Chapter 110
"Mereka harus diberi pelajaran!"
"Kami mengaku salah," Pwee-lopek kini berlutut di depan menteri itu. "Tapi sudilah memberikan hukuman seringan-ringannya, Taijin. Kami orang-orang kasar memang tak tahu sopan santun istana."
"Baiklah, dapat kuurus, Pwee-lopek. Betapapun aku juga memahami emosi kalian."
"Dan Khek-taijin," tiba-tiba A-hauw melompat, menghadapi Kim-mou-eng. "Sudilah kau membantu kami menuntaskan masalah ini, Taijin. Kami terus terang khawatir diganggu oleh juragan-juragan perahu itu!"
"Hm," Kim-mou-eng teringat. "Bagaimana dengan menteri Khek itu, Taijin? Apakah dia dibiarkan bercokol di sana dengan sekutu-sekutunya?"
"Maaf, akan kami bicarakan dengan Sri Baginda, Taihiap. Tunggulah!"
Namun, baru menteri itu berbalik, tiba-tiba Kaisar muncul.
"Ah, hormat kepada Sri Baginda!" Han-tajin berlutut, diikuti yang lain-lain.
"Kebetulan Paduka datang, Sri Baginda. Urusan telah selesai kecuali nelayan-nelayan Ming-ciang ini, dan juga Khek-taijin!"
Kaisar mengangguk. Dia telah mendengar laporan di ruang sidang itu, mengetahui tewasnya Kwee Han dan kejadian lain-lain, juga kehadiran Kim-mou-eng yang tentu saja diseganinya. Pendekar Rambut Emas itu telah banyak berjasa semenjak ayahnya masih hidup, mendiang kaisar lama. Ketika Pendekar Rambut Emas memberi hormat dan Kaisar muda tersenyum memandang Kim-mou-eng, maka urusan hari itu segera diselesaikan.
Khek-taijin dimutasi jauh ke barat dan tak lagi boleh berhubungan dengan hartawan-hartawan di Ming-ciang. Dengan demikian, dia tak dapat menerima upeti lagi dan otomatis runtuhlah dukungan yang diberikan menteri itu kepada Cu-wangwe dan kawan-kawan. Hal ini menggirangkan hati kaum nelayan, sebuah jaminan yang akan mengubah nasib mereka.
Namun, ketika Kaisar bicara tentang keonaran yang mereka lakukan di istana, Kaisar menjatuhkan hukuman tiga hari. "Kalian harus tahu aturan. Kalian telah melanggar tata tertib. Tapi karena Kim-mou-eng ada di sini, biarlah untuk menghormatinya, kalian kuberi hukuman seringan-ringannya. Tiga hari kalian harus dikurung dan setelah itu boleh bebas kembali ke tempat masing-masing."
"Terima kasih...!" Pwee-lopek dan teman-temannya berseru serentak. "Hamba taat dan patuh, Sri Baginda. Sungguh bijaksana dan mulia hati Paduka!"
Orang-orang itu girang. Hukuman yang diberikan Kaisar memang ringan, bahkan amat ringan. Ketika mereka berlutut menyatakan kegirangan dan nelayan-nelayan Ming-ciang berseru mengucapkan terima kasih, persoalan pun selesai. Setelah tiga hari menjalani hukuman kurungan, mereka pulang.
Benar saja, terjadi perubahan besar setelah Kaisar turun tangan. Khek-taijin dipindah, sementara Cu-wangwe dan teman-temannya ikut menyingkir. Maklumlah, tak mungkin mereka tinggal lagi di Ming-ciang setelah tindak-tanduk mereka dimusuhi nelayan-nelayan yang kini menjadi berani setelah Kaisar turun tangan. Apalagi Kim-mou-eng sendiri menemui juragan-juragan perahu itu dan dengan keras serta tegas mengecam mereka, siap menghajar mereka jika meneruskan sepak terjang yang merugikan rakyat.
Ketika satu per satu para pemeras itu pergi dan nelayan Ming-ciang hidup mandiri, Pwee-lopek menjatuhkan diri berlutut di depan Pendekar Rambut Emas itu, sekali lagi mengucap terima kasih.
"Kami tak dapat membalas apa-apa, semoga budi kebaikan Taihiap diingat dan dicatat Thian Yang Maha Kuasa!"
Kim-mou-eng tersenyum. Dia menepuk pundak kakek itu dan berkelebat pergi. Ketika kakek itu menarik napas kagum, Kim-mou-eng sudah lenyap. Bersama kekasihnya serta enam tokoh ketua partai, Pendekar Rambut Emas itu telah menghadap Bu-beng Sian-su.
"Nah, apa yang kalian lihat?" Bu-beng Sian-su, kakek dewa itu, duduk di dalam hutan. Waktu itu Hu-taihiap duduk di sampingnya dan kakek ini tersenyum-senyum. Hu-taihiap sendiri merah mukanya dan menunduk, tak banyak bicara dan sekali-kali ia mengerling. Kegarangan dan keberingasannya tak tampak lagi, tanda bahwa Bu-beng Sian-su agaknya telah "menjinakkan" si jago pedang ini dengan nasihat atau wejangannya.
Ketika semua orang balik memandang dan tak ada yang menjawab, kakek dewa itu memandang Bi Kong Hwesio. "Kau," katanya. "Apa yang kau lihat, Bi Kong Lo-suhu? Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Hm," Hwesio ini berdebar, mengebutkan lengan. "Pinceng tak melihat apa-apa, Siansu. Tak mengerti dan justru ingin mendapat keterangan!"
"Siancai!" Yang Te Cinjin berseru menyambung. "Pinto juga tak mengerti akan semuanya ini, Sian-su. Pinto merasa bingung dan juga ingin mendapat keterangan!"
"Benar," yang lain-lain berseru. "Kami semua tak mengerti akan perintahmu, Sian-su. Kenapa harus menyaksikan semuanya ini dan apa hubungan bocah she Kwee itu dengan Hu-taihiap!"
"Kalian tak mengerti apa-apa?"
"Tidak!"
"Kalau begitu mari kita mulai." Bu-beng Sian-su yang tertawa mengulapkan lengannya tiba-tiba berseru, "Cuwi pangcu, dan kau Kim-mou-eng, dengar dan lihatlah apa yang hendak kutunjukkan ini. Pokok pembicaraan adalah masalah keadilan dan ketidakadilan."
"Nanti dulu," Ketua Kong-thong tiba-tiba berseru. "Kami hendak membicarakan Cermin Naga, Sian-su. Bicara seperti apa yang kau janjikan dulu!"
"Benar," yang lain teringat. "Hu-taihiap tak percaya bahwa kami mendapat izinmu untuk melihat benda itu, Sian-su. Kalau pembicaraan tak ada hubungannya dengan ini, lebih baik pembicaraan itu ditunda!"
"Ah, kalian keliru," Bu-beng Sian-su tertawa. "Kalian tak sabar, Yang Te Cinjin. Apa yang kubicarakan selalu kait-mengait. Keadilan atau ketidakadilan itu justru terletak pada pembicaraan Cermin Naga ini."
"Jadi cermin itu ada hubungannya?"
"Benar."
"Kalau begitu lanjutkanlah, maaf kami telah memotong!" Yang Te Cinjin yang mundur dengan muka tersipu lalu meminta maaf karena sebagai orang kang-ouw, tentu saja dirinya lebih tertarik membicarakan Cermin Naga daripada Kwee Han, pemuda yang disangka tak ada hubungannya itu, pemuda menyebalkan yang telah dibunuh teman-temannya sendiri, karena ia dan teman-temannya telah mengikuti jalannya peristiwa di istana.
Ketika kakek itu tersenyum dan mengebutkan lengannya, Bu-beng Sian-su berkata sabar namun mulai bersungguh-sungguh. "Cuwi pangcu, apa yang kalian lihat dan dengar sesungguhnya saling terkait. Urusan bocah she Kwee itu erat hubungannya dengan Cermin Naga. Dan karena hal ini kait-mengait, biarlah Hu-taihiap memperlihatkan sejenak benda itu kepada kalian."
"Hm," Hu-taihiap menghela napas. "Maaf bahwa cermin ini baru sekarang kuperlihatkan, Yang Te Cinjin. Tapi harap kalian ketahui saja bahwa benda ini adalah milikku!"
Jago pedang itu mengeluarkan sepasang benda berkilau, meletakkannya di pangkuan Bu-beng Sian-su, dan kakek dewa itu tersenyum. Ketika semua orang terbelalak dan kagum, tiba-tiba Bu-beng Sian-su mengangkat benda itu di atas kepala.
"Siapa ingin melihat?"
"Aku...!" "Aku!"
Bu-beng Sian-su tertawa. "Baiklah, urut dari kiri ke kanan. Yang Te Cinjin, Bi Kong Lo-suhu mendapat kehormatan pertama!"
Kakek itu melemparkan sepasang Cermin Naga, memberikannya pada Bi Kong Hwesio, dan segera ketua Siu-lim itu menerima. Dengan cepat dan penuh keingintahuan yang besar, hwesio itu mengamati, kagum, dan membolak-balik. Segera terlihatlah olehnya sepasang gambar aneh di cermin itu. Pertama adalah gambar atau lukisan menyeramkan mirip setan atau siluman, sedang gambar atau lukisan kedua adalah sepasang dewa-dewi yang cantik dan gagah menunggang naga, hal yang membuat kening hwesio itu berkerut.
Ketika dia membalik dan melihat tiga bait syair di belakang cermin, Bi Kong Hwesio tertegun. "Apa ini, Sian-su?"
"Rahasia cermin itu, yang dulu kuberitahukan kalian."
"Dapatkah Sian-su menjelaskannya?"
"Ha-ha, biar yang lain melihat dulu, Lo-suhu. Berikan pada Yang Te Cinjin dan lain-lain agar mereka semua tahu."
"Tapi Pinceng belum puas!"
"Kalau begitu amati dulu, puaskan dulu. Kalau kau dapat menangkap dan mengerti rahasianya, maka kau adalah seorang cerdas!"
Bi Kong Hwesio penasaran. Dia membalik dan mengamat-amati lagi benda ini, teringat bahwa dari benda inilah Hu-taihiap dapat memiliki kepandaian begitu tinggi, ilmu silat yang hebat, dan justru karena ilmu silat itulah dia dan kawan-kawannya mengincar. Tapi ketika tak dilihatnya tanda-tanda lain kecuali gambar dan syair itu, Bi Kong Hwesio menyerahkannya pada yang lain. Berturut-turut Yang Te Cinjin ataupun Ciu Sek Tosu mengamati, memperhatikan, dan mencari-cari rahasia cermin itu, pelajaran ilmu silatnya. Namun, ketika tak ditemukannya apa yang dicari dan Hu Beng Kui diam-diam tersenyum dengan mata yang aneh, akhirnya enam tokoh persilatan itu hanya melihat dan mengetahui syair di belakang cermin, selain dua gambar atau lukisan aneh itu.
"Kami tak melihat apa-apa. Cermin ini hanya berisi lukisan dan syair!"
"Benar, kami tak dapat menemukan rahasianya, Sian-su. Cermin Naga hanya berisi syair dan lukisan!"
"Kalian tak mengetahui apa-apa?" Bu-beng Sian-su bertanya. "Kalian tak dapat menemukan sesuatu yang kira-kira berharga?"
"Tidak, kami bodoh, Sian-su. Pinceng tak melihat apa-apa selain lukisan atau syair itu. Sungguh aneh kalau kau menyatakan ada hubungannya dengan Kwee Han dan Hu-taihiap!"
"Hm, bukan hanya Kwee Han dan Hu-taihiap, Bi Kong Lo-suhu, melainkan kita semua. Hampir sebagian besar dari kita semua. Kalian sebaiknya memusatkan diri pada tiga bait syair itu!"
"Sian-su dapat menerangkannya?"
"Tentu, dan kita akan ke sana, Lo-suhu. Dan sebaiknya mari kita mulai. Lihat!" Bu-beng Sian-su membalik Cermin Naga. "Apa yang tertulis di sini, Lo-suhu? Kalian dapat membaca tiga bait syair ini?"
"Ya."
"Nah, coba kutulis. Biar kalian membaca!" Bu-beng Sian-su mengguratkan jarinya di atas pohon, mengulang dan memperbesar kalimat-kalimat di balik cermin itu dengan cepat dan kuat. Akhirnya, terdapatlah dua belas baris kalimat indah di kulit pohon yang tebal itu.