Chapter 112
"Sudah didapatkan?"
"Ada yang tahu?" Semua menggeleng.
"Ha-ha, bodoh!" Hu Beng Kui tiba-tiba melompat bangun. "Kalian semua tolol seperti aku, Bi Kong Lo-suhu. Kalau begitu, aku tidak sendirian. Lihat!" Jago pedang itu tiba-tiba berkelebat, lenyap di sebelah kiri.
"Aku ingin membantu Sian-su agar kalian semua melek, Bi Kong Lo-suhu. Dan lihat apa yang kubawa ini... bluk-bluk-bluk!" Beberapa tubuh tiba-tiba dilempar jago pedang itu, jatuh terbanting di depan semua orang. Bi Kong Hwesio serta yang lain terkejut. Mereka tak tahu siapakah orang-orang yang dibawa Hu Beng Kui ini, kecuali dapat diduga sebagai nelayan-nelayan sederhana yang pakaiannya amis.
Ketika jago pedang itu berkelebat kembali dan duduk sambil tertawa, dia mencengkeram seorang di antaranya sambil berseru, "Hei, kau siapa namamu?"
Orang itu mengeluh ketakutan. "Heh, jawab pertanyaanku, manusia pengecut. Atau kau tak akan kubebaskan dan menyusul Kwee Han!"
"Tidak... jangan!" Orang itu pucat. "Aku A-fuk, Taihiap... A-fuk!"
"Nah, kau!" Hu Beng Kui melepas orang ini, menyambar yang lain. "Kau siapa?"
"Aku... aku A-lok!"
"Dan kau!" Hu Beng Kui menyambar yang lain, berturut-turut bertanya. Ketika orang-orang itu menyebut namanya satu per satu dan mereka dilempar bergulingan, jago pedang itu berseru, "Nah, lihat. Mereka itu A-fuk dan A-lok, Bi Kong Lo-suhu, juga A-fat dan entah siapa lagi. Mereka ini adalah bekas nelayan-nelayan Ming-ciang pula, begundal Kwee Han. Mereka dulu juga berteriak-teriak tentang ketidakadilan yang merugikan itu, tapi sekarang diam tidak bercuap-cuap!"
"Apa maksudmu?"
"Ha-ha, jelas, Lo-suhu. Kalau tadi Sian-su sudah mengisyaratkan adanya unsur Im dan Yang, maka kebalikan dari merugikan itu adalah menguntungkan. Jelasnya, mereka ini adalah orang-orang yang tidak pernah bercuap-cuap kalau menerima ketidakadilan yang menguntungkan!"
"Apa?"
"Ya, itu kenyataannya, Lo-suhu. Kita, dan Kwee Han, adalah orang-orang yang suka berteriak-teriak tentang ketidakadilan yang merugikan. Sedang untuk yang menguntungkan, ha-ha... kita menerimanya juga, Lo-suhu. Untuk ketidakadilan yang menguntungkan begini, kita tak pernah bercuap-cuap. Lihat Kwee Han itu, dan lihat juga teman-temannya ini. Adakah mereka berteriak-teriak lagi tentang ketidakadilan di Ming-ciang itu? Ha-ha, tak pernah, Lo-suhu. Mereka sudah tutup mata dan pura-pura tak tahu akan nasib yang lain di Ming-ciang. Dan orang-orang di Ming-ciang itu juga akan sama saja kalau menerima kejadian seperti Kwee Han. Mereka itu, orang-orang egois itu, hanya berteriak-teriak tentang yang merugikan, namun tak pernah berkaok-kaok tentang yang menguntungkan. Mereka dan kita di sini sama saja!"
"Ah!" Bi Kong Hwesio melompat kaget, terkesiap. "Kau ekstrem, Hu-taihiap. Kau terlalu!"
"He-he, apanya yang terlalu?" Jago pedang itu tertawa bergelak. "Tak usah menutup mata akan kenyataan ini, Lo-suhu. Kita harus berani dan jujur melihat semuanya itu! Kita adalah orang-orang yang berteriak tentang ketidakadilan, namun sesungguhnya kita sendiri tak dapat adil terhadap diri sendiri. Dan kalau terhadap diri sendiri kita tak dapat bersikap adil, maka jangan harap kita dapat bersikap adil terhadap orang lain. Ha-ha!"
Bi Kong Hwesio pucat. Tiba-tiba, bersama temannya, hwesio itu menggigil. Apa yang diceploskan Hu-taihiap ini adalah sesuatu yang mengejutkan sekali. Mula-mula dia mau menolak, tapi terbentur kenyataan, introspeksi ke dalam diri sendiri, dan akhirnya dia melihat apa yang diucapkan itu. Memang, hampir sebagian besar manusia adalah orang-orang dengan tipe si Kwee Han itu.
Hu Beng Kui akhirnya blak-blakan menceritakan "keberuntungan" Kwee Han setelah mendengar itu dari A-fuk dan lain-lain. Dibukalah oleh jago pedang itu akan ketidakadilan menguntungkan yang dinikmati Kwee Han. Betapa setelah menikmati kesenangan dan kedudukan yang disodorkan Khek Taijin, tiba-tiba saja pemuda Ming-ciang itu "lupa" pada teman-temannya. Ketika semua dibuka panjang lebar dan Bi Kong Hwesio serta yang lain juga sudah mengetahui itu dari kejadian di istana, jago pedang itu menutup, "Nah, inilah yang hendak dimaksud Sian-su, Lo-suhu. Bahwa kalau kita mau berteriak-teriak dan menuntut keadilan, maka kita harus jujur dan bertanggung jawab. Kita harus jujur dan bertanggung jawab tentang apa yang kita teriakkan. Sebab kalau kita berteriak-teriak tentang ketidakadilan yang merugikan, namun kita tak pernah berkaok-kaok tentang ketidakadilan yang menguntungkan, maka kita mau enaknya sendiri dan tidak bertanggung jawab. Dan kita cenderung untuk melakukan itu; kita mudah terpeleset oleh riak telaga kehidupan yang meninabobokan, yang menyenangkan!"
Bi Kong Hwesio dan yang lain bengong. Sekejap, pembicaraan sudah diambil alih oleh si jago pedang ini. Hu Beng Kui meluap-luap dan bersemangat. Tapi ketika jago pedang itu tampak berapi-api dan semua orang tertegun, maka Bu-beng Sian-su tertawa lembut mengebutkan lengannya.
"Duduklah, jangan terlampau bersemangat, Hu-taihiap. Kau pun melakukan seperti apa yang dilakukan Kwee Han, meskipun agak sedikit berbeda."
"Benar," jago pedang itu mengakui. "Aku sekarang melihatnya, Sian-su. Aku sekarang mengerti!"
Bi Kong Hwesio tertarik. "Apanya yang berbeda, Sian-su? Di mana letak perbedaannya?"
"Dengarlah," kakek dewa itu tersenyum. "Aku hendak menjelaskannya secara panjang lebar, Lo-suhu. Perhatikan dan dengarkan baik-baik." Lalu, membetulkan kakinya bersila dengan mata berseri-seri, kakek ini berkata, "Lihat, kalian telah mendengar bahwa kita, sebagian besar dari kita, adalah manusia model Kwee Han. Kita berteriak-teriak tentang ketidakadilan yang merugikan. Sedang untuk yang menguntungkan, meskipun itu juga ketidakadilan, kita menerimanya dan diam-diam saja. Adakah keadilan akan datang kalau begini caranya? Adakah keadilan akan kita peroleh? Kalau pun datang, maka itu adalah keadilan yang semu, Cuwi Pangcu. Ketidakadilan akan datang lagi dengan cara atau macamnya yang berbeda. Menghendaki sebuah keadilan haruslah dimulai dari diri sendiri. Kalau kita tidak mau keadilan yang merugikan, maka kita harus juga menolak ketidakadilan yang menguntungkan itu. Jangan seperti Kwee Han, menolak ketidakadilan yang merugikan namun mau menerima ketidakadilan yang menguntungkan. Mana bisa keadilan yang benar datang memperlihatkan diri? Kita cenderung untuk yang senang-senang saja, Cuwi Pangcu. Untuk yang tidak menyenangkan, yang merugikan, biasanya kita bersikap keras dan penuh perlawanan. Memang aku tidak menyatakan bahwa ketidakadilan yang merugikan harus didiamkan saja. Tidak, aku tidak berkata begitu. Tapi bagaimana kalau ketidakadilan yang menguntungkan datang kepada kita? Bagaimana sikap kita menghadapi dan menerimanya? Menerima ketidakadilan yang menguntungkan sama jahatnya dengan ketidakadilan itu sendiri, Cuwi Pangcu. Karena itu, kita harus mawas diri dan benar-benar adil kalau ingin menuntut keadilan!"
Semua mengangguk-angguk, mulai mengerti.
"Lihat," kakek itu melanjutkan. "Dulu dengan kemarahan dan kebencian Kwee Han menuntut keadilan di kota raja, Cuwi Pangcu. Pemuda itu marah-marah karena dia merasa dirugikan oleh sepak terjang hartawan-hartawan di Ming-ciang. Dengan gagah dan penuh keberanian pemuda itu datang, bertemu dengan Khek Taijin. Tapi bagaimana ketika dia dibujuk dan mulai mendapatkan kesenangan-kesenangannya? Lihat, mula-mula wanita disodorkan kepadanya, Cuwi Pangcu. Siong-hi dan lain-lain wanita cantik yang sengaja diberikan Khek Taijin kepadanya. Lalu harta dan kedudukan, disusupi kesenangan-kesenangan lain yang tidak diperoleh Kwee Han di tempatnya. Dan karena pemuda itu menerima dan tidak menyadari bahayanya riak telaga kehidupan yang membuainya ini, maka perlahan-lahan pemuda itu terjebak dan semakin dalam hingga akhirnya tergelincir. Kwee Han, yang semula pahlawan, tiba-tiba pudar citranya. Dia terpeleset dan menghancurkan diri sendiri. Dan karena pemuda itu telah bersikap tidak adil terhadap diri sendiri, maka semua dosa dan kesalahannya terhukum oleh perbuatannya sendiri! Jelas?"
Bi Kong Hwesio dan lainnya mengangguk-angguk.
"Sudah selesaikah cerita ini?" Kakek itu bertanya sendiri. "Belum," jawabnya pula. "Masih ada yang harus diketahui, Cuwi Pangcu, yakni perbedaan antara Hu Taihiap dan pemuda itu."
"Hm," Ciu Sek Tosu tertarik. "Perbedaan yang bagaimanakah, Sian-su? Bolehkah kami tahu?"
"Tentu, Hu Taihiap telah menyadari kesalahannya, Totiang, barangkali tak apa kalau aku bicara di depan yang bersangkutan. Begitukah, Hu Taihiap?"
Jago pedang itu mengangguk.
"Nah, ada perbedaan di antara Kwee Han dan Hu Taihiap ini, Cuwi Enghiong, yakni datangnya ketidakadilan yang menguntungkan itu. Kwee Han, sebagai anak muda, barangkali akan kita bela karena dia belum banyak pengalaman, masih muda dan masih hijau, begitu barangkali. Tapi bagaimana dengan Hu Taihiap? Bagaimana dengan jago pedang ini? Sahabat kita ini lebih lagi, Cuwi Enghiong. Hu Taihiap sengaja menciptakan ketidakadilan demi dirinya sendiri!"
"Eh?" Cu Sek terkejut. "Bagaimana itu, Sian-su? Kesengajaan bagaimana?"
"Ya, lihat, Totiang. Antara Kwee Han dan Hu Taihiap ada perbedaan, meskipun masing-masing masih dalam lingkaran yang sama. Kwee Han, pemuda Ming-ciang itu, menerima ketidakadilan yang menguntungkan di luar kesadarannya. Artinya, pemuda itu hanya didatangi oleh ketidakadilan yang menguntungkan di luar rencananya. Sama sekali Kwee Han tak mengira atau menduga adanya perubahan kehidupan itu. Dia sama sekali tidak merencanakan untuk menikmati ketidakadilan yang menguntungkan itu sejak berangkat dari Ming-ciang. Pemuda ini hanya diberi dan mendapat kesempatan untuk menikmati ketidakadilan itu, yang menguntungkannya. Dan karena kita sebagian besar memang lemah terhadap hal-hal yang menyenangkan begini, maka pemuda itu menerima dan hanyut dalam jebakan Khek Taijin itu!"
"Sedang Hu Taihiap?" Swan Cong, ketua Kun-lun, kini maju bertanya.