Chapter 108
Maka begitu mereka sama-sama memiliki tambahan ilmu *Lu-ciang-hoat* dan *Cui-sian Gin-kang* yang kehebatannya bukan alang kepalang, Hu-taihiap terlempar ketika tangkisan putrinya masih dibantu Kim-mou-eng. Dia mencelat dan terguling-guling sehingga jago pedang itu marah sekali. Dia melompat bangun, namun dua orang itu mengejarnya dan mendesaknya hingga jago pedang ini kesulitan mengelak. Ketika dia terpaksa menangkis namun lagi-lagi terlempar bergulingan, jago pedang itu berteriak, "Kim-mou-eng, kau jahanam keparat! Kau tidak tahu malu, curang!"
"Ha-ha, aku tidak menyuruh putrimu mengeroyok, Hu-taihiap. Silakan suruh dia minggir kalau dia mau."
"Tidak!" Swat Lian berseru. "Aku akan merobohkannya kalau dia tidak mau mengakui kesalahannya, Twako. Atau kau yang mundur dan biar aku menghadapi ayahku yang bandel ini!"
"Nah," Kim-mou-eng tertawa. "Kau dengar sendiri, Hu-taihiap. Aku telah mencoba tetapi gagal. Sebaiknya kau bersikap ksatria dan akui kekalahanmu..."
"Haiittt....!" Hu-taihiap memotong kata-kata Kim-mou-eng, membentak, dan menyerang dengan satu tamparan dahsyat. Namun, ketika Kim-mou-eng menangkis dan dari kiri putrinya menyerang, jago tua itu terbanting ketika dua tenaga menggencetnya dari depan dan belakang.
"Des! Des!" Hu Beng Kui terguling-guling. Untuk kesekian kalinya dia mengumpat dan mengeluh. Kim-mou-eng saja sudah membuatnya setengah mati, kini ditambah putrinya sendiri, tentu saja jago pedang itu terlempar. Ketika dia megap-megap dan nekat tapi juga bingung, dia melengking dan untuk terakhir kalinya melepas satu pukulan miring yang menyambar leher Pendekar Rambut Emas, namun Kim-mou-eng mengelak. Ketika pukulannya luput dan Kim-mou-eng membalik, tiba-tiba sebuah tendangan membuatnya terlempar.
"Brss!" Jago pedang itu masih hebat. Dia dapat berjungkir balik, melompat bangun, meski terhuyung dengan muka pucat. Sesungguhnya dia sudah hampir tidak kuat lagi setelah putrinya membela Kim-mou-eng, hal yang membuatnya marah tapi juga ragu. Ketika jago pedang itu menggeram dan diserang lagi, orang tua ini menggeblak, terpelanting, dan kali ini pukulan putrinya sendiri mengenai pinggangnya.
Hu Beng Kui memaki dan membentak putrinya. Ketika Kim-mou-eng bergerak dan menyambar dari samping, pendekar itu pun mencelat dan terguling-guling, diserang lagi oleh putrinya hingga jago tua itu terbanting. Saat Kim-mou-eng menyusul dan menotok dengan satu jari, tiba-tiba Hu Beng Kui roboh dan seketika menjerit.
"Bluk!" Selesailah pertandingan yang luar biasa itu. Hu Beng Kui terengah-engah, roboh seperti kain basah, dan Kim-mou-eng berkelebat membebaskan totokannya. Tapi begitu jago pedang itu mendelik dan menggerakkan tangannya, tiba-tiba kaki Kim-mou-eng disambar. Jago tua itu memekik sambil mengayunkan tangannya ke kepala Pendekar Rambut Emas, satu pukulan maut yang dikirimkan dengan seluruh sisa tenaga.
"Ayah....!" Semua orang terkejut. Kim-mou-eng sendiri tidak menyangka perbuatan Hu Beng Kui itu; baik-baik dia mau menolong orang, namun si jago pedang justru menyerangnya dengan licik. Hantaman ke kepala itu sudah didahului cengkeraman di kaki yang membuat Kim-mou-eng harus mengerahkan *sinkang*. Tapi begitu pukulan itu meluncur dan Kim-mou-eng bersiap dengan segenap ketabahannya mengerahkan *sinkang*, mendadak terdengar seruan halus disusul kebutan jarak jauh yang menangkis pukulan si jago pedang.
"Hu-taihiap, tidak selayaknya berbuat curang. Sadarlah..... Dess!"
Hu Beng Kui mengeluh, mengeluarkan teriakan tertahan, dan tiba-tiba jago pedang itu terpental. Ketika dia roboh dan terbaring di tanah, ternyata jago pedang itu sudah pingsan dan muncullah Bu-beng Sian-su, kakek dewa yang maha sakti.
"Kim-mou-eng, biarkan Hu-taihiap bersama aku. Pergilah dan lihatlah temanmu, Kwee Han!"
Kim-mou-eng tertegun. Bi Kong Hwesio dan lain-lain juga terkejut, mereka menjublak memandang kakek dewa ini. Tapi ketika kakek dewa itu tertawa dan menggerakkan tangannya, tiba-tiba dia lenyap kembali sambil menyambar tubuh si jago pedang yang pingsan.
"Suhu....!" "Sian-su.....!"
Kakek dewa itu tertawa. Dari jauh dia kembali menyuruh Kim-mou-eng ke kota raja dan berkata agar Bi Kong Hwesio dan yang lain mengikuti Pendekar Rambut Emas itu. Ketika semua bengong memandang Kim-mou-eng, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas itu sudah berkelebat ke kota raja menyambar lengan kekasihnya.
"Mari, kita ke istana, Lian-moi. Suhu menyuruh kita ke sana!"
Swat Lian mengangguk. Melihat ayahnya yang pingsan, gadis ini tidak merasa khawatir. Ayahnya telah berada di tangan Bu-beng Sian-su dan tentu tidak apa-apa. Kim-mou-eng menyambar lengannya dan mereka sudah berkelebat masuk. Ketika penjaga pintu gerbang kembali dibuat melongo oleh bayangan dua orang itu, berturut-turut Bi Kong Hwesio dan yang lain menyusul.
"Eh, kenapa datang begini banyak siluman? Akan gegerkah kota raja?"
"Entahlah, mereka itu seperti hantu-hantu kesiangan, Lu-ciek. Barangkali memang geger!"
Bi Kong Hwesio dan yang lain tersenyum. Dalam keadaan seperti itu, mereka jadi geli oleh kata-kata penjaga pintu gerbang ini. Maklumlah, gerakan mereka pun cepat dan melesat seperti siluman, meskipun tentu saja masih kalah jauh dibanding Kim-mou-eng dan putri Hu-taihiap yang menghilang sepuluh kali lebih cepat.
Ketika mereka mengejar Kim-mou-eng dan tadi Bu-beng Sian-su berpesan untuk kembali ke hutan kalau apa yang dilihat sudah selesai, di sana Kim-mou-eng bersama Swat Lian sudah tiba di istana. Waktu itu, Kwee Han sudah dibawa Bu-ciangkun. Di bawah cengkeraman panglima ini, pemuda itu tidak dapat bergerak. Kwee Han berteriak-teriak sepanjang jalan dan teman-temannya, penduduk Ming-ciang, memburu. Kalau saja Panglima Bu tidak mengusir dan menggebah mereka, barangkali Kwee Han sudah jatuh di tangan bekas teman-temannya yang memandang penuh kebencian dan memaki-maki.
Siang itu juga Kwee Han dihadapkan ke kaisar, namun kaisar menyuruh wakilnya mengadili menteri muda itu. Kwee Han berteriak-teriak tidak keruan dan memaki kalang-kabut.
"Tidak..... aku tidak bersalah. Lepaskan aku.... lepaskan.....!"
Namun Kwee Han berada di bawah cengkeraman Bu-ciangkun. Mewakili kaisar, Han-taijin bertanya pada pemuda itu dan melancarkan semua tuduhannya, namun Kwee Han mengelak sana-sini, menjerit, dan minta agar Khek-taijin dibawa ke situ, bahkan menyebut-nyebut pula Pangeran Yu Fu, putra kaisar!
Ketika teriakan pemuda itu terpaksa dibungkam dengan satu pukulan di tengkuk, akhirnya Kwee Han mengeluh dan saat itu berkelebatlah bayangan Kim-mou-eng dan Swat Lian.
"Ah, tolonglah aku, taihiap...... tolong......!" Kwee Han merintih, girang melihat Pendekar Rambut Emas dan tahu-tahu pemuda itu sudah lepas dari cengkeraman Bu-ciangkun. Ketika panglima itu membalik dan tertegun melihat Pendekar Rambut Emas, panglima ini berkata agar pemuda itu dilepaskan.
"Nanti dulu," Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Tadi aku menitipkan pemuda ini kepadamu, Ciangkun. Tidak boleh dia disakiti. Sekarang katakan apa yang terjadi dan mana Sri Baginda Kaisar!"
"Sri Baginda tidak mau melihat muka orang she Kwee ini. Sri Baginda diwakili Han-taijin."
"Hm, begitukah?"
"Benar," Han-taijin bangkit berdiri. "Orang ini telah melakukan banyak dosa, taihiap. Harap lepaskan dia dan biar kami adili!"
"Tidak....., jangan!" Kwee Han malah meratap. "Bawa aku keluar, Taihiap. Orang-orang di sini semua memusuhiku!"
"Tentu saja!" A-hauw, saudara A-kong yang dibunuh, tiba-tiba membentak dan menyeruak dari barisan temannya yang berkumpul mengelilingi sidang. "Kau pembunuh dan ternyata penggelap pajak negara pula, Kwee Han. Kau algojo dan lintah penghisap. Kau selayaknya dibunuh dan dimusuhi semua orang!"
"Lihatlah," Kwee Han menangis. "Mereka tidak memberikan kesempatan padaku membela diri, Taihiap. Mereka ini memojokkan dan menyudutkan aku!"
"Kalau begitu apa yang kau maui?"
"Panggilkan Khek-taijin, juga Yu-ongya (Pangeran Yu)!"
Kim-mou-eng membalik, menghadapi Bu-ciangkun. "Kenapa dua orang itu tidak kalian panggil? Bukankah Kwee Han berhak membela diri?"
Bu-ciangkun kebingungan. "Pangeran tidak ada di tempat, Taihiap. Sedang Khek-taijin...."
"Bohong, mereka bohong!" Kwee Han memotong. "Mereka itu melindungi Khek-taijin dan pangeran, Taihiap. Mereka...."
"Diam!" Sebuah bentakan mengejutkan pemuda itu. "Aku di sini, orang she Kwee. Dan ini juga Khek-taijin!"
Muncullah di ruang itu Pangeran Yu Fu dan Khek-taijin. Sang pangeran tenang-tenang sementara Khek-taijin agak pucat. Entah bagaimana dua orang itu muncul dengan berani dan tuduhan Kwee Han seketika patah. Ketika Kwee Han terbelalak melihat dua orang itu, Pangeran Yu Fu berkata, "Lihat, Bu-ciangkun tidak melindungi kami atau siapa pun, Kwee Han. Tadi kami memang pergi tapi sekarang sudah datang. Katakanlah apa yang hendak kau katakan!"
Kwee Han tiba-tiba terpaku. Melihat munculnya sang pangeran mendadak membuat pemuda itu diam. Sang pangeran memang tidak mempunyai urusan serius dengannya, lain dengan Khek-taijin yang masih saudara dari Cu-wangwe, si juragan perahu. Ketika Kwee Han terdiam dan tidak mengeluarkan suara, Kim-mou-eng berkata menyuruh pemuda itu bicara.
"Katakanlah apa yang ingin kau katakan," Pendekar itu mengerutkan kening. "Dan kami semua menunggu jawabanmu, Kwee Han. Bersikaplah jujur dan ksatria!"
"Aku.... aku...." Kwee Han gagap. "Sebenarnya Khek-taijin yang ingin kutuduh, Taihiap. Dia itulah biang keladi utamanya!"
"Urusan apa? Tentang teman-temanmu di Ming-ciang atau masalah penggelapan pajak?"
"Aku...." Kwee Han tiba-tiba menangis. "Semuanya, Taihiap. Aku merasa tertipu oleh perbuatan Menteri Khek itu!"
"Dan pangeran?"
"Dia.... dia sahabat Khek-taijin."