Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 18

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 18

"Bisakah?" Sang menteri terkejut.

"Aku tidak tahu, Taihiap, tapi kaisar agaknya tak dapat memutuskan sendiri."

"Maksudmu?"

"Persoalan ini bersifat politis. Apa yang menyangkut bangsa liar itu harus dibicarakan dengan hati-hati dan seksama." Ketika pendekar itu tertegun dan tampak terbelalak, menteri itu bicara lagi. "Taihiap, kau tentu tahu bahwa penyerahan Cao Cun kepada Raja Hu oleh mendiang kaisar lama dikarenakan kecenderungan politik itu. Cao Cun diminta agar menundukkan suaminya dari dalam, agar raja tidak menyerang dan justru mengikat persahabatan dengan istana. Dan kalau raja meninggal kemudian digantikan putranya, di mana putranya lalu hendak mengawini ibu tirinya karena adat menentukan begitu, agaknya kaisar tak dapat campur tangan. Ini urusan pribadi, kenapa kau turut campur? Tapi aku dapat memahami perasaanmu, Taihiap. Biar besok aku beritahukan kaisar dan membicarakannya bersama. Kalau negara dapat terancam oleh campur tangan ini, barangkali maaf saja, kami tak mau terlibat."

Kim Mou-eng pucat. "Taijin tak mau menolongku?"

"Bukan begitu, Taihiap. Tapi coba tolong pula kau lihat kedudukan kami."

"Hm, kalau begitu rupanya gagal. Perjuanganku sia-sia!"

"Jangan terburu-buru, kami akan berusaha, Taihiap. Dan kau boleh dengar semua pembicaraan kami. Marilah!"

Kim-taijin yang merasa tidak enak disangka tidak mau menolong, lalu mengajak Kim Mou-eng menemui kaisar baru, sang pangeran mahkota yang baru beberapa hari saja diangkat. Di sini kaisar itu terkejut. Apa yang diminta Kim Mou-eng memang tergolong rawan. Maklum, sekali Cimochu dibuat marah dan bangsa liar itu menyerang, maka istana akan kedatangan musuh baru di samping musuh-musuh lain yang cukup banyak mengganggu di perbatasan.

"Aku tak dapat menentukan sekarang. Biarlah keputusan ini diambil dalam sebuah sidang!" Jawaban kaisar membuat perasaan Kim Mou-eng tergetar. Apa yang dikatakan Kim-taijin memang mulai terbukti; kaisar baru yang belum banyak pengalaman itu tak berani mengambil tindakan sendiri.

Terpaksa, keesokannya diadakan sidang dengan menteri-menteri yang bersangkutan. Para pembantu dekat kaisar ini dan Mao-taijin terlihat hadir. Belum apa-apa, Kim Mou-eng sudah mendidih melihat menteri memuakkan itu. Inilah menteri yang membuat Cao Cun sengsara. Ketika persidangan dimulai, Mao-taijin rupanya sangat dekat dengan kaisar baru. Maka perdebatan sengit pun terjadi.

"Urusan negara lebih penting daripada urusan pribadi. Kalau campur tangan ini menimbulkan kemarahan Cimochu, tentu saja kita tak usah terlibat," begitu menteri itu bicara, disambut oleh anggukan di sana-sini yang membuat Kim Mou-eng putus asa. Dia melihat hanya Kim-taijin dan beberapa lainnya saja yang tidak mengangguk, mungkin memilih abstain.

Ketika kaisar bertanya bagaimana baiknya dan apakah Cao Cun hendak dibiarkan saja dinikahi anak tirinya, menteri itu kembali bicara. "Hamba kira tak usah dihiraukan, Sri Baginda. Itu urusan dalam mereka, urusan pribadi. Kalau sang anak hendak mengawini ibunya, biarlah itu terjadi karena Cao Cun bukan warga negara kita lagi!"

"Hm, Cao Cun mungkin bukan warga negara lagi, Mao-taijin," menteri Kim yang mendongkol dan mengerutkan kening oleh kata-kata rekannya itu menanggapi. "Tapi betapapun, ia masih menolong dan membantu kita. Apakah kau tak tahu bahwa atas semua jasanyalah maka Raja Hu dan rakyatnya jinak kepada kita? Apakah kita menutup mata atas kenyataan bahwa wanita itu pembantu paling berguna bagi kita di tengah-tengah bangsa liar itu? Kalau dia mogok atau membangkang, maka semuanya bisa berubah, Taijin. Harap ingat semua ini dan jangan bersikap masa bodoh!"

"Ah, Kim-taijin salah paham," menteri bermarga Mao itu menyeringai, tahu rekannya ini dekat dengan Kim Mou-eng. "Kita harus melihat persoalan secara makro, Taijin, jangan mikro. Kalau campur tangan ini tak disenangi Cimochu dan dia marah lalu menyerang kita, tentu kita celaka. Manakah yang kaupilih antara membiarkan saja urusan itu dan kita aman, atau ikut mencampurinya tapi diserang Cimochu dan suku bangsanya?"

"Tentu saja sikap permusuhan harus dihindari, tapi harap kau ingat bahwa yang datang kali ini meminta tolong kita adalah Kim-taihiap. Kim Mou-eng berkali-kali menolong kita. Masakan sekali datang kita membalasnya dengan sikap masa bodoh dan tidak pedulian? Kim Mou-eng datang bukan untuk dirinya pribadi, Taijin, melainkan untuk orang lain. Ini menunjukkan betapa Kim-taihiap seorang yang ringan hati, yang suka menolong sesama dan tidak acuh terhadap orang lain!"

Mao-taijin merasa tertampar. Omongan itu sama dengan mengejeknya sebagai orang yang tak mempedulikan kesusahan orang lain. Merah muka menteri ini. Karena dia tak mau kalah dan harus mendebat, maka dia menantang.

"Baiklah, mari kita tolong si Cao Cun itu, Taijin. Cegah niat anak tirinya itu dan mari kita campur tangan. Tapi beranikah kau bertanggung jawab untuk menerima kemarahan Cimochu? Beranikah seorang diri kau menghadapi pemimpin bangsa liar itu dan menyatakan ketidaksenangan ini secara pribadi? Kalau kau berani melakukan itu silakan, Taijin. Banyak orang akan kagum kepadamu dan memujimu sebagai orang yang tidak masa bodoh dan tahu kesusahan orang lain!"

Kim-taijin ganti merah mukanya. Sekarang dia dibalas dan ditantang. Suasana tiba-tiba menjadi panas dan seru. Menteri itu mendelik. Tapi sebelum dia menjawab dan bangkit berdiri, tiba-tiba Siung-taijin, menteri luar negeri, menjura kepada kaisar dalam-dalam.

"Sri Baginda, mohon ampun. Hamba mendapat jalan tengah untuk menyelesaikan persoalan ini. Bolehkah hamba bicara?"

"Hm... apa itu, Taijin? Kau bicaralah, barangkali semuanya cocok dan sependapat."

"Tentu, hamba yakin sependapat, Sri Baginda. Jalan tengah ini sederhana saja, yakni bahwa Kim-taihiap harus ikut terlibat. Maksud hamba, boleh kita menolong wanita itu, tapi kalau bangsa liar menyerbu, maka Kim-taihiap dan bangsa Tartar diminta mengatasi dan bertanggung jawab menyelesaikan ini. Kalau Kim-taihiap setuju, tentu Paduka dapat mempergunakan pengaruh Paduka untuk mencegah niat Cimochu itu!"

"Betul!" Kaisar tiba-tiba bertepuk tangan. "Cocok sekali, Taijin. Aku setuju dan sependapat. Bagaimana kalau Kim Mou-eng dan suku bangsanya bersiap menghadapi kemarahan Cimochu dan sukunya? Maukah Kim-taihiap mengatasi dan membunuh pemimpin bangsa liar itu?"

Kim Mou-eng terkejut. Tiba-tiba secara halus dan licik Siung-taijin telah menggiringnya untuk menjerumuskan dirinya sendiri. Menteri itu tersenyum dan sinar curang terlihat di mata menteri luar negeri itu. Kim Mou-eng tertegun. Karena ini sama dengan menyuruh dirinya mengerjakan sendiri pekerjaan itu sementara istana mau cuci tangan, tiba-tiba Kim Mou-eng kecewa dan bangkit berdiri.

"Sri Baginda, kalau hamba harus mempertanggungjawabkan semuanya ini, berarti Paduka dan yang lain-lain tidak mau menolong hamba. Hamba tidak takut menghadapi Cimochu dan suku bangsanya itu. Tapi kenapa harus begini? Kalau Paduka dan lain-lain mau cuci tangan, lebih baik terus terang saja. Sri Baginda, kalau Ayahanda lama masih hidup, tentu tidak begini sikapnya. Kalian tampak ketakutan sekali. Baiklah, hamba permisi dan tidak perlu bicara lagi. Selamat tinggal!"

Kim Mou-eng berkelebat lenyap, tidak mau bicara lagi, dan keluar dengan kecewa. Minta tolong malah dimintai tolong. Kaisar baru ternyata tak sejantan kaisar lama. Kim Mou-eng marah dan melompat pergi. Begitu pendekar itu meninggalkan sidang, kaisar serta yang lain tertegun, lalu Kim-taijin melonjak.

"Taihiap, tunggu...!"

Namun Kim Mou-eng tak mau kembali. Hari itu persidangan geger. Kim-taijin marah-marah dan memaki rekannya yang dianggap pengecut. Karena menteri ini termasuk menteri senior, tak ada yang berani membalas kecuali kaisar. Akhirnya kaisar menyuruh menterinya ini diam. Betapapun, menteri itu adalah menteri tua yang sudah lama mengabdi sejak ayahanda kaisar masih hidup; kesetiaan menteri itu besar. Ketika persidangan dibubarkan dan hasilnya nihil bagi Kim Mou-eng, Kim-taijin cepat pulang dan melepas kekecewaannya dengan membanting-banting pintu.

Sedangkan di tempat lain, Kim Mou-eng terbang meninggalkan kota raja dengan muka merah. Apa yang didapat di istana benar-benar menyakitkan. Kalau dia disuruh menghadapi Cimochu sendiri, apa gunanya dia ke istana? Bukankah dia dapat langsung menemui pemuda itu dan membunuhnya? Mencari dan menyelesaikan Cimochu dengan jalan kekerasan bukan hal sukar baginya, tapi bukan itu yang dikehendaki. Jalan kekerasan selamanya tak disukai. Kim Mou-eng memang pendekar yang lembut dan lemah hati.

Karena kegagalan di istana menimbulkan kekecewaan besar, di sepanjang jalan pendekar ini memendam kemarahan. Akhirnya dia memutuskan akan pulang dulu ke utara, menjumpai sang istri dan berunding bagaimana baiknya. Betapapun, dia tak berani mengambil keputusan sendiri karena takut istrinya tersinggung, bahkan mungkin cemburu dan marah-marah. Dia cukup kenal watak istrinya yang keras dan berangasan.

Maka ketika hari itu dia meninggalkan kota raja dan cepat-cepat pulang ke tempat tinggalnya, mendadak sesuatu yang mengejutkan menyambut pendekar ini bagai petir di siang bolong.

"Taihiap, celaka. Hujin tewas...!"

"Taihiap, sepasang nenek siluman membunuh istrimu. Ah, kau terlambat!"

Jantung Kim Mou-eng seolah berhenti berdetak. Sambutan dan seruan di sana-sini membuat Pendekar Rambut Emas terkesiap. Bangsa Tartar menyambutnya dengan tangis dan jerit kepedihan. Hari itu dia melihat rumahnya dipenuhi banyak orang. Pembantu-pembantu dekatnya menjatuhkan diri berlutut dan tampak gentar. Semuanya menunjukkan ketakutan. Dan ketika dia terhenyak terpaku di halaman rumah, di tengah-tengah pintu terlihat sesosok tubuh membujur kaku di atas sebuah dipan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment