Chapter 24
Ini sebuah kemenangan baginya. Namun, ketika dia membabi buta menciumi Cao Cun, tiba-tiba Cao Cun melepaskan diri dan mendorong.
"Cimochu, tunggu dulu. Kata-kataku belum habis. Dengarlah!" Dan Cao Cun, yang buru-buru berkelit dan mencegah pemuda itu memeluknya, berkata lagi, "Kau harus selalu baik terhadap kaisar pula, Cimochu. Bangsamu tak boleh menyerang bangsaku dan harus selalu menjalin hubungan baik. Kalau ini tak dapat kau lakukan dan melanggarnya, maka aku akan menolak dan tak mau melayanimu!"
"Ha ha, itu sudah kulakukan, Cao Cun. Bukankah kami semua baik dan tunduk pada kaisar di kota raja? Bukankah kami tak pernah menyerang atau menyakiti bangsa Han? Aduh, demi kau segalanya rela kulakukan, Cao Cun. Dan sumpah disaksikan Langit dan bumi, aku tunduk pada kata-katamu asal kau membalas dan melayani cintaku!"
"Baik, sumpahmu didengar Langit dan Bumi, Cimochu. Kalau kau bohong...."
"Aku akan mati dibunuh anakku sendiri!" Cimochu bersumpah, sumpah yang mengerikan. Cao Cun tertegun. Hebat sumpah pemuda itu. Cao Cun tak terasa bergidik. Namun, karena Cimochu telah ditundukkannya dan pemuda itu bersungguh-sungguh, maka malam itu Cao Cun menyerah, dalam arti kata mau membalas cinta pemuda itu namun belum mau disentuh. Untuk yang satu ini, Cun meminta agar pernikahan mereka diresmikan dulu. Cao Cun bukan sebangsa gundik atau wanita murahan.
Ketika Cao Cun menolak yang satu itu dan Cimochu tertegun, maka wanita ini menunjukkan harga dirinya. "Aku bukan wanita murahan, Cimohu. Kalau kau menghendaki tubuh dan cintaku, maka resmikanlah dulu pernikahan kita. Aku tak menolak. Tapi jangan sekarang seperti kuda di hutan."
Cimochu terperanjat. Sungguh tak dia sangka bahwa calon istrinya ini demikian teguh menjaga harga diri. Tapi ingat bahwa Cao Cun bukan wanita sembarangan dan kekasihnya itu adalah bekas calon selir kaisar yang tidak jadi, maka Cimochu justru menaruh hormat dan kagum. "Baiklah, aku tak akan menyentuhmu, Cao Cun. Tapi berjanjilah bahwa setelah itu kau pun akan menjadi istri yang baik!"
"Tentu, aku berjanji, Cimochu. Dan sekali aku menjadi milikmu, maka raga dan jiwa ini pun sepenuhnya kuberikan padamu!"
Cimochu girang. Kekecewaannya hari itu terobati. Cao Cun tak boleh segera disentuh meskipun dia kuasa. Dan karena tak ingin melukai perasaan wanita itu dan dia pun juga sudah berjanji untuk bersikap lembut dan mesra pada kekasihnya, maka raja muda ini mengatur hari pernikahannya dan mengumumkan peresmian rencana itu. Cimochu bahkan terburu-buru khawatir Cao Cun menarik janji. Maklumlah, cukup sukar baginya menundukkan wanita ini.
Cimochu sekarang memiliki pandangan dan hormat yang tinggi pada kekasihnya itu. Terbuktilah sekarang bahwa wanita Han memang tidak sama dengan wanita dari suku bangsanya. Wanita Han memiliki peradaban tinggi dan sopan santun yang besar. Semuanya itu mengikat wanita Han sebagai wanita baik-baik.
Dan ketika hari pernikahan ditentukan dan Cao Cun menyerah pada nasib, maka bekas ibu tiri ini dikawin anak tirinya sendiri. Cimochu menepati janji. Sebelum hari H itu, dia tidak mau menyentuh Cao Cun. Dan ketika hari itu tiba dan Cao Cun juga menepati janjinya, maka malam itu Cimochu dibuat mabuk. Cao Cun memang pandai. Dulu sebagai calon selir kaisar, dia telah diajari permainan-permainan cinta. Maklum, istana memang mengharuskan itu bagi setiap calon selir.
Dan ketika Cao Cun telah menjadi istri dan pengetahuannya bertambah dan meningkat, tentu saja wanita ini menjadi matang dan tahu kelemahan-kelemahan lelaki. Malam pertama itu Cimochu benar-benar diberi hidangan lezat oleh wanita ini. Cao Cun mulai dapat menerima keadaan, betapapun dia mempunyai "misi" di tempat bangsa liar itu. Dan ketika hari demi hari mereka lewati bersama dan Cimochu ternyata benar mencintai wanita ini, maka sedikit tetapi pasti Cao Cun mencintai pula suaminya yang baru dan melayani dengan baik.
Keadaan memaksa wanita ini terjebak dalam peristiwa yang aneh. Sungguh mimpi pun tak pernah dia bayangkan bahwa suatu ketika dia harus menjadi istri dari anak tirinya sendiri. Dunia benar-benar dapat membuat jungkir balik nasib seseorang. Dan ketika hari demi hari dilalui mereka berdua dan Cimochu mabuk dan semakin tergila-gila pada istrinya ini, maka setahun kemudian lahirlah seorang anak dari perkawinan yang luar biasa.
Cao Cun melahirkan seorang anak perempuan. Ituchi, anaknya yang pertama, sukar disebut apa dalam hubungannya dengan anak perempuan yang baru lahir itu. Paman atau kah kakak? Ah, entahlah. Bingung kita menyebutnya.
Dan ketika semuanya itu dilalui Cao Cun dan Cimochu serta suku bangsanya semakin hormat pada wanita yang luar biasa ini, maka beberapa tahun kemudian lahir bayi seorang anak perempuan. Cao Cun sedikit kecewa. Kenapa tidak laki-laki? Kenapa perempuan? Menurut pendapatnya, mungkin diukur dengan dirinya sendiri. Maka lahir perempuan adalah "sial". Perempuan selalu harus tunduk pada laki-laki. Tak pernah perempuan dapat di atas laki-laki. Tapi karena nasib menentukan begitu dan sejarah juga mengatakan demikian, maka lama-lama untuk inipun Cao Cun dapat menerima keadaannya. Cao Cun mulai pasrah. Tekanan dan himpitan batin mulai membuatnya gampang menyesuaikan diri.
Wan Hoa diam-diam heran melihat sahabatnya yang kini menjadi penyabar dan begitu pasrah. Cao Cun mulai acuh pada nasib dan membiarkan diri hanyut. Maklum, setiap berontak dan ingin mengubah nasib selalu saja dia gagal. Berkali-kali dia membuktikan itu. Dan ketika tahun demi tahun Cao Cun merasakan hidup barunya dengan sang suami dan Cimochu ternyata mencintai dirinya lebih dari ayahnya dulu, maka Cao Cun merasa terhibur dan agak mendingan. Tapi celaka, nasib lagi-lagi mempermainkannya dengan kejam.
Ketika sepuluh tahun Cimochu menjadi raja muda, mendadak pemuda itu wafat. Kejadian ini agak aneh. Tak ada tanda-tanda sebelumnya. Orang menduga mungkin Cimochu diracun, tapi karena tak ada bukti dan kejadian itu juga begitu mendadak, maka untuk kedua kalinya Cao Cun menjadi janda. Tepat di usianya tiga puluh tiga. Sungguh menyedihkan. Dan karena Cao Cun kembali mendapat pukulan berat dan kali ini kematian suaminya dirasa agak misterius, maka tiga bulan penuh Cao Cun berkabung dan hidup di kamar gelap.
***
"Hei, mana pesanan kami? Kenapa sejak tadi kami dibiarkan begini?"
"Ah, maaf.. maaf. Pesanan burung hong goreng sedang dicari, nona. Tapi ternyata habis dan kami tak dapat memenuhi. Bagaimana kalau diganti yang lain saja?"
Begitu percakapan ini terdengar di sebuah rumah makan. Siang itu seorang gadis dan dua orang pemuda duduk menanti makanan, mereka hanya diberi minuman saja. Dan ketika si gadis berseru mendongkol dan pelayan datang tergopoh-gopoh, maka rumah makan meminta maaf karena sebuah pesanan yang diminta tak dapat dilayani.
"Kalau begitu kenapa tidak bilang sejak tadi. Huh, kami sedang terburu-buru. Pelayan, siapkan yang lain dan coret saja daftar makanan ini kalau memang tak ada!"
"Baik.... bila, nona. Bagaimana kalau kaki beruang?"
"Kaki beruang?"
"Ya, sop kaki beruang, nona. Asli dan bukan tiruan. Kami dapat menyajikannya kalau nona suka. Bagaimana?"
"Hm, terimalah," Pemuda di sebelah kanan yang gagah dan pendiam tiba-tiba mendahului. "Kau tak usah marah-marah, sumoi. Biarlah kita nikmati yang lain dan cepat pergi."
"Baiklah," Si gadis akhirnya setuju. "Kau bawa kemari kaki beruang itu, pelayan. Tapi kalau menipu dan mengada-ada tentu kau kuhajar!"
Pelayan yang ketakutan melihat pedang di balik punggung si nona akhirnya merunduk dan buru-buru memutar tubuhnya, menyiapkan apa yang diminta. Tak lama kemudian datang dengan nampan besar berisi sop kaki beruang. Baunya yang sedap dan kepulan uapnya yang harum tiba-tiba saja membuat tiga tamunya tergiur, mereka memang lapar. Dan ketika masakan itu diletakkan, dan minuman serta arak ditambah lagi, maka tiga muda-mudi ini menyambar sumpit dan sudah menikmati pesanan mereka.
Tapi baru setengah yang dihabiskan, tiba-tiba muncul dua tamu baru, dua laki-laki tinggi besar yang langsung mengambil tempat duduk tak jauh dari mereka, melirik dan sejenak tertegun. Memesan hidangan dan berbisik-bisik. Dan ketika dua tamu itu baru mereguk minumannya beberapa teguk, tiba-tiba berturut-turut muncul yang lain dan mulailah berdatangan orang-orang aneh yang beraneka ragam. Semuanya memasuki rumah makan itu dan bisik-bisik terdengar di sana-sini.
Si gadis dan dua pemuda saling pandang. Itulah orang-orang karg-ouw dengan sikap dan pakaian mereka yang aneh-aneh. Ada yang berpakaian tambal-tambalan, tapi ada pula yang bagus. Bahkan terakhir masuk dua orang wanita muda yang memakai wangi-wangian begitu keras, merangsang, dan menusuk hidung. Dan ketika pelayan menjadi sibuk namun anehnya tak ada suara yang keras terdengar di situ karena semua rata-rata berbisik-bisik, maka gadis dan dua pemuda pertama ini mendengar percakapan lirih tentang sesuatu.
"Kita harus mendapatkan benda itu. Empat hari lagi kakek dewa itu akan memberikan cerminnya kepada kita."
"Ya, dan kita harus mendahului dari yang lain, ji-te. Kalau perlu sebelum yang lain muncul, kita harus sudah ada di bukit itu!"
"Dan kita bujuk kakek itu. Siapa tahu kita mendapat rezeki dan beruntung."
"Yakinkah kau?"
"Kita harus yakin, twa-teng. Jangan pesimis dalam mengharapkan sesuatu!"
"Baiklah, kita cepat isi perut, ji-te, dan selekasnya ke bukit Malaikat menemui Sian-su!"
Percakapan terhenti. Sampai di sini rupanya laki-laki tinggi besar yang duduk tak jauh dari tiga muda-mudi ini merasa didengarkan, tiba-tiba mereka tak bicara lagi dan meneruskan makannya. Dan ketika dua pemuda itu saling memberi isyarat dan si gadis mengangguk, mendadak mereka menoleh ke kiri dan telinga pun tegak seperti kelinci mendengar jejak.
"Perhatikan, di sebelah kiri orang juga berbisik-bisik akan sesuatu. Agaknya di luar kota ini akan terjadi apa-apa."
"Ya, dan rupanya semua menuju ke satu titik, suheng."