Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 107

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 107

Sekali lagi, panglima itu membentak agar Kwee Han menyerah, boleh membela diri di hadapan kaisar nanti. Namun, Kwee Han yang sudah ketakutan dan lari menabrak apa saja tiba-tiba teringat Kim-mou-eng.

"Kim-taihiap, tolong!"

Waktu itu, Kim-mou-eng sedang bertanding. Mengikuti petunjuk gurunya tanpa mengerti apa yang sebenarnya dimaksud, Pendekar Rambut Emas ini menuruti saja apa yang diperintahkan. Gurunya mengirim suara dari jauh untuk melakukan ini dan itu tanpa didengar oleh lawannya.

Ketika Kwee Han menjerit dan melolong-lolong berteriak dari dalam, Kim-mou-eng mengerutkan kening. Sebenarnya, jika dia mau, tentu saja dia dapat melarikan diri lagi, membiarkan Hu Beng Kui mengejar dan menghabiskan napasnya. Dia juga melihat keributan di gedung Kwee Han itu, datangnya orang-orang Ming-ciang dan ratusan nelayan yang berteriak-teriak, memaki, serta mengutuk nama Kwee Han, hal yang menurutnya aneh.

Ketika Kwee Han menjerit minta tolong padanya dan Bu-ciangkun berkelebat di belakang, Pendekar Rambut Emas semakin heran dan tidak mengerti. Dia menangkis sebuah pukulan dan lawan pun terdorong. Hu-taihiap memaki dan membentaknya lagi. Namun, sebelum lawannya itu melancarkan serangan dan Kim-mou-eng berkelebat, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas itu telah menyambar Kwee Han dan bertanya pada sahabatnya ini.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau dikejar-kejar Bu-ciangkun?"

"Fitnah! Aku difitnah, Taihiap. Aku dicelakakan orang-orang ini. Mereka datang untuk menangkap aku. Mereka... mereka... ah, selamatkan aku, Taihiap. Bawa aku keluar dari neraka ini. Tangkap Khek-taijin!"

"Ada apa dengan Khek-taijin?"

"Dia menjebloskan dan menjebak aku, Taihiap. Dia... dia..."

Kwee Han menghentikan kata-katanya, diajak melempar tubuh bergulingan karena serangan Hu-taihiap tiba. Jago pedang itu menggeram membentak Kim-mou-eng. Ketika Kwee Han mengeluh dan menangis terbata-bata, Kim-mou-eng heran dan terkejut mendengar seruan Bu-ciangkun, panglima tinggi besar yang gagah dan sudah dikenalnya.

"Kim-taihiap, tolong serahkan laki-laki itu kepada kami. Aku hendak membawanya menghadap Sri Baginda. Orang she Kwee itu menjadi terdakwa dengan segala kecurangan dan kekejamannya!"

"Apa yang dia lakukan?"

"Membunuh dan mencelakai bekas teman-temannya sendiri, Taihiap. Juga makan uang haram dari pajak negara yang tidak disetorkan!"

"Ah, benarkah?"

"Tidak... tidak!" Kwee Han mendahului. "Itu omong kosong, Taihiap. Bohong! Aku difitnah. Orang-orang itu mencari gara-gara dan..."

*Bress!* Kwee Han terbanting lagi terguling-guling, diajak mengelak pukulan Hu Beng Kui dan Kim-mou-eng terkejut. Tadi membawa pemuda itu melempar tubuh dan Hu Beng Kui membentak. Untuk kesekian kalinya jago pedang ini gagal, tentu saja marah bukan main.

Ketika Kim-mou-eng melompat bangun dan Pwee-lopek serta yang lain-lain muncul di situ, maka kakek itu berseru, "Taihiap, lepaskan Kwee Han. Biar bersama kami menghadap kaisar. Apa yang dilakukan pemuda itu sudah melampaui batas dan biar dia menerima hukumannya!"

"Tidak, selamatkan aku, Taihiap. Bawa aku pergi secepatnya dari sini!"

"Hm, apa yang sesungguhnya terjadi?" Kim-mou-eng bingung, mengelak dan berkelebatan lagi dan lawannya semakin berang. "Aku percaya padamu, Kwee Han. Tapi juga percaya pada Bu-ciangkun. Panglima itu tak mungkin bohong..."

*Siut-dess!* Kim-mou-eng berjungkir balik, bicara sambil mengelak pukulan lawan dan pukulan terakhir tadi ditangkis, terpental, dan dia bersama Kwee Han terlempar ke atas. Ketika dia melayang turun dan Hu Beng Kui marah-marah, Bu-ciangkun berseru, "Taihiap, sebaiknya serahkan pemuda itu kepada kami. Aku yang menjamin hingga dia dapat berhadapan dengan kaisar!"

"Tidak... jangan!" Kwee Han ketakutan. "Bawa aku ke Khek-taijin, Taihiap. Bawa dan cepat kita ke sana!"

"Kenapa kau demikian ketakutan?" Kim-mou-eng mulai curiga. "Orang tak bersalah seharusnya tak perlu takut, Kwee Han. Kau ikut saja dengan Bu-ciangkun dan biar nanti kita bertemu lagi!"

Kim-mou-eng tiba-tiba melempar, memberikan tubuh pemuda itu pada Bu-ciangkun dan panglima she Bu itu girang. Kwee Han sendiri berteriak dan memaki-maki. Namun, ketika pemuda itu ditangkap dan diterima, Kim-mou-eng mendengar suara gurunya.

"Nah, sekarang keluar kota, Kim-mou-eng. Bawa dan ajak lawanmu ke sana!"

Kim-mou-eng melengking tinggi. Percaya pada Bu-ciangkun dan meminta panglima itu menjaga keselamatan Kwee Han, tiba-tiba dia berjungkir balik, turun, dan langsung berkelebat keluar. Begitu dia terbang dan meluncur meninggalkan gedung itu, Hu Beng Kui mengejarnya dan memekik pula, "Keparat, ke mana kau mau pergi, Kim-mou-eng? Berhenti, dan menyerahlah!"

"Ha-ha," Kim-mou-eng tertawa. "Kau tangkap dan kejarlah aku, Hu-taihiap. Aku menyerah dan menyatakan kalah kalau kau dapat membekukku!"

"Keparat, kubunuh kau!"

Hu Beng Kui yang membentak serta berkelebat lenyap tahu-tahu terbang dan mengikuti lawannya itu, meluncur di atas kepala Pwee-lopek dan teman-temannya. Orang-orang itu pun berseru kaget. Mereka merasa kepala mereka dilewati angin dingin, berkesiur dan lenyap. Semuanya tak lebih dari sepersepuluh detik saja.

Ketika mereka bengong dan hanya melihat bayangan kuning emas yang lenyap di luar sana, mereka gaduh. Namun, Kim-mou-eng meluncur dan kembali melewati celah pintu gerbang yang sempit.

"Wut!"

Penjaga pun bengong. Mereka itu seolah melihat bayangan sesosok hantu yang pergi dan datang dengan kecepatan luar biasa, lenyap dan sudah entah ke mana lagi. Ketika mereka berteriak dan tertegun di tempat, Hu Beng Kui pun lewat dan melalui celah pintu gerbang dengan cara dan kecepatan yang sama.

"Wut!"

Pengawal yang berjaga melongo. Mereka tak tahu apakah yang berkelebat di depan mata tadi manusia ataukah siluman. Tapi, Kim-mou-eng yang sudah berada di luar dan kini berkelebat ke hutan tiba-tiba melihat bayangan Swat Lian yang muncul dengan pertanyaannya yang nyaring.

"Twako, ayah sudah kalah?"

"Aah," Kim-mou-eng terkejut, girang. "Ayahmu di belakang, Lian-moi. Lihat dan perhatikan itu. Dia tak mau sudah dan tetap mengejar-ngejar aku!"

"Kau selalu diserangnya?"

"Ya, dan aku bingung, Lian-moi. Kalau saja dia bukan ayahmu..."

*Dess!* Kim-mou-eng mencelat, menghentikan kata-katanya. Swat Lian berteriak melihat kekasihnya terlempar dihantam ayahnya. Dari jauh, bayangan ayahnya itu sudah muncul dan berkelebat datang, pukulannya mendahului dan Kim-mou-eng mengeluh. Dia jadi lengah ketika bercakap-cakap tadi, untung cepat berjungkir balik dan turun lagi dengan selamat. Hanya punggungnya terasa sedikit sakit akibat bokongan itu; Hu Beng Kui tak malu-malu lagi menyerangnya di saat bercakap-cakap.

Kim-mou-eng terhuyung dan Swat Lian terbelalak. Ketika Hu Beng Kui sudah tiba di situ dan menggeram membentak, Pendekar Rambut Emas ini mendadak Swat Lian melengking dan... mengeroyok ayahnya.

"Hei, jangan kurang ajar, Swat Lian. Bantu aku dan tangkap Kim-mou-eng ini!" Hu Beng Kui terkejut, memaki anaknya. Tapi Kim-mou-eng tertawa bergelak, menyerang, dan bersama kekasihnya sekarang dia menghadapi si jago pedang itu. Swat Lian marah-marah dan balik memaki ayahnya.

Ketika bayangan Bi Kong Hwesio dan lain-lain baru datang dengan napas memburu, Hu Beng Kui berteriak, "Lihat, Kim-mou-eng curang, Cuwi Pangcu. Dia membujuk anakku hingga menyerang ayahnya sendiri. Keparat, pertandingan menjadi tak sah dan kemenangan Kim-mou-eng tak dapat dicatat!"

"Ha-ha, demi kebaikanmu tak usah bercuap-cuap, Hu-taihiap. Kau pun ingkar janji dan tak menepati kata-katamu sendiri. Aku tak membujuk putrimu, dialah yang ingin menyerangmu sendiri atas dasar ketidakadilan!"

"Benar, kau yang curang, Yah. Kau tak menepati janji dan lewat dua puluh jurus, kau sudah bertempur hampir seribu lima ratus jurus. Siapa yang tak marah melihat sepak terjangmu ini?"

"Kau membela Kim-mou-eng itu? Kau tak membantu ayahmu sendiri?"

"Yang kubantu adalah kebenaran, Ayah. Yang kulawan adalah ketidakbenaran. Kau tidak benar dan aku tetap akan menyerangmu selama kau sendiri tidak menghentikan seranganmu terhadap Kim-twako!"

"Keparat, dia itu lebih berharga daripada ayahmu sendiri?"

"Bukan berharga atau tidak berharga, Ayah, melainkan benar dan tidak benar. Kau hentikan seranganmu atau aku akan merobohkanmu bersama Kim-mou-eng!"

"Jahanam, kalau begitu kau murtad, Swat Lian. Kau melawan ayahmu sendiri!"

"Tidak, kalau kau berjalan di atas kebenaran, Ayah. Tapi kalau kau terus menyerang Kim-twako dan melanggar janji, maka terpaksa aku akan melawanmu sebagaimana aku melawan ketidakbenaran. Kau harus tahu bahwa berkali-kali Kim-twako mengalah padamu!"

"Hargh!" Hu Beng Kui yang tidak banyak bicara lagi membentak putrinya dan tiba-tiba menjadi marah bukan main. Dia menghantam putrinya itu, ditangkis, dan Hu Beng Kui terkejut melihat putrinya memiliki Lu-ciang-hoat pula.

Ketika dia berkelebat namun putrinya melengking mengerahkan Cui-sian Gin-kang, tiba-tiba jago pedang ini terhenyak melihat bahwa putrinya menggabung dua ilmu silat yang dipunyainya, atau lebih tepat, ilmu silat yang dimiliki Kim-mou-eng dan ilmu silat yang dimilikinya, Cui-sian Gin-kang dan Jing-sian-eng. Dua ilmu meringankan tubuh yang hebatnya bukan alang kepalang.

Ketika dalam pukulan-pukulannya puterinya itu juga dapat mempergunakan Khi-bal Sin-kang yang digabung Lu-ciang-hoat, maka jago pedang itu terpental ketika satu saat tangkisan putrinya datang bersamaan dengan pukulan Kim-mou-eng.

*Dess!* Jago pedang itu terlempar bergulingan. Sekarang ada tiga orang yang sama-sama mahir memiliki dua ilmu silat kembar, padahal Jing-sian-eng dan Khi-bal Sin-kang saja sudah cukup hebat. Enam Iblis Dunia tak mampu menghadapi mereka hanya dengan dua ilmu itu saja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment