Chapter 111
Ketika semua orang mengamati dan mata tertuju ke sana, Bu-beng Sian-su mendemonstrasikan kesaktiannya menulis di udara tanpa menyentuh atau merusak kulit pohon.
"Angkat kepala, busungkan dada. Acungkan tinju, pekikkan kata. Tuntut sesuatu demi sesama. Itulah pahlawan harapan kita! Air beriak di tengah telaga, berguncang lembut membuai sukma. Jebak-menjebak membodohi kita, pudarlah pahlawan harapan jaya! Adil tak adil permainan belaka, jujur seiring itulah surga. Terpeleset jua si manusia loba, rusaklah sudah hancur semua! Kalian mengerti?" Kakek dewa itu bertanya dengan sungguh-sungguh.
"Adakah di antara kalian yang dapat mengulas syair ini?"
Ciu Sek menggeleng. "Pinto tak paham apa yang kau maksud, Sian-su. Sebaiknya dijelaskan saja agar kami dapat mendengar."
"Baik, kita menuju Kwee Han," kakek itu mengangguk. "Tentu kalian sudah mengetahui cerita pemuda ini, bukan?"
"Ya."
"Apa yang kalian ketahui?"
"Sepak terjang pemuda itu, kekejamannya!"
"Bagus, apalagi, Totiang?"
"Hm, apalagi, Sian-su?" Ciu Sek tertegun. "Bukankah itu saja yang terlihat?"
"Benar, secara sepintas, Totiang. Kalau kita mau memperhatikan lebih jauh lagi, maka banyak yang akan dapat kita tangkap. Kau tak boleh hanya menemukan itu saja!"
"Pinceng tak mengerti," Bi Kong memotong. "Apalagi yang kita lihat dari pemuda itu, Sian-su? Bukankah hanya kekejaman dan kejahatannya saja? Pinceng dan kawan-kawan hanya melihat bahwa pemuda itu kejam dan keji. Dia patut menerima hukumannya dengan kematian!"
"Hukuman adalah akibat dari suatu sebab saja, seperti juga keberhasilan yang berasal dari sebab tertentu. Aku tidak membicarakan yang terlihat secara lahiriah, Losuhu, melainkan ingin mengajak kalian melihat yang lebih dalam, secara batiniah. Aku ingin mengajak kalian menemukan apa yang sebenarnya telah terjadi, inti dari semua kejadian itu: ketidakadilan!"
"Hm, ketidakadilan?"
"Ya, kalian tahu dari mana pemuda ini berangkat?"
"Maksud Sian-su?"
"Lihat dan amati dari mana pemuda itu berangkat, Losuhu. Barangkali dapat kutuntun kalian bahwa pemuda itu berangkat dari ketidakadilan yang terjadi di tempatnya, Ming-ciang. Bahwa karena tindakan para hartawan curang yang merugikan teman-temannya, maka pemuda itu berangkat dan akhirnya mencari keadilan di kota raja. Tahukah kalian sampai di sini?"
Bi Kong Hwesio dan teman-temannya tertegun dan ragu.
"Lihat," kakek itu melanjutkan. "Berawal dari perbuatan Cu-wangwe dan kawan-kawannya, pemuda itu lalu pergi ke kota raja, Losuhu, bertemu dan akhirnya menjadi sahabat Khek-taijin. Kalian mengerti?"
"Ya."
"Nah, sekarang kita lihat lebih jauh. Kwee Han, berbekal semangat dan rasa keadilannya, lalu menuntut perbaikan nasib teman-temannya hingga akhirnya terbujuk Khek-taijin. Adakah yang salah di sini?"
Yang Te Cinjin menggeleng. "Mula-mula tidak, Sian-su. Tapi setelah itu Kwee Han melakukan kesalahan besar!"
"Bagus, kesalahan apa?"
"Terbujuk oleh Khek-taijin, lemah imannya, dan melupakan teman-temannya!"
"Hm," kakek itu mengangguk-angguk. "Hanya itu saja, Totiang? Kau tak melihat yang lebih penting lagi?"
"Tentang apa? Kepentingan apa?"
"Cari dulu. Jangan bertanya, Totiang. Sebaiknya cari dulu dan coba temukan itu. Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar jawaban itu. Kita jangan terburu menuduh seseorang lemah imannya karena pada dasarnya kita adalah juga manusia-manusia yang lemah!"
Yang Te Cinjin terdiam, tidak lagi menjawab.
"Siapa tahu?" Kakek itu memandang sekeliling. "Adakah yang dapat membacanya lewat syair yang kubuat?"
Semua menggeleng.
"Lihat," kakek itu menunjuk. "Bait pertama adalah seperti Kwee Han ini, Bi Kong Losuhu. Bahwa dengan langkah dan derap yang gagah, pemuda itu menuntut keadilan demi teman-temannya. Bahwa dengan tinju teracung dan dada dibusungkan, pemuda itu meneriakkan keadilan untuk mengubah nasib teman-temannya..."
"Apakah itu salah?" Bi Kong Hwesio memotong.
"Nanti dulu, aku tidak menyatakan salah atau benar, Losuhu. Tapi sampai di sini pemuda itu telah melakukan sesuatu yang mengagumkan dan berani!"
"Lalu?"
"Lalu sesuatu terjadi, Losuhu. Kwee Han memasuki sebuah telaga yang beriak perlahan. Pemuda itu memasuki sesuatu yang lembut namun berbahaya, riak yang membuai sukma!"
"Hm, Pinto bingung." Swan Cong, ketua Kun-lun, menyatakan isi hatinya. "Pinto belum tahu ke mana kau membawa kami, Sian-su. Dapatkah tidak berputar-putar dan terus terang saja menjelaskan maksudmu?"
"Ha-ha, kau tak sabar?"
"Benar, Pinto penasaran, Sian-su. Dan terus terang saja tak sabar lagi ingin mengetahuinya!"
"Kita sedang menuju ke sana," kakek itu tersenyum. "Menerangkan sesuatu tanpa mengurainya terlebih dahulu mungkin akan membingungkan bagi yang kurang cerdas, Totiang. Sebaiknya sabar dan perhatikan baik-baik. Dengar, tadi aku mengatakan bahwa Kwee Han, pemuda itu, sedang menggebu-gebu menuntut keadilan. Dan kita lihat bahwa sampai di sini pemuda itu sudah berjalan di atas rel kebenaran. Tapi sayang, begitu memasuki telaga yang beriak perlahan namun lembut membuai sukma itu, pemuda ini lupa diri..."
"Coba kau lanjutkan," Kwi Hiang Hosiang, ketua Go-boog-pai, mulai tertarik. "Pinceng melihat sesuatu yang mulai menggetarkan, Sian-su. Agaknya terjadi sesuatu yang menarik di sini."
"Benar, dapatkah kau merabanya?"
"Sedikit saja, tapi Pinceng belum berani menyatakan!"
"Hm, sebaiknya tak usah takut, Losuhu. Ayo kita kupas ini bersama. Lihat, apa yang mendorong pemuda itu meninggalkan Ming-ciang?"
"Karena ketidakpuasan hatinya, ketidakadilan itu."
"Benar, ketidakadilan yang bagaimana?"
Kwi Hiang Hosiang tertegun.
"Ayo, bicaralah, Losuhu. Teruskan saja karena teman-temanmu yang lain menunggu!"
"Pinceng takut..."
"Ah, tak perlu takut, Losuhu. Semua orang bisa salah, tapi dari kesalahan itu justru kita tahu mana yang benar!"
"Hm, Pinceng kira..."
"Ya, kenapa berhenti?"
"Pinceng kira pemuda itu ingin menjadi pahlawan, Sian-su. Dia ingin menolong teman-temannya dan menonjolkan diri!"
"Ah, melenceng!" Bu-beng Sian-su tertawa. "Bukan itu yang menjadi inti sarinya, Totiang, melainkan sesuatu yang lain. Coba kuterangkan sedikit. Misalnya begini, kalian adalah Kwee Han, nelayan-nelayan Ming-ciang itu, ditindas dan selalu dirugikan hartawan-hartawan pemeras itu. Apa yang mendorong kalian untuk berontak? Apa yang menjadi sebab hingga kalian melawan?"
"Ketamakan hartawan-hartawan itu, Sian-su. Kekejamannya yang tidak mengenal batas!"
"Ya, itu sudah terlihat. Yang lain, Losuhu, yang belum muncul ke permukaan!"
Kwi Hiang Hosiang bingung.
"Coba kujawab," Kim-mou-eng, yang mulai mengenal tindak-tanduk suhunya, tampil bicara. "Barangkali yang ingin kau maksud adalah perbuatan hartawan-hartawan Ming-ciang yang merugikan rakyat, Suhu. Bahwa dari sinilah kau ingin menyatakan pendapatmu tentang Kwee Han."
"Benar, itu yang ingin kumunculkan ke permukaan, Kim-mou-eng. Bahwa ketidakadilan yang merugikan inilah yang kutuju. Kaum nelayan itu, termasuk Kwee Han, berontak menuntut keadilan karena mereka merasa dirugikan oleh ketidakadilan yang dibuat hartawan-hartawan di Ming-ciang!"
"Salahkah itu?" Yang Te Cinjin, yang ingin mendebat dan penasaran, tiba-tiba berseru. "Bukankah setiap ketidakadilan adalah merugikan, Sian-su? Bukankah wajar bila ketidakadilan yang merugikan ini dilawan?"
"Nanti dulu, jangan menggebu!" Bu-beng Sian-su, kakek dewa itu, tertawa. "Hati-hati dengan setiap ucapanmu, Yang Te Cinjin. Aku khawatir ada kata-kata yang bakal menjadi bumerang bagi dirimu sendiri."
Lalu, ketika semua orang terbelalak dan Yang Te Cinjin tampak terkejut, kakek dewa ini melanjutkan, "Aku tidak menyatakan ini salah atau benar, Cinjin. Aku masih belum selesai. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan pada kalian, yang mengejutkan!"
Ketika semua orang kembali tertegun dan memandangnya, kakek itu bicara lagi, "Lihat, bukankah sekarang kita mengetahui bahwa kedatangan Kwee Han di kota raja adalah karena perasaan dirugikan ini? Bukankah pemuda itu menuntut keadilan karena dia, langsung atau tidak langsung, merasa dirugikan? Nah, karena dirugikan itulah dia menuntut keadilan, Cinjin. Karena dirugikan itulah dia dan kawan-kawannya datang ke kota raja!"
Yang Te Cinjin dan yang lain merasa aneh. "Sian-su," Tosu itu bicara, "bukankah wajar bila hal ini dilakukan pemuda itu? Bukankah wajar bila Kwee Han dan kawan-kawannya menuntut keadilan karena merasa dirugikan?"
"Ya, itu wajar, Cinjin. Tapi ada yang tidak wajar!"
"Apa yang tidak wajar? Apa yang tidak benar?"
"Eh, tidakkah kalian lihat? Perhatikan, karena merasa dirugikan maka pemuda itu dan kawan-kawannya menuntut, Cinjin. Karena merasa dirugikan maka Kwee Han dan kawan-kawannya datang ke kota raja!"
"Kami sudah tahu," Bi Kong Hwesio memotong. "Tapi kami tak melihat adanya yang luar biasa, Sian-su. Kami kira wajar dan semestinya kalau orang-orang yang merasa dirugikan ini menuntut keadilan."
"Benar, dan aku juga menyatakan begitu, Bi Kong Losuhu. Tapi ada sesuatu yang tidak benar, yang tidak semestinya!"
"Apa itu?"
Bu-beng Sian-su tertawa. "Bi Kong Losuhu," serunya, "di dunia ini ada dua unsur kekuatan, Im dan Yang. Tidakkah kau tahu apa yang kumaksudkan itu? Tidakkah kau mengamati apa yang seharusnya kau amati? Semua orang sebagian besar memang begitu, Losuhu. Kita semua dan siapa saja sebagian besar seperti Kwee Han. Kalau kau bertanya apakah itu, maka coba kalian pikirkan apakah unsur satunya dari kekuatan Im dan Yang itu. Jangan tergesa bertanya!"
Semua orang memeras otak. Setelah Bu-beng Sian-su menggiring mereka pada persoalan adil dan tidak adil, tiba-tiba semuanya tertuju ke sini. Mereka mulai berpikir apa yang dilakukan Kwee Han yang tidak wajar dan tidak semestinya, sebuah kupasan yang harus diulas secara hati-hati, bersifat non-lahiriah. Ketika semua orang tertegun dan memandang kakek dewa itu, Bu-beng Sian-su kembali bertanya.