Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 26

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 26

Pek-tung Lo-kai marah. Ketika dia membentak dan menyerang lagi, tongkatnya menyambar-nyambar dan menghujani tubuh lawan dengan cepat, naik-turun bagai naga menari. Namun, lawannya yang gesit selalu melenting atau menangkis. Setiap kali menangkis, tongkat itu terpental kian keras; satu kali