Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 21

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 21

Lalu, merasa cukup dan tak mau berlama-lama di situ, tiba-tiba Kim Mou-eng berkelebat dan lenyap.

"Taihiap, jaga dirimu pula baik-baik. Hati-hati dalam perjalanan!" Beberapa pembantunya balas memberi pesan, disambut anggukan dan terima kasih.

Dan ketika mereka mencucurkan air mata dan Kim Mou-eng tidak menoleh lagi, maka hari itu bangsa Tartar berkabung tujuh hari untuk kematian Salima. Sungguh tak diduga.

"Cao Cun...!" Pekik dan jerit itu menggegerkan suku bangsa liar ini. Pagi itu Wan Hoa berteriak seperti orang gila, Cao Cun dilihatnya menggantung di belandar. Geger dan ributlah pagi itu. Dan ketika pengawal berkelebatan masuk dan Wan Hoa menjerit-jerit, maka tiga puluh orang mematung di tempat kejadian dengan mulut ternganga.

"Ambil dia, cepat. Jangan ndomblong dan putuskan tali itu!" Wan Hoa kalap, menumpuk kursi dan mau memutuskan tali gantungan di leher Cao Cun, tapi terguling roboh, kursi meleset dan Wan Hoa berteriak-teriak. Dan ketika pagi itu kemah itu geger dan ribut oleh Cao Cun yang gantung diri, maka lima pengawal maju meloncat dan mencabut golok. "Naiki pundakku, tebas tali itu!" Wan Hoa histeris. Dia tak sabar melihat semuanya hanya menjadi penonton saja, hampir wanita ini lupa diri dan mengamuk.

Tapi ketika lima pengawal berjongkok dan satu demi satu menaiki pundak kawannya mencapai tali gantungan itu, maka golok berkelebat dan Cao Cun yang menggantung diri meluncur ke bawah, diterima tubuhnya dan segera Wan Hoa menangis tak keruan, menjerit dan menubruk sahabatnya itu. Dan ketika semua merubung dan seorang tabib dipanggil, maka pengawal diminta mundur dan Cao Cun dibaringkan di dalam kamarnya.

"Dia masih hidup, ambil air dingin...!" Semua gugup. Wan Hoa berteriak-teriak menyuruh dayang mengambil air, tak sabar dan berlari sendiri mengambil air itu. Tapi ketika dia hendak mengguyurnya dan sang tabib mencegah, maka gadis itu tertegun dengan air mata bercucuran, "Jangan disiram, serahkan air itu kepadaku. Harus dimantrai!"

Wan Hoa sadar. Kepercayaan pada bangsa liar itu akan jampi-jampi atau mantra memang kuat, tanpa mantra semuanya tak akan berjalan mulus. Dan ketika si tabib berkemak-kemik dan air yang dimantrai ditiup tiga kali, maka tabib itu memerciki muka si korban sambil berseru mengusir setan.

"Bangunlah... sadarlah...!" Dayang dan Wan Hoa tegang. Cao Cun sudah tidak bergerak-gerak lagi, tubuhnya sudah kaku dan nyaris dingin. Wan Hoa heran bahwa sang tabib mengatakan sahabatnya masih hidup, padahal denyut nadi tak dirasakannya. Tapi ketika air dipercikkan dan doa pengusir setan dibuat, mendadak tubuh Cao Cun bergerak dan wanita yang gagal bunuh dirinya itu mengeluh.

"Cao Cun...!" Wan Hoa menubruk, girang dan gembira sekali, tapi tabib di situ menahan bahunya. Dengan lembut dan halus sang tabib berkata bahwa korban yang baru sadar tak boleh dikagetkan dulu, biarkan beberapa saat sampai kelopak mata itu terbuka. Wan Hoa mengguguk tapi menurut. Dan ketika tak lama kemudian kelopak mata itu terbuka dan air berhenti dipercik-percikkan, maka Wan Hoa mengguguk dan sudah menubruk sahabatnya itu, tersedu-sedu.

"Cao Cun, apa yang kau lakukan ini? Kau gila? Kau tidak waras!" Bibir yang kini mulai merah itu bergerak. Cao Cun tak tahu apa yang terjadi, dia merasa tubuhnya ringan dan sukar menemukan kesadaran dalam waktu cepat. Tapi ketika tubuhnya diguncang-guncang dan Wan Hoa mengguguk di atas dadanya, tiba-tiba Cao Cun mengerutkan kening dan menangis.

"Aku di mana? Di nerakakah? Kenapa begini panas?"

"Ah, kau masih di kemah bangsa liar, Cao Cun. Kau kami gagalkan maksud bunuh dirimu. Kau tidak waras, kau gila!" Dan Cao Cun yang terkejut bangkit duduk tiba-tiba melihat beberapa orang ada di situ.

"Lihat-lihat! Kami semua menolongmu, Cao Cun. Masa demikian gampang kau pergi? Kau mau meninggalkan aku?" Dan Wan Hoa yang tersedu-sedu memeluk Cao Cun sudah bicara lagi, penuh getaran. "Cao Cun, kalau kau mau mati harap ajak aku. Jangan sendiri. Sekali kau melakukan itu lagi tanpa memberi tahu aku, maka aku tak mau mengampunimu biar di neraka sekali pun!"

Cao Cun menggigil. Mata yang deras mengalir tak habis-habisnya itu sudah membuat wanita ini mengeluh, Wan Hoa mendekap tubuhnya erat-erat. Tapi ketika Cao Cun membalas dan semua bingung oleh sikap dua sahabat ini, maka Cao Cun minta agar yang lain-lain pergi, minta agar ditemani Wan Hoa seorang diri.

Lalu, begitu mereka berdua di dalam kamar, kedua sahabat ini sudah saling bertangis-tangisan dan mengguguk.

"Cao Cun, kenapa kau lakukan itu? Apa salahku? Apa dosaku hingga kau mau mati sendiri?"

"Ah," Cao Cun tersedu-sedu. "Kau tak bersalah, Wan Hoa. Kau tak berdosa. Aku ingin mati karena Kim-Twako tak datang...!"

"Dan kau mau pergi sendiri? Kau tak mau menjadi sahabat dan saudaraku lagi?"

"Tidak... tapi... tapi... ahh!" Dan keduanya yang kembali mengguguk dan bertangis-tangisan akhirnya saling dekap dan peluk.

"Cao Cun, kau tak boleh melakukan itu lagi. Kalau kau mau bunuh diri, bilanglah, aku mengiringi!" Cao Cun semakin mengguguk. Tegur dan sikap keras sahabatnya ini membuat Cao Cun berderai-derai, tak kuat ia. Dan ketika Wan Hoa dipeluk dan keduanya saling meremas, akhirnya mereka mengeluarkan segala duka dan perasaan yang menghimpit, bertangis-tangisan dan sejenak tak dapat berkata-kata.

Tapi begitu Cao Cun berhasil menguasai diri dan mengusap air matanya, maka wanita ini bangkit menghapus air mata Wan Hoa. "Sudahlah, Dewa Maut masih tak mau menjemputku, Wan Hoa. Maafkan dan mari kita bicara baik-baik."

"Kau berjanji dulu untuk tidak bunuh diri lagi!"

"Hm." Cao Cun terisak. "Kenapa kau mendesakku, Wan Hoa? Layak dan pantaskah aku hidup lebih lama lagi?"

"Kalau begitu katakan kapan kau akan bunuh diri, Cao Cun. Biar kuikuti dan mari mati bersama-sama!" Cao Cun terkejut. Wan Hoa sudah bangkit mengambil selendang, memilinnya berkali-kali dan kini dengan selendang di tangan, sahabatnya itu mendekatinya. Dan ketika Wan Hoa bersinar-sinar dan Cao Cun tergetar, maka gadis itu bicara gagah.

"Nah, katakan padaku kapan waktunya, Cao Cun. Mari kita bunuh diri dan biar kuiringi kau di akhirat!"

"Wan Hoa!" Cao Cun gemetar. "Apa-apaan ini? Siapa mau bunuh diri? Oh, tidak... Jangan sahabatku... jangan. Aku tidak akan bunuh diri dan akan selalu menemanimu!" Dan Cao Cun yang hampir menangis dan cepat merampas selendang itu lalu menarik sahabatnya duduk, teriris dan luluh oleh tekad sahabatnya yang ingin sehidup semati, mengiringi ke mana pun dia pergi. Ke akhirat sekalipun.

Dan ketika Wan Hoa menggigil dan menggigit bibirnya, maka Cao Cun mendudukkan sahabatnya itu dengan jari-jari gemetar. "Wan Hoa, sumpah demi anakku aku tidak akan bunuh diri lagi. Aku... aku hanya putus asa karena Kim Mou-eng tak datang!"

"Hm, itu dapat ditanyakan, Cao Cun. Kenapa meninggalkan aku dan mau berlaku nekat? Kau tak ingat puteramu?"

"Tentu saja. Tapi bukankah ada kau, Wan Hoa? Ituchi dapat kutitipkan padamu kalau aku mati."

"Aku tak mau. Aku akan mengikutimu ke akhirat pula, Cao Cun. Aku tak mau mengurus Ituchi kalau kau mati! Sekarang katakan, apa yang harus kulakukan dan bagaimana sebaiknya yang kau lakukan pula!"

"Aku merasa ditipu Kim-Twako..." Cao Cun memejamkan mata, menggigit bibir kuat-kuat. "Aku merasa dibohongi, Wan Hoa. Kim-Twako rupanya menipu kita dan sengaja tak datang!" Wan Hoa berapi-api.

"Aku juga berpikir begitu, Cao Cun. Tapi sebaiknya hal itu kita selidiki. Aku akan ke bangsa Tartar dan menemui Pendekar Rambut Emas itu!"

"Kalau dia tak ada?"

"Aku akan menunggunya, Cao Cun. Sampai ada!"

"Hm...!" Cao Cun terbelalak, terkejut juga. "Kau keras hati, Wan Hoa. Kau bisa dianggap nekat."

"Untukmu aku sanggup melakukan apa saja, Cao Cun. Nyawa sekali pun siap kukorbankan!"

"Ah, tidak...!" Cao Cun meremas sahabatnya itu, memejamkan mata. "Jangan gila, Wan Hoa. Jangan gila. Aku tak suka itu! Dengarlah, sekarang tolonglah aku dan cari Kim-Twako itu. Aku setuju, kau boleh ke bangsa Tartar. Tapi kalau dia tak ada dan tiga hari kau menunggu ternyata dia tak datang, boleh kau kembali dan tinggalkan bangsa Tartar itu. Kau sanggup?"

"Sanggup, Cao Cun. Tapi bukan tiga hari melainkan sampai dapat, tiga tahun sekalipun!"

"Tidak, jangan, Wan Hoa. Aku butuh kau di sini, aku tak dapat berlama-lama tanpa kau. Sudahlah, kau berjanji tiga hari saja dan pulang kalau Kim-Twako tak ada. Dapat?" Wan Hoa mengepal tinju.

"Cao Cun, Kim Mou-eng itu rupanya penipu dan pendusta. Kalau tidak ingat dirimu, tentu kunanti dia sampai tiga tahun atau tiga abad. Baiklah! Aku setuju, Cao Cun. Kalau tiga hari kutunggu dia tak ada, maka aku akan kembali ke sini, tapi perkenankan beberapa hari kemudian aku berangkat lagi. Betapapun, aku harus menemuinya dan mendamprat Pendekar Rambut Emas itu!"

"Tidak, jangan, Wan Hoa. Tak perlu mendamprat. Dia sudah bermaksud menolong, kenapa malah memaki dan menyakiti hatinya? Kalau dia tak ada sebaiknya kembali, Wan Hoa. Biar kita lupakan semuanya ini dan aku mulai pasrah!"

"Maksudmu?"

"Barangkali... barangkali aku akan menerima Cimochu!" Wan Hoa tertegun.

"Sudahlah," Cao Cun menggigit bibirnya kembali. "Cari dan temukan Kim-Twako, Wan Hoa. Coba selidiki kenapa dia tak datang. Kalau memang sengaja biarlah jangan ditegur dan kau cepat pulang. Tapi kalau ada apa-apa dan Kim-Twako mengalami celaka, harap kau kembali segera dan laporkan padaku." Wan Hoa mengangguk.

Hari itu juga dia pergi, Cimochu masih belum datang, dan untungnya sepak terjangnya tak diketahui. Bersama seorang pembantu terpercaya, Wan Hoa berderap menuju ke bangsa Tartar. Diam-diam sudah bulat tekadnya untuk memaki-maki Kim Mou-eng, meskipun sahabatnya melarang. Dan ketika sore itu dia tiba dan langsung menghentikan kereta, maka Wan Hoa turun dan menyelidiki ke perkampungan bangsa Tartar itu. Tapi apa yang didapat? Wan Hoa tertegun. Kematian Salima didengar, disusul hilangnya anak Kim Mou-eng yang diculik sepasang nenek iblis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment