Chapter 20
"Keparat, bunuh nenek ini!" Tujuh orang menerjang maju. Salima ingin mencegah, tetapi tidak sempat; tombak dan golok terlanjur berkelebat. Saat mereka menyerang, si nenek tiba-tiba tertawa. Tujuh lelaki Tartar itu menjerit ketika golok dan tombak mereka patah, sementara tangan yang memegang senjata seketika membengkak.
"Krak-krak! Aduh!" Tujuh pembantu Salima bergulingan lalu pingsan. Mereka baru saja menusukkan tombak dan golok ke tubuh si nenek, tetapi senjata itu terpental. Mereka terkejut karena ternyata si nenek memiliki kekebalan tubuh. Saat mereka terbelalak mengaduh karena senjata patah dan tangan membengkak, si nenek mengejek dan mengibaskan tangan ke arah mereka.
"Mampus!" Tujuh laki-laki itu tersentak. Mereka merasa disambar angin pukulan yang sangat dingin, hingga tubuh seolah membeku. Mereka yang tadinya bergulingan mendadak berhenti karena terkejut. Namun, begitu mereka berhenti, pukulan itu langsung menghantam. Tiba-tiba semuanya roboh dengan mata mendelik dan tewas dengan tulang yang berderak.
"Augh!" Jerit terakhir itu menutup kejadian tersebut. Ketujuh laki-laki itu kini membiru kehitaman dengan tubuh kedinginan; mereka mati membeku seketika. Itulah kedahsyatan pukulan Im-kang. Semua organ tubuh di dalamnya akan mengeras seperti es.
Salima terkejut dan memekik. Namun, saat ia menerjang, si nenek kembali menghadapinya. Pukulan dingin itu kini menyambarnya. "Des!" Salima terhuyung dengan muka kebiruan. Ia segera mengerahkan Tiat-lui-kang untuk melawan rasa dingin yang menembus hingga ke seluruh tulang-tulang terkecil. Salima nyaris membeku.
Saat si nenek hendak menyerang lagi dan wajah Salima memucat, para pembantunya bermunculan. Seratus lebih laki-laki Tartar menyerang nenek tersebut. "Hujin, jangan khawatir. Kami akan membantu!" "Benar, kami akan menangkap nenek ini, Hujin. Lalu, dia akan kita bunuh!"
Salima ingin mengeluh. Ia melihat seratus pembantunya menyerbu bagai laron menghadapi api. Ia ingin membentak, tetapi mulutnya masih terasa beku. Pukulan si nenek masih membuatnya kedinginan dan nyaris menjadikannya seperti arca hidup. Pukulan Im-kang yang dirasakannya belum dapat dicairkan oleh Tiat-lui-kang yang berhawa panas miliknya.
Ketika Salima terbelalak dan ingin menjerit agar orang-orang itu tidak maju, satu demi satu pekikan ngeri terdengar. Tubuh-tubuh bergelimpangan roboh, sementara senjata-senjata mereka terpental dan patah saat mengenai tubuh si nenek. "Heh heh heh, mampuslah kalian! Plak! Trang... trang!" Salima memejamkan mata. Ia melihat sebelas pembantunya terbanting seketika; tujuh di antaranya tewas dengan kepala pecah.
Salima menggigil. Saat ia menarik napas panjang dan mengumpulkan semangat, hawa dingin itu berhasil dibuyarkannya. Salima melengking maju. "Minggir, kalian semua minggir! Des-des-des!" Salima terpaksa melempar para pembantunya itu agar menjauh hingga akhirnya ia berhadapan kembali dengan si nenek Ji-moi. Dengan kemarahan yang meluap, ia menggerakkan benderanya yang robek.
Saat itu, si nenek menerima serangan terakhir dari seorang pembantu. Ia menangkap dan mematahkan tombak lawan, lalu tiba-tiba melontarkan patahan tombak itu kembali ke pemiliknya. Tombak itu meluncur dan menancap tepat di dada lawan. Ketika laki-laki itu menjerit dan roboh bersimbah darah, bendera di tangan Salima berkelebat dan menghantam tengkuk si nenek. "Des!" Namun, nenek itu tidak terluka sedikit pun.
Salima melengking dan menyerang lagi. Bendera dibalik dan gagangnya digunakan untuk menotok ulu hati si nenek dengan cepat dan tepat. Namun, saat gagang bendera itu terpental, si nenek tetap tidak apa-apa. Akhirnya, nenek itu terkekeh dan mencongkel bahunya. "Bocah, pergilah!" Salima terlempar bagai layang-layang putus.
Salima tidak mampu mengendalikan dirinya. Ia terbanting dan terguling, tetapi segera bangkit untuk menerjang lagi. Para pembantunya terus membantunya karena tidak tega membiarkan wanita itu sendirian menghadapi musuh yang tangguh. Namun, ketika beberapa dari mereka terpelanting dan tewas bersimbah darah, Salima memekik agar ia sendiri yang menghadapi nenek siluman itu. "Minggir! Minggir kalian semua!" Salima marah, menendang dan melempar mereka agar menjauh. Ia tidak ingin mereka menjadi korban, karena sasaran utamanya adalah dirinya.
Saat nenek Ji-moi terkekeh dan Salima gagal melukainya, Toa-ci, si nenek pertama, menggeram. "Ji-moi, kau masih main-main saja? Bunuh wanita itu! Bunuh, kataku!" Kemarahan Salima naik sampai ke ubun-ubun. Jerit dan tangis anaknya di kejauhan membuatnya gelap mata. Saat pukulannya terpental oleh nenek Ji-moi dan ia bergulingan di dekat Toa-ci, Salima membentak sambil mengayunkan benderanya yang robek.
"Krak!" Salima terbelalak. Toa-ci menangkis serangannya hingga bendera itu hancur dan gagangnya patah menjadi dua. Salima memekik dan melemparkan kedua patahan gagang itu ke arah kening dan dada si nenek. Namun, Toa-ci mendengus dan menangkap keduanya, lalu melontarkannya kembali ke arah Salima dengan kecepatan berkali-kali lipat. "Crep! Slep!" Salima menjerit. Kedua pundaknya tertembus patahan gagang bendera tersebut hingga ia terjungkal. Kecepatan lemparan nenek itu jauh melampaui miliknya.
Namun, Salima melompat bangun dan terhuyung menerjang lagi, kali ini menyerang Toa-ci. "Nenek siluman, kau boleh bunuh aku!" Salima kalap dan menyerang membabi buta. Toa-ci mendengus dan mengibaskan lengan kirinya. Pukulan Tiat-lui-kang yang dilancarkan Salima berbalik menghantam dirinya sendiri. "Bres!" Salima muntah darah. Ia terluka parah, tetapi tetap mencoba melompat untuk menyerang kembali.
Toa-ci membentak. Nenek ini tidak seperti adiknya yang suka bermain-main; ia tidak ingin memperpanjang waktu dan melancarkan tamparan dingin dari jauh. Salima tidak dapat mengelak dan kembali terjungkal. Hidung dan telinganya mulai mengeluarkan darah. "Des!" Salima masih berusaha kuat. Ia bangkit terhuyung-huyung, tetapi kembali terhempas dan kali ini ia sulit untuk bangun.
Saat Salima bangkit dengan sisa tenaga dan membentak ngawur, Toa-ci yang berhati iblis mengakhiri pertempuran dengan satu ketukan di ubun-ubun. "Robohlah!" Tubuh Salima pun terguling. Wanita itu tidak bergerak lagi setelah jari Toa-ci mengenai titik maut di ubun-ubunnya. Salima roboh dan tewas dengan darah mengalir dari mata serta hidungnya.
"Bluk!" Salima terkapar bersimbah darah. Para pembantunya terkejut. Mereka berteriak dan mengerumuni tubuh Salima. Namun, saat menyadari wanita itu telah tiada, kemarahan mereka memuncak. Saat mereka hendak menyerang, kedua nenek iblis itu telah lenyap seperti siluman. Toa-ci telah mengajak Ji-moi pergi karena menganggap orang-orang Tartar lainnya hanyalah gerombolan yang tidak perlu dilayani.
Bangsa Tartar menjadi ribut, memaki, dan berusaha mengejar, tetapi kedua nenek itu sudah tidak berbekas. Tak lama kemudian, Kim-mou-eng tiba. Begitu melihat jenazah istrinya, Pendekar Rambut Emas itu roboh pingsan. Setelah sadar dan mendengar kronologi kejadiannya, wajahnya berubah menjadi beringas dan menakutkan.
"Demikianlah," lapor Salinga, pembantunya. "Kami tak berdaya melawan mereka, Taihiap. Mereka terlalu sakti. Tiga puluh orang di antara kami juga binasa." Kim-mou-eng mengepal tinju. "Aku tahu kalian bukan lawan mereka. Tapi aku akan membalas dan mencari dua nenek iblis itu! Di mana Dailiong dibawa?"
Salinga menggigil. "Kami sungguh menyesal atas kebodohan kami, Taihiap. Jika kami bersalah, silakan hukum kami!" "Tidak!" Kim-mou-eng memejamkan mata. "Aku akan merebut anakku kembali. Aku mengenal betul siapa dua nenek iblis itu. Biarlah setelah pemakaman istriku, aku akan pergi mencari mereka. Sementara itu, kau pimpinlah teman-temanmu di sini."
Hari itu Kim-mou-eng mendapat pukulan batin yang sangat berat. Istri tercintanya tewas dibunuh oleh Sepasang Dewi Naga, padahal pernikahan mereka baru berjalan dua tahun. Kebahagiaan sejenak itu dirampas dengan keji. Kim-mou-eng bertekad membalas kematian istrinya dan menyelamatkan anaknya. Setelah pemakaman selesai, ia segera meninggalkan sukunya untuk memulai pencarian. "Aku pergi. Kalian jaga diri baik-baik. Salinga akan memimpin kalian. Taatlah pada perintahnya dan musyawarahkan segala kepentingan bersama."