bengcu, maka Yang Te Cinjin mundur dan tidak bicara lagi, mendapat senyum mengejek dari Kim-mou-eng yang menganggap dia dan kawan-kawannya tidak jujur dan melanggar peraturan sendiri.

"Nah," Kim-mou-eng menghadapi lawannya. "Sekarang kita bebas bertanding, Taihiap. Tapi tempat ini kukira sempit. Kalau kau mau, sebaiknya kita bertempur di bukit itu, dapat ditonton dari sini!"

"Hm," Hu Beng Kui mengangguk. "Kau benar, Kim-mou-eng. Barangkali kau takut bahwa pukulanku membahayakan orang-orang di sini. Baiklah, kita ke sana!"

Hu Beng Kui yang berkelebat dan lenyap dari panggung tiba-tiba meluncur dan terbang di atas kepala orang-orang kang-ouw ini, tak menginjak sebuah kepala pun, meluncur dan sudah mengerahkan kepandaiannya yang luar biasa. Begitu ia tiba di luar Ce-bu dan orang melihat ia mengembangkan lengannya, tiba-tiba jago pedang itu sudah meluncur dan terbang ke atas bukit, luar biasa cepat.

"Ha-ha!" Suara tawa ini menggetarkan hati semua orang. "Kau hebat, Hu-taihiap. Biarlah aku menyusul!"

Baru jago pedang itu tiba di atas, mendadak Kim-mou-eng terkelebat dan lenyap pula, melewati kepala ratusan orang kang-ouw di situ dan tahu-tahu Pendekar Rambut Emas itu pun telah terbang dan meluncur ke atas bukit. Begitu bayangan kuning emas itu tiba di sana dan Hu Beng Kui menggeram, mendadak terdengar ledakan, disusul bentakan dan geraman, dan bertandinglah dua orang itu.

Hu-taihiap, yang tak sabar menunggu dan tidak mau banyak bicara lagi, tiba-tiba menyambut lawannya begitu Kim-mou-eng tiba di puncak. Begitu jago pedang ini menyerang dan melepas pukulannya, Kim-mou-eng menangkis, terpental, dan dua orang itu segera bergebrak. Hu Beng Kui yang terhuyung dan marah besar sudah membentak menghitung jurus pertama, disusul kemudian oleh jurus kedua dan ketiga.

Ketika bayangan mereka berkelebatan dan susul-menyusul, jago pedang itu melepas pukulannya, maka bukit pun tergetar oleh ledakan atau suara yang menggelegar, disusul oleh kilatan cahaya putih yang sambar-menyambar dan bukit pun tiba-tiba seakan diserang hujan halilintar.

Penonton di bawah terpaku dan terbelalak. Hebat pertandingan itu, Hu-taihiap tak menghitung-hitung lagi jurusnya tapi semua dapat merasakan bahwa dua puluh jurus telah lewat, cepat dan seperti angin lalu saja. Ketika enam bayangan hitam berkelebatan menuju puncak dan Tok-ong maupun lima temannya tertawa bergelak, maka orang di bawah terbelalak dan menjadi ngeri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment