Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 103

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 103

"Ha-ha, bagus, Kim-mou-eng. Dua puluh jurus telah lewat!"

"Heh, jago pedang ini seharusnya mengaku kalah. Tapi kenapa menyerang terus?"

"Ha, tentu karena penasaran, Ji-moi. Biar kita lihat dan tonton mereka!"

Ketika Enam Iblis Dunia berdiri mengelilingi, sambaran atau kilatan cahaya petir seolah tidak memengaruhi mereka. Bi Kong Hwesio dan lain-lain kagum, maklum bahwa mereka sendiri tak mungkin mendekati arena pertandingan. Hawa panas dari cahaya putih yang berkelebatan di atas puncak itu sudah sampai di tempat mereka, sebuah hal yang hampir tak masuk akal.

Ketika Hu-taihiap maupun Kim-mou-eng tak kelihatan lagi bayangannya karena mereka sambar-menyambar melepaskan pukulan, Bi Kong Hwesio berseru memuji sambil merangkapkan tangannya.

"Omitohud, ini pertandingan luar biasa. Masih lebih hebat dibanding ketika Hu-taihiap menghadapi Enam Iblis Dunia!"

"Benar, dan bukit itu mulai berguguran, Losuhu. Agaknya sebentar lagi kita semua harus menyingkir. Kota bisa kejatuhan hujan batu!"

Benar saja, batu-batu di atas bukit mulai beterbangan. Mula-mula sedikit, tapi akhirnya banyak. Kian lama kian banyak dan orang pun panik. Bukit dikelilingi debu hingga orang tak dapat lagi menyaksikan pertandingan. Suara menggelegar dan ledakan yang menggetarkan bumi seakan peristiwa gempa. Cam-kong dan kawan-kawannya sendiri di atas mulai berteriak-teriak. Mereka terhuyung dan beberapa kali harus menancapkan kaki. Tanah yang diinjak longsor dan Enam Iblis Dunia itu terbelalak.

Bukit tiba-tiba bergemuruh dan meledak. Ketika dua pukulan beradu dan Hu Beng Kui berteriak keras, puncak pun terbelah. Tempat itu hangus bagai disambar kekuatan cahaya yang mengandung muatan listrik berkilo-kilo ton.

"Blarr!"

Orang di dalam kota tunggang-langgang. Sekarang Ce-bu geger. Pertandingan di atas puncak itu seperti dua raksasa yang mengamuk, atau mungkin seperti dua ekor naga sakti yang berebut mangsa. Ketika ledakan dan suara menggelegar membuat bukit bergetar hingga batunya rontok, Cam-kong dan kawan-kawannya tak mendapat tempat untuk berpijak lagi.

"Minggir, kita menjauh!"

Lima temannya mengangguk. Enam iblis itu pucat dan ngeri. Mereka, tokoh-tokoh berkepandaian tinggi, masih juga digetarkan oleh pertandingan dua orang itu. Hu Beng Kui dan Kim-mou-eng sama-sama mempergunakan ilmu yang sama: Khikang, Jing-sian-eng, Lu-ciang-hoat, dan Cui-sian Gin-kang. Hebatnya bukan kepalang dan tentu saja mereka ngeri.

Hu Beng Kui mencak-mencak dan menggeram seperti singa yang direbut makanannya, melihat Kim-mou-eng memiliki Khikang dan Jing-sian-eng pula. Tahulah jago pedang itu bahwa puterinya telah memberikan ilmunya pada Kim-mou-eng. Dia membentak dan melepaskan pukulan bertubi-tubi, tapi Pendekar Rambut Emas dapat melayani dengan baik. Hal itu membuat jago pedang tersebut menggeram dan tidak peduli lagi pada perjanjian semula, yakni melewati dua puluh jurus. Terjadilah pertandingan yang hebat luar biasa, yang tidak sanggup lagi didekati oleh siapa pun, bahkan oleh Enam Iblis Dunia sekalipun.

Ketika pertandingan menjadi gelap karena debu serta batu-batu menutupi bukit, jago pedang itu memaki-maki lawannya.

"Keparat, kau tak jujur, Kim-mou-eng. Kau mencuri Khikang dan Jing-sian-eng-ku!"

"Hm, dan kau pun mendapatkan Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang-ku, Hu-taihiap. Kita tak usah tuduh-menuduh karena kaulah yang mulai lebih dulu!"

"Tapi aku mendapatkan ilmumu dengan cara-cara yang baik. Sedangkan kau, ah... kau tentu membujuk dan menipu puteriku. Kau merayu Swat Lian, kau curang. Keparat!"

Hu Beng Kui yang marah besar menerjang lawannya. Dia akhirnya mengerti kenapa Kim-mou-eng berani menantangnya. Kiranya ia telah mendapatkan Khikang dan Jing-sian-eng, menggabung dua ilmu itu seperti dirinya. Mereka sama-sama tahu dan tentu saja imbang. Kemenangan atau kekalahan hanya akan ditentukan oleh daya tahan tubuh dan napas mereka. Hal ini mencemaskan Hu Beng Kui, karena sebagai jago tua, tidak mungkin dia diadu secara fisik dengan yang muda. Benar saja, dua jam kemudian napas jago tua ini memburu, sedang Kim-mou-eng masih tenang-tenang saja, meskipun keringat membasahi sekujur tubuhnya.

"Nah, kau akan segera roboh, Hu-taihiap. Daya tahan tubuhmu tak sekuat orang muda!"

"Jahanam!" Jago pedang itu mendelik. "Aku roboh boleh saja, Kim-mou-eng. Tapi kau harus kubunuh lebih dulu!"

"Kau tak menepati janji, ini sudah lima ratus jurus!"

"Memangnya kenapa? Seribu jurus pun aku ingin mencekikmu, Kim-mou-eng. Kau jahanam keparat!"

Hu Beng Kui kembali menyerang hingga ke pinggang gunung. Bukit sudah hancur dan puncaknya tak dapat lagi dipakai bertempur. Masing-masing harus pandai mencari tempat berpijak dan sambar-menyambar seperti kilatan halilintar. Cam-kong, yang memiliki kepandaian tinggi, kini merasa kabur melihat jalannya pertandingan. Mereka sadar bahwa kedua lawan tidak hanya mempergunakan Jing-sian-eng, melainkan juga menggabungnya dengan Cui-sian Gin-kang. Kecepatan gerak mereka dua kali lipat, hebat bukan main, membuat Enam Iblis Dunia merasa kecil dan khawatir.

Ketika Hu Beng Kui masih mendesak namun napasnya memburu, tahulah Enam Iblis Dunia bahwa kemenangan akan diperoleh Kim-mou-eng. Kemenangan angka yang tipis! Saling pandang dengan menyeringai, Cam-kong mengajak temannya untuk membantu Kim-mou-eng. Begitu mereka bergerak berbarengan, keenam iblis itu melesat dan menghantam si jago pedang, tepat ketika Hu Beng Kui ditangkis pukulannya oleh Kim-mou-eng.

"Dess!"

Jago pedang itu mencelat. Serangan dari belakang pada saat ia menghantam dan ditangkis Kim-mou-eng tentu saja membuat jago pedang itu kaget. Dia marah bukan main dan mengeluarkan bentakan dahsyat hingga orang di bawah gunung terpelanting. Ketika jago pedang itu berjungkir balik dan Kim-mou-eng terkejut, Cam-kong dan kawan-kawannya berseru bahwa mereka akan membantu Kim-mou-eng.

Kim-mou-eng tentu saja marah. Itu dianggapnya kecurangan, namun Cam-kong dan teman-temannya tetap menyerang. Hu Beng Kui mendelik, terguncang, dan nyaris terpelanting. Pukulan Siauwjin yang mendarat di punggungnya, ditambah hantaman Tok-ong yang tepat mengenai tengkuknya, membuat pendekar ini menggeram.

"Hayo, habisi jago pedang ini, Kim-mou-eng. Kubantu kau!"

Kim-mou-eng terbelalak. Dia tak setuju dan marah melihat perbuatan Enam Iblis Dunia ini. Dia tak bergerak dan membiarkan Hu Beng Kui menyambut enam orang itu. Ketika Hu-taihiap melengking dan mengibas atau menampar, Enam Iblis Dunia itu disambut pukulannya.

"Des-des-dess!"

Ternyata, meskipun tenaganya tinggal separuh, jago Ce-bu itu masih hebat. Dia sanggup mementalkan enam lawannya. Cam-kong ngeri, terpental dan berjungkir balik bertemu Khi bal-sin-kang yang sudah digabung dengan Lu-ciang-hoat. Ketika Hu Beng Kui membentak dan maju berkelebat melepaskan pukulannya, Cam-kong jatuh bangun dan lima temannya yang lain memaki-maki.

"Keparat, bantu kami, Kim-mou-eng. Jangan bengong di situ!"

"Hm." Pendekar Rambut Emas menjengek. "Kalau kalian ingin menghadapi Hu-taihiap, silakan maju, Cam-kong. Aku belakangan saja setelah kalian dihajar!"

"Ah, kau tak tahu budi!" Nenek Naga melengking. "Kalau begitu silakan bertanding lagi, Kim-mou-eng. Biarlah kami menonton dan mundur!"

Nenek itu berjungkir balik, mundur, dan memberi tahu teman-temannya untuk menjauhi pukulan Hu Beng Kui. Ketika Enam Iblis Dunia berlindung dan tinggallah Kim-mou-eng di depan, jago pedang ini berkelebat dan menyerang. Kim-mou-eng melayani, namun saat Nenek Naga dan yang lain-lain terkekeh, mendadak mereka bergerak kembali membokong Hu Beng Kui dengan pukulan jarak jauh. Hal ini menyibukkan pendekar itu dan terpaksa Kim-mou-eng berhenti lagi, memberi kesempatan jago pedang itu untuk menghadapi Enam Iblis Dunia.

Begitu Hu Beng Kui menghadapi enam lawannya, Cam-kong dan kawan-kawannya berlindung lagi. Hu-taihiap kembali menerjang Kim-mou-eng. Jago pedang itu naik darah dan menghantam Kim-mou-eng, karena Pendekar Rambut Emas itu seolah menanti dan menantang. Begitu ia menerjang dan Kim-mou-eng menangkis, Nenek Naga Bumi dan teman-temannya kembali membokong. Begitu berulang-ulang hingga Kim-mou-eng sendiri marah. Enam manusia sesat itu benar-benar licik dan mempermainkan mereka berdua.

Ketika Hu Beng Kui terpental dan kaget menerima tangkisan Kim-mou-eng, jarum dan senjata-senjata halus lainnya tiba-tiba mulai beterbangan dan menyambar pendekar Ce-bu itu.

"Wut-wut-wut!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment