Chapter 14
"Bangun dan berdiri!" Teriakan itu menggema, dan seorang pemuda muncul. Suara bentakan dan teriakan girang terdengar di sana-sini.
"Kim Mou-eng, Pendekar Rambut Emas!" Dua nenek itu terkejut. Kim Mou-eng, sang Pendekar Rambut Emas, tiba-tiba ada di situ, berdiri tegak di antara para menteri dan perwira, gagah memandang mereka dengan mata yang bersinar sinar menunjukkan kemarahan.
Dua orang nenek itu tertegun. Tapi ketika mereka sadar dan mendadak kaget, tiba-tiba mereka berkelebat dan berdiri di depan pendekar tampan itu.
"Heh, kau tak ingat hajaran kami tempo hari, Kim-mou-eng? Berani datang dan membuat onar?" "Hm, yang membuat onar adalah kalian, nenek iblis. Di sini dan di mana-mana kalian selalu mengacau. Pergilah, jangan membuat ribut atau aku akan menghadapi kalian!"
"Heh-heh!" Dua nenek itu saling pandang mata berkilat-kilat. "Kau sombong, Kim-mou-eng. Congkak! Kepandaian apa yang hendak kau pamerkan di sini? Tidakkah kau ingat ketika kami menghajarmu dan memberimu umur panjang?" "Aku hidup karena kekuasaan Tuhan, nenek iblis, bukan karena kalian memperpanjang umurku. Kalau kalian tak mau pergi dan tetap mengacau maka kali ini pun aku siap menghadapi kalian dan tak gentar meskipun kalian memiliki kepandaian lebih tinggi!"
"Keparat! Bagus, kami sekarang akan membunuhmu....!" Tapi belum seorang di antaranya bergerak marah, tiba-tiba Togur, anak laki-laki tiga tahun itu berseru, baru kali ini bicara panjang. "Sub, tunggu! Biar aku menghadapinya!" Anak itu sudah berkelebat menghadapi Kim-mou-eng.
"Kaukah Kim-mou-eng?" Tanyanya bersinar-sinar. "Kau paman guru ku?" "Kau yang membuat ayahku menderita?" Kim-mou-eng tertegun, teringat anak yang dulu dibawa dua nenek iblis itu. "Kau Togura?" "Ya, aku Togur, Kim-mou-eng. Dan kau ternyata telah merampas pula kepemimpinan ayahku di bangsa Tar-tar!" Kim-mou-eng terkejut.
"Berlututlah!" Anak itu menyambung. "Kau harus menerima hukuman, Kim-mou-eng. Dan serahkan pimpinan kekuasaan bangsa Tar-tar kepada ku." "Hm!" Kim-mou-eng tersentak, membelalakkan matanya lebar-lebar. "Kau tak tahu aturan, Togur. Beginikah sikapmu kepada paman guru? Kau seorang anak, semestinya kau menghormat yang tua dan tidak kurang ajar. Ini tentu hasil didikan subomu yang sesat!" Dan marah memandang sepasang nenek itu, Kim-mou-eng membentak.
"Nenek iblis, kalian membuat putera suhengku tak karuan. Kalian harus mengembalikan anak ini kepadaku agar dapat kudidik baik. Lihat, dia rusak dan sesat seperti kalian!" "Heh-heh, yang tak keruan adalah kau, Kim-mou-eng. Muridku telah memerintah agar kau berlutut. Berlututlah, serahkan kekuasaanmu pula dan biar bangsa Tar-tar dipimpin muridku!" "Keparat!" Kim-mou-eng marah. "Kalau begitu bocah ini harus kuambil, nenek jahat. Kalian tak boleh mendidiknya lagi dan biar kubawa."
Kim-mou-eng yang menggerakkan tangan menyambar anak itu tiba-tiba bergerak, mau merampas Togura, tapi si bocah berkelit. Kim-mou-eng terbelalak. Bergerak dan menyambar lagi, dan Togur, anak laki-laki itu tiba-tiba menangkis. Kim-mou-eng mendengus, dan anak itu terpental. Togura menjerit karena lengannya bengkak, Kim-mou-eng memang menghajarnya tadi.
Dan ketika pendekar ini mau menyambar lagi dan menangkap bocah itu, tiba-tiba sebuah lengan lain terulur dan menangkis pendekar ini. "Kim-mou-eng, enyahlah... dukk!" Dan Kim-mou-eng tergetar dan terdorong dua tindak, tiba-tiba sudah berhadapan dengan Ji-moi, nenek kedua, yang menyeringai dengan nafsu membunuh!
"Kau berani mati?" Pertanyaan itu dingin menyeramkan. "Kau ingin mati dengan cara apa?" Kim-mou-eng menyadari keadaan. "Nenek jahat, tak ada yang dapat menentukan mati hidup di sini. Kalau kalian tak mau menyerahkan murid keponakanku, aku akan merampasnya dari kalian. Dan aku akan melawan kalian sampai titik darah penghabisan!" "Bagus, kalau begitu jangan banyak bicara, Kim-mou-eng. Terimalah pukulanku dan mampuslah... wuutt!" Dan si nenek yang sudah menyerang dan menggerakkan tangannya ke depan tiba-tiba menghantam dan mendorong tubuh pendekar itu. Angin pukulan dingin bersiut tajam, dan Kim-mou-eng mengelak.
Lawan membentak dan menyerang lagi. Dan karena ruangan itu sempit dan terpaksa Kim-mou-eng menangkis, maka dia pun menggerakkan lengan menerima pukulan itu, mengerahkan sinkangnya. "Dukk!" Kim-mou-eng kembali tergetar. Untuk ke-dua kali dia terdorong, kali ini lebih jauh, hampir empat langkah.
Tapi Kim-mou-eng yang tak takut dan gentar sedikit pun juga tiba-tiba melengking dan balas menyerang nenek itu, berkelebat dan mengerahkan Tiat-lui kangnya, dan segera pukulan berhawa panas menyambar, dielak, dan Kim-mou-eng mengejar. Dengan cepat dan bertubi-tubi ia menyusuli serangannya, si nenek Li-hai mendengus dan menampar.
Dan ketika dua tenaga kembali beradu, dan Kim-mou-eng terhuyung, akhirnya pendekar ini berseru keras mencabut senjatanya, sebuah pit hitam, dan segera senjata pendek di tangannya itu bergerak ke sana ke mari dengan amat cepatnya, menotok dan menggores, dan Ji-moi menggeram.
Nenek sakti ini menampar dan memukul. Tapi karena Kim-mou-eng menggerakkan lengan kirinya pula melancarkan pukulan-pukulan Petir, Tiat-lui kang, akhirnya nenek ini mendesis dan marah menerima semua serangan-serangan itu.
Pit mental bertemu tubuhnya, dan si nenek pun membal. Dan karena kepandaian nenek itu demikian tingginya, dan betapapun Kim-mou-eng menyerang, selalu saja pukulannya membalk, atau pit di tangannya terpental, maka serangan Kim-mou-eng mulai kandas, dan pendekar itu pun mengeluh.
"Heh-heh. Untuk orang lain mungkin Tiat-Lui-kangmu sudah hebat, Kim-mou-eng. Tapi untuk diriku tak mampu berbuat apa-apa." Kim-mou-eng gelisah. Memang apa yang dikata nenek ini benar. Tiat-lui-kangnya, pukulan Petir, diterima begitu saja oleh nenek ini, meledak tapi tak apa-apa, dan si nenek pun tak roboh.
Bahkan nenek itu serasa diusap pukulan hangat yang membuat tubuhnya segar, terkekeh-kekeh, dan Kim-mou-eng pucat. Dan ketika pit di tangannya menyambar ke mata, dan si nenek mengelak, maka dengan cepat pula nenek itu menyamplok. "Plak!" Senjata di tangan pendekar itu nyaris terlepas.
Ji-moi mengerahkan sinkangnya hebat hingga pit di tangan pendekar ini tergetar. Kim-mou-eng merasa tangannya sakit dan linu. Sampokan tadi bukan sembarang sampokan, dan tentu saja dia gelisah.
Dan ketika dia menyerang lagi, namun pukulan maupun totokan tak mempan menghadap nenek yang sakti ini, akhirnya senjata di tangan Kim-mou-eng patah bertemu tubuh si nenek yang kebal. "Krek!" Kim-mou-eng membuang pitnya di lantai, marah tapi juga bingung.
"Kau hebat, nenek siluman. Tapi aku belum menyerah!" Bentakan itu disusul terjangan kedua, tangan kiri menampar sementara tangan kanan menghantam. Kim-mou-eng melakukan dua serangan sekaligus ke kepala dan lambung.
Tapi ketika si nenek tertawa dan mengibas rambutnya yang riap-riapan, mendadak dua pukulan itu disambut dengan sabetan rambut yang tiba-tiba berubah kaku seperti kawat baja. "Plak, plak!" Kim-mou-eng mengeluh.
Lawan tidak berhenti sampai disitu saja, Ji-moi terkekeh dan menggerakkan kepala, rambut yang menangkis tiba-tiba juga menggubat pergelangan tangan lawan. Kim-mou-eng mau menarik, tapi tak keburu. Pendekar ini berseru kaget ketika tangannya tergurat.
Dan ketika dia mau membetot, tapi lawan mendahului, mendadak nenek itu telah menyendal, dan Kim-mou-eng pun roboh terbanting. "Bress!" Kim-mou terguling-guling, melompat bangun, dan melihat si nenek berkelebat. Rambut itu meledak, dan kini menyambar pinggangnya, melibat, dan menarik, dan Pendekar Rambut Emas berseru keras.
Dia menghantam, tapi si nenek mengangkat naik. Dan ketika dia kehilangan keseimbangan, dan si nenek pun membanting, maka Kim-mou-eng lagi-lagi terlempar, dan jadi bulan-bulanan serangan nenek ini, mendengar lawan terkekeh, dan para menteri serta perwira terbelalak melihat semuanya itu.
Dengan jelas mereka melihat bahwa Kim-mou-eng bukan tandingan nenek ini. Padahal nenek yang lain masih belum bergerak. Bukan main saktinya nenek itu. Dan ketika Kim-mou-eng kembali terguling-guling, dan dihajar, serta dilecut cambuk, maka Toa-ci, nenek pertama, berseru agar adiknya menyelesaikan main-main itu. Ji-moi memang mempermainkan Kim-mou-eng.
"Ji-moi, bereskan dia. Bunuh!" "Hih-heh, baik, Toa-ci. Lihat sekarang dia akan kucekik... wiirrr" Rambut itu tiba-tiba meluncur cepat, lurus, dan tahu-tahu sudah melilit di leher Pendekar Rambut Emas.
Dan ketika Kim-mou-eng tersentak, dan kaget membelalakkan mata, sekonyong-konyong tubuhnya terangkat naik, dan diputar-putar di sekeliling tubuh nenek itu. "Hi-heh, mampus kau, bocah. Mampus!" Kim-mou-eng pucat. Dia sudah tak berdaya, diperlakukan seperti itu, tubuhnya terkatung di udara, kian lama kian cepat diputar, dan tentu saja nafasnya tercekik.
Kim-mou-eng kaget bukan main. Tapi ketika si nenek terkekeh-kekeh, dan betapa pun Kim-mou-eng tak mau mati konyol, tiba-tiba pendekar ini mengeluarkan bentakan keras, dan kedua tangannya menghantam dengan pukulan sinar putih, satu-satunya pukulan yang merupakan ilmu simpanan yang bukan lain Pek-sian-ciang adanya.
"Dess!" Nenek itu bergoyang. Tubuhnya tiba-tiba berhenti berputar, rambut yang melilit mengendur, Kim-mou-eng telah menghantamnya begitu hebat, dan Ji-moi sejenak lupa bahwa pendekar ini masih mempunyai ilmu andalan, Pek-sian-ciang atau Pukulan Dewa Putih.
Kini sadar, tapi pukulan telah mengenai dirinya. Rambut sebagian putus, dan nenek ilu terhuyung. Kim-mou-eng membebaskan diri. Dan ketika nenek itu terbelalak, dan Kim-mou-eng mengeluarkan bentakan kedua, dan menghantam lagi, maka sinar berkedip menyambar, dan kembali mengenai nenek itu, yang tampaknya tertegun.
"Dessl" Ji-moi mengeluh. Untuk pertama kalinya nenek itu sadar, dia terlalu merendahkan lawan, dan lupa jelek-jelek Kim-mou-eng masih dapat menggigit. Kini "gigitannya" itu dirasakan, dan pakaian nenek ini hancur.
Kejadian seperti dulu berulang, Ji-moi terkejut, dan batuk-batuk.