Chapter 22
Kim-mou-eng sendiri kabarnya baru pulang dari kota raja ketika mendapatkan musibah itu di rumahnya. Ia mendapati istrinya tewas dan kini pergi entah ke mana mencari anaknya dan dua nenek iblis itu.
Dan ketika Wan Hoa dipertemukan dengan Salinga dan mendengar segalanya dari mulut pembantu Kim-mou-eng ini, maka Wan Hoa menutupi mukanya dan terisak.
"Oh, begitukah? Maafkan aku, Tuako. Kiranya lagi-lagi aku salah duga!"
"Apa yang Nona kehendaki? Kenapa mencari Kim Taihiap?"
"Aku sahabatnya, Salinga. Sahabat Cao Cun... Wang Cao Cun. Tapi, ah sudahlah, aku tidak tahu semua ini dan menyesal sekali. Biar aku minta maaf pada kuburan istrinya dan menyatakan penyesalanku." Wan Hoa mengguguk.
Di makam Tiat-ciang Sian-li, Salima yang pernah dikenalnya sebagai wanita yang keras dan galak itu, gadis ini bersimpuh tersedu-sedu dan sungguh tidak mengetahui kejadian itu. Sadarlah dia sekarang akan kerepotan Kim-mou-eng. Dia telah mendengar bahwa Pendekar Rambut Emas itu telah ke kota raja. Mukanya murung dan Wan Hoa mendengar dari Salinga mengenai kekecewaan pendekar itu. Disebut-sebut tentang kekecewaannya terhadap kaisar. Salinga tidak tahu jelas, tetapi Wan Hoa dapat menduga-duga mungkin maksud yang dibawa Kim-mou-eng gagal.
Dan karena Pendekar Rambut Emas sendiri mendapat musibah serta anaknya diculik, akhirnya sore itu juga Wan Hoa minta diri dan kembali ke tempatnya. Dia menubruk dan segera merangkul Cao Cun. Untuk sejenak dia tidak dapat berkata apa-apa, hanya air matanyalah yang berderai tak habis-habis. Merah muka gadis ini.
Tapi ketika Cao Cun berhasil menenangkannya dan menyuruh Wan Hoa bercerita, maka Cao Cun tertegun mendengar berita tewasnya Salima.
"Apa, dia terbunuh?"
"Ya, begitulah, Cao Cun. Dan Kim-tuako mencari pembunuh istrinya. Bangsa Tartar berkabung, Kim-tuako ternyata mendapat musibah!"
"Oh, semoga arwah istrinya mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan!" Dan Cao Cun yang menutupi muka memanjatkan doa, akhirnya bertanya tentang Pendekar Rambut Emas sendiri.
"Dia tak kutemukan. Kim-tuako pergi, Cao Cun. Anaknya diculik dan Salinga berkata tidak akan kembali sebelum membunuh dan mendapatkan anaknya itu."
"Diculik? Astaga, cobaan apa lagi ini, Wan Hoa? Siapa nenek iblis itu?"
"Aku tak tahu, Cao Cun. Tapi disebut-sebut namanya sebagai sepasang nenek siluman, katanya sakti dan bernama Sepasang Dewi Naga."
"Hm...!" Cao Cun mendekap dadanya sebelah kiri. "Aku merasa nyeri dan perih mendengar semua ini, Wan Hoa. Kiranya kita salah sangka dan menduganya yang bukan-bukan. Kita lagi-lagi harus minta maaf pada Kim-tuako!"
"Benar, tapi bagaimana sekarang persoalan dirimu, Cao Cun? Apakah Cimochu sudah datang?"
Tiba-tiba wajah yang cantik itu diliputi mendung. "Sudah..." Jawaban yang lirih dan menghentak jantung Wan Hoa.
"Dan pagi tadi dia meminta keputusanku, Wan Hoa. Aku rupanya tidak dapat menolak dan harus menerima..."
"Kau mau?"
"Adakah jalan lain?"
"Ada!" Wan Hoa tiba-tiba berseru. "Ada jalan lain, Cao Cun. Dengarkan!" Dan Wan Hoa yang bersemangat serta tahu ketidaksenangan Cao Cun dikawini anak tirinya sendiri, tiba-tiba mencengkeram pundak sahabatnya itu.
"Cao Cun, aku tahu kau tidak mungkin senang dinikahi anak tirimu itu. Nah, ini jalan terakhir. Katakan pada Cimochu bahwa sepeninggal suamimu, kau kembali menjadi milik kaisar. Cimochu tidak dapat mengawinimu karena kau harus kembali ke negaramu!"
Cao Cun tertegun.
"Kau tidak mengerti? Dengarkan, ini muslihat kita yang terakhir untuk menyelamatkan diri, Cao Cun. Aku tidak tahu apakah Kim-tuako berhasil atau gagal di kota raja. Tapi katakan pada Cimochu bahwa kau harus kembali ke Tiongkok setelah suamimu meninggal. Bukankah ini siasat tepat yang mungkin dapat menyelamatkan dirimu?"
Cao Cun terbelalak. "Wan Hoa..." Suaranya menggigil. "Kau sungguh tak habis-habisnya menolongku dengan segala cara. Sungguh aku tidak tahu bagaimana harus membalas budimu yang sedemikian besar ini. Baiklah, kucoba, Wan Hoa. Dan mudah-mudahan berhasil!"
"Ah," Wan Hoa girang. "Tidak ada budi atau pertolongan yang harus dibalas, Cao Cun. Kau dan aku adalah satu. Jangan berkata begitu agar aku tidak malu hati."
Cao Cun tersentak. Sikap dan perjuangan sahabatnya yang begitu gigih tiba-tiba membuat air matanya membanjir. Cao Cun menggigit bibir dan menubruk sahabatnya itu dengan suara tangis yang ditahan-tahan. Hatinya dicekam, tapi ketika Wan Hoa membalas dan mereka berpelukan, tiba-tiba Cao Cun tidak dapat menahan diri dan meledaklah tangisnya yang bersambung-sambung itu. Ia tidak dapat menahan haru dan rasa terima kasih yang besar. Sungguh Wan Hoa ini sahabat yang luar biasa baiknya; diri dan nyawa pun tidak dihiraukannya demi keselamatan dan kebahagiaannya. Cao Cun merasa berutang budi besar.
Tetapi ketika mereka bertangis-tangisan dan Wan Hoa dapat menguasai diri lebih dulu, akhirnya sahabatnya itu melepaskan pelukan dan berkata gemetar dengan harap-harap girang, "Sudahlah, kau jalankan rencanaku itu, Cao Cun. Aku akan sembahyang minta pertolongan Dewa agar akal ini berhasil!"
Cao Cun menggigit bibir kuat-kuat. Wan Hoa sudah lari keluar kamar meninggalkannya, meninggalkan dia yang berderai-derai air mata. Sembahyang pada Dewa untuk keselamatannya. Hampir Cao Cun mengguguk lagi, tapi ketika pintu diketuk dan seorang dayang memberi tahu kedatangan Cimochu, maka Cao Cun gugup dan buru-buru mengusap air matanya saat melihat seorang pemuda gagah dan tinggi besar memasuki kamarnya.
"Ah, mari, Baginda. Silakan duduk!"
Cimochu, pemuda tinggi besar yang gagah itu tersenyum. Cao Cun sudah menghilangkan bekas tangisnya, mempersilakan duduk dan raja muda ini mengangguk. Untuk kesekian kalinya dia menemui ibu tirinya ini, kagum tak habis-habis oleh kecantikan wajah dan tubuh yang semampai itu; rambut yang terurai panjang dan lembut berombak di belakang punggung.
Dan ketika dia tersenyum dan untuk kesekian kali menekan debaran jantung dan bertanya tentang jawaban Cao Cun, maka sungguh tidak diduga Cao Cun memberi jawaban yang menghentak.
"Maaf, hamba merasa tak berdaya, Baginda. Terus terang hendak hamba katakan bahwa hamba kini milik Kaisar Tiongkok lagi setelah ayah Paduka meninggal. Hamba harus kembali dan meninggalkan Paduka!"
"Ibu dapat berkata begitu?" Pemuda ini tertegun. "Atas dasar apa Ibu berkata begitu?"
"Peraturan, Baginda. Atas dasar peraturan, yakni peraturan dari istana. Kalau Paduka mau meminta hamba, sebaiknya Paduka berunding dulu dengan Sri Baginda Kaisar di kota raja."
"Ah!" Dan Cimochu yang terkesima dan pucat tak menyangka jawaban ini sejenak tak mampu berkata-kata. Tentu saja dia tidak menyangka muslihat Cao Cun atas usulan Wan Hoa. Raja muda itu tidak tahu kejadian di balik peristiwa sebenarnya; bahwa inilah usaha Wan Hoa yang ingin mati-matian menyelamatkan Cao Cun dari cengkeraman Cimochu.
Dan ketika pemuda itu terhenyak tak dapat mengeluarkan suara dan merasa terpukul, maka raja hari itu menjadi murung tapi juga tak kalah nekat. Tak lama kemudian ia keluar dari kamar Cao Cun dan Cao Cun tegang. Dia melihat Cimochu berbicara dengan pengawal, memanggil beberapa pembantunya dan raja tampak buru-buru. Dan ketika kereta disiapkan dan raja pergi, akhirnya Cao Cun mendengar bahwa Cimochu pergi ke kota raja!
"Aku hendak menemui kaisar. Ingin kuminta agar peraturan itu tidak berlaku untukku!"
Cao Cun pucat. Kalau Cimochu sudah sedemikian tergila-gilanya padanya dan apa pun hendak dilakukan, maka Cao Cun merasa ngeri juga melihat ulah lelaki itu. Betapa nekat dan gigihnya. Wan Hoa mendapat lawan setimpal. Cimochu sebagai laki-laki hendak memperjuangkan cintanya sampai dapat. Cao Cun merinding!
Dan sementara dia terpaku di kamarnya mendengar kepergian dan maksud raja muda itu, maka sebuah kereta lain berhenti dan tamu yang tak disangka-sangka datang menemui Cao Cun: ayah dan ibunya dari Chi Chou!
"Ah, kalian, Ayah? Kau, Ibu?" Cao Cun tertegun, cepat menyambut dan segera tiga orang ini berpeluk-pelukan. Bupati Wang menangis hampir mengguguk, istrinya bahkan menggerung-gerung, dan Cao Cun membawa ayah ibunya itu ke ruang dalam.
Dan ketika mereka tenang kembali dan Cao Cun bertanya apa maksud ayah ibunya, maka dua orang itu serentak berseru berbareng, "Kami mendengar maksud bunuh dirimu, kami datang dengan cemas!"
"Ah," Cao Cun semburat, akhirnya menangis lagi. "Aku selalu menyusahkan kalian, Ayah. Aku selalu membuat repot orang tua. Benar, aku hampir menamatkan hidupku, Ayah. Tapi Wan Hoa mencegah dan menggagalkan niat itu."
"Hm, tidak boleh, Cao Cun. Kau harus ingat keselamatan ayah ibumu. Apakah kau ingin kami digantung kaisar? Kami datang selain sebagai orang tua juga sebagai utusan, Cao Cun. Sri Baginda mengutus kami agar kau tetap mengendalikan bangsa liar ini dan tidak boleh bunuh diri. Kau harus tetap berada di sini, mengendalikan bangsa ini dan mengemudikannya dari dalam!"
"Benar, kau tidak boleh menyusahkan kami, Nak. Apakah kau ingin ibumu dihukum dan digantung kaisar? Apakah kau tidak ingat nasib kami?" Nyonya Wang, ibu Cao Cun meratap. Kiranya dua orang itu telah mendengar keinginan bunuh diri putri mereka ini.
Cao Cun menangis tersedu-sedu. Dan ketika ibunya menggigil dan memegang lengannya penuh sayang, Cao Cun ditanya tentang apa sebabnya dia hendak bunuh diri itu.
"Aku tertekan, aku terimpit. Anak dari mendiang suamiku mau mengambilku sebagai istri!"
"Hm...!" Sang ayah mengangguk-angguk. "Aku juga telah mendengar itu, Cao Cun. Persoalan pribadi harus dikalahkan oleh persoalan negara. Kau di sini mengemban tugas, kau bukan sebagai putri Bupati Wang, tetapi pembantu kaisar yang ditempatkan di sini!"
"Aku... ah... tapi Ayah... persoalan ini terlalu berat bagiku, Ayah. Tidak mungkin aku sebagai janda akan menikah dengan anak tiriku sendiri. Jangankan dengan anak tiri, dengan pria lain saja pantang bagi wanita Han untuk menikah dua kali, Ayah. Kau tahu dan tentu maklum akan hal itu!"
"Ya, tapi ini lain, Cao Cun. Persoalan negara memang menuntut pengorbanan besar dari seorang yang sedang mengemban tugas."