Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 105

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 105

Pukulan yang luput tentu saja berarti terhamburnya tenaga dan menguras stamina. Hu Beng Kui melotot. Sebenarnya Kim-mou-eng kagum karena meski mereka sudah bertanding selama seribu jurus, jago pedang itu masih kuat. Hal tersebut menjadi tanda betapa hebat dan luar biasanya kemampuan lawannya itu.

Namun, karena jago tua tidak akan sekuat jago muda, kondisi fisik sang lawan perlahan tetapi pasti mulai menurun. Benar saja, jago pedang itu mulai menggigil dan pucat. Ia terus memaki-maki, sementara Kim-mou-eng berusaha mengelak dan berloncatan, menghindari sebisa mungkin adu pukulan dan membiarkan serangan lawannya lewat di sisinya. Semakin banyak pukulan yang kosong, semakin cepat pula tenaga jago pedang itu terkuras.

Ketika jago pedang itu mendelik dan berkali-kali menggeram atau membentak, tiba-tiba sebuah suara yang amat dikenal Kim-mou-eng terdengar lembut menyusup ke telinganya, yaitu suara gurunya, Bu-Beng Sian-Su.

"Kim-mou-eng, ajak dan bawa lawanmu ke kota raja. Cari dan temukan Kwee Han!"

Kim-mou-eng terkejut, namun ia girang mendengar suara gurunya. Kegirangan itu bercampur dengan rasa heran karena sang guru tiba-tiba menyebut nama Kwee Han, sahabat dari Ming-ciang yang kini menjadi menteri muda di istana. Maka, Pendekar Rambut Emas itu mengangguk dan berseru keras sembari menangkis pukulan lawannya. Ketika ledakan keras mengguncangkan bukit akibat benturan tersebut, Kim-mou-eng tiba-tiba memutar tubuhnya dan berlari turun bukit. Hu-taihiap yang terkejut segera melengking dan mengejarnya.

Hu-taihiap mengira Kim-mou-eng menyerah. Ia mengejar dengan mengerahkan ilmunya yang luar biasa sembari membentak, "Kim-mou-eng, berhenti!"

Bi Kong Hwesio dan rombongan lainnya tertegun. Mereka sempat bersila karena suara-suara di atas bukit sedemikian menggetarkan jantung. Meski posisi mereka cukup jauh, ternyata mereka tidak tahan juga. Ratusan orang kang-ouw yang berdiri terbelalak memandang pertempuran itu akhirnya roboh. Banyak di antara mereka pingsan, tanda betapa hebat dan spektakulernya pertandingan tersebut.

Maka, ketika bayangan kuning emas meluncur dari bukit dan Hu Beng Kui mengeluarkan bentakan yang menggelegar, Bi Kong Hwesio dan teman-temannya harus menggigit bibir kuat-kuat agar tidak jatuh pingsan. Suara bentakan Hu Beng Kui itu dahsyat sekali, melebihi seratus harimau yang mengaum. Mereka terkejut melihat Kim-mou-eng berlari turun bukit dikejar oleh Hu Beng Kui.

"Eh, Hu-taihiap rupanya menang, cuwi pangcu. Lihat, Kim-mou-eng melarikan diri!"

"Benar, tapi siapa itu, Bi Kong lo-su hu? Tampaknya seperti Sian-su. Hei, Bu-Beng Sian-su muncul!"

Ketika semua orang melihat sesosok bayangan tertutup halimun muncul di balik bukit, mereka tersentak karena tidak mengerti kejadian itu. Tiba-tiba, kakek dewa tersebut lenyap kembali. Bayangannya membuntuti si jago pedang yang meluncur turun mengejar Kim-mou-eng, tanpa disadari oleh Hu Beng Kui yang sedang dimabuk amarah. Sementara itu, Kim-mou-eng terus berkelebat ke arah utara.

Ketika Bi Kong Hwesio dan yang lain melihat Pendekar Rambut Emas menuju kota raja diikuti oleh Hu Beng Kui yang terus memaki, bayangan Bu-Beng Sian-su pun lenyap entah ke mana.

"Kejar! Mari kita kejar!" seru Bi Kong Hwesio. "Pertandingan belum selesai, cuwi pangcu. Ayo kita lihat dan saksikan mereka!"

Begitu rombongan ketua partai itu berlari mengejar, mereka mengerahkan ilmu meringankan tubuh sekuat tenaga, namun tetap saja mereka tertinggal jauh. Kim-mou-eng dan Hu-taihiap sudah lenyap di depan. Mereka heran mengapa Kim-mou-eng melarikan diri, padahal ia tampak tidak mungkin kalah.

Pendekar Rambut Emas itu terus melesat menuju kota raja. Kim-mou-eng sendiri sebenarnya tidak tahu pasti mengapa gurunya menyuruhnya ke sana, namun ia yakin ada sesuatu yang penting. Oleh karena itu, ia tidak memedulikan teriakan lawannya yang terus memintanya berhenti dan menyerah.

Ketika kota raja sudah di depan mata, Pendekar Rambut Emas itu memasuki celah pintu gerbang dan menuju ke gedung Kwee-taijin, tempat tinggal Kwee Han. Hu Beng Kui segera melesat mengejarnya, tidak mau kalah.

"Berhenti! Jangan lari, Kim-mou-eng. Berhenti dan nyatakan bahwa kau menyerah!"

"Ha-ha, menyerah bagaimana, Hu-taihiap? Kau tidak dapat menangkapku. Aku sengaja ingin menghabiskan napasmu!"

"Keparat, kubunuh kau, Kim-mou-eng. Kucekik lehermu nanti!"

Hu Beng Kui akhirnya tiba pula di gedung Kwee Han sambil terus memaki. Bayangan mereka berkelebat begitu cepat hingga para pengawal di depan gedung berseru kaget. Mereka merasa seperti didatangi hantu yang mendadak hilang, hanya menyisakan desir dingin. Kim-mou-eng pun sudah masuk ke dalam gedung untuk mencari Kwee Han.

Saat itu, Kwee Han sedang berada di kamarnya. Pemuda yang kini menjadi menteri muda itu sedang menyendiri dan mengusir semua pelayan karena ingin mengamati Cermin Naga yang membingungkannya. Benda aneh itu jatuh di kamarnya dan sedang dicari-cari oleh Nenek Naga dan temannya. Karena belum menemukan rahasianya, ia menyimpannya dengan sangat teliti.

Tepat saat ia sedang mengamati benda itu, pintu kamarnya didobrak dan sesosok bayangan kuning emas muncul di depannya.

"Kwee Han, tolong aku!"

Menteri muda itu terkejut melihat Kim-mou-eng. Ia hampir membentak, namun segera menahan diri. Cermin Naga di tangannya cepat-cepat disembunyikan. Namun, Kim-mou-eng sempat melihat benda itu dan bertanya heran, "Eh, apa itu?"

Kwee Han menjadi pucat. "Lihat, apa yang kau bawa, Kwee Han? Berikan padaku dan pinjam sebentar!"

"Tidak!" Pemuda itu mundur dengan wajah berubah. "Ini warisan nenek moyangku, Kim-taihiap. Ini punyaku, tidak boleh sembarang dipegang atau dipinjamkan!"

"Tapi benda itu mengeluarkan sinar dan memantulkan cahaya. Apakah itu sebuah cermin?"

Kwee Han gugup. Belum sempat menjawab, terdengar bentakan dan geraman dari luar. "Kim-mou-eng, jangan lari dan bersembunyi!"

"Siapa itu, taihiap? Kau dikejar-kejar?" tanya Kwee Han.

"Benar," jawab Kim-mou-eng sambil mengusap keringat. Ia segera berkelebat dan keluar lewat jendela. "Aku mencari persembunyian sementara. Kwee Han, bantu aku dan carikan tempat yang aman!"

"Di belakang ada gudang! Kesanalah, taihiap."

Kim-mou-eng segera lenyap ke arah belakang. Sesaat kemudian, Hu Beng Kui muncul di kamar itu bagaikan iblis. Cermin yang dipegang Kwee Han jatuh ke lantai dan berbunyi, "Prang!"

Hu Beng Kui terbelalak. Ia terkejut karena cermin yang persis seperti miliknya ada di sana. Wajah jago pedang itu tampak menyeramkan, penuh debu, dan basah kuyup oleh keringat setelah dua jam bertanding. Begitu melihat Cermin Naga, Kwee Han berteriak tertahan. Hu Beng Kui yang sudah tidak sabar segera menyambar cermin itu.

"Hei, kau jahanam keparat! Tidak tahu aturan!" teriak Kwee Han, namun Hu Beng Kui sudah mendahului dan berhasil merampas cermin itu.

"Buuuk!" Kwee Han terlempar dan roboh terguling-guling. Pemuda itu segera berteriak memanggil pengawal. Para pengawal yang sedari tadi sudah ribut oleh kehadiran Kim-mou-eng dan Hu Beng Kui segera bergegas memasuki kamar menteri muda tersebut dengan perasaan terkejut dan terbelalak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment