Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 25

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 25

Mereka menyebut-nyebut tentang Sian-Su dan cermin. "Ssst, dengarkan. Pasang telinga!" Pemuda pertama, yang gagah dan pendiam, tiba-tiba menggamit temannya.

Temannya dan si gadis tiba-tiba mengangguk, mereka saling berkedip. Ketika telinga dipasang dan mereka mendengar bisik-bisik tentang "Sian-Su" dan "cermin", maka tiga muda-mudi itu tertarik dan saling pandang.

"Bagaimana kau, Un Nio? Mungkinkah Sian-Su memberikan pusakanya kepada kita?"

"Entahlah, tapi kita perlu coba-coba, Cici. Katanya empat hari lagi kakek dewa berada di Bukit Malaikat dan memberikan barangnya kepada siapa yang beruntung."

"Dan kita harus menjadi yang beruntung itu. Kakek dewa itu manusia luar biasa yang ilmunya sudah tak dapat diukur."

"Ya, tapi di sini banyak yang lain, Cici. Lihat pendatang-pendatang baru yang saling berkelompok itu. Mereka mencurigakan dan saling pandang pada yang lain."

"Benar, tapi tak perlu takut, Un Nio. Kita bukan wanita lemah yang dapat dipermainkan sesuka hati!"

"Ssst, kita didengarkan!"

Percakapan di sini yang kembali berhenti dan tak diteruskan akhirnya membuat kedua pemuda dan gadis pertama melengos, nyaris kepergok, dan mereka pura-pura meneruskan makan. Rupanya dua wanita cantik yang parfumnya menyengat itu tahu kalau diperhatikan, pembicaraan mereka dicuri dengar. Ketika mereka melotot dan kedua pemuda itu dipandang marah, maka kedua pemuda yang bersangkutan merunduk dan cepat mengeluarkan sapu tangan mereka, pura-pura membersihkan mulut.

"Tempat ini panas, kita harus keluar," begitu pemuda gagah yang pertama bicara. Dia agak tidak enak karena dipelototi dua wanita di sebelah itu, mengibaskan baju dan bangkit berdiri. Kebetulan makan minum mereka telah selesai. Maka, begitu memanggil pelayan dan membayar rekening, segera pemuda yang agaknya menjadi pemimpinnya ini mengajak kedua temannya keluar.

"Sumoi, Sute, mari...."

Kedua temannya mengangguk. Mereka sebenarnya mendongkol pada wanita cantik yang melototi saudara mereka itu, tapi karena saudara mereka mengajak keluar dan tindakan ini jelas menghindari ribut-ribut, maka mereka pun bangkit dan mengikuti.

Namun, baru sampai di pintu restoran, mendadak mereka berpapasan dengan pendatang-pendatang baru yang jumlahnya belasan orang, dipimpin seorang tosu dan kakek pengemis, serta seorang wanita antik berbaju kembang.

"Eh, bukankah ini Hu Siocia (Nona Hu)?"

Tiga muda-mudi itu tertegun. Mereka sudah melihat tosu, kakek pengemis, serta wanita berbaju kembang itu berhenti. Mereka tak dapat keluar karena pintu rumah makan penuh orang-orang ini, tak dapat maju. Ketika mereka terbelalak dan mengerutkan kening mengingat-ingat, tosu itu terbahak dan si kakek pengemis pun mendengus.

"Ha-ha, kami Koang-San Tojin dan Pek-Tung Lo-Kai, Nona. Tentu kau ingat dan tak mungkin lupa!"

"Ya, dan aku Hwa-I Paicu, bocah sombong. Mana ayahmu yang pongah itu? Betulkah kakakmu mampus dibunuh Siauw-Bin-Kwi (Setan Muka Ketawa)?"

Muda-mudi ini terkejut. Segera mereka ingat siapa orang-orang ini. Rupanya Koang-San Tojin dan Pek-Tung Lo-Kai, juga Hwa-I Paicu (ketua Perkumpulan Baju Kembang) yang dulu pernah menyatroni mereka. Hu Siocia yang disebut-sebut itu merah mukanya. Belum kedua temannya menjawab, ia sudah mendahului, ketus dan dingin.

"Bagus, aku memang Hu Swat Lian. Hwa-I Paicu. Ada apa kalian menghadang dan tidak memberi jalan? Mencari perkara?"

"Ha-ha, tetap angkuh!" Si tosu tinggi kurus tertawa marah. "Kau sombong dan jumawa, Nona. Kami tidak bermaksud menghadang, namun kebetulan saja bertemu kalian. Hm, ini kedua suhengmu, Hauw Kam dan Gwan Beng, bukan? Kalian mau pergi? Kami terlanjur masuk, Nona. Silakan cari pintu lain dan lewat belakang saja!"

Swat Lian, gadis yang diejek itu, marah. Dia membentak dan mau menggerakkan tangannya, tapi belum dia bergerak, tiba-tiba lengannya ditangkap oleh pemuda pertama yang gagah dan pendiam itu.

"Sumoi, sabar. Biar aku bicara," dan membungkuk di depan tosu dan dua lainnya, pemuda ini memberi hormat, sikapnya jelas menahan permusuhan.

"Koang-San Tojin, kau tentu tak ingin membuat ribut, bukan? Bagaimana kalau kalian memberi jalan dan membiarkan kami pergi? Kami ada urusan sendiri, Totiang. Harap kalian memaklumi dan tidak menyulitkan."

"Hm, kau Gwan Beng?"

"Benar, Totiang. Itu aku yang rendah."

"Mana gurumu?"

"Tak ada di sini."

"Kalian mau lewat?"

"Mohon kebaikan Totiang."

"Ha-ha!" Tosu itu tertawa bergelak. "Boleh, bocah. Tapi minta dulu izin dua temanku. Barangkali mereka akan menuntut sesuatu dari utang keluarga Hu!"

"Hm," Pek-Tung Lo-Kai, kakek pengemis di sebelah, menggeram. "Kalian boleh lewat asal berlutut, bocah. Nyatakan ampun tiga kali dan lewati selangkangan kami!"

"Keparat!" Gadis di depan melengking. "Kalian kelewat menghina, Pek-Tung Lo-Kai. Coba lihat siapa yang berlutut dan harus minta ampun... wut-wirr!"

Gadis itu berkelebat, tangannya bergerak cepat dan luar biasa, dia telah melakukan tamparan tiga kali. Pek-Tung Lo-Kai terkejut karena dia tak sempat menghindar. Ketika dia menangkis, namun terpelanting begitu keras, kakek pengemis ini mencelat dan terguling-guling disambar pukulan itu.

"Plek-plak-plakk!"

Semua orang terkejut. Rombongan di pintu rumah makan gempar. Pek-Tung Lo-Kai melompat bangun, dan kakek itu gusar. Dalam gebrakan cepat hanya sejurus itu, dia telah dibuat tunggang-langgang! Bukan main marahnya kakek ini. Ketika dia menggeram dan memaki lawan, orang-orang melihat baju pundak kakek ini hancur oleh tamparan jari-jari yang halus itu.

"Keparat, kau semakin liar, Hu Siocia. Aku tak terima dan akan membalas!"

Namun belum kakek itu menerjang, tiba-tiba Koang-San Tojin, temannya, mencegah, "Lo-Kai, sabar. Tempat ini sempit. Bagaimana kalau di luar saja?"

"Boleh, aku akan membalas kekalahanku pada kakaknya dulu, Tojin. Dan kau pun dapat menghadapi yang lain sebagai balas dendam kita!"

"Nanti dulu!" Gwan Beng, pemuda gagah yang pendiam itu, berseru lantang. "Apakah kalian tak mau bersikap baik-baik, Lo-Kai? Mestikah kita bermusuhan dan membuat ribut? Ingat, di sini bukan untuk mencari perkara, Lo-Kai. Kami bersedia meminta maaf kalau kami dirasa mengganggu!"

"Hm, tak perlu, Suheng. Nanti kita disangka takut. Biarlah kita hadapi mereka dan tak perlu meminta maaf, toh kita tak melakukan kesalahan!" Swat Lian, gadis yang keras hati dan galak itu, membentak. Betapapun dia merasa gusar dan marah oleh sikap orang-orang ini, mereka menghadang dan tetap berdiri di pintu, berarti mereka tak memberikan jalan dan harus diterjang.

Namun, Hauw Kam, pemuda satunya yang juga berwatak lembut dan suka mengalah, ternyata menggeleng. "Tidak, sabar dulu, Sumoi. Biar Suheng yang bicara," dan menahan sumoinya agar tidak mengamuk, pemuda ini berdiri waspada.

"Hm, apakah kau takut?" Hwa-I Paicu, ketua perkumpulan Baju Kembang itu, mengejek. "Kalau takut, boleh minta ampun, bocah. Apa yang dikatakan Lo-Kai benar, dan kalian harus berlutut serta berjalan di selangkangan kami."

"Maaf," Gwan Beng merah mukanya. "Hal itu tak dapat kami lakukan, Paicu. Kami orang-orang gagah yang tak suka dihina. Kalau kalian sakit hati oleh peristiwa dulu, seharusnya hal itu tak diperpanjang lagi karena sute kami, Beng An, telah tiada. Kami tak pernah bermusuhan denganmu, harap tidak mencari persoalan dan biarkan kami pergi."

"Heh!" Pek-Tung Lo-Kai membentak. "Sumoimu telah lancang memukul aku, bocah. Kalau begitu, kalian saja yang pergi, tapi biarkan sumoimu itu menghadapi kami!"

"Itu pun tak bisa," Gwan Beng masih bersabar. "Sumoi kami adalah tanggung jawab kami, Lo-Kai. Mohon perbuatannya kalian maklumi dan sudahilah ketegangan ini. Kami mau pergi."

"Kalau ingin pergi, pergilah, merunduk dan lewati selangkangan kami!"

Gwan Beng merah mukanya. Kalau orang sudah mendesak dan tetap bersikap seperti itu, sungguh kesabarannya lama-lama habis. Orang di dalam restoran mulai bangkit berdiri dan menonton. Marah, dia. Ketika suitan serta teriakan terdengar di sana-sini, pemuda ini memandang adik seperguruannya, Hauw Kam.

"Bagaimana, Sute, kita lewati mereka?"

"Bisa, kita keluar, Suheng. Mari!"

Hauw Kam yang melejit serta melompat tinggi, tiba-tiba membentak dan sudah berjungkir balik di atas kepala orang. Cepat dan luar biasa, tahu-tahu pemuda itu sudah ada di luar. Kepala belasan orang tadi dilewatinya dengan mudah, gemparlah yang dilewati. Ketika dua yang lain mengikuti jejak Hauw Kam dan berturut-turut bagai siluman atau iblis, Gwan Beng dan sumoinya berjungkir balik di atas kepala orang-orang itu. Mereka bertiga sudah berada di luar rumah makan dan selamat turun di sana, tanpa halangan.

"Eh, kita dikurangajari!" Pek-Tung Lo-Kai, pengemis tua yang berangasan itu, memekik. Dia tadi menyerang, namun hantamannya luput mengenai angin kosong. Gwan Beng dan sumoinya itu telah lolos. Sungguh mudah perbuatan mereka itu. Karena perbuatan ini menampar muka mereka, dan sebagai orang-orang ternama mereka merasa dipermalukan, kakek ini sudah menerjang dan menggerakkan tongkatnya.

"Bocah siluman, kau tak tahu adat... wuuttt!" Tongkat menyambar, cepat dan kuat, kakek ini menyerang Swat Lian. Gadis itu mengejek dan tidak mengelak. Ketika tongkat hampir mengenai kepalanya, dengan ringan namun cepat dia menggerakkan tangan kanannya, tiba-tiba tongkat ditangkis.

"Plakk!"

Pek-Tung Lo-Kai terbanting! Sungguh kejadian ini mengejutkan, kakek pengemis itu sampai berteriak kaget. Untuk kedua kalinya dalam satu gebrakan saja, dia dicekoki lawan. Tongkat yang bertemu lengan yang halus itu mental, dan dia terbanting. Ketika kakek itu membentak dan marah melompat bangun, kedua temannya, Hwa-I Pangcu dan Koang-San Tojin, terbelalak. "Lo-Kai, hati-hati. Gadis itu rupanya maju!" Kakek ini menggereng. Dia sudah mengangguk dan menerjang lagi, tongkat menyambar dan menderu di atas kepala. Tapi Swat Lian yang lincah mengelak ke samping dan menggerakkan lengannya, tahu-tahu menampar dari samping, membuat tongkat lawannya terpental, dan lagi-lagi kakek pengemis itu meraung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment