Chapter 19
"Sumoi!" Bentakkan atau seruan itu melengking tinggi.
Kim-mou-eng tiba-tiba berkelibat dan sudah berada di dalam, tersentak dan melihat istrinya telah tewas dengan tubuh berlumuran darah.
Hidung dan mulut istrinya pecah, Kim-mou-eng menubruk dan tiba-tiba menjerit histeris.
Dan ketika bangsa Tartar tertegun dan melihat pendekar itu tergugu, tiba-tiba Kim-mou-eng membalik dan melesat, menangkap seorang pembantunya terdekat, Lisang.
"Lisang, siapa yang membunuh istriku? Siapa yang melakukan ini?"
"Ah, sepasang nenek siluman, taihiap. Nenek Sakti yang amat luar biasa, datang membawa bocah..."
"Sepasang Dewi Naga?"
"Betul, mereka menyebut dirinya begitu, taihiap. Datang dan... aduh!" Kim-mou-eng membanting pembantunya itu.
Tanpa sadar, pendekar ini melempar Lisang hingga sang pembantu menjerit, pendekar itu berkelebat dan berteriak memaki nenek iblis itu.
Dan ketika para pembantunya terkejut dan buru-buru menolong Lisang, maka Pendekar Rambut Emas telah terbang berputaran mencari nenek ini. "Siang-Ling Mo Li (Iblis Perempuan Sepasang Naga), keluarlah! Kalian telah membunuh istriku, bayar dan lunasi utang jiwa ini!" Kim-mou-eng berteriak-teriak.
Bagai orang kalap dia memaki-maki nenek itu, berputar dan terbang dari satu tempat ke tempat lain, mencari-cari namun tak berhasil.
Dan ketika dua jam kemudian dia kehabisan suara dan para pembantunya memanggil-manggil di belakang, akhirnya pendekar itu roboh pingsan di atas sebuah bukit! Bukan pingsan karena kehabisan tenaga, melainkan pingsan oleh pukulan batin yang amat berat itu. Dia tak menyangka istrinya tewas.
Dan ketika para pembantunya menolong dan membawa pendekar itu ke bawah, maka di sana ribuan orang menyambut dan tangis serta keluhan terdengar tak habis-habisnya.
Hal ini dimulai dari kemarahan Sepasang Dewi Naga itu. Seperti diketahui, dua nenek iblis itu menemui kegagalan di kota raja. Mereka hampir membunuh Kim-mou-eng, namun Bu-Beng Sian Su datang. Kakek dewa itu mencegah mereka dan mereka pun diusir. Dua nenek ini marah-marah, namun tak berani melanjutkan serangan pada kakek maha sakti itu. Bu-Beng Sian Su terlalu hebat, manusia dewa itu terlalu ampuh. Maka ketika mereka meninggalkan kota raja dan memaki-maki lawan, dua nenek ini pergi, tetapi malah membalas dendam pada Salima. Mereka tahu Kim-mou-eng telah menikahi sumoinya. Maka ketika kegagalan di kota raja membuat dua nenek ini marah dan sakit hati, mendadak mereka sudah menuju ke tengah-tengah suku bangsa Tartar itu mencari Salima.
Tak sukar bagi mereka menemukan wanita itu. Dan begitu mereka sudah berhadapan, maka langsung saja mereka membentak. "Heh, kau mampuslah, bocah! Penggal dan potong kepalamu dengan ini!" Ji-Moi, si nenek kedua, melempar sebuah pedang, berdiri tegak dan membentak Salima.
Saat itu, wanita ini sedang menunggui anak laki-lakinya bermain. Thai Liong atau Dailiong terkejut, anak itu menangis dan segera ibunya menyambar. Dan ketika dua nenek iblis itu membentak dan Salima kaget, maka wanita ini bangkit berdiri dengan mata bersinar-sinar. "Kalian siapa? Dari mana datang-datang bicara seperti ini?"
"Cerewet! Kau tak perlu banyak bertanya lagi, bocah! Ambil dan potong kepalamu dengan itu. Cepat, kami tak ingin mengotori tangan dengan darahmu!"
Salima marah. Sebagai wanita yang galak dan keras hati, tentu saja dia gusar mendengar semua kata-kata ini. Tapi belum dia membentak, tiba-tiba Togura, bocah di tengah-tengah dua nenek iblis itu, melangkah maju. Sikapnya mengherankan Salima. "Kau Bibi Salima? Kau yang pernah digila-gilai Ayah?"
"Siapa kau?" Salima terkejut. "Dan siapa mereka ini?"
"Aku Togura, Bibi. Ayahku adalah suhengmu, Gerba yang gagah perkasa. Kenapa kau dulu menolak cinta Ayah? Kenapa kau menyia-nyiakannya!"
Salima mundur, terkesiap. "Kau Togura? Putra Bi Nio yang hilang itu?"
"Benar, tapi aku tidak hilang, Bibi. Aku diambil dua guruku yang sakti ini. Mereka adalah Sepasang Dewi Naga!"
"Ooohh!" Salima terbelalak, mendekap mulutnya. "Jadi kalian kiranya?" Dia teringat cerita sang suami. "Kalian menculik dan kini mengambil bocah ini sebagai murid? Keparat, kalian lancang, nenek iblis! Kalau begitu, aku harus merampas keponakanku dan kalian mampus... siuuttt!" Salima tiba-tiba melengking, maju menampar, dan tubuh sudah berkelebat dengan pukulan Tiat-Lui-Kang.
Salima pernah mendengar kelihaian nenek ini dari suaminya, tapi sedikit pun ia tak takut. Ji-Moi yang ada di depan diserang. Tapi begitu nenek itu mendengus dan mengangkat sebelah tangannya, tiba-tiba Tiat-Lui-Kang diterima dan Salima menjerit. "Dess!" Salima mencelat menubruk dinding. Dailiong yang ada di tangannya menjerit tak keruan, anak itu menangis dan melengking.
Dan ketika Salima terguling-guling melompat bangun, mendadak sesosok bayangan lain berkelebat dan merampas anaknya. "Sini bocah ini!" Salima terkejut. Saat itu dia melompat bangun dengan kaki terhuyung, tak tahunya nenek yang satu berkelebat dan merampas anaknya itu. Tentu saja dia membentak dan menangkis. Tapi ketika ejekan terdengar dari mulut lawan dan sebuah jari menyelinap di ketiaknya, tahu-tahu tangannya lumpuh dan Dailiong dirampas lawannya itu. Salima kaget bukan main. Saat itu anaknya sudah direnggut lepas dan Dailiong menangis di sana. Nenek itu tertawa dan sudah berkelebat kembali di tempatnya semula, itulah Toa-Ci, nenek iblis pertama. Gerakannya serba cepat seperti siluman saja. Salima tersentak dan melengking tinggi.
Dan karena dia tentu saja tak mau anaknya dirampas dan Dailiong menangis tak keruan, tiba-tiba Salima memekik dan menerjang nenek itu. "Ji-Moi, hajar dia!" Salima mendengar seruan itu. Sang nenek pertama melesat dan berada di luar rumah. Nenek kedua menyambut dan tertawa. Dan ketika Salima menyerang dan marah melepas pukulan, maka kembali nenek ini menerima dan menyambut Tiat-Lui-Kang. "Dess!" Salima lagi-lagi terpelanting. Untuk kedua kalinya wanita itu mengeluh, terguling-guling, pukulannya membalik dan nyaris dia terluka. Dan ketika Dailiong semakin menangis dan Salima marah bukan main, maka Salima mencabut benderanya dan menerjang lagi.
Ji-Moi tersenyum. Salima sudah menyerangnya gencar bertubi-tubi, bendera di tangan kanan wanita itu menyambarnya dan meledak. Nenek ini mengejek dan berkelit. Dan ketika Salima menggerakkan tangan kirinya pula melakukan tamparan-tamparan Tiat-Lui-Kang, akhirnya nenek ini tertawa. "Boah, suamimu sendiri masih bukan lawanku, apalagi kau. Nah, bersiaplah kuhajar!"
Dan nenek Ji-Moi yang berkelit dan menangkis akhirnya menggerakkan tangannya turun-naik, mengibas dan mendorong, dan segera Salima terkejut. Bendera di tangannya itu selalu tertahan angin pukulan tak tampak yang luar biasa kuatnya. Semakin dia menambah tenaga, semakin kuat pula tenaga tak tampak yang menahan benderanya itu. Dan ketika Salima membentak dan marah mengibaskan benderanya, mendadak si nenek malah tertawa mengibas balik. "Plak!" Bendera mengibas Salima sendiri. Wanita itu terbanting. Salima kaget dan marah. Dan ketika ia melompat bangun dan menyerang lagi, maka lagi-lagi nenek itu mengibas dan menolak benderanya. Begitu sampai tiga kali, sehingga Salima mengeluh. Bendera yang mengibas balik mukanya sendiri itu membuat kulit muka berasa panas. Salima melengking dan kini menggerakkan tangan kirinya. Tapi ketika Tiat-Lui-Kang ditampar dan nenek itu membentak, tiba-tiba Salima malah terjengkang tak karuan, dihantam pukulan si nenek, terkejut dan terguling-guling, dan Salima bingung. Lawannya terkekeh-kekeh dan menangkis seenaknya.
Dan karena lawan dirasa benar-benar lihai dan Salima pucat, maka Toa-Ci, nenek di depan, berseru agar adiknya segera membunuh wanita itu. "Ji-Moi, jangan main-main. Cukup, bunuh dia!" Salima menggirik. Dia mendengar suara yang dingin menyeramkan dari mulut wanita di depan itu. Dailiong meronta-ronta dan Salima terbakar. Anaknya itu dicengkeram si nenek bagai mencengkeram seekor anjing kecil. Meluap kemarahan Salima. Dan ketika lawan terkekeh-kekeh dan maju menusuk tenggorokannya, tiba-tiba Salima nekat dan menggerakkan benderanya.
"Bret!" Bendera di tangannya pecah. Jari si nenek mencoblos, tapi Salima membanting tubuh bergulingan. Dari bawah ia menggerakkan kaki menendang, langsung ke pusar. Tapi ketika kakinya mengenai tempat lunak dan nenek itu tak apa-apa, mendadak Salima terkesiap ketika si nenek tertawa menggerakkan tangan lainnya. "Bocah, kau harus segera mampus! Awas... crit!" Salima melihat sinar berkerlap-kerlip dari telunjuk si nenek. Lawan menotoknya dari jauh, dia mengelak tak berani menangkis. Adu tenaga berulang-ulang membuat Salima sadar akan tangguhnya lawan yang dihadapi. Tapi ketika ia mengelak dan si nenek mengejar, maka Salima menjadi sibuk karena harus menggulingkan tubuh lagi ke sana kemari.
"Heh-heh, kau harus mampus, bocah. Mampus!" Salima pucat. Ia menggerakkan benderanya ke depan, kali ini tak ada jalan lain kecuali menangkis. Tapi ketika bendera kembali robek dan jari si nenek tetap mengejar, akhirnya Salima mengeluh dan bergulingan menjauhkan diri dari kejaran si nenek. Dan sekali dua, dia melancarkan Tiat-Lui-Kang. Lawan menerima dan kini justru Salima yang mengaduh. Tangannya yang bertemu tubuh si nenek seakan bertemu baja panas yang membuat Pukulan Petirnya membalik. Salima menggigit bibir dan terdengar tangis anaknya yang melolong-lolong.
Dan ketika ia bingung dan marah serta gentar, maka beberapa pembantunya muncul mendengar ribut-ribut itu. "Hujin, siapa mereka?" "Ah... mana Kim Taihiap?" Salima tak dapat menjawab. Saat itu dirinya dikejar dan didesak, hanya dapat mengelak, tak dapat menyerang. Ji-Moi terkekeh-kekeh mempermainkannya. Tapi ketika ia harus bergulingan menyelamatkan diri dan pembantu-pembantunya yang lain muncul lagi, maka beberapa di antara mereka tiba-tiba membentak dan menyerang nenek Ji-Moi.