Chapter 12
Cao Cun hendak diambil oleh Cimochu, twako, akan diperisteri! "Siapa itu Cimochu?" "Putera sulung raja Hu sendiri, anak tirinya!" Pendekar ini mencelat, "Cao Cun mau dikawin anak tirinya?" Dan ketika Wan Hoa mengguguk dan menggangguk, akhirnya gadis itu tak kuat lagi menubruk pendekar itu, meratap dan berkata bahwa itu sudah menjadi adat bagi bangsa liar itu, segala warisan ayah jatuh ditangan anak sulung, termasuk isteri dan selir-selirnya.
Dan ketika Kim Mou Eng tertegun dan pucat mendengar ini, maka Wan Hoa mengakhiri ceritanya, gemetar, air mata jatuh berderai-derai tak kunjung habis. "Begitulah, Cao Cun dan aku tak berdaya, twako. Karena itu kami datang kepadamu. Tolong kau bantu kami dan bebaskan Cao Cun dari masalah yang memalukan ini!" "Hm!" Kim Mou Eng mengangguk-angguk, muka pun gemetar. "Bangsa itu memang bangsa yang aneh, Wan Hoa. Kalau Cimochu hendak mengambil ibu tirinya dan ini sudah merupakan adat, agaknya tak banyak yang dapat kita lakukan. Apa yang dapat kukerjakan untuk kalian?" Apa aku harus membawa Cao Cun dari tempat itu dan melarikan diri?"
"Kami berpikir begitu, twako. Tapi kau tentu repot. Namamu bisa tercoreng dan isterimu pun bisa marah besar. Kau akan dianggap melarikan isteri orang dan ini sebuah aib bagimu. Tidak, kami tak minta yang itu, twako, melainkan laporkan saja pada kaisar dan biar kekuasaan kaisar menghalangi niat Cimochu itu dan jangan dia mengambil Cao Cun!" "Hm... " Kim Mou Eng merasa sependapat. Kalau ini dapat kulakukan, Wan Hoa, tidak mengandung resiko dan sama-sama baik bagi kita. Baiklah, katakan pada Cao Cun dan hibur dia bahwa aku pasti menolong!"
"Kau memang baik dan berbudi luhur!" Wan Hoa yang tak dapat menahan diri dan langsung menubruk dan memeluk pendekar itu lalu tersedu-sedu dan menangis penuh gembira, melihat harapan pada pendekar ini dan memang Kim Mou Eng lah yang dapat menolong itu. Pendekar Rambut Emas ini memiliki hubungan baik dengan kaisar, begitu baiknya hingga kaisar memberi kebebasan pada pendekar ini untuk datang dan pergi sesuka nya di istana, tanpa memberi tahu.
Dan ketika Wan Hoa mendapat janji pendekar itu untuk menolong Cao Cun, maka wanita ini melepaskan diri dan akhirnya sayu memandang pendekar itu. "Twako, kau hidup bahagia?" "Hm." Kim Mou Eng mengangguk. "Aku cukup bahagia, Wan Hoa, sumoiku wanita yang baik. Dan kau sendiri, sudah menemukan pilihan atau masih melajang?" "Aku masih sendiri..." "Tak baik. Kau harus menikah, Wan Hoa. Kau harus mendapat pendamping dan hidup bahagia!" "Ah, aku tak mau menikah, twako. Kecuali aku mendapat orang macam dirimu. Selama Cao Cun masih mendapat persoalan bertubi-tubi aku tak mau menikah dan biar menghibur sahabatku itu."
Kim Mou Eng tergetar. Dia memejamkan mata, teringat kesetiaan dan cinta kasih Wan Hoa kepada Cao Cun. Selama hidup, belum dijumpainya gadis sehebat Wan Hoa, rela bekoban dan begitu setia kepada sahabat hingga nyawa pun siap diberikan. Suka duka yang dialami Cao Cun tak pernah tanpa gadis ini. Cinta dan persahabatan Wan Hoa benar-benar luar biasa.
Dan ketika Wan Hoa menyatakan tak usah menikah selama sahabatnya belum bahagia akhirnya dua titik air mata meluncur di pipi pendekar ini, membuka mata dan mencengkeram gadis itu, penuh keharuan. "Wan Hoa, kau benar-benar sahabat setia. Kalau saja Cao Cun bahagia kelak akan kupilihkan seorang laki-laki yang tepat untukmu!" "Terima kasih." Mulut itu tersenyum getir. "Tak ada laki-laki yang sehebat dirimu, Kim-twako. Kalau ada yang macam kau baru aku menerima. Tapi kalau tidak lebih baik tak usah. Sudahlah, kapan kau menolong Cao Cun?" "Seminggu lagi. Wan Hoa, tunggu aku seminggu dan mudah-mudahan Sri Baginda dapat menghalangi niat itu." "Pasti, asal kau yang minta tentu Sri Baginda dapat menghalangi Cimochu, twako. Kalau begitu kutunggu kau di tempat kami." "Ya, pergilah. Tunggu aku di sana, Wan Hoa, dan sampaikan salamku buat Cao Cun".
Dan Wan Hoa yang memutar tubuh serta mengucap terima kasih lalu menyuruh pengawal mengeluarkan kereta. Kiranya sebuah kereta disembunyikan tak jauh dari situ, berderak dan akhirnya meninggalkan tempat itu. Wan Hoa berkali-kali melambaikan tangan di jendela kereta, air matanya mengalir, tak habis-habisnya tersenyum dan harapan besar jelas terlihat di muka yang cantik itu. Kini Wan Hoa bersinar-sinar.
Dan ketika kereta lenyap dan Kim Mou Eng menghela napas, tiba-tiba empat laki-laki mendatangi tempat itu dengan kuda mencongklang, mengeprak demikian buru-buru dan Kim Mou Eng tak jadi pergi. Dia tertarik dan menunggu. Dan ketika empat orang itu datang mendekat dan Kim Mou Eng tertegun, segera dia melihat bahwa itu adalah Bu Ciangkun bersama tiga pengawalnya, panglima yang dulu datang berkunjung!
"Eh, ada apa, Iangkun? Kenapa kalian demikian cepat dan buru-buru?" "Ah, celaka... celaka, taihiap. Istana berkabung!" Bu Ciangkun meloncat turun, suaranya serak dan menggigil, mengejutkan Kim Mou Eng, datang-datang membuat kaget dan panglima itu menangis. Dan ketika dia gemetar dan limbung berjalan menghampiri, maka panglima ini tiba-tiba roboh dan lemas mendeprok di tanah.
Kim Mou Eng tersentak. "Ciangkun, apa yang terjadi? Kenapa berkabung?" "Sri Baginda mangkat, taihiap. Sri Baginda... Sri Baginda, ooh...!" Panglima itu menutupi muka, mengguguk. "Kami kehilangan junjungan taihiap, Sri Baginda wafat". "Wafat?" Kim Mou Eng bagai disambar petir, teringat janjinya pada Wan Hoa. "Kapan beliau mangkat? Sebab apa?" "Penyakit tua, taihiap. Dan kami memberi tahumu kalau ingin berbela sungkawa, ooh...!" Bu Ciangkun yang kembali menutupi muka dengan tangis tersedu, lalu menceritakan keadaan di istana.
Bahwa kaisar wafat karena penyakit tua, bahwa istana kini berkabung dan tiga pengawal yang sampingnya pun menangis. Kedukaan dan kesedihan besar tiba-tiba memenuhi empat orang itu, Kim Mou Eng terpaku dan nyaris tak dapat mengeluarkan suara. Dia teringat Wan Hoa yang baru pergi, yang begitu penuh harap akan pertolongannya pada Cao Cun. Kini tanpa disangka-sangka kaisar telah meninggal dunia, sungguh ini di luar perhitungan.
Tapi ketika Kim Mou Eng sadar dan menekan degup jantungnya yang tidak karuan, tiba-tiba pendekar ini menepuk bangun panglima tinggi besar itu. "Bu Ciangkun, bangunlah. Aku turut berbela sungkawa. Mari kita ke istana dan biar kuberikan hormatku yang terakhir kepada Sri Baginda!" Bu Ciangkun masih menangis. "Kau akan bersama kami, taihiap?" "Ya, bangunlah. Mari berangkat!" Dan Bu Ciangkun yang berdiri mengusap air matanya dengan tinju, akhirnya sadar melihat kwibawaan pendekar ini, mata masih memerah, namun cepat dia melompat di atas kudanya kembali.
Dan ketika Kim Mou Eng memberi tanda dan kuda ditendang, tiba-tiba Bu Ciangkun mengeprak dan kembali ke kota raja, diiringi Kim Mou Eng yang mengerahkan ginkang di samping panglima itu. Kuda dan manusia, berlari bagai terbang. Kim Mou Eng mendampingi panglima ini dengan ilmu lari cepatnya, mau tak mau Bu Ciangkun kagum. Dan karena dia menyadari tak mungkin Kim Mou Eng mau menunggang kuda, dan sepuluh menit kemudian pendekar ini merasa larinya kuda terlalu lambat, tiba-tiba pendekar itu berkata bahwa dia akan mendahului, melesat dan terbang serta lenyap di depan.
Dalam waktu sekejap saja sudah merupakan titik kecil dan hilang di sana. Bu Ciangkun ternganga. Tapi begitu Kim Mou Eng lenyap dan dia mengejar, maka empat ekor kuda ini mencongklang dan membalap, namun masih saja tertinggal jauh di belakang! Apa yang terjadi di kota raja? Benarkah kaisar mangkat? Melihat bendera-bendera yang dikibarkan setengah tiang memang telah menunjukkan hal itu. Istana berkabung, kota raja tiba-tiba menjadi sirap dan sunyi.
Orang yang berlalu-lalang hampir tak mengeluarkan suara, muka yang berpapasan sering menunduk dan menunjukkan wajah sedih. Istana memang dirundung duka. Dan ketika para menteri dan putera pangeran mendampingi jenazah di Ruang Agung, maka di luar, dibalik sosok-sosok tubuh pengawal yang menjaga seputar istana, terdengar kekeh dan tawa nyaring. "Heh-beh, kaisar wafat? Mana peti jenazahnya?" Dua nenek riap-riapan muncul. Mereka ini nyelonong masuk di saat keadaan begitu khusuk, para pengawal terkejut dan membentak. Tentu saja mereka tak mengijinkan nenek itu membuat onar.
Tapi ketika tombak dan golok ditodongkan di depan keduanya, yang membawa seorang anak berusia tiga tahun, tiba-tiba mereka tertawa dan mengibas, "Kami datang untuk memberi hormat. Minggir...!" Pengawal berpelantingan. Entah bagaimana dari kedua tangan nenek itu muncul sambaran angin bertenaga dahsyat, mereka tahu-tahu terdorong dan jatuh tak keruan, beberapa di antaranya bahkan patah-patah tombaknya. Dan pengawal berteriak kaget dan serta gentar menghadap nenek itu, maka dua orang nenek ini meneruskan langkahnya memasuki istana, "Hei, kami mau menyatakan bela sungkawa. Minggir!" Begitu berkali-kali dua nenek itu berseru. Setiap pengawal mau menghadang, mengembangkan lengan mereka dan pengawal pun tunggang langgang disapu angin pukulan dahsyat.
Mereka itu tak berdaya dan kedua nenek ini pun akhirnya memasuki bangsal istana, terus mengibas-ngibaskan lengan setiap dicegah. Dan ketika mereka masuk Ruang Agung dan para perwira serta panglimanya terbelalak melihat datangnya dua nenek itu, maka sepuluh orang melompat ke depan mencabut senjata. Dua di antaranya adalah Cu Ciangkun, sepasang panglima kakak beradik yang bersenjatakan tombak. "Ji-wi locianpwe, kalian siapakah dan mau apa masuk ke dalam?" "Heee-heh, kami mengantar pangeran, ciangkun. Ingin menyatakan bela sungkawa dan turut berduka." "Tapi kalian tak dikenal!" "Hm, ini murid kami, putera Gurba dengan selir Bi Nio. Apakah kalian tak mengenal dan masih melarang?" Cu Ciangkun, dua panglima itu terkejut. Mereka melihat seorang anak kecil dengan bola mata bundar tersenyum mengejek, tidak mengeluarkan suara tapi angkuh memandang mereka. Namun yang disebut-sebut kedua nenek itu membuat mereka tertegun, mendiang Gurba dan Bi Nio.