Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 23

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 23

Kaisar mengancam menggantung kami jika kau macam-macam, aku dan ibumu merasa ketakutan! "Benar, sebulan ini kami sakit-sakitan, nak. Tidaklah kau lihat ayah ibumu yang semakin kurus? Tidakkah kau lihat ayahmu yang kering dan pucat?" Cao Cun menangis.

Ayahnya tiba-tiba batuk dan mendekap dada dengan napas terengah, dia memang melihat ayah ibunya yang tidak sehat. Kedua orang tuanya ini terlalu banyak pikir dan dilanda cemas, takut. Dia maklum akan semuanya itu.

Dan ketika ayah ibunya berlutut agar dia tidak berbuat macam-macam dan jangan bunuh diri lagi, akhirnya Cao Cun tersedu dan menarik bangun dua orang tuanya itu. "Ayah, lho... bangunlah! Jangan begini!" "Tidak, kami akan bangun kalau kau sudah berjanji, Cao Cun. Biarlah kami berlutut dan tetap berlutut kalau kau belum berjanji!" "Ah, tidak. Aku berjanji... aku berjanji!" Dan Cao Cun yang menarik bangun kedua orang tuanya sambil mengguguk akhirnya memeluk dan mencengkeram mereka itu.

Melihat betapa cemas dan takutnya dua orang tuanya ini, mereka ternyata tak kalah menderita dengan dirinya sendiri. Dan karena Cao Cun teringat keselamatan ayah ibunya, akhirnya wanita ini bersumpah tak akan bunuh diri lagi. "Percayalah, aku akan mengingat kedudukanku selama ini, ayah. Aku berjanji dan bersumpah tak akan bunuh diri lagi. Demi kalian, demi keluargaku!" Bupati Wang dan isterinya menangis. Mereka kini lega tapi juga terharu, saling pandang dan peluk lagi, dan bupati itu menggigit bibirnya kuat-kuat.

Dia heran akan ketidakberuntungan puterinya ini, akan nasibnya yang selalu dirundung malang dan tampaknya selalu susah saja. Jarang kebahagiaan muncul. Tapi ketika puterinya bersungguh-sungguh dan berjanji pada mereka tak akan membuat repot lagi, maka bupati ini mengusap air matanya berkata haru. "Baik, terima kasih, anakku. Dan mana cucuku Ituchi?" Cao Cun ke belakang. Tak lama kemudian dia sudah membawa puteranya itu, seorang anak laki-laki berusia empat lima tahun yang berwajah gagah, inilah anaknya bersama raja Hu Han Chiang dulu, suaminya yang sudah meninggal.

Dan ketika Wan Hoa juga dibawa dan bupati itu tertegun, maka anak ini dipeluk dan Wan Hoa pun dirangkul. "Cucuku, kau sungguh seperti ayahmu. Ah, untung ada bibimu Wan Hoa di sini. Kalau tak ada dia, entah bagaimana keadaan ibumu di sini," Dan ganti memandang Wan Hoa, bupati itu berkata. "Wan Hoa, entah dengan apa kami sekeluarga membalas budi baikmu. Kau telah berkali-kali menolong Cao Cun. Kalau tak ada kau, mungkin Cao Cun sudah tak melihat lagi terangnya bumi. Aku pribadi mengucapkan syukur dan terima kasih sebesar-besarnya kepadamu, Wan Hoa. Semoga Thian membalas semua budimu ini dan hidup bahagia."

"Ah, taijin tak perlu berkata begitu. Aku dan Cao Cun sudah ditakdirkan hidup bersama, kami adalah satu bagi yang lain. Jangan membuat aku malu hati." "Dan kau sudah menemukan calon pendamping?" Wan Hoa tersipu. "Aku tak mau menikah sebelum Cao Cun mendapat kebahagiaannya, tai jin. Biarlah aku melajang sebelum sahabatku menemukan kebahagiaan sejati." "Kau gadis mulia, sungguh luhur!" Dan Wang-taijin yang tak tahan melihat gadis itu tiba-tiba memeluk dan mencium keningnya, gemetar, haru, dan penuh terima kasih.

