Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 109

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 109

"Pangeran suka melindungi dan membela Khek-taijin!"

Ketika Kwee Han pucat pasi dan menangis sambil memaki-maki menteri itu, A-hauw, laki-laki dari barisan Ming-ciang, bangkit dengan gagah. "Kwee Han, coba kau sangkal tuduhan kami bahwa kau telah membunuh teman-teman kami dari Ming-ciang. Urusan pajak yang kau gelapkan biarlah nanti dulu!"

"Aku tak membunuh siapa pun!" Kwee Han berteriak. "Kalian tak memiliki bukti tentang itu, A-hauw. Kau dan teman-temanmu memfitnah!"

"Kalau kami punya bukti?" A-hauw menantang. "Lihat, siapa ini, Kwee Han. Dan dengar apa katanya!"

Tiga laki-laki pengawal yang diseret dari balik rombongan pemuda itu tiba-tiba membuat Kwee Han pucat pasi. Mereka adalah pengawal terpercaya yang disuruh membunuh A-kong, A-sam, dan teman-teman lainnya, yang mayatnya dibuang ke sungai. Kwee Han terbelalak dan gemetar. Ketika ketiga pengawal itu berlutut di ruang sidang dan pandangan Kim-mou-eng membuat nyali mereka runtuh, meluncurlah pengakuan tentang pembunuhan yang dilakukan Kwee Han melalui tangan mereka.

Kim-mou-eng terkejut. Kwee Han, yang dulu dikenalnya sebagai pemuda baik, mendadak berubah seperti serigala ganas yang tidak mengenal kawan. Tidak kurang dari tiga puluh pemuda Ming-ciang dibunuh olehnya. Rombongan A-hauw marah dan memaki, membuat ruang sidang gaduh. Ketika Bu-ciangkun meminta diam dan Kwee Han disuruh menyangkal kembali, pemuda itu menggigil ketakutan. Matanya liar, beradu dengan pandangan Kim-mou-eng yang dingin dan berkilat.

"Kau melakukan semuanya itu, Kwee Han? Kau membunuhi temanmu sendiri hanya karena mereka melapor dan meminta bantuanmu terkait juragan perahu yang sewenang-wenang?"

"Aku... aku..." Kwee Han bingung. "Aku tak tahu apa yang kulakukan, Taihiap. Aku dibujuk Khek-taijin!"

"Hm, jangan mencari-cari kambing hitam, Kwee Han. Pembunuhan yang kau lakukan tak ada hubungannya dengan Khek-taijin!" Pangeran Yu Fu membentak.

"Benar," Khek-taijin menimpali dengan berani. "Itu urusanmu sendiri, Kwee Han. Kau pemuda tak tahu budi yang ingin menyeret orang lain!"

"Keparat kau!" Kwee Han berteriak. "Atas bujukan dan tipuanmulah aku melakukan semua ini, Khek-taijin. Kau menyogok dan memberikan segala-galanya untuk membungkam mulutku. Kau dan saudaramu, hartawan she Cu itu, sama-sama menjerat aku agar tidak menggubris teman-temanku di Ming-ciang!"

Ketika Kwee Han membeberkan tipu muslihat menteri itu, semua orang tertegun. Khek-taijin yang tadi berani mendadak mengkeret. Nyalinya seakan dipukul-pukul oleh pengakuan Kwee Han, hingga akhirnya ia mundur di balik punggung Pangeran Yu Fu.

Kwee Han terus menuding dengan gemetar, "Lihat, untuk menyelamatkan harta kekayaanmu, kau menyogok dan memberiku segudang kesenangan, Taijin. Untuk menutup urusan di Ming-ciang, kau membungkam aku dengan harta dan kedudukan. Dan sekarang, kau tak mau bertanggung jawab. Kau manusia keparat jahanam!"

Semua orang tertegun. Terbukalah sepak terjang menteri ini. Kiranya Khek-taijin mendapat upeti dari keuntungan para majikan di Ming-ciang, melindungi, dan membela juragan-juragan perahu tersebut. Kwee Han dibungkam agar tidak membela teman-temannya. Namun, karena masalah pembunuhan adalah tindak-tanduk Kwee Han sendiri, Pangeran Yu Fu tertawa mengejek dan membela menteri yang kini berlindung ketakutan di balik punggungnya.

"Baiklah, Khek-taijin bersalah, Kwee Han. Tapi kesalahannya terbatas. Kaulah yang harus bertanggung jawab penuh atas pembunuhan-pembunuhan itu. Khek-taijin sama sekali tak menyuruhmu. Kaulah yang memerintah dan kaulah yang bertanggung jawab. Untuk urusan ini, Khek-taijin bersih!"

Kwee Han terbelalak. "Pangeran tak menghukum dia?"

"Yang menghukum adalah ayahanda kaisar, Kwee Han. Dia mungkin dikenakan tindakan administratif. Tapi untuk pembunuhan-pembunuhan itu, kaulah yang bertanggung jawab. Kau yang bodoh kenapa mau dibujuk!"

"Ahh!" Kwee Han memekik. "Itu tak adil, Pangeran. Dia pun menjebak aku untuk penggelapan pajak negara."

"Tidak, bukti tanda tangan adalah perbuatanmu. Tak usah mencari alasan. Sekarang, selesaikan saja urusanmu dengan teman-temanmu di Ming-ciang itu!"

Pangeran Yu Fu berbalik menghadapi Pendekar Rambut Emas. "Nah, kau sudah mendengar semuanya, Kim-taihiap. Aku bukan melindungi Khek-taijin, tapi urusan di Ming-ciang adalah tanggung jawab Kwee Han sepenuhnya. Kalau dia kuat imannya, tentu tak akan berhasil dipengaruhi. Karena Khek-taijin bersalah membujuk orang lain, ayahanda tentu akan mengenakan hukuman administratif kepadanya. Biar Paman Han yang memutuskan!"

Suasana mendadak gaduh. Kwee Han kini tak dapat melarikan diri lagi. Begitu dirinya divonis dan ia melihat pandangan Kim-mou-eng yang tajam, pemuda itu berteriak lalu melarikan diri dalam keputusasaan.

Pendekar Rambut Emas memandangnya dingin. Begitu Kwee Han lari dan A-hauw membentak, ratusan pemuda lainnya bangkit berdiri. "Kwee Han, berhenti kau! Pertanggungjawabkan dulu semua perbuatanmu!"

"Benar, hukuman mati patut untukmu! Kau telah membunuh A-kong dan yang lain!"

Kwee Han panik. Ia lari keluar istana, namun A-hauw menubruknya. Mereka jatuh bergulingan di tangga istana. A-hauw memukul dan menendang, bahkan menggigit telinga Kwee Han. Ratusan nelayan Ming-ciang menyerbu, mencabut senjata, dan Kwee Han pun pucat pasi.

Orang-orang di sekitar terpaku melihat gerakan yang serba cepat itu. Pukulan dan sabetan senjata tajam bertubi-tubi mendarat di tubuh Kwee Han, hingga lolongannya terdengar mirip serigala yang dikeroyok ribuan tikus buas.

"Aduh, tolong... aduh...!"

Massa telah mengepungnya. Penduduk atau nelayan-nelayan Ming-ciang itu sudah begitu histeris menikam dan membacok. Ketika Bu-ciangkun membentak namun orang-orang itu justru semakin buas, berkelebatlah bayangan kuning emas yang mengeluarkan suara bagai guntur.

"Berhenti!"

Ratusan orang itu terpelanting roboh oleh bentakan Pendekar Rambut Emas yang mengerahkan khikangnya. Mereka terbelalak melihat Kwee Han berlumuran darah dan tewas dengan usus terburai. Pendekar itu tertegun, lalu Swat Lian berkelebat di sampingnya sambil memegang tangan kekasihnya.

"Cukup kalian menghukum orang!" Kim-mou-eng membentak marah. "Semua perbuatan Kwee Han telah ditebus dengan nyawanya. Kalian tak boleh mengganggu mayatnya setelah dia mati!"

Nelayan-nelayan itu terpaku. Bu-ciangkun kini menegur mereka dengan marah. Ketika semua didamprat dan A-hauw serta teman-temannya menunduk, Han-taijin bangkit berdiri menyuruh mereka berkumpul di sudut. Mereka dituduh mengacau di istana.

Kim-mou-eng menarik napas panjang, marah memandang mereka. Mendadak Pwee-lopek, lelaki tua, menjatuhkan diri berlutut. "Taihiap, ampunkan kami semua. Kami bersalah, tapi kesalahan kami didorong emosi akibat perbuatan Kwee Han yang semena-mena kepada kami. Kami adalah rakyat miskin, orang yang hanya memiliki tenaga untuk sesuap nasi bagi anak istri di rumah. Dapatkah Taihiap membantu kami membebaskan diri dari tuduhan istana?"

"Hm," Pendekar Rambut Emas tergetar dan terharu. "Kau yang paling tua di sini, Lopek. Dan kau seharusnya yang paling bijaksana. Urusan ini sebenarnya urusan istana, tak seharusnya aku ikut campur. Tapi karena aku telah mengetahui kejadian ini dan dapat memahami emosi kalian yang meluap-luap, biarlah kumintakan ampun pada Han-taijin!"

Ia memandang menteri tua itu, "Taijin, bolehkah mereka diampuni? Pandanglah mukaku, Taijin, dan beri mereka kelegaan batin!"

"Hm, biarlah kulaporkan Sri Baginda dulu, Taihiap. Tapi agaknya tak semudah ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment