Chapter 113
"Bagaimana dengan Hu-taihiap, Sian-su? Apakah dia tidak diberi tahu mengenai kesempatan itu?"
"Tidak. Hu-taihiap justru menciptakan ketidakadilan ini, Swan Cong Totiang. Dia dengan sengaja dan sadar menciptakan ketidakadilan itu. Hu-taihiap sama dengan Cu-wangwe dan kawan-kawannya!"
"Ha-hu!" Hu-taihiap tertawa tergelak. "Inilah hal yang memalukan diriku, Swan Cong Tojin. Sebagai pendekar dan orang yang sudah disebut baik-baik, aku masih juga melakukan itu. Aku memang sama dengan Cu-wangwe dan kawan-kawannya. Aku barangkali juga sama dengan Khek-taijin!"
"Pinto belum mengerti," Swan Cong agak ragu sembari mengerutkan kening. "Ketidakadilan bagaimana yang kau maksudkan, Sian-su? Dapatkah kau memberi penjelasan?"
"Ah, tidakkah jelas, Totiang? Hu-taihiap mencuri Cui-sian Gin-kang dan Lu-ciang-hoat yang dimiliki Kim-mou-eng dalam nafsunya yang tidak mau kalah. Tapi begitu Kim-mou-eng mendapatkan Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng, tiba-tiba jago pedang ini marah dan tidak mau menerima. Bukankah jelas dia mau menangnya sendiri, Totiang? Bukankah Hu-taihiap tahu bahwa dengan memiliki gabungan ilmu silat yang dimiliki Kim-mou-eng, dia bakal tak dapat dikalahkan lawannya? Karena itulah dia berani sesumbar untuk mengalahkan muridku dalam dua puluh jurus. Tapi begitu dia kebentur batu, tiba-tiba Hu-taihiap marah-marah dan tak dapat mengendalikan diri!"
"Ooh....!" Swan Cong Tojin tiba-tiba mengerti dan mengangguk-angguk. "Itukah kiranya, Sian-su? Itulah yang kau maksud?"
"Ya, dan kita lihat, Totiang. Dalam ketidakadilan begini, siapa saja dapat dipengaruhi. Tua atau muda dapat terkecoh; yang masih hijau atau yang sudah berpengalaman tetap saja dapat tergelincir dalam masalah ini. Karena itu, menyadari semuanya ini dan berhati-hati adalah suatu tindakan baik yang amat terpuji!"
"Hmm.... hm....!" Semua mengangguk-angguk, kaget tapi juga kagum. "Kini kami mengerti, Sian-su. Tapi agaknya masih ada lagi wejanganmu."
"Dengarlah," kakek itu berseri-seri. "Orang seperti Kwee Han tak sejahat orang seperti Cu-wangwe, Totiang. Orang seperti Kwee Han adalah korban dari kejadian yang diciptakan oleh orang seperti Cu-wangwe. Tapi karena orang seperti Kwee Han akhirnya terjerumus dan mabuk dalam kesenangannya sendiri, maka orang macam begini tak akan terlepas dari buah yang ditanamnya. Karena itu, orang seperti Kwee Han akhirnya juga sama buruknya dengan Cu-wangwe karena mereka bisa menjadi penindas dan pemeras!"
"Jadi hukuman itu setimpal untuknya, Sian-su?"
"Setimpal atau tidak adalah urusan Tuhan, Totiang. Kita manusia acapkali menghukum lawan dengan nafsu berlebihan. Yang perlu kita sadari adalah pelajaran dari semuanya ini, hikmat dari semua kejadian itu. Apakah kalian dapat mengerti?"
"Dapat," ketua Kun-lun itu mengangguk-angguk. "Pinto sekarang mengerti, Sian-su. Dan sungguh benar apa katamu."
"Nanti dulu, tidak adakah yang dapat mengorek satu hal lagi? Tidak adakah di antara kalian yang dapat menemukan sebongkah mutiara yang masih terpendam?"
Orang-orang itu tertegun.
"Lihat," Bu-beng Sian-su kembali berkata. "Masih ada yang ketinggalan, cuwi enghiong. Masih ada satu hal penting lagi yang harus kalian ketahui!"
"Tentang apa?"
"Tentang ketidakadilan ini, peristiwa ini!"
"Ah, kami tak tahu apa-apa," Kwi Hiang Hosiang mengeluh. "Kami merasa diri kami bodoh dan tak tahu apa-apa, Sian-su. Sebaiknya kau jelaskan saja dan biar kami sebagai pendengar."
"Benar," Yang Te Cinjin mengangguk mengiyakan. "Kau jelaskan saja, Sian-su. Biar kami sebagai pendengar!"
"Baik," kakek itu tetap berseri-seri. "Aku hendak menunjukkan kepada kalian bahwa yang dituntut orang-orang Ming-ciang itu bukan keadilan, Totiang, melainkan yang lain. Tahukah kalian apa yang dituntut itu?"
"Tidak."
"Ha-ho, yang dituntut adalah kesenangan, Totiang. Bukan keadilan. Mereka itu menuntut kesenangan!"
"Eh!" Ciu Sek melengak. "Apakah benar, Sian-su? Bukankah keadilan itu akhirnya juga berupa kesenangan?"
"Inilah yang salah kaprah," kakek dewa itu tertawa. "Mereka tak tahu apa yang dituntut, Totiang. Mereka mengira kesenangan adalah keadilan. Dan karena mereka tak tahu ini, maka orang-orang macam A-fuk dan A-lok itu sudah tidak bercuap-cuap lagi begitu disumpal kesenangan."
Ciu Sek tertegun dan mulai berkeringat. "Apakah Sian-su dapat memberikan bukti?"
"Tentu, dengarlah, Totiang. Aku memang hendak menjelaskan hal ini. Keadilan adalah sesuatu yang mengandung banyak unsur. Kesenangan adalah satu di antara unsur-unsur tadi. Dan karena keadilan jauh lebih besar dan lengkap dibanding kesenangan, maka keadilan bukan kesenangan. Kesenangan adalah bagian dari keadilan, seperti halnya lengan adalah bagian dari tubuh. Tubuh sendiri bukanlah lengan. Tubuh adalah kesatuan dari apa yang kita namakan kaki, lengan, kepala, dan sebagainya. Dan karena tubuh bukanlah lengan, maka keadilan bukanlah kesenangan. Kesenangan itu hanyalah bagian dari tubuh saja—tubuh keadilan—salah satu unsur atau elemennya, seperti halnya lengan atau kaki kita yang merupakan bagian dari tubuh. Dan karena kita mulai tahu ini, maka harap kalian waspada bahwa keadilan bukan kesenangan!"
"Kami masih bingung," Bi Kong Hwesio kini maju bicara. "Coba jelaskan sekali lagi, Sian-su. Dan sedikit lambat agar piceng dapat mengunyahnya."
"Baiklah, dengarkan," kakek itu mengangguk. "Kesenangan adalah bagian dari keadilan, lo-suhu. Mendapatkan keadilan berarti otomatis akan mendapatkan kesenangan juga. Dan karena kesenangan bukan keadilan, maka mendapatkan kesenangan belum berarti mendapatkan keadilan. Kesenangan itu seperti lengan, misalnya. Dia terbatas, hanya itu-itu saja. Dan karena lengan hanyalah lengan, maka lengan bukanlah kaki atau kepala, misalnya. Lain dengan tubuh, yaitu keadilan. Di situ telah tercakup lengan, kaki, dan sebagainya. Pahamkah kalian?"
"Ooh....." Hwesio itu mengangguk-angguk. "Pinceng mulai paham, Sian-su. Dan coba teruskan dengan orang-orang Ming-ciang itu."
"Baik, sekarang kembali ke orang-orang itu," kakek ini menarik napas, tetap berseri-seri. "Kenapa mereka kukatakan bukan menuntut keadilan melainkan kesenangan, lo-suhu? Kenapa aku bicara seperti itu? Gamblang sekali jawabannya, lo-suhu; kita melihat jelas akan perbedaan dua hal itu. Lihat, Kwee Han dan A-fuk serta A-lok menunjukkan kepada kita akan kenyataan ini. Mereka membuktikan kepada kita bahwa bukan keadilan yang dituntut melainkan kesenangan. Buktinya, begitu kesenangan sudah diperoleh, maka mereka berhenti dan tidak peduli lagi kepada teman-temannya!"
"Nanti dulu," Yang Te Cinjin meloncat masuk. "Perlahan-lahan dulu, Sian-su. Pinto ingin mengunyahnya secara lambat dan hati-hati."
"Boleh, dengarkan lebih lanjut, Cinjin. Kesenangan, seperti yang kukatakan tadi, berhubungan dengan 'aku' atau ego. Dan karena kesenangan berhubungan dengan 'aku', maka kesenangan bersifat dangkal. Menuntut kesenangan pada dasarnya memenuhi keinginan si 'aku' ini, jauh bila dibanding dengan menuntut keadilan, karena kalau kesenangan bersumber pada si 'aku' atau ego, maka keadilan bersumber pada cinta kasih. Nah, lihat perbedaan besar di antara keduanya ini, Cinjin. Lihat apa yang terjadi kalau kedua-duanya bergerak!"
Yang Te Cinjin terbelalak.
"Aku hendak melanjutkan sedikit lagi tentang ini," kakek itu berseri-seri. "Sekarang kalian buktikan dengan apa yang diperbuat Kwee Han, juga A-lok atau A-fuk itu. Mereka, orang-orang ini, pada dasarnya menuntut kesenangan, bukan keadilan. Karena itu, begitu kesenangan itu mereka peroleh dan si 'aku' atau si ego terpenuhi, maka mereka tak ingat lagi pada kawan-kawannya di Ming-ciang itu. Kwee Han dan kawan-kawannya ini terkecoh oleh diri sendiri. Mereka bukan mencari keadilan, tetapi kesenangan. Karena itu, begitu kesenangan datang dan mereka tenggelam, maka mereka pun lupa diri. Inilah juga yang dialami sebagian besar manusia, nelayan-nelayan Ming-ciang yang lain itu, dan barangkali juga kita di sini!"
Yang Te Cinjin terkejut.
"Dan kalian tahu bagaimana kira-kira contoh keadilan yang bersumber pada cinta kasih itu?"
Yang Te Cinjin dan kawan-kawannya menggeleng.
"Ha-ha, Pwee-lopek itulah contoh yang gamblang di sini, Cinjin. Kakek yang tidak pernah memikirkan diri sendiri itulah contohnya! Lihat berapa uang yang dia dapatkan dari Kwee Han, lihat berapa kali dia sungguh-sungguh menuntut keadilan. Adakah uang yang dia sembunyikan untuk dirinya pribadi? Adakah kakek itu menyembunyikan sebagian uang yang diterimanya dari Kwee Han? Tidak, kakek itu tak pernah menyisihkan uang yang diterimanya untuk dirinya sendiri, Cinjin. Semua yang didapat diberikannya kepada teman-temannya. Kakek itu tak memikirkan diri sendiri karena dia memang tak berniat untuk menyenangkan diri sendiri. Kakek itu ingin membantu teman-temannya, menolong teman-temannya. Keinginan atau niat yang timbul dari cinta kasih, cinta terhadap sesama dan kasih terhadap sesamanya pula. Sayang, karena kakek ini terlalu sederhana dan lugu, maka niat atau maksud hatinya itu digantungkannya kepada Kwee Han, pemuda yang dianggapnya jauh lebih mampu daripada dirinya yang sudah tua! Kalian mengerti?"
Tiba-tiba semua orang tertegun. Kini dibukalah secara panjang lebar contoh-contoh yang bagus sekali oleh kakek dewa itu. Bu-beng Sian telah mengupasnya dan satu demi satu kakek itu menerangkannya kepada mereka. Mulai dari ketidakadilan yang menguntungkan sampai pada masalah "aku" dan cinta kasih. Jelas dan gamblang! Karena kakek itu mengurainya secara panjang lebar, satu sama lain saling terkait, dan kagumlah semua orang akan kenyataan yang disodorkan ini. Dan ketika mereka mengangguk-angguk dan semua mendecak, maka kakek itu bangkit berdiri.
"Nah, sekarang jelaslah kalimat-kalimat dalam syair ini. Bait pertama adalah mula gerakan Kwee Han dalam menuntut keadilan. Bait kedua menerangkan pemuda itu mulai memasuki telaga yang beriak perlahan."