"Wan Hoa-ku sungguh seperti anak kami sendiri. Kau dampingilah Cao Cun dan sadarkan dia kalau ingin melakukan hal-hal yang sesat." Wan Hoa berlinang. Mendapat ciuman dan pelukan yang begitu hangat, tiba-tiba dia teringat pada keluarganya sendiri, keluarga yang sudah terputus sejak dia mengikuti Cao Cun ke tempat bangsa liar ini. Dia hanya sebagai abdi, lain dengan Cao Cun yang resmi menjadi isteri seorang Raja, meskipun raja liar.

Dan ketika hari itu Wang-taijin bercakap-cakap dengan putrinya dan Wan Hoa diajak serta, maka keesokannya bupati ini pamit dan pulang. "Kami puas, tugas kami berhasil dan biar semuanya ini kulaporkan pada Sri Baginda." "Ya, dan hati-hati di dalam perjalanan, ayah. Aku akan menindas semua kesengsaraan ku demi kalian!" Bupati itu terbaring. Untuk kesekian kalinya dia memeluk putrinya itu, mendekap.

Tapi ketika mau menaiki keretanya dan teringat sesuatu, mendadak bupati ini merandek. "Hm, mata bupati itu bersinar-sinar. "Kau masih bertemu Kim-mou-eng?" Cao Cun terkejut. "Tidak." Isaknya timbul. "Kim-twako tak pernah ke sini sejak dua tahun yang lalu, ayah. Ada apakah?" "Hm, apakah kau tak meminta pertolongannya untuk masalah anak tirimu itu?" "Sudah, tapi... ah, Kim-twako mendapat musibah, ayah. Isterinya tewas dan anaknya diculik. Kami tak mau mengganggu!"

"Isterinya tewas? Anaknya diculik? Ah, knapa aku tak tahu?" Dan ketika Cao Cun menceritakan secara singkat apa yang sudah diketahui Wan Hoa dan berkata bahwa maksud itu pun sudah dilakukan tetapi gagal, akhirnya bupati ini memejamkan mata menarik napas. "Sudahlah.... sudahlah.... aku menyesal kau tak berjodoh dengan pemuda itu, Cao Cun. Kalau Kim-mou-eng ada bersamamu tentu semuanya ini tak akan terjadi. Sudahlah, aku pulang!" Bupati itu tak mau bicara lagi, pedih dan terluka perasaannya karena hal itu menggores kenangan lama.

Sejak dulu dia sudah menginginkan puterinya ini berjodoh dengan Pendekar Rambut Emas, menggigil, namun Cimochu menangkapnya ketika gagal dan kin kedukaan bertubi-tubi menghantam mereka semua. Bupati itu membalk dan sudah menaiki keretanya. Dan ketika Cao Cun terisak dan orang tuanya melambai di dalam kereta, akhirnya kereta itu berderap dan pergilah bupati itu bersama isterinya, hilang di tikungan.

"Apa yang kau pikir?" Wan Hoa tiba-tiba menggugah lamunannya. "Ayo masuk, Cao Cun. Ituchi minta kita temani!" Cao Cun sadar. Hari itu kedukaan dan kegembiraan sedikit bercampur aduk. Kedatangan ayahnya membuat Cao Cun gembira tapi sekaligus prihatin. Dia melihat keadaan ayahnya yang kurus. Lupa sudah puda urusannya dengan anak ini.

Tapi ketika beberapa hari kemudian Cimochu datang dan gelak serta tawa gembira mengiringi pemuda tinggi besar itu, maka Cao Cun terkesima mendengar suara lantang pemuda ini. "Aku berhasil. Lihat, kaisar menyerahkan dirimu padaku!" Cimochu mengambil sebah surat, memberikannya pada Cao Cun, dan di situ kaisar Tiongkok menyatakan secara resmi bahwa Cao Cun boleh diambil pemuda tinggi besar itu.

Cao Cun dilimpahkan pada raja pengganti Hu Han Chiang, dan wanita ini mendengar. Meskipun sudah diduga, tapi tak urung Cao Cun terpukul roboh, maka Cao Cun tak dapat bicara apa-apa lagi karena benar-benar tersudut. "Bagaimana, kau menerima, ibu?" Cao Cun menangis. Dalam keadaan seperti itu, apalagi yang dapat dibuat? Segala daya dan kemampuan telah dikerahkan, begitu juga akal.

Maka begitu usaha terakhir gagal dan Cao Cun teringat ayah ibunya, tiba-tiba wanita ini mengangguk dan menerima, tersedu-sedu. "Tapi kau menangis, apakah tak suka?" "Tidak.... tidak....!" Cao Cun mendengar ancaman dalam kata-kata itu. "Aku bukan menangis karena tak suka, Cimochu. Tapi... tapi karena haru dan kagum akan kegigihanmu!" Cao Cun berbohong, tentu saja tak berterus terang, dan Cimochu tersenyum.

Dia sudah lama mengidamkan ibunya ini, ibu tiri, meskipun mereka hampir sebaya dan tak berbeda jauh usianya. Tapi mrasa Cao Cun mengeluarkan suara meragukan, dan dia mengerutkan kening, tiba-tiba pemuda yang sudah mendekap dan memeluk tubuh yang tinggi semampai itu berkata, langsung menyebut nama, tidak lagi "ibu". "Cao Cun, kau demikian hambar mengeluarkan kata-katamu tadi. Dapatkah kau buktikan bahwa lahir batin kau mau menerima aku?" Cao Cun tersentak.

"Maksudmu?" "Tunjukkan dan buktikan pada ku bahwa kau membalas cintaku, Cao Cun. Cium dan beri aku bukti kasih mu!" Cao Cun mengeluh. Dalam saat-saat begitu sungguh berat melaksanakan permintaan ini. Orang yang lag sedih tak mungkin dapat diajak bercinta. Nafsu menurun drastis, dan nyaris Cao Cun gagal.

Tapi teringat ancaman yang bakal datang, dan juga teringat betapa ayah ibunya sampai berlutut di depan kakinya agar dia berusaha sekuat mungkin mengendalikan bangsa ini dan menunduk kan rajanya, akhirnya Cao Cun menindas semua kedukaannya dan tersenyum. Mula-mula senyum itu pahit, mengambang, dan hambar. Tapi begitu Cao Cun sanggup memerintah hatinya sendiri, dan senyum itu berkembang dalam senyum yang luar biasa manisnya, tiba-tiba Cao Cun menengadah dan mencium mulut Cimochu.

Menghilangkan semua kesan dan pikiran bahwa Cimochu ini adalah anak mendiang suaminya. "Cimochu, aku rela menerima dan membalas intamu. Lihatlah. Aku menciummu!" Cimochu hampir tertawa bergelak. Ciuman yang diberikan Cao Cun memang sungguh-sungguh. Cao Cun melakukannya dengan segenap tenaga dan kekuatan. Cao Cun mengusir dan membuang jauh-jauh segala pikiran tentang anak tiri nya itu.

Dan karena dia sadar bahwa nasibnya mengharuskannya begitu, dan mau tak mau dia harus menerima pemuda ini, maka di balik semua kepedihan dan penderitaan batinnya, Cao Cun mencium pemuda itu lama, dan akhirnya tersedak, dan Cimochu terbahak. Nafsu seketika membakar pemuda ini, dan Cimochu tahu-tahu menyambar ibunya, ah, kekasihnya itu, memeluknya, dan mendekapnya, serta mau menanggalkan pakaian Cao Cun.

Kegembiraan dan nafsu sekaligus membuat pemuda ini lupa diri. Tapi ketika Cimochu mendengus-dengus, dan Cao Cun maklum tak mungkin dia dapat melepaskan diri lagi, tiba-tiba dia mendorong pemuda itu dan berkata, tegas dan menguasai keadaan. "Cimochu, nanti dulu. Kau harus berjanji dan bersumpah seperti ayahmu!" "Ah, sumpah apalagi? Janji apa yang harus kuberikan?" Cimochu menggigil, berseri-seri, namun kemerah-merahan mukanya.

"Kau harus berjanji bahwa kau harus selalu baik kepadaku. Cimochu, tak boleh bersikap kasar, dan selamanya lembut kepadaku." "Kau... Tentu saja!" Cimochu tertawa bergelak, memotong. "Aku akan selalu baik dan lembut kepadamu, Cao Cun. Aku akan melebihi ayahku dalam hal mencintaimu. Lihat...!" Pemuda itu menubruk, menyambar, dan menciumi Cao Cun bertubi-tubi. Dia sudah diamuk nafsu dan kegembiraannya melihat Cao Cun membalas cintanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment