Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 104

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 104

Hu Beng Kui menyampok runtuh. Diserang secara gerilya tentu saja membuat jago pedang itu kalap. Hu-taihiap melengking dan menggerakkan tangannya ke enam penjuru. Ketika terdengar ledakan dan Cam-kong serta kawan-kawannya berjungkir balik untuk menghindar, tiba-tiba mereka menyerang Kim-mou-eng dan kali ini justru membantu Hu-taihiap.

"Ha-ha, kalau begitu kubantu kau, Hu-taihiap. Biar kau memperoleh kemenangan!"

"Dess!" Kim-mou-eng terlempar. Ia tidak menyangka akan dibokong, namun Pendekar Rambut Emas itu dapat berjungkir balik. Sembari membentak dan menggerakkan lengan ketika enam iblis itu mengejar lagi, ia berhasil menangkis. Karena tenaganya masih lebih kuat dibandingkan Hu Beng Kui, Cam-kong serta teman-temannya mengeluh terbanting dan bergulingan. Cam-kong kemudian berbalik menyerang Hu Beng Kui, kembali membantu Kim-mou-eng. Hu Beng Kui marah bukan main.

Akhirnya, jago pedang itu menggeram dan menyambut pukulan Cam-kong yang meledak ke arahnya. Ketika ia membiarkan lima orang lainnya menerima pukulan Cam-kong, Cam-kong terpekik karena Lu-ciang-hoat dan Khi-kang menghantam menyambut pukulannya.

"Hei... dess!" Pembunuh Petir itu terbanting. Cam-kong-ciang (Pukulan Membunuh Petir) yang disambut Khi-bal-sin-kang digabung Lu-ciang-hoat berbalik menghantam kakek iblis itu sendiri. Cam-kong tidak menduga hal itu dan seketika menjerit hebat sampai muntah darah.

Ketika iblis itu bergulingan dan mengeluh di sana, Hu Beng Kui sendiri menerima pukulan dari lima lawannya yang lain hingga tergetar serta terhuyung. Ia sempat terputar dua kali, namun tiga dari lima iblis itu menjerit. Pukulan mereka berbalik, namun untung tenaga Hu Beng Kui sudah tidak sekuat semula. Mereka terlempar dan bergulingan pula, melepaskan sisa pukulan dengan menghantam sebuah batu besar hingga meledak dan hancur berkeping-keping.

Dua iblis lainnya terbelalak dan mundur dengan gentar, sementara Cam-kong yang sudah terluka tiba-tiba terduduk, terengah-engah, dan bersila.

"Aih, selamatkan dia. Bawa Cam-kong!" Bagai siluman, tiba-tiba Nenek To-ci menyambar temannya.

Saat itu, Hu Beng Kui mengamuk dan menyerang siapa saja. Kim-mou-eng kali ini menjadi sasaran. Hek-bong Siauw-jin dan yang lain mengganggu dengan cara mereka; muncul dan bersembunyi secara berganti-ganti, kadang menyerang Hu-taihiap, kadang pula Kim-mou-eng. Kim-mou-eng lebih mendapat tekanan ketimbang Hu Beng Kui. Maklum, jago pedang itu sudah memburu napasnya sehingga tak sukar merobohkan jago pedang itu jika benar-benar sudah kelelahan, berbeda dengan Kim-mou-eng yang harus diganggu dan dihabiskan dulu napasnya.

Ketika mereka membokong dan menyerang berganti-ganti serta ilmu hitam mulai dikeluarkan untuk melakukan kecurangan, mendadak sesosok bayangan berkelebat dari bawah Swat Lian. Ia muncul dan membentak lima dari Enam Iblis Dunia itu yang masih menyerang ayah maupun kekasihnya.

"Siauw-jin, kau manusia rendah!"

Bentakan atau lengkingan itu sudah disusul sebuah tamparan jarak jauh. Sebuah cahaya menyilaukan menyambar setan cebol ini, menghantamnya, dan Siauw-jin terpekik. Waktu itu, ia sedang membokong Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas sedang menghadapi pukulan Hu-taihiap dan berniat menambah serangan Hu Beng Kui dengan serangannya sendiri. Begitu Swat Lian berkelebat dan menghantamnya dari samping, iblis ini membanting tubuh dan bergulingan sehingga pukulan itu menyambar bekas tempatnya berdiri.

"Dess!" Toa-ci dan Nenek Ji-moi memekik. Mereka menjadi korban tanah yang berhamburan, amblong disambar Khi-kang yang dilancarkan gadis itu. Ketika mereka kemasukan debu dan kaget mengucek mata, mendadak tubuh mereka terlempar ditendang gadis itu yang sudah mendekati pertempuran. Begitu Swat Lian berkelebat ke arah iblis-iblis yang lain dan membagi-bagi tamparan atau pukulan, berturut-turut lima iblis itu menjerit, terlempar, dan terbanting. Tok-ong menggereng bagai singa terluka. Kakek tinggi besar itu menerima tamparan dan jungkir balik dengan pundak kanan yang hangus.

Ketika semuanya terkejut dan marah namun gentar, Kim-mou-eng berseru gembira melihat kedatangan gadis itu. "Bagus, hajar mereka, Lian-moi. Bunuh dan basmi mereka!"

Panik dan terkejutlah Enam Iblis Dunia itu. Cam-kong yang terluka tiba-tiba membuka mata. Lima temannya jatuh bangun dan Swat Lian membagi-bagi pukulan, mengejar, serta berkelebatan menghajar mereka. Khi-kang yang dipunyai gadis itu memang tak dapat mereka lawan, betapa pun mereka menangkis atau menolak. Maklum, Khi-kang adalah pukulan istimewa yang akan mengembalikan pukulan mereka, betapa pun ringan atau beratnya.

Ketika lima iblis itu jungkir balik dihajar Swat Lian dan Nenek Naga Bumi maupun Ji-moi melengking-lengking, mereka berdua tiba-tiba memberi tanda untuk kabur.

"Lari!" Ji-moi dan Nenek Naga Bumi berkelebat. Mereka turun gunung dan melarikan diri sambil memaki-maki. Toa-ci sudah menyambar Cam-kong dan melarikan diri pula ke bawah gunung. Ketika Siauw-jin atau Tok-ong juga bergerak memutar tubuh mereka, Enam Iblis Dunia itu sudah kabur dan masing-masing melarikan diri dengan licik dan pengecut.

"Berhenti!" Swat Lian marah, membentak, dan tentu saja mengejar. Khi-bal-sin-kang-nya menyambar dan Hek-bong Siauw-jin jatuh terguling-guling sambil berteriak. Tapi ketika iblis itu melompat bangun dan menyelinap di balik sebuah batu besar, pukulan kedua menyambar dan meledakkan batu itu.

"Dess!" Siauw-jin sudah melejit seperti monyet. Iblis cebol ini berteriak menubruk temannya, Tok-ong. Begitu ia melekat dan menempel di punggung Tok-ong, Tok-ong memaki-maki dan terbang mempercepat larinya.

"Hei, turun, Siauw-jin. Turun!"

"Tidak, aku takut gadis itu, Tok-ong. Hayo kabur dan cepat bawa aku saja!"

Swat Lian marah tapi juga geli. Tok-ong turun bukit dengan kecepatan terbang, sementara di punggungnya menempel Siauw-jin yang ketakutan. Setelah mengejar dan membentak yang lain, Swat Lian akhirnya berkelebat dan melepas pukulannya pada Nenek Naga atau Ji-moi, membuat dua nenek itu terguling. Namun, mereka bangkit lagi, memaki-maki, dan melanjutkan lari.

Ketika ia terus mengejar, Enam Iblis itu berseru panjang dan mendadak mereka berpencar ke enam jurusan.

"Jangan menyatu. Pencar!"

Swat Lian mendongkol. Dengan licik keenam lawannya berpisah, masing-masing melarikan diri ke tempat yang aman dan gadis itu harus memilih. Terpaksa ia mengejar yang terdekat. Sementara Swat Lian mengejar Enam Iblis Dunia dan Ji-moi serta yang lain jatuh bangun dihajar pukulannya, di bukit masih terjadi pertarungan seru antara Hu Beng Kui dengan Kim-mou-eng.

"Nah, sekarang kita tak diganggu lagi, Kim-mou-eng. Kau atau aku yang roboh!"

Kim-mou-eng terkejut. Sebenarnya, ia tak bermaksud untuk bertanding mati-hidup. Adalah Hu-taihiap yang mengajak pertandingan itu sampai seorang di antaranya roboh, karena penasaran dan ingkar janji. Tapi karena jago pedang itu masih berbahaya dan pukulan dahsyat menyambarnya, terpaksa Pendekar Rambut Emas ini menangkis dan menerima pukulan itu.

"Blarr!" Bukit kembali seakan diguncang gempa. Hu Beng Kui yang menggabung Khi-bal-sin-kang-nya dengan Lu-ciang-hoat disambut dengan cara yang sama oleh Kim-mou-eng. Jago pedang itu terdorong sementara Kim-mou-eng terhuyung. Nyatalah, Hu-taihiap berkurang tenaganya dan jago tua itu mendelik.

Ketika ia membentak dan menggeram lagi, pukulan atau dorongan jarak jauh menyambar kembali. Ditangkis, dan lagi-lagi jago tua itu terdorong. Sekarang kian panjang langkah kaki pendekar ini; mula-mula terdorong setindak, tapi akhirnya dua tindak. Kim-mou-eng tetap terhuyung, namun Pendekar Rambut Emas itu tak sampai terdorong seperti lawannya.

Ketika Hu-taihiap melengking dan mencabut pedangnya—senjata yang selama ini jarang digunakan—tiba-tiba senjata itu sudah beterbangan menyambar-nyambar, dikendalikan Khi-bal-sin-kang dan tenaga Lu-ciang-hoat.

"Trik-trangg!" Bunga api berpijar di tengah-tengah gelapnya debu yang pekat. Kim-mou-eng terpaksa mencabut pit-nya pula dan dengan kekuatan Khi-bal-sin-kang serta Lu-ciang-hoat, ia "menerbangkan" senjatanya dan mengendalikannya dari jauh, sama seperti Hu Beng Kui yang juga mengendalikan pedangnya dengan tenaga sinkang (tenaga sakti).

Ketika dua senjata itu sambar-menyambar dan orang di bawah mendengar benturan-benturan nyaring, pit dan pedang akhirnya patah.

"Cringg!" Suara itu disusul munculnya bunga api yang besar. Orang melihat cahaya menyilaukan dan ledakan di sana, mereka tak melihat betapa kali ini Hu Beng Kui terpelanting. Jago tua itu, yang sudah kian berkurang dan menyusut tenaganya, mendadak mengerahkan segenap kekuatan, melontar pedang dengan bentakan mengguntur. Tapi ketika Kim-mou-eng menangkis dan mengerahkan tenaganya pula, pit menyambar dan akhirnya patah bersama pedang hingga hancur. Bukit digetarkan teriakan Hu Beng Kui itu. Bi Kong Hwesio dan teman-temannya di bawah tiba-tiba roboh; mereka terjengkang dan tergetar oleh suara sakti Hu-taihiap.

Ketika mereka mendengar gerangan jago pedang itu dan kilat serta api kembali menyambar-nyambar di balik pertandingan dahsyat itu, Hu Beng Kui benar-benar ingin bertempur sampai titik keringat terakhir.

"Hayo, robohkan aku, Kim-mou-eng. Hayo coba robohkan!"

Kim-mou-eng basah kuyup. Pendekar ini mulai pucat melihat keberingasan lawannya. Kalau Hu Beng Kui bukan calon mertuanya, barangkali akan lain sikapnya; dia akan membalas keras dengan keras. Tapi karena jago tua itu adalah ayah Swat Lian dan gadis itu adalah kekasihnya, maka Kim-mou-eng bingung menghadapi lawan. Ia bertahan dan menangkis, mengharap Hu Beng Kui akan roboh sendiri—bukan oleh pukulannya, melainkan oleh tenaga yang habis dan napas yang tak akan bertahan panjang lagi. Hu Beng Kui rupanya tahu itu, melihat Kim-mou-eng mulai kucing-kucingan dan sering mengelak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment