Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 16

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 16

Pemuda tinggi besar itu memang jengkel, dia selalu diulur-ulur dan disuruh menunggu.

Gemas dia.

Dan ketika hari itu Cao Cun dipepet dan diberi batas terakhir, maka wanita ini menjanjikan batas satu minggu untuk memberi jawaban.

Akan diterimakah?

Atau ditolak?

Cao Cun belum tahu pasti.

Yang jelas, dia terhimpit rasa takut dan tak sudi.

Takut kepada ancaman tapi tak sudi kalau harus dikawin anak tirinya sendiri.

Aib itu.

Pantang bagi wanita Han yang terhormat untuk melakukan itu.

Tapi karena dia tak berada di negerinya sendiri dan adat istiadat bangsa liar itu harus diikutinya, maka berminggu-minggu ini Cao Cun meratap dan mengeluh.

Memang berat.

Mana ada ibu tiri dikawin anaknya sendiri?

Hal begini memang langka dan dikutuk bangsa baik-baik.

Tapi karena bangsa liar itu memang bangsa liar dan Cimochu sendiri berbulan-bulan ini tertarik dan tergila-gila kepada ibu tirinya, maka meninggalnya Raja Hu justru seperti sebuah kesempatan bagi pemuda tinggi besar ini.

Cimochu sudah lama merasa jatuh cinta kepada ibu tirinya itu.

Lihat, mana ada wanita di tengah-tengah suku bangsanya yang demikian cantik dan jelita seperti Cao Cun?

Mana ada yang halus dan lembut seperti selir kaisar yang tak jadi diambil itu?

Seluruh Tiongkok mengakui itu, apalagi Cimochu dan bangsa liarnya.

Maka begitu sang ayahanda mangkat dan Cimochu merasa mendapat durian runtuh, segera pemuda berkulit hitam ini mendekati ibu tirinya.

"Ibu harus menjadi istriku," Demikian mula-mula pemuda itu berkata, lembut dan halus dengan mata bersinar-sinar.

"Adat dan cara bangsa ini mengharuskan segala milik ayah menjadi tanggung jawab putra sulung. Karena itu bersiaplah agar kita merayakan pesta agung!" Cao Cun pucat.

Memang dia sudah mendengar itu, jauh hari sebelum suaminya meninggal, di kala sang suami terbaring sakit dan merupakan berita selentingan.

Tapi ketika berita itu kian santer dan kini Cimochu sendiri sudah menyatakan itu secara terang-terangan, maka Cao Cun hampir roboh pingsan mendengar itu.

"Bagaimana? Ibu sudah menetapkan harinya?" Begitu sang anak tiri bertanya lagi di lain kesempatan.

"Kita harus cepat-cepat menjadi suami istri, Ibu. Setelah itu kita punya anak dan membangun bangsa yang besar!" Cao Cun merenung seperti patung.

Saat itu air matanya berderai, mau menolak tapi tahu akibatnya.

Dan karena berhari-hari ini sudah mulai sering dikunjungi pemuda itu dan perasaan takut serta cemas hampir membuat wanita ini kehilangan akal, maka Wan Hoa, sahabat setianya itu, memberi jalan.

"Jangan khawatir, aku akan menolongmu, Cao Cun. Aku akan ke kota raja dan meminta tolong istana!" "Hm." Cao Cun memandang kosong.

"Kau wanita lemah, Wan Hoa, seperti juga aku. Kalau kau datang sendiri dan minta ke sana tentu tak berhasil." "Lalu apakah aku harus membiarkanmu begini?" Cao Cun diam.

"Tidak," Wan Hoa menyambung. "Aku tidak meminta sendiri, Cao Cun, melainkan mencari Kim-twako dan dialah yang kumintakan bantuannya!" "Kim-mou-eng?" "Ya, siapa lagi? Dialah yang dapat melakukan apa yang tak dapat kita lakukan, Cao Cun. Karena itu tenanglah dan tunggu hasilnya."

Cao Cun bangkit semangatnya. Ia teringat wajah yang gagah dan tampan dari Pendekar Rambut Emas itu, tiba-tiba Cao Cun merasa rindu, air mata menitik, dan tiba-tiba terkenanglah dia akan segala suka dukanya bersama sang pendekar tampan.

Betapa mula-mula dia jatuh hati tapi diganggu Mao Taijin, dikurung dan dilepas tapi akhirnya terjebak lagi.

Satu demi satu gangguan hidup silih berganti, Kim-mou-eng berkali-kali menolongnya tapi selalu saja ada yang tidak senang.

Cinta pertamanya gagal dan Kim-mou-eng ditekan istrinya, Salima yang sudah lama tergila-gila dan jatuh cinta lebih dulu kepada Pendekar Rambut Emas itu.

Dan ketika dia terkurung di Istana Dingin dan berkali-kali mengalami nasib menyedihkan akibat ulah Mao Taijin, akhirnya dia diberikan kepada Raja Hu dan kini hidup di tengah-tengah suku bangsa liar.

Satu dua dihubungi pihak keluarganya tapi hubungan itu lebih bersifat kunjungan "politik".

Keluarganya diminta kaisar agar dia berbaik-baik dengan Raja Hu, raja liar itu banyak membantu istana dengan penjagaannya di Tembok Besar.

Itulah sebabnya dia dihadiahkan pada raja bangsa liar itu karena Raja Hu tak mengganggu istana, bahkan menjadi sahabat dan bertahun-tahun menjaga tapal batas dari serangan suku-suku bangsa lain. Tartar umpamanya.

Dan karena dia mengemban tugas untuk tetap menjaga persahabatan ini dengan melayani suaminya sebaik mungkin, maka Cao Cun tertekan dan sedih.

Memang betul. Wanita cantik ini sedang mengemban tugas negara secara tidak kentara.

Karena kaisar, yang waktu itu berkuasa dan ingin menjaga hubungan baik dengan Raja Hu, sengaja "menjual" wanita ini agar Raja Hu tidak menyerang istana, diberi wanita cantik dan kebetulan Raja Hu tergila-gila pada Cao Cun. Cao Cun memang hebat dan cantik, kecantikannya tak ada yang menandingi di seluruh negeri.

Wanita ini adalah hasil seleksi ketat dari permintaan kaisar yang kejatuhan mimpi suatu malam bahwa dia harus menari Cao Cun, didapat tapi diputar-putar oleh Mao Taijin yang menghendaki ayah Cao Cun, Bupati Wang, memberi dulu hadiah padanya, lima ratus ons emas. Tidak diberi dan karena itu menteri ini lalu membalas dendam.

Cao Cun tak diberikan pada kaisar melainkan disimpan saja di Istana Dingin, sebuah istana penampung bagi selir-selir kaisar yang dipilih, calon selir.

Dan karena Mao Taijin berusaha menekan namun ayah Cao Cun tetap bersikeras pula dengan sikapnya untuk tidak memberi sogokan itu, maka Cao Cun menjadi korban dan begitulah, gadis ini akhirnya menjadi istri pemimpin bangsa liar, dibawa keluar kota raja dan kini hidup di tengah-tengah suku itu.

Mula-mula tak dapat menerima suaminya tapi pihak keluarga selalu memperingatkan, dia tak boleh begitu dan harus mencintai suaminya.

Cao Cun ditekan dan dipaksa.

Dan karena kebetulan suaminya amat mencintai dirinya dan sedikit demi sedikit perhatian suaminya yang begitu besar berhasil menggugah perasaannya pula, akhirnya Cao Cun dapat melakukan semuanya itu dan dia pun melahirkan seorang putra, diberi nama Ituchi Yashi, dan kebahagiaan mulai timbul.

Tapi, belum lama kebahagiaan atau kesenangan ini didapat, tiba-tiba raja wafat dan kini Cimochu mengganggu.

"Sudahlah, Paduka tak perlu bersedih, Hu-jin. Ini memang adat bangsa sini dan Cimochu benar, segala warisan ayahnya akan jatuh ke tangannya. Paduka tinggal menerima dan jangan membuat celaka, kita semua bisa terancam." Begitu seorang pembantunya membujuk.

Cao Cun mengiyakan saja namun kedatangan Wan Hoa tetap diharap.

Hari-hari terakhir ini berat menindih perasaannya.

Dan ketika dengan gelisah dan tak sabar dia menanti kedatangan sahabatnya paling setia itu, mendadak suatu sore Wan Hoa muncul.

"Aduh, berhasil, Cao Cun. Berhasil! Aku ketemu Kim-twako...!" Begitu Wan Hoa melonjak dan menubruknya di kamar, ketika baru saja datang dan turun dari kereta.

Dan ketika gadis itu bersorak kegirangan dan memeluk serta menciuminya, maka Cao Cun berseri-seri mendengar berita yang amat menggembirakan ini, air matanya berderai, runtuh oleh rasa girang yang luar biasa.

"Begitukah?" Tanyanya. "Dan mana Kim-twako, Wan Hoa? Kapan kau ketemu?" "Ah, dua hari yang lalu, Cao Cun. Dan Kim-mou-eng akan menolong kita. Kau pasti selamat, Cimochu tak dapat mengambilmu sebagai istri." Wan Hoa lalu menceritakan pertemuannya, bersemangat dan berapi-api, dan Cao Cun hanyut oleh cerita sahabatnya ini.

Keluhan dan air mata bahagia kembali runtuh berderai-derai, Wan Hoa berkali-kali mencium dan memeluknya, sahabatnya itu seakan menari-nari oleh gembira.

Dan ketika selesai menutup ceritanya dan mengatakan Kim-mou-eng akan datang, Wan Hoa mengusap rambut sahabat yang dicintanya ini, berseri-seri.

"Nah, karena itu tunggu saja beberapa hari, Cao Cun. Kim-twako akan datang dan membawa berita dari istana!" Cao Cun mengangguk-angguk.

"Terima kasih," ucapnya haru. "Kau tak lelah-lelahnya menolong aku, Wan Hoa. Entah dengan apa aku harus membalas semua budi kebaikanmu ini. Kalau tak ada kau, tak mungkin rasanya aku hidup lebih lama." "Ah," Wan Hoa terharu juga. "Jangan begitu, Cao Cun. Kau dan aku satu. Tanpa kau, aku juga tak ingin lama tinggal di dunia ini. Sudahlah, simpan terima kasihmu itu dan nantikan kedatangan Kim-twako!"

Dua wanita itu berpelukan.

Wan Hoa telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik, dia telah menemui Kim-mou-eng dan berhasil mendapat janji Pendekar Rambut Emas itu, Kim-mou-eng pasti menolong dan menyelamatkan sahabatnya.

Aib itu tak jadi menimpa.

Tapi ketika mereka bersenang-senang dan riang menanti kedatangan Kim-mou-eng, mendadak sesuatu yang mengejutkan datang menimpa, ketika Kim-mou-eng muncul, datang menepati janji. "Maaf," begitu pendekar itu menunjukkan roman tak gembira.

"Aku gagal, Wan Hoa. Apa yang kujanjikan tak dapat kupenuhi." "Apa maksudmu?" Wan Hoa terbelalak. "Kenapa begitu?" Lalu teringat belum mempersilakan tamunya.

Wan Hoa menyuruh pendekar itu ke dalam, mau memanggil Cao Cun.

"Tidak, jangan...." Pendekar Rambut Emas mencegah. "Aku malu, Wan Hoa. Jangan panggil ia dan biarlah kita berdua!" "Apa artinya ini? Kenapa?" Wan Hoa tertegun.

"Dengarlah," Pendekar Rambut Emas tergetar. "Aku tak dapat menyampaikan permintaanmu karena kaisar wafat, Wan Hoa. Aku gagal dan terus terang tak mampu menolong." "Oohh...!" Wan Hoa terbelalak.

"Wafat? Sri Baginda wafat?" "Ya, baru saja, Wan Hoa. Aku mendengar ketika kau pulang. Saat itu Bu-ciangkun muncul." Kim-mou-eng lalu menceritakan kejadiannya betapa dia ke kota raja dan hanya melihat peti jenazah di istana.

Apa yang diharap menjadi kandas dan Wan Hoa tiba-tiba tersedu.

Dan ketika wanita itu menangis dan hampir menjerit penuh kecewa, maka Kim-mou-eng terharu meletakkan tangannya di pundak gadis ini. "Nah, sekarang kau tahu, Wan Hoa. Sampaikan pada Cao Cun dan biar aku kembali."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment