Chapter 17
"Aku malu bertemu dengannya, aku tak berdaya…."
"Tidak!" Wan Hoa tiba-tiba melengking. "Masih ada jalan, twako. Tolonglah sekali lagi dan jangan biarkan Cao Cun menderita!"
"Hm, apa lagi? Jalan apa?"
"Bukankah Kaisar telah memilih pangeran mahkota? Bukankah penggantinya ada?"
"Benar, lalu?"
"Lalu kau minta tolong padanya, twako. Suruh Kaisar yang baru itu menolong dan menyelamatkan sahabatku!" Kim-mou-eng tertegun.
"Bisa, bukan?"
"Hm...." Kim-mou-eng ragu.
"Kaisar yang baru tak seberapa kukenal, Wan Hoa. Aku tak begitu akrab seperti terhadap ayahnya."
"Tapi kau bisa mencoba, twako. Coba dan lakukan itu demi Cao Cun. Sumpah, aku tak ingin hidup kalau Cao Cun bunuh diri!" Kim-mou-eng pucat.
"Wan Hoa, sedemikian sulitkah hidup yang kita alami ini? Haruskah kegagalan ditebus dengan bunuh diri?"
"Kau tahu, Cao Cun selamanya tak mengecap kebahagiaan, twako. Baru sedikit sudah direnggut lagi dengan kejam. Dewa maut tak kasihan kepada Raja Hu. Kalau dia tak wafat dan anaknya tak ada, tentu Cao Cun dapat bahagia bersama suaminya itu. Tidak, hidup terlalu kejam buat Cao Cun, twako. Kalau kau yang diharap tak dapat menolong, maka mungkin dia akan bunuh diri! Kau bantulah, kau tolonglah. Demi arwah leluhurku! Biarlah kubayar semua pertolonganmu ini dengan menjadi budakmu selama tujuh penghidupan!" Wan Hoa sudah menangis, terguguk dan meratap, dan keputusasaan serta kecemasan sudah menyelubungi dirinya.
Wan Hoa pucat melihat kegagalan Kim-mou-eng. Dan ketika gadis itu tersedu-sedu dan Kim-mou-eng sendiri pucat serta gemetar, akhirnya pendekar ini mengeraskan hati.
"Baiklah, aku akan mencoba semua daya dan kemampuanku, Wan Hoa. Akan kutemui Kaisar baru itu dan tunggulah, mudah-mudahan berhasil."
Dan Wan Hoa menangis terputus-putus.
"Jangan lama-lama, twako. Waktu bagi Cao Cun tinggal tiga hari lagi. Sekali kau terlambat, maka putuslah harapannya...."
"Apa maksudmu?"
"Cimochu sudah menetapkan batas akhir, twako. Cao Cun telah berjanji memberi jawaban. Kau ditunggu-tunggu, janjinya tinggal tiga hari lagi. Kalau kau gagal dan tak dapat membujuk Kaisar baru itu, maka kandaslah segalanya!"
"Baik! Kalau begitu begini saja, Wan Hoa. Nantikan aku sampai hari ketiga. Aku akan secepat mungkin menemui Kaisar baru itu, membujuknya. Kalau aku berhasil, tentu sebelum hari ketiga aku kembali. Tapi kalau aku gagal, yah... maaf aku tak ke sini." Wan Hoa pucat.
"Jangan katakan itu kepadaku, twako. Jangan gagal!"
"Aku berusaha, tapi Tuhan yang menentukan, Wan Hoa. Ingat ini dan jangan emosi. Betapapun juga, aku bersungguh-sungguh menolong kalian. Sudahlah, aku pergi dan nantikan sampai hari ketiga!" Kim-mou-eng lenyap, tak mau lagi berlama-lama di situ karena tangis Wan Hoa bisa mengganggunya.
Gadis itu linglung dan pucat sekali. Tapi karena Wan Hoa masih menaruh harapan, dan betapapun kata "gagal" hampir tak dipercayainya ada pada Pendekar Rambut Emas itu, maka Wan Hoa menggigil dan menunggu, berlari ke dalam dan berdoa sepanjang waktu.
Apa yang didengar dari Kim-mou-eng itu tak diceritakannya pada Cao Cun. Wan Hoa berdoa terus dengan penuh kegelisahan. Air matanya mengalir deras. Dan ketika hari pertama dan kedua lewat, maka menjelang pagi di hari ketiga, Cao Cun menggedor pintu kamarnya.
Wan Hoa terkejut. Dia membuka pintu kamar dan melihat Cao Cun tersedu-sedu; sahabatnya itu langsung menubruk dan roboh di dalam pelukannya. Wan Hoa tersedak dan kaget. Dan ketika ia bertanya apa yang terjadi dan kenapa pagi-pagi begitu, Cao Cun terguguk di kamarnya. Segera wanita ini berkata, "Sri Baginda wafat, Wan Hoa.... Wafat...!"
"Wafat?" Wan Hoa terkesima, seketika sadar bahwa Cao Cun pasti tahu. Cimochu dan bangsanya tak mungkin tidak mendapat berita penting itu dari istana. Dan ketika Cao Cun terguguk dan mengangguk sambil menangis tak keruan, maka sahabatnya ini sudah meremas-remas pundaknya.
"Ya, wafat, Wan Hoa. Kaisar tak ada lagi dan habislah harapan kita!"
"Tidak," Wan Hoa mendorong sahabatnya itu. "Harapan masih tetap ada, Cao Cun, jangan putus asa. Dengarlah, aku sesungguhnya telah mendengar berita itu lebih dulu...." Dan Wan Hoa, yang merasa tak perlu lagi menyembunyikan rahasia pertemuannya dengan Kim-mou-eng dan minta maaf pada Cao Cun, akhirnya menceritakan juga perjumpaannya dengan Pendekar Rambut Emas itu. Bahwa Kim-mou-eng sudah ke situ, dan dari pendekar itulah dia tahu meninggalnya Kaisar. Wan Hoa lalu berterus terang bahwa jangan memberitahukan ini pada Cao Cun agar semata-mata Cao Cun tidak gelisah, tak mau sahabatnya itu terganggu pikirannya, dan mencoba menenteramkan perasaannya. Tak dinyana bahwa akhirnya Cao Cun tahu juga.
Berita itu memang telah didengar bangsa liar itu dan tengah malam tadi Cimochu berangkat ke kota raja, melayat. Cao Cun mendengar dan kini bermaksud menceritakannya pada Wan Hoa. Tak disangkanya bahwa Wan Hoa justru telah mendengar lebih dulu dan sengaja menyembunyikan berita itu agar dia tidak gelisah. Dan ketika Wan Hoa menceritakan pertemuannya dengan Kim-mou-eng dan Kim-mou-eng juga menyatakan kegagalannya tak menemui Kaisar karena Kaisar telah lebih dulu mangkat, maka di sini Wan Hoa memegang pundak sahabatnya itu.
"Memang betul Kaisar wafat, Cao Cun. Tapi bukan berarti harapan kita habis. Kim-twako mula-mula juga menyangka begitu. Tapi setelah kuberi tahu bahwa pengganti Kaisar ada, dan justru terhadap Kaisar yang baru ini, kini twako akan meminta tolong, maka harapan bagimu masih terbuka dan tenanglah. Aku yakin berhasil dan Kim-twako pasti besok datang!"
"Tapi besok hari ketiga, Wan Hoa. Hari terakhir janjiku pada Cimochu!"
"Benar, tapi Cimochu sekarang sedang ke kota raja, Cao Cun, melayat. Tak mungkin besok dia pulang. Paling tidak tiga-empat hari lagi."
"Hm...." Cao Cun menggigil, merasa ditipu sahabatnya ini juga. "Kau terlalu, Wan Hoa. Kenapa tidak menceritakan pertemuanmu dengan Kim-twako? Kenapa tidak memanggilku agar menemui dia? Bukankah kau tahu aku rindu padanya?"
"Maaf, jangan salah paham, Cao Cun. Kim-twako yang tak mau bertemu denganmu. Dia malu."
"Malu?"
"Ya, karena kegagalannya itu, Cao Cun. Malu karena tak dapat menepati janji."
"Ooh, tapi wafatnya Kaisar di luar kekuasaannya, di luar dugaan siapa pun. Kenapa malu? Kalau dia datang, temukan aku dengannya, Wan Hoa. Biarkan sekali ini aku melihatnya untuk terakhir kalinya."
"Tentu." Dan Wan Hoa, yang kembali menyatakan maaf dan meminta agar Cao Cun tidak marah padanya, akhirnya menunggu dan menghabiskan hari ketiga itu. Dari pagi sampai siang ia menanti, jantung berdebar dan perasaan gelisah tak keruan. Detik demi detik dilewati, tapi yang ditunggu tak muncul juga. Dan ketika matahari terbenam di ufuk barat dan Cao Cun menutupi mukanya, akhirnya wanita ini mengeluh.
"Oh, habis harapan kita, Wan Hoa. Habis!"
"Tidak," Wan Hoa masih bersikeras, diam-diam menenangkan guncangan jantungnya yang tak keruan pula. "Waktu belum habis, Cao Cun. Masih ada enam jam lagi dan kita tunggu tepat tengah malam!"
"Tapi harapan mulai tipis, jangan-jangan dia gagal...."
"Hmm, aku masih menaruh harapan, Cao Cun. Tenanglah dan jangan buat aku bingung. Aku pun tak kalah gelisahnya dengan kau!" Tapi ketika tengah malam lewat dan detik-detik terakhir lenyap begitu saja, akhirnya Cao Cun terguguk dan lari menutupi pintu kamar, tersedu dan menjerit, dan Wan Hoa pun mendelong.
Malam itu sampai kentongan terakhir, Kim-mou-eng tak datang. Wan Hoa pucat dan ambruk. Dan karena Wan Hoa teringat kata-kata Pendekar Rambut Emas itu bahwa kalau dia tak datang berarti gagal, maka Wan Hoa mengeluh.
"Apa yang terjadi? Kenapa Kim-mou-eng tak datang-datang? Gagalkah dia?"
Memang begitu. Tiga hari yang lalu, ketika Pendekar Rambut Emas itu terbang ke kota raja memburu waktu, dia sudah tiba di istana. Suasana berkabung masih tampak, pendekar ini tertegun dan ragu-ragu. Sejenak terpikir olehnya, pantaskah dalam suasana seperti itu dia mengganggu pangeran mahkota yang kini telah menjadi Kaisar baru? Pantaskah dia membujuk dan merengek pada Kaisar muda itu? Tapi teringat bahwa ini masalah Cao Cun, dan untuk Cao Cun dia siap melakukan apa saja, tiba-tiba pendekar ini mengeraskan dagu dan berkelebat masuk.
Tapi siapa yang dijumpai? Justru Kim-Taijin!
"Eh, kau, Kim-Taihiap? Ada apa malam-malam begini datang? Aih, mari duduk. Aku belum mengucap terima kasih untuk semua pertolonganmu. Kau telah menghidupkan nyawaku yang sudah di ambang pintu neraka!"
Kim-mou-eng terkejut. Pembesar ini telah menjura di depannya berulang-ulang, begitu hormat. Air mata pun menitik dan dia menjadi terharu. Dan karena menteri itu merupakan orang yang sudah cukup dikenal lama, dan kebetulan bertemu menteri ini, akhirnya Kim-mou-eng menyambar dan menyuruh menteri itu duduk, malah sebaliknya.
"Taijin, ah, aku ada persoalan. Lupakan terima kasih itu dan dengarlah!"
"Ada apa?" Menteri ini terbelalak, melihat sikap yang penuh kekhawatiran dan kecemasan di wajah Kim-mou-eng. "Persoalan apa? Apa yang mau kau minta?"
"Hm, begini. Aku membawa persoalan besar, Taijin. Masalah Cao Cun. Wang Cao Cun!"
"Ah, duduklah, Taihiap. Tampaknya haus. Biar kucari minum dan jangan terburu-buru." Kim-Taijin mengerutkan kening, teringat pada puteri Bupati Wang itu, dan dapat menangkap bahwa persoalan yang betul-betul penting dibawa pendekar ini. Dia menuang air putih dan menyodorkan pada tamunya. Kim-mou-eng meneguk dan legalah sejenak perasaannya.
Dan ketika pembesar itu mendengarkan dan duduk serius, maka Kim-mou-eng menceritakan permasalahannya: bahwa Raja Hu meninggal dan kini anak sulungnya, Cimochu, berhak mewarisi semua peninggalan bapaknya, termasuk istri dan selir-selirnya, termasuk Cao Cun tentu saja. Menceritakan sampai di sini, Pendekar Rambut Emas itu tampak gemetar.
Dan ketika ceritanya selesai dan permasalahan itu disambut anggukan berkali-kali oleh menteri ini, maka Kim-Taijin berkata, "Betul, wafatnya Raja Hu telah kudengar, Taihiap. Tapi persoalan Cimochu hendak mengawini ibu tirinya baru kali ini kudengar. Lalu apa maksudmu? Apa yang harus kulakukan?"
"Aku datang untuk meminta Kaisar mencegah perkawinan itu, Taijin, mempergunakan pengaruhnya, dan membatalkan niat Cimochu itu!"