Chapter 13
Ketika mereka terpaku dan bingung memandang kedua nenek itu, tiba-tiba mereka berkata, "Nah, biarkan kami lewat. Biarkan Pangeran Togura menghormati ayah tirinya!" Cu Hak, panglima tertua, sadar. Dia melihat dua nenek itu berjalan ke peti jenazah, anak laki-laki di tengahnya diapit, yang tampak jumawa dan angkuh, sekecil itu sudah menunjukkan kesombongan besar.
Karena nenek riap-riapan ini tak dikenal dan Cu Hak terkejut mendengar anak itu adalah Togura, anak Gurba dan Bi Nio, tiba-tiba panglima ini meloncat dan berseru nyaring, "Nenek siluman, kau jangan kurang ajar. Kalau benar itu adalah putera Bi Nio yang hilang, maka kaulah pencurinya. Kalian kami tangkap!!!"
"Heh!" Dua nenek itu tak acuh, seorang di antaranya berhenti. "Kau berani menangkap kami, panglima busuk? Siapa kau yang berani mati?" Dan Cu Hak, yang terkejut melihat nenek satunya terus berjalan dan tidak menghiraukan dirinya, akhirnya menggerakkan tombak menusuk ke arah si nenek itu. "Berhenti, atau kau kubunuh!"
Namun, tombak yang menyeleweng ditiup si nenek itu, tiba-tiba panglima ini berteriak kaget. Sementara bocah berumur tiga tahun itu berkelebat, mencengkeram kaki panglima ini diangkat. Lalu, begitu bocah itu berseru keras, menyelinap di selangkangan panglima ini, tahu-tahu melewati pundaknya yang kecil, dan kaget dibanting keras. "Bress!" Panglima itu terguling.
Togura, anak lelaki berumur tiga tahunan itu, membuat terkesima semua orang. Cu Hak, sang panglima yang gagah, disambar dan dibanting begitu rupa, gesit dan bertenaga, dan orang pun melongo. Tapi ketika panglima ini melompat bangun dan marah berteriak geram, maka Cu Kim, sang adik, berkelebat maju bersama pembantu-pembantunya. "Hak-ko, mereka itu pengacau. Lindungi peti jenazah!"
Dua nenek itu terkekeh. Mereka telah melihat murid mereka yang kecil membanting panglima She Cu. Togura melakukan itu tanpa banyak cakap, tak ada kata-kata secuil pun keluar dari mulutnya, kecuali bentakkan kecil tadi ketika membanting. Maka ketika Cu Hak melompat bangun dan orang geger oleh peristiwa ini, maka dua kakak beradik panglima Cu itu telah mengepung dan membentak nenek ini, menerjang, dan segera dua nenek itu diserang. Tombak dan golok berseliweran naik turun, membacok dan menusuk.
Tapi kedua nenek itu terkekeh dan membuka mulut mereka meniup, maka... susshhh, semua senjata pun terpental dan menyeleweng arahnya. "Hi hik, hajar mereka, Togur. Beri adat!" Togura, bocah tiga tahunan itu, mengangguk. Dia sudah berkelebat dan keluar dari tengah-tengah gurunya, membagi pukulan dan tendangan. Tak ada yang dapat mengelak, dan semua menerima bogem mentahnya.
Dan ketika semua menjerit dan mengaduh oleh hajaran anak laki-laki itu, maka Cu Ciangkun dua bersaudara pucat terhuyung mundur, tombak mereka patah, dan dua nenek itu tertawa-tawa. Apa yang terjadi ini benar-benar mengagetkan. Tapi karena Cu Ciangkun merupakan orang paling bertanggung jawab saat itu, dan tentu saja dia tak akan membiarkan pengacau membuat onar, maka mereka kembali membentak dan sudah menyambar tombak pengawal, menyuruh yang lain maju lagi, dan bersama puluhan pembantu panglima ini mengeroyok, mereka menyerang dan menusuk nenek itu.
Tapi ketika lagi-lagi nenek itu meniup dan tombak serta golok menyeleweng tak keruan, akhirnya nenek di sebelah kiri berseru, "Togur, hajar panglima She Cu ini. Dia paling nekat!" Togura, hocah ini lagi-lagi mengangguk. Sama gurunya diserang, dia tidak bergerak, kembali ke tempatnya semula. Tapi ketika pengawal maju lagi dan gurunya memerintah, tiba-tiba anak ini berkelbat ke arah panglima She Cu, kebetulan menuju Cu Kim yang menjadi panglima nomor dua.
Anak itu menampar, dan Cu Kim mengelak, tentu saja panglima ini marah. Tapi ketika panglima itu hendak membalas, dan bocah laki-laki itu menyusuli serangannya, tiba-tiba ketiak panglima ini terketok sesuatu dan lumpuh, tak dapat digerakkan, dan tentu saja tamparan anak itu mengenai mukanya, kali ini keras sekali, begitu kerasnya hingga gaplokan yang nyaring mengejutkan semua pengawal.
Dan ketika panglima itu mengeluh dan roboh terguling, ternyata panglima ini tak bergerak lagi karena... pingsan. "Setan!" Cu Hak, sang kakak, menjadi gusar. Dan menusukkan tombaknya tidak lagi ke nenek lawannya, melainkan ke tubuh anak ini. Mengejutkan sekali, bocah itu dapat mengelak. Dan ketika tombak lewat di atas kepalanya, tiba-tiba anak ini menyodok, dan panglima itu pun berteriak ngeri.
"Cuss!" Panglima ini terpelanting. Empat jari lurus dari bocah lelaki itu mengenai ulu hatinya, kontan panglima sesak napas dan roboh. Dan ketika ia mengeluh dan melotot kaget, tahu-tahu pun terguling dan tidak bergerak lagi, pingsan. "Heh-heh, siapa berani main-main lagi?" Dua nenek itu tertawa, tidak lagi meniup, melainkan tangan bergerak ke sana kemari.
Para pengawal berpelantingan terlempar dan menjerit tak karuan. Kini bukan tombak atau golok yang patah-patah, melainkan tulang kaki atau tangan mereka. Lawan mulai bersikap keras. Dan ketika pertempuran berhenti, dan para menteri serta pangeran tak dapat bersuara, akhirnya pengawal mundur ketakutan, tak ada yang berani mendekat.
"Heh-heh, kalian takut?" Semua orang terbelalak gentar. Cu-Ciangkun, yang menjadi andalan, kini pingsan. Dua nenek itu maju lagi, mendekati peti jenazah. Dan karena tak ada yang menghalangi, dan sepasang nenek ini terkekeh geli, maka mereka pun sudah tiba di depan peti jenazah dan menepuk-nepuk permukaannya, berseru nyaring, "Sri Baginda, apakah kau telah memilih pangeran mahkota?"
"Nenek keparat, tunggu dulu. Biar kujawab pertanyaanmu!" Dan menteri yang merah padam melihat sepak terjang dua orang ini, lalu melindungi peti jenazah, berkata marah, "Kalian berdua siapakah? Sri Baginda wafat, tak mungkin menjawab pertanyaan kalian. Nah, aku menteri Kim, kujawab pertanyaan kalian. Sri Baginda telah mengangkat pangeran mahkota, dialah yang akan menggantikan, dan coba jawab pertanyaan kami, kenapa kalian datang dan merobohkan pengawal?"
"Heh-heh, kami sepasang Dewi Naga. Apakah ku pernah mendengar nama kami?" Nenek di sebelah kiri menjawab. "Kami datang untuk menghormati Sri Baginda, menteri Kim, juga sekaligus meminta agar murid kami diangkat sebagai penggantinya!" "Apa?!!" Kim-taijin terkejut. "Kalian gila? Kalian tidak waras?"
"Hmm, murid kami adalah seorang pangeran taijin. Dan dia pintar menduduki tahta kerajaan. Mana pangeran mahkota yang diangkat, dan siapa wakil yang bertanggung jawab tentang peralihan kekuasaan?" "Aku," Menteri Kim menggigil. "Aku yang bertanggung jawab atas peralihan kekuasaan, nenek siluman. Dan kau tak dapat berbuat sesuka hatimu, karena Sri Baginda telah memutuskan penggantinya dalam sebuah surat wasiat."
"Mana surat itu?" Nenek ini marah. "Biar kurobeki, dan tidak berlaku. Pilihan kaisar salah, harus diganti, dan muridku inilah yang lebih berhak!" "Hei, kalian para menteri dan perwira, siapa yang ingin melawan dan tidak menuruti kehendakku? Siapa yang hendak membangkang?" Para menteri dan perwira gentar. Tentu saja mereka tak berani melawan, dua nenek itu terlalu sakti.
Tapi Kim-taijin, yang tidak takut dan marah dengan mata bersinar-sinar, tiba-tiba mengedikkan kepalanya. "Nenek iblis, tak ada seorang pun di sini yang akan menyetujui tindakanmu. Dan kalau kau bertanya siapa yang akan melawan dan membangkang kehendakmu, maka akulah orangnya. Kau boleh bunuh aku, dan paksakan kehendakmu, tapi tak mungkin tahta kerajaan jatuh di tangan muridmu, karena perbuatanmu tidak disetujui rakyat, tidak sah!"
"Keparat!" Nenek itu membentak. "Kalau begitu, kau boleh mampus, menteri busuk, pergi lah!" Dan tubuh Kim-taijin yang terangkat naik dan terlempar roboh, akhirnya terbanting dan terguling-guling membentur peti jenazah, suaranya gedobrakan, tapi menteri tua itu mampu bangkit kembali, dengan gagah dia terhuyung menghampiri... dipukul lagi dari jarak jauh, dan akhirnya laki-laki tua ini terlempar lagi, tapi bangun lagi, dihajar lagi, dan begitu berulang-ulang, hingga menteri itu akhirnya mengeluh dan menggeletak, hidung dan mulutnya penuh darah, pakaiannya sudah tak keruan lagi karena robek-robek menerima pukulan lawan.
Nenek Dewi Naga sengaja tidak membunuhnya sekaligus untuk menakut-nakuti yang lain. Menteri dan perwira serta pengawal yang terbelalak melihat itu, ngeri. Dan ketika nenek ini terkekeh, dan menteri itu tak dapat bangun lagi, kecuali merintih dan mengerang tanpa pertolongan, maka dua nenek ini menghadapi kembali semua orang yang ada di ruangan itu.
"Nah, siapa berani unjuk gigi? Aku akan menyiksa kalian seperti si tua bangka ini, hidup atau mati pun belum. Ayo maju yang ingin dihajar!" Semua orang mengkeret. "Kalau begitu, kalian ikuti perintahku. Yang tidak ingin dibunuh harus berlutut, dan beri hormat kepada muridku, Pangeran Togur!" Semua orang tiba-tiba berlutut. Dalam hal ini, tidak ada seorang pun yang tidak mencari selamat. Semua menteri dan perwira menjatuhkan diri berlutut.
Tapi karena anak lelaki itu berdiri di depan peti jenazah, dan kebetulan yang berlutut menghadap ke peti itu, maka sepintas ada kesan bahwa semua yang berlutut hormat pada jenazah kaisar. "Sekarang, tirukan kata-kataku," nenek itu bicara lagi. "Nyatakan bahwa kalian setia kepada dia, muridku, dan bahwa Pangeran Togur menggantikan kaisar!" Semua mulut bicara tak jelas.
"Heh, katakan bahwa Pangeran Togur adalah kaisar!!" Semua mulut bersatu bicara, dan serentak. Tapi belum nenek ini mendengar suara yang dimaksud, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat, muncul di Ruang Agung. "Nenek siluman, tak ada seorang pun di tempat ini yang akan mengikuti perintahmu."