Chapter 15
Kim-mou Eng terbelalak. Seharusnya kalau orang lain tentu sudah mampus dan terkapar roboh, nenek ini masih dapat berdiri meskipun bergoyang-goyang.
Dan karena saat itu merupakan penentuan dan tak boleh dia membuang kesempatan, tiba-tiba untuk ketiga kalinya pendekar ini menyerang lagi dan menghantam. Kali ini mengerahkan segenap kekuatannya dan gedung istana seakan diguncang dentuman gunung meletus.
Bukan main hebatnya.
Bentakan Kim-mou Eng itu sendiri sudah cukup membuat orang-orang yang ada di situ terpelanting, sebagian besar roboh, pingsan!
Tapi ketika Kim-mou Eng menghantam dan nenek Ji-moi tersentak, tiba-tiba nenek itu mendengar seruan Toa-ci-nya (kakak) dan bayangan nenek pertama berkelebat. "Awas..."
"Dess!" Pukulan Pek-sian-ciang seolah mengenai bukit.
Ji-moi, sang nenek, menggerakkan lengannya.
Saat itu nenek ini menggeram dan menyambut sang Toa-ci yang menyelinap di belakang Kim-mou Eng dan menotok.
Dan ketika Ji-moi menerima pukulan itu dan mengerahkan sinkang menolak, maka nenek itu menjerit sementara Kim-mou Eng bergoyang, lawan mencelat naik, tapi Toa-ci sudah ada di belakangnya.
Gerakan nenek ini yang menotok tengkuk termasuk perbuatan curang. Kim-mou Eng merasa tolakan keras dari nenek Ji-moi.
Pukulannya tertahan dan membentur dinding tak kelihatan yang bukan main kuatnya, mau membalik dan menghantam dirinya sendiri.
Dan ketika Toa-ci melengking dan menotok tengkuknya, tiba-tiba Kim-mou Eng mengeluh dan roboh terlempar, seketika pingsan karena serangan di belakang itu melumpuhkan tenaganya.
Pek-sian-ciang akhirnya membalik dan benar-benar menyerang dirinya sendiri.
Keadaan ini bisa membahayakan Kim-mou Eng, apalagi pendekar itu sedang pingsan, nyawa bisa terbang dalam keadaan tak sadar.
Tapi ketika pendekar itu mencelat dan hampir menumbuk dinding, sekonyong-konyong sebuah helaan terdengar di situ dan seorang maha sakti menangkap pendekar ini seraya berseru lembut.
"Thian Yang Agung, Bi Kim dan Bi Lan masih juga telengas... ahh!" Dan Kim-mou Eng yang ditahan serta diselamatkan dari pukulan maut tiba-tiba dilontar ke atas dan... "Blang!" Dinding di belakang hancur berkeping-keping menerima hembusan Pek-sian-ciang yang membalik begitu dahsyat, lewat dan tembus begitu saja di tubuh manusia maha sakti ini dan Kim-mou Eng kembali ditangkap, diterima dan seorang kakek yang mukanya tertutup halimun muncul di situ.
Entah kapan dia datang, tak ada yang tahu.
Tapi begitu dua nenek itu melihat kakek ini, tiba-tiba keduanya berjengit dan mundur mengeluarkan seruan gentar.
"Sian-su...!" "Bu-beng Sian-su...!" Dua nenek itu tertegun.
Mereka melihat sang maha sakti, kakek dewa Bu-beng Sian-su, berdiri di situ.
Kakek ini memandang dua nenek itu dan Sepasang Dewi Naga terkejut; nama kecil masing-masing telah disebut, sang kakak bernama Bi Kim sedangkan sang adik bernama Bi Lan.
Itulah nama yang hampir terkubur dua ratus tahun yang lalu. Tak ada yang tahu kecuali si manusia dewa ini, Bu-beng Sian-su yang berkepandaian tinggi, tentu saja dua nenek itu tersentak dan kaget bukan main.
Rasa gentar jelas membayang di wajah dua orang nenek ini.
Tapi melihat Bu-beng Sian-su menolong muridnya dan perlahan namun lembut kakek itu mengusap muridnya agar sadar, tiba-tiba nenek Ji-moi, Bi Lan, melengking berkelebat ke depan.
"Sian-su, kau mampuslah!" Bu-beng Sian-su, kakek yang diserang tenang-tenang saja.
Dia tidak mengelak, juga tidak menangkis.
Pukulan nenek Ji-moi menghantam dahsyat ke tubuhnya.
Tapi begitu kakek ini mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menerima pukulan itu, tiba-tiba pukulan yang begitu dahsyat lewat begitu saja dan kakek ini tidak apa-apa, seolah menyerang sebuah bayangan yang tidak berbadan kasar.
"Dess!" Tembok di belakang malah menjadi sasaran.
Suara hiruk-pikuk menyusuli serangan itu, dinding ruangan roboh dan nenek Ji-moi kembali melengking.
Dengan marah dan gusar ia kembali menyerang.
Tapi ketika pukulannya lewat dan Bu-beng Sian-su tak apa-apa, maka nenek ini gentar meneriaki encinya.
"Toa-ci, serang!" Toa-ci, nenek yang bernama kecil Bi Kim, terbelalak.
Dia melihat dua pukulan adiknya menghantam angin kosong. Tubuh lawan tak apa-apa padahal baju manusia dewa itu berkibar keras.
Jelas pukulannya mengena tapi entah bagaimana kakek dewa itu tak merasakan.
Nenek ini pun marah.
Dan karena adiknya meneriaki dan ia pun penasaran, tiba-tiba nenek Toa-ci membentak dan berkelebat pula ke depan.
"Desss!"
Pukulan nenek Toa-ci membuat genteng di atas berhamburan.
Ruangan terasa dilanda gempa dahsyat dan beberapa yang masih ada di situ berpelantingan, roboh.
Mereka tadi belum pingsan oleh bentakan Kim-mou Eng, kini mencelat dan pingsan oleh hembusan angin Toa-ci.
Bu-beng Sian-su berseru perlahan dan tampak menggoyang tubuh. Kim-mou Eng dilontar kembali ke atas dan diterima setelah pukulan lewat.
Dan ketika Toa-ci melengking dan kakek dewa itu menggumam tak jelas, tiba-tiba nenek Ji-moi, nenek kedua, menyuruh encinya menyerang berbarengan. Muka dan belakang.
"Toa-ci, serang serentak! Lancarkan Mo-seng-ciang (Pukulan Bintang Iblis)!" Sang Toa-ci mengangguk.
Saat itu penasarannya pun memuncak, begitu pula kemarahannya.
Maka begitu sang adik menyuruh dia melancarkan Mo-seng-ciang, sebuah pukulan dahsyat yang dimiliki mereka, tiba-tiba dua nenek ini berkelebat dan dari muka serta belakang mereka menghantam sekuat tenaga.
"Blang!" Sinar hitam berkedip warna-warni menyambar tubuh Bu-beng Sian-su.
Awan gelap dan ledakan bagai petir terdengar di situ.
Entah apa yang terjadi tapi Bu-beng Sian-su mengangkat sebelah lengannya. Kakek itu mengeluh dan menyambut dua nenek Naga tersebut dan menjerit.
Dan ketika Bu-beng Sian-su menolak dan Bi Kim serta Bi Lan mencelat, tiba-tiba dua nenek itu mengaduh dan berguling-guling melontarkan darah. "Aduh, keparat kau, Sian-su. Jahanam!" Dua nenek itu memaki, tubuh mereka berubah kehitaman dan masing-masing mendelik.
Masing-masing seakan menjadi arang dan hanya sepasang mata bulat berwarna keputihan tampak di situ, menandakan bahwa mereka masih hidup dan Ji-moi serta kakaknya menangis.
Tadi mereka ditahan dan ditolak oleh tenaga maha dahsyat. Pukulan mereka membalik dan Mo-seng-ciang justru membuat mereka hangus.
Jika bukan karena kekuatan mereka, dua nenek ini tentu sudah terbakar kulitnya. Mereka seketika sudah menjadi kehitaman dan tentu saja tak dapat memulihkan diri.
Dan ketika menyadari bahwa mereka tak dapat menandingi manusia dewa itu dan Bi Lan serta kakaknya gentar, tiba-tiba mereka memekik dan melarikan diri, menyambar Togura.
"Togur, lari! Kita bertemu iblis!" Bu-beng Sian-su, kakek dewa itu tak mengejar.
Dia hanya menghela napas dan mengurut muridnya.
Kim-mou Eng sadar dan cepat menjatuhkan diri berlutut.
Gurunya datang dan menolong.
Untung, kalau tidak tentu dia binasa.
Sepasang nenek siluman itu betul-betul hebat.
Dan ketika gurunya menarik bangun dan mengibas-ngibaskan lengan ke segala penjuru, maka para menteri dan perwira yang roboh pingsan mendadak bangun berdiri dan segar bugar disehatkan kakek maha sakti ini.
"Muridku, mari pergi. Aku ingin bicara di luar!!" Kakek itu lenyap.
Sama seperti datangnya tadi, manusia dewa ini tak meninggalkan jejak.
Kim-mou Eng girang tetapi juga cemas.
Dan ketika dia menolong Kim Taijin dan aneh bin ajaib, semua luka-luka di tubuh menteri itu hilang setelah dikebut gurunya, maka Kim-mou Eng menyusul dan meninggalkan orang-orang itu, diteriaki namun tak dihiraukan. Semua menteri serta perwira mengira Kim-mou Eng mengusir dua nenek siluman itu.
Tadi mereka setengah pingsan ketika Kim-mou Eng melancarkan Pek-sian-ciang-nya yang ketiga, akhirnya benar-benar pingsan setelah dihembus pukulan dua nenek itu.
Dan ketika Kim-mou Eng lenyap dan tentu saja kegegeran itu tak dapat mereka lupakan dan Kim-mou Eng dipuji setinggi langit, maka di lain tempat Kim-mou Eng sendiri telah terbang dan menyusul gurunya, membiarkan istana sibuk sendiri dengan urusannya.
Sepasang nenek iblis itu telah pergi.
Dan begitu Kim-mou Eng pergi pula dan entah apa yang dilakukan pendekar itu di tempat lain, maka pemakaman jenazah akhirnya dipercepat dan tak lama kemudian pangeran mahkota yang terpilih telah menduduki jabatannya sebagai pengganti sang ayahanda.
"Bagaimana, kau masih mengulur-ulur waktu, Ibu?" Begitu sebuah pertanyaan dilontarkan seorang pemuda gagah kepada seorang wanita lain yang masih muda.
Wanita ini sejak tadi menangis terisak, duduk di hadapan seorang pemuda tinggi besar berkulit hitam; usianya tak lebih dari dua puluh tiga tahun dan pemuda di depannya yang bertanya tampak tak sabar.
Sudah beberapa hari ini dia mendesak.
Dan ketika wanita yang ditanya tergugu dan malah tersedu-sedu, akhirnya pemuda tinggi besar itu gemas.
"Ibu," katanya lagi. "Sudah sebulan ini kau menunda jawaban. Ayah telah wafat, kau dan semua yang ada di sini diwariskan secara adat kepadaku. Apalagi yang ditunggu?" "Aduh, nanti dulu, Cimochu. Biarkan aku berpikir, aku... aku minta waktu seminggu lagi." "Hmm, kalau begitu ini batas waktu terakhir, Ibu. Setelah itu kau tak boleh mengulur lagi dan tunduk kepadaku!" Pemuda itu marah, meninggalkan kamar itu dan si wanita cantik tergugu.
Sudah berapa waktu ini dia didesak.
Dan ketika pemuda itu pergi dan wanita ini, yang bukan lain adalah Cao Cun, melempar tubuh di pembaringan. Akhirnya wanita ini menutupi mukanya dan menangis terguncang-guncang.
"Wan Hoa, berhasilkah tugasmu? Dapatkah kau menemui Kim Twako?" Begitu berulang-ulang ia mengeluh.
Ratapannya memilukan dan sepuluh hari ini matanya selalu merah.
Tapi karena tetap cantik dan betapapun kecantikan Cao Cun tak ada tandingannya di seluruh bangsa liar itu, maka tangisnya yang tergugu justru menyentuh hati, menyayat perasaan.
Bagaimanakah asal mulanya? Mengapa wanita ini selalu dirundung nasib celaka?
Tak ada yang tahu.
Wafatnya raja Hu telah lewat sebulan.
Cao Cun, wanita yang diperistri raja liar ini, akan diperistri anak tirinya, Cimochu yang gagah dan yang tadi telah menanyainya.