Chapter 114
Karena sekarang kita tahu bahwa Kwee Han dan orang-orang Ming-ciang itu bukan menuntut keadilan, melainkan menuntut kesenangan, maka akhirnya kata "adil" hanyalah permainan mulut belaka. Akibatnya, yang mereka dapatkan pun hanya sebuah keadilan semu!
"Nanti dulu," Swan Cong Tojin berseru. "Apakah nelayan-nelayan itu sekarang masih mendapatkan keadilan yang semu, Sian-su? Bukankah Khek-taijin sudah dipindah dan Cu-wangwe serta kawan-kawannya juga menyingkir?"
"Ha-ha, menjawab ini mudah saja, Totiang. Orang akan mendapatkan yang semu kalau mulai dengan yang semu juga. Dan akan mendapatkan yang sejati kalau mulai dengan yang benar. Sebaiknya kau lihat saja karena kebodohan biasanya menuntun kepada kesengsaraan!"
"Pinto tak puas...."
"Wut!" Bu-beng Sian-su lenyap.
"Mendengarkan saja tanpa menghayati tak ada gunanya, Toiang. Sebaiknya kau belajar pula mengamati jalannya roda kehidupan!"
Kakek itu tertawa entah di mana, lalu tiba-tiba meminta maaf dan pergi jauh. Ia menghilang dan tak ada siapa pun yang dapat mengikuti karena kesaktian kakek itu memang luar biasa. Kalau manusia dewa itu tak menghendaki, jangan harap mereka dapat bertemu.
Ketika kakek itu lenyap dan orang-orang tertegun kagum, Hu Beng Kui tertawa bergelak dan berkelebat pula, menyusul Bu-beng Sian-su. Jago pedang itu menyuruh putrinya dan Kim-mou-eng datang ke Ce-bu. Ini adalah hal yang tidak diduga, membuat Pendekar Rambut Emas dan kekasihnya tiba-tiba berseri-seri. Perintah itu sama halnya dengan persetujuan ayahnya merestui perjodohan mereka. Swat Lian tiba-tiba tersenyum dan melirik kekasihnya. Ketika Pendekar Rambut Emas tertegun namun gembira bukan main, pemuda ini menyambar lengan kekasihnya, lalu melesat pergi setelah meminta diri pada Bi Kong Hwesio dan lainnya.
Tinggallah enam orang ketua ini merenungi wejangan Bu-beng Sian-su. Mereka manggut-manggut dan berseri-seri. Kegembiraan dan kesenangan mereka berbeda dengan yang dialami Kim-mou-eng. Mereka mendapat makanan rohani dari Bu-beng Sian-su, kakek dewa yang hebat itu. Ketika mereka bangkit berdiri, Bi Kong Hwesio berkelebat pulang ke Siu-lim, disusul oleh rekan-rekan lainnya yang pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lega.
Swan Cong Tojin masih termangu hingga akhirnya menghela napas. Tosu itu duduk bersila dan mulai bersamadhi. Wejangan Bu-beng Sian-su yang demikian banyak dan "berat" memang harus dikunyah dan dimamah secara perlahan-lahan. Tosu itu mengangguk-angguk saat teringat segala kata-kata kakek itu. Mulai dari ketidakadilan sampai cinta kasih, mulai dari yang merugikan sampai yang menguntungkan. Ah, begitukah kiranya? Demikian pelik dan berbelit-belit?
Ketidakadilan ada dua, dipandang dari dua sisi yang berbeda. Yang satu merugikan, sedang yang lain menguntungkan. Untuk yang merugikan, jelas manusia berteriak-teriak. Tapi bagaimana dengan yang menguntungkan? Adakah yang berteriak-teriak? Lucu, selama ini ia belum pernah dengar. Untuk ketidakadilan yang menguntungkan, biasanya manusia diam, pura-pura bodoh, dan seakan tidak tahu-menahu. Tak ada suara keras menyambar dan sungguh bertolak belakang dengan yang merugikan itu. Untuk yang pertama, manusia sanggup mati dan berjibaku, tapi untuk yang kedua, manusia cenderung ingin berumur panjang dan menikmati hidup.
Tosu itu tersenyum geli. Bu-beng Sian-su mengatakan bahwa ketidakadilan yang menguntungkan itu bisa "datang" dan "didatangkan". Contoh pertama adalah Kwee Han, pemuda Ming-ciang yang mendapat kesempatan menikmati ketidakadilan yang menguntungkan. Yang kedua adalah Cu-wangwe dan teman-temannya serta Hu-taihia yang sengaja mencipta ketidakadilan untuk keuntungan diri sendiri. Swan Cong Tojin tertegun; ia terkejut bahwa orang seperti Hu-taihia bisa terjeblos dalam tindakan tercela. Benar kata kakek dewa itu, hal ini bisa menimpa siapa saja, baik yang muda maupun yang sudah banyak makan asam garam kehidupan.
Kemudian mengenai tuntutan itu. Benarkah mereka menuntut keadilan? Tidakkah orang-orang itu menuntut kesenangan? Keadilan berasal dari cinta kasih, sedangkan kesenangan tidak. Kesenangan berasal dari tuntutan atau keinginan si-aku (ego), sifatnya dangkal dan bertalian erat dengan diri sendiri. Begitu Kwee Han memperoleh kesenangannya, ia lupa pada misi semula. Tak ada cinta kasih di situ, tak ada keadilan.
Bu-beng Sian-su menyatakan bahwa kesenangan hanyalah bagian dari keadilan. Jika orang mengejar salah satu unsur, maka keadilan yang utuh tidak didapat. Orang hanya mendapatkan kulitnya, bukan isinya. Itulah yang membuat nelayan Ming-ciang jatuh bangun menentang Cu-wangwe; reda sejenak lalu timbul lagi. Apakah hal itu tak akan terulang? Hanya Pwee-lopek yang agaknya bersungguh-sungguh menjalankan tuntutannya. Kakek itu jarang memperhatikan diri sendiri karena orang lainlah yang menjadi tujuannya. Faktor utamanya adalah cinta kasih.
Swan Cong Tojin menarik napas dalam-dalam. Bu-beng Sian-su telah menyatakan bahwa sebagian besar manusia seperti Kwee Han; mau menerima ketidakadilan yang menguntungkan, namun emoh terhadap ketidakadilan yang merugikan. Karena itulah ketidakadilan merajalela. Apa yang harus dilakukan? Tentunya harus jujur dan adil terhadap diri sendiri. Masalahnya, adakah manusia seperti itu? Kalaupun ada, apakah jumlahnya cukup banyak untuk membawa perubahan?
Swan Cong Tojin semakin tenggelam dalam lamunannya hingga akhirnya tertidur. Sementara itu, kisah Kim-mou-eng berakhir dengan baik. Swat Lian, putri Hu Beng Kui, akhirnya dinikahinya setelah Hu Beng Kui mengakui kesalahannya. Kin-mou-eng sendiri tidak mau menjadi bengcu; kedudukan itu tetap diserahkan kepada mertuanya. Namun, di tengah pesta pernikahan yang meriah, semua orang merasa kurang karena ketiadaan Bu-beng Sian-su. Mereka ingin mendengar wejangan kakek itu lagi, tetapi Kim-mou-eng menjelaskan bahwa kakek itu tidak akan muncul tanpa kehendaknya sendiri.
Sejak hari itu, kakek dewa tersebut tidak muncul lagi dan tidak ditemukan oleh siapa pun selama dua puluh tahun. Kakek itu telah melangkah ke wilayah lain setelah memberikan wejangan tentang keadilan.