Chapter 11
Taihiap dapat menerima itu dan tak perlu ragu! "Hm, apakah Kim-taihiap telah memberikan sebuah nama?" "Belum, tapi kami bangsa Tar-tar telah memilih beberapa nama, ciangkun. Tapi kalau Sri Baginda Kaisar memberikan nama dan dipergunakan untuk keturunan pemimpin kami, tentu saja kami tidak menolak. Ini satu penghargaan sendiri yang besar!" Bu-ciangkun, panglima brewok itu tertegun memandang Cukri.
Dia lupa bahwa Kim-mou-eng dan bangsanya tentu telah memberikan sebuah nama bagi calon pemimpin baru itu. Berkejap dan menyeringai, Menggu dan tentu saja tak berani mendesak. Kim-mou-eng sendiri ragu dan bimbang, khawatir dianggap tak menghiraukan bangsa sendiri dengan memperhatikan orang lain. Tapi ketika Cukri bertanya pada teman-temannya apakah mereka setuju meninggalkan semua nama pilihan dan menerima nama baru dari kaisar di Tiongkok, tiba-tiba serentak mereka berseru setuju.
"Nah, tak ada ganjalan lagi, taihiap. Silakan diterima!" "Tapi kita tidak tahu cocok atau tidak!" "Ha ha, nama pemberian kaisar pasti cocok bagi bangsa Tar-tar, taihiap. Tak usah ragu dan percayalah!" Bu-ciangkun, panglima tinggi besar itu berseru, membuat Kim-mou-eng tersenyum dan segera bangsa Tar-tar menjadi tertarik. Kim-mou-eng mengangguk dan lain-lain pun bersorak.
Dan ketika Kim-mou-eng bertanya nama apa yang hendak diberikan kaisar kepada puteranya, maka Bu-ciangkun terbahak gembira menyebut nyaring. "Thai Ling (Naga Besar), Kim Thai Liong!" "Thai Liong?" "Ya, Thai Liong, taihiap. Dan kalian bangsa Tar-tar boleh juga menyebutnya Dailiong! Nah, hebat apa tidak?" Sorak gemuruh dan tepuk tangan tiba-tiba meledak.
Kim-mou-eng sendiri ternganga mendengar sebutan nama ini, kaisar memberinya nama Thai Liong. Dan karena nama itu dapat disesuaikan dengan lidah bangsa Tar-tar dengan nama Dailiong, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas membungkuk dan memberi hormat dalam-dalam di depan panglima brewok itu, sang wakil kaisar, diiringi tepuk tangan dan sorak gemuruh rakyatnya.
"Terima kasih, nama ini benar-benar indah sekali, ciangkun. Juga fleksibel karena dapat diucapkan oleh dua bangsa. Baiklah, puteraku bernama Thai Liong dan mudah-mudahan dapat menjadi 'liong' (naga) yang besar!" "Ha ha, terima kasih kembali, taihiap. Sri Baginda tentu senang menerima sambutanmu ini." "Ayo, siapkan makan untuk rombonganku!" Dan Bu-ciangkun yang terbahak menggoda pendekar itu akhirnya dijamu dan disambut bangsa Tar-tar yang sudah cukup mengenal panglima ini, menurunkan hadiah dan mengeluarkan makan minum untuk panglima itu serta rombongannya.
Hari itu benar-benar hari gembira bagi Kim-mou-eng dan tamunya. Dan ketika semalam "Bu-ciangkun tinggal dan keesokannya baru pulang kembali, maka Pendekar Rambut Emas minta disampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kaisar. "Tentu...tentu... tak usah khawatir, taihiap. Dan terima kasih pula atas sambutan bangsamu yang ramah. Betapapun aku pribadi juga ingin mengundangmu ke kota raja!" Kim-mou-eng tersenyum.
"Kapan kau ke kota raja, taihiap? Tentu tak melupakan kami, bukan?" "Hm, saat ini aku sibuk mengatur bangsaku, ciangkun, tentu saja tak lupa pada kalian dan Sri Baginda. Tapi percayalah, lima enam bulan lagi tentu aku datang berkunjung." "Ha-ha, terima kasih, taihiap... terima kasih.." Dan panglima Bu yang lalu memberi hormat dan pulang bersama rombongannya, lalu meninggalkan Kim-mou-eng yang berjanji beberapa bulan lagi akan datang ke kota raja.
Kim-mou-eng biasa menepat janji. Dan ketika hari demi hari dilewatkan gembira dan Thai Liong, anak lelaki tumbuh besar dan sehat, maka Salima berulang kali menyatakan kebahagiaannya dengan menciumi anak satu-satunya itu. "Suheng, aku merasa mendapat anugerah. Anak kita ini sehat dan lucu!" "Ya, dan aku juga bahagia, sumoi. Tapi satu yang agak mengganjal hatiku" "Apa?" Sang istri terkejut. "Kau tak senang?" "Bukan begitu, sumoi. Melainkan kenapa suhu tak pernah menengok. Kau lupa kepada suhu?" Salima tertegun.
"Hm, suhu adalah orang aneh, suheng, selamanya tak terikat dan tak mau diikat. Kau tentu tahu ini dan menyadari kenapa bertanya?" "Aku terganjal karena guru kita itu belum melihat Thai Liong, sumoi. Aku ingin dia melihat dan menyatakan pendapatnya." "Ah, suhu datang dan pergi seperti iblis! Bagaimana kita mengharap kedatangannya? Tanpa diundang tentu dia datang, suheng. Tapi kalau tak datang tentu belum punya keperluan. Sudahlah, jangan kau kecewa dan lihat anak kita, dia sudah mulai tengkurap dan belajar duduk. Hi-hik... lucu!" Dan Salima yang mencium anaknya di pembaringan dan terkekeh kekeh, lalu membuat suaminya terlupa dan turut gembira memandang anaknya itu.
Thai Liong memiliki mata yang bulat jernih, dan yang amat spesifik, rambut anaknya itu juga kuning keemasan, persis Kim-mou-eng. Dan ketika Salima menunjuk ini dan tertawa geli, maka kekecewaan Kim-mou-eng tak ketemu gurunya terobati. Siapakah guru atau suhu Pendekar Rambut Emas ini? Bukan lain si manusia sakti Bu Beng Sian-su. Bagi yang mengikuti serial "Pendekar Rambut Emas" tentu mengetahui kehebatan kakek dewa ini.
Bu Beng Sian-su memang amat sakti dan hebat. Dan Kim-mou-eng yang merupakan murid kedua setelah Gurha yang tewas adalah pendekar yang banyak belajar dari gurunya itu, si kakek dewa yang sakti. Selain ilmu silat juga "ilmu kehidupan", banyak belajar dan mendapat nasehat dari manusia dewa ini. Maka ketika gurunya tak datang dan kelahiran Thai Liong tak diketahui kakek itu, diam-diam Kim-mou-eng sedikit kecewa.
Namun pendekar ini adalah pendekar besar. Kim-mou-eng tahu keanehan gurunya, datang dan pergi tak lumrah manusia biasa, sekali datang biasanya membawa kepentingan bukan kepentingan untuk diri sendiri melainkan justeru orang lain, itulah istimewanya. Gurunya memang istimewa. Dan ketika setahun kemudian Thai Liong sudah belajar berjalan dan hari itu Kim-mou-eng sibuk mengurus bangsanya, tiba-tiba sebuah undangan muncul, dari kota raja. Sri Baginda ingin bertemu taihiap, mohon taihiap ke sana dan datang.
"Ada apa?" "Kami tak tahu, taihiap, tapi penting" "Hmn, baiklah. Kalian kembali, aku menyusul!" Sang utusan pergi. Kim-mou-eng tak curiga apa-apa, memberi tahu isterinya dan berangkat. Tapi ketika dia tiba di luar padang rumput dan melihat utusan berdiri menanti, tiba-tiba pendekar ini tertegun. "Kau masih di sini?" "Maaf, seseorang ingin menemuimu, taihiap" "Aku!" Sesosok bayangan keluar dari balik pohon, berseru dan terisak memanggil Kim-mou-eng.
Pendekar Rambut Emas itu tersentak dan tiba-tiba mundur. Dan ketika bayangan itu, wanita antik yang rambutnya kusut menubruk Kim-mou-eng sekonyong-konyong, Kim-mou-eng tergetar dan menggigil di tempat. "Wan Hoa, bagaimana kau ada di sini?!" "Aku... aku, hu-huu...!" Wanita cantik itu, Wan Hoa, tersedu. "Aku datang diutus Cao Cu, twako. Kami, ah... kami ingin menyatakan selamat dan bahagia atas kelahiran bayimu itu...!" "Hm!" Kim-mou-eng tertegun. "Anakku kini telah berusia setahun, Wan Hoa, terimakasih kalau kau datang untuk mengucapkan itu" "Ya-ya, kami sebenarnya ingin datang berdua, twako. Tapi... tapi takut sterimu marah!"
"Sudahlah, hentikan tangismu, Wan Hoa, apa kabar kalian berdua dan kenapa hari ini kau muncul di sini? Dan kau..." Kim-mou-eng menunjuk utusan itu, laki-laki yang terkejut. "Kau membohongi aku!" "Maaf," Utusan itu menjatuhkan diri berlutut. "Aku hanya disuruh Wan-siocia (nona Wan) Kim-taihiap. Kami tak berani berterus terang agar tak menimbulkan kecurigaan yang lain." "Benar" Wan Hoa melepaskan dirinya. "Aku yang menyuruh dia berbohong, twako. Kalau tidak begitu tentu tak ketemu dirimu." "Baiklah, apa kabarnya Cao Cun? Dia tak apa-apa?" "Tidak... tapi" "Kenapa?" Kim-mou-eng melihat Wan Hoa bercucuran air mata kembali, cepat bertanya.
"Dia hidup bahagia dengan suaminya, bukan?" "Oohh... tidak... tidak!" Wan Hoa, tiba-tiba mengguguk, menangis lagi. "Raja Hu telah meninggal! Twako. Cao Cun telah menjadi janda!" "Apa?" Kim-mou-eng berjengit. "Raja Hu wafat? Cao Cun menjadi janda?" "Ya. Sudah lama, twako. Hampir dua tahun yang lalu" "Ah, ceritakan padaku, kenapa raja Hu wafat!" Wan Hoa lalu bercerita, sambil tak hentinya menangis, wanita yang setia kepada Cao Cun dan merupakan sahabat paling kental dari isteri mendiang raja Hu itu mulai mengisahkan kehidupan Cao Cun.
Betapa Cao Cun menjadi isteri raja Hu dan akhirnya mempunyai seorang anak laki-laki, Ituchi Yashi. Mula-mula tak cinta pada raja bangsa liar itu karena Cao Cun mencinta Kim-mou-eng, betapa saking cintanya kepada Pendekar Rambut Emas ini, ber kali-kali gadis Puteri bupati Wang itu dicelakai orang. Tapi karena Kim-mou-eng berbohong dan derita demi derita dialami gadis itu, akhirnya puteri bupati yang malang ini menjadi isteri raja Hu, seorang raja dari suku setengah liar di luar tembok perbatasan, tak jadi diambil selir oleh kaisar sendiri yang dipermainkan pembantu-pembantunya yang jahat, Mao-taijin dan lain-lain.
Dan ketika semuanya itu terjadi dan nasib gadis ini sudah ditentukan, maka hubungan Cao Cun dengan Kim-mou-eng menjadi putus dan gadis ini pasrah, hidup di tengah-tengah suku yang liar, tapi lama kelamaan kasih sayang raja berhasil melunakkan sikapnya pula, tak lama kemudian mereka mempunyai keturunan dan Cao Cun mulai membalas cinta suaminya. Tapi belum hal itu berjalan lama, tiba-tiba raja Hu terserang sakit dan meninggal dunia. "Begitulah, tak lama setelah kau marah-marah kepada kami dan membawa dayang celaka itu, raja mangkat, twako. Cao Cun menjadi janda dan kini hidup sendiri. Tapi persoalan baru datang menghadang, aku dan Cao Cun ngeri!" "Hm." Kim-mou-eng mengangguk-angguk. Teringat semuanya itu, perih dan tersenyum getir.
"Persoalan apa yang kau maksudkan ini, Wan Hoa? Dan tentunya untuk persoalan ini kamu datang, bukan?" "Benar," Wan Hoa menggigil. "Cao Cun...