Chapter 106
Kwee Han memaki dan merampas kembali benda miliknya itu. Namun, ketika Hu Beng Kui mendengus dan mengibaskan lengan bajunya, pemuda itu terbanting dan terguling-guling lagi sambil mengaduh.
"Aduh, keparat! Serang laki-laki itu! Bunuh si buntung itu!" teriak Kwee Han.
Para pengawal berkelebatan. Mereka menghambur ke arah Hu Beng Kui. Si jago pedang itu hanya menjublak dan bengong di sana, tidak menghiraukan serangan para pengawal yang menusukkan tombak atau mengayunkan golok. Namun, ketika senjata mereka patah-patah dan si buntung itu tidak bergeming, para pengawal terkejut. Kwee Han sendiri kembali berteriak, "Serang! Serang lagi, bunuh!"
Para pengawal mengambil senjata baru. Mereka sebenarnya gentar dan pucat oleh kehebatan si buntung itu. Namun, karena si buntung mematung mengamati cermin tersebut dan mereka mendapat kesempatan untuk menyerang lagi, golok dan tombak kembali berhamburan, namun senjata itu lagi-lagi patah.
"Krak-krak-krak!" Hu Beng Kui sadar. Dua kali diserang secara tiba-tiba membuat jago pedang itu marah. Dia tadi tertegun mengamati benda itu karena mengira itulah Cermin Naganya yang selama ini disimpan dengan baik, yang kini dicuri dan berada di tangan pemuda itu. Begitu dia melotot dan mengibas, para pengawal terlempar menjerit-jerit. Tiba-tiba jago pedang ini sudah berkelebat dan menyambar Kwee Han.
"Kau mencuri benda milikku? Dari mana kau dapatkan ini?"
"Aduh... ampun! Lepaskan aku, orang gila. Itu punyaku sendiri, jangan mengaku-aku. Berikan padaku dan lepaskan cekikanmu!"
"Bohong, kau bohong, anak muda. Ini punyaku dan kaulah yang tak tahu malu!"
Bruk! Hu Beng Kui menggeram dan membanting menteri muda itu hingga Kwee Han merintih, terbelalak, dan pucat pasi karena ketakutan. Ketika dia diangkat dan hendak dibanting kembali, mendadak dia teringat Pendekar Rambut Emas dan melolong, "Kim-taihiap, tolong! Aku diserang orang gila!"
Hu Beng Kui marah. Dia membanting pemuda itu dan hendak menginjaknya. Namun, ketika bayangan Kim-mou-eng muncul dan Pendekar Rambut Emas itu membentak menyuruhnya melepaskan pemuda itu, Kwee Han ditendang. Hu Beng Kui mengangkat alisnya, lalu terjadilah serangan dan tangkisan yang membuat dinding kamar itu roboh.
Kwee Han berteriak-teriak agar Kim-mou-eng mengusir "orang gila" itu. Ketika para pengawal berhamburan dan merasa gentar oleh sepak terjang Hu-taihiap, mendadak seorang komandan berkelebat dan menjatuhkan diri berlutut.
"Taijin, di luar muncul utusan Sri Baginda. Ratusan orang dari Ming-ciang datang!"
"Apa?" Kwee Han terkejut. "Utusan Sri Baginda? Ratusan orang Ming-ciang?"
"Benar, mereka hendak menemui Taijin. Dan Bu-ciangkun (Panglima Bu) datang sebagai utusan Sri Baginda!"
Kwee Han pucat. Kim-mou-eng, yang tadinya sedang menyerang lawannya, tiba-tiba tidak dihiraukan lagi. Dua orang itu telah berkelebatan, namun Kim-mou-eng berputar, tidak mau tinggal di ruangan itu, lalu tiba-tiba kembali keluar dan mengajak musuhnya bertanding di luar. Ketika terdengar bentakan dan geraman Hu Beng Kui yang marah terhadap lawannya, mendadak di luar gedung terdengar teriakan dan makian yang ditujukan kepada Kwee Han.
"Orang she Kwee, keluarlah! Kami mau menuntut keadilan!"
"Benar, keluarlah, Kwee Han. Kami sudah mendapat restu Kaisar!"
"Atau kami akan menangkapmu di dalam. Kau pembohong dan pembunuh!"
Ketika teriakan itu membuat Kwee Han gemetar, sang komandan kembali berkata bahwa Bu-ciangkun menunggu di luar. "Maaf, kau diminta cepat, Taijin. Ada urusan penting dan mendesak!"
"Urusan apa?"
"Hamba tak tahu, silakan Taijin keluar dan menyambut..."
"Goblok!" Kwee Han memaki dan mendorong komandan itu, lalu bergegas keluar diiringi para pengawalnya. Pertempuran Kim-mou-eng dengan Hu-taihiap tidak diusik. Kwee Han bahkan melupakan Cermin Naganya yang dirampas jago pedang itu. Ketika dia keluar dan tertegun melihat ratusan orang Ming-ciang memenuhi halaman gedungnya, Bu-ciangkun, utusan Kaisar, melangkah maju dan menenangkan teriakan orang-orang itu.
"Diam semua, diam!"
Kwee Han menghampiri dengan wajah pucat dan tubuh menggigil. Dia melihat Bu-ciangkun menjura, tampak keren dan berwibawa.
"Taijin, aku diutus Sri Baginda menyelesaikan masalah teman-temanmu. Kabarnya kau melakukan kecurangan dan pembunuhan. Bisakah kita bicara?"
"Pembunuhan apa? Kecurangan apa?" Kwee Han marah. "Mereka ini orang-orang pengacau, Ciangkun. Usir dan suruh mereka keluar!"
"Tidak, justru kedatanganku untuk membereskan urusan mereka, Taijin. Kalau mereka tidak benar, Sri Baginda menyuruh aku menangkap dan menghukum orang-orang itu. Mereka telah membuat ribut!"
Setelah membungkuk dan meminta izin untuk masuk, Kwee Han buru-buru mengangguk dengan terbata-bata. "Tentu, silakan masuk, Ciangkun. Mari! Tapi... tapi orang-orang ini..."
"Mereka menunggu di luar, Taijin. Hanya beberapa orang yang akan ikut masuk!"
Pwee-lopek, yang tadi berlindung di balik punggung Bu-ciangkun, tiba-tiba muncul. Begitu kakek ini menunjukkan muka dan tersenyum aneh, berturut-turut muncul orang-orang lain yang dikenal Kwee Han, bekas teman-temannya waktu di Ming-ciang dulu.
"Taijin, maaf. Penduduk Ming-ciang marah atas kebohongan dan perbuatanmu. Kami sekarang beramai-ramai menuntut keadilan dan sudah mendapat perlindungan Kaisar. Siapa salah akan dihukum dan siapa benar akan mendapatkan haknya. Bu-ciangkun sebagai saksi!"
Kwee Han mendelik. Sebagaimana diketahui, Pwee-lopek adalah orang yang dulu mula-mula datang kepada Kwee Han, memohon bantuan, dan beberapa kali mendapat uang. Namun, karena bantuan itu terlalu sering dan Kwee Han lama-kelamaan jengkel, akhirnya dia tidak menghargai kakek itu lagi dan tidak mau mengurusi teman-temannya di Ming-ciang, bersikap acuh, hingga terakhir dia membunuh teman-temannya yang datang melalui pengawal.
Ketika dia melihat kakek itu lagi bersama rombongannya, Kwee Han marah. Dia diam-diam mengerling ke kiri dan kanan, mencari akal, namun keadaan yang serba mendadak itu membuatnya bingung, merasa tersudut, dan buntu. Karena tahu bahwa Bu-ciangkun adalah seorang panglima jujur yang amat tegas, Kwee Han merasa panik.
"Baiklah, mari, Ciangkun. Kita semua masuk!" Kwee Han mendahului.
Dengan muka pucat dan kaki menggigil, menteri muda ini mengajak tamu-tamunya ke dalam. Di luar tidak terdengar teriakan lagi karena semua orang rupanya menyerahkan hal itu kepada Bu-ciangkun. Ketika semuanya masuk dan Kwee Han mempersilakan duduk, Bu-ciangkun mulai bicara dengan tenang dalam melancarkan tuduhannya. Dia menyatakan bahwa Kwee Han melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap nelayan-nelayan Ming-ciang, menambah persoalan dengan keributan yang sudah terjadi, serta membiarkan ketidakadilan di Ming-ciang berlarut-larut.
Setelah Pwee-lopek dan yang lain mengangguk-angguk, Bu-ciangkun menutup pembicaraannya tentang pajak yang digelapkan pemuda itu.
"Yang lebih memberatkan," katanya, "yang membuat Kaisar amat marah adalah perbuatanmu menggelapkan pajak negara, Taijin. Kau dinyatakan bersalah melanggar undang-undang nomor satu tentang perpajakan dan dituntut hukuman mati!"
"Apa?" Kwee Han melonjak. "Hukuman mati, Ciangkun? Penggelapan pajak?"
"Ya, kau merugikan negara dengan menikmati uang haram, Taijin. Kau menerima sogok dan upeti dari orang-orang yang merongrong negara dengan tidak membayar pajak. Dengan kata lain, kau menghancurkan penerimaan pajak dengan jalan menerima pajak orang lain yang tidak kau setorkan ke kas negara!"
"Bohong, itu tidak benar!"
Namun, ketika Bu-ciangkun bertepuk tangan dan seseorang muncul dengan setumpuk kertas yang membawa bukti-bukti, pemuda itu diam dan tersentak. Muncul lagi orang-orang lain, dan berturut-turut Kwee Han mengenal bahwa mereka adalah teman-temannya kaum penyelundup yang kiranya sudah ditangkap dan digulung oleh Bu-ciangkun. Rata-rata pucat mukanya dan Kwee Han tersudut. Kalau sudah begini, dia tidak dapat mungkir lagi. Kwee Han terbelalak karena takut.
Ketika orang-orang itu menunduk dan entah dari mana Bu-ciangkun mengetahui semuanya, panglima itu bangkit berdiri. "Nah, banyak dosa yang kau lakukan, Taijin. Semua surat yang kau tandatangani ada di sini, berikut bukti dan saksi hidup. Dan karena sebagai pejabat kau melakukan tindakan tercela dengan membunuhi rakyat biasa, maka Sri Baginda menuntut hukuman mati, sesuai keinginan teman-temanmu dari Ming-ciang!"
"Tidak!" Kwee Han tiba-tiba berteriak. "Aku... aku tak bersalah, Ciangkun. Yang bersalah adalah Khek-taijin. Dia itulah yang menjerumuskan dan mencelakakan aku. Menteri Khek itulah biang keladinya!"
Namun, ketika Bu-ciangkun bersiap dan tidak mau dibujuk, tiba-tiba Kwee Han melarikan diri dengan gugup. Dia sadar akan kedudukannya dan mencoba menimpakan semua kesalahan pada Khek Taijin. Menteri itulah yang menjebak dan menjerumuskannya. Kwee Han tiba-tiba ingin melepaskan diri dari semua persoalan, ingin agar orang lainlah yang dihukum!
Bu-ciangkun membentak dan berkelebat menyambar. "Kwee-taijin, berhenti!"
Kwee Han nekat. Melihat ada orang di depannya, dia menyerang, menghantam, dan memukul panglima itu sekenanya. Namun, sekali Bu-ciangkun berkelit dan menggerakkan kaki, Kwee Han terbanting dan terjengkang roboh.
"Jangan melawan, Taijin. Aku hanya utusan dan kau dapat membela diri di hadapan Sri Baginda!"
"Bluk!" Kwee Han mengeluh. Tentu saja dia bukan tandingan lawannya itu, namun pemuda ini berteriak-teriak memanggil pengawal. Dia bangun berdiri dan hendak lari lagi menuju belakang. Namun, karena Bu-ciangkun adalah utusan Kaisar dan panglima itu menunjukkan kewibawaannya, para pengawal mundur dan jerih, membiarkan pemuda itu melarikan diri sementara Bu-ciangkun berkelebat mengejarnya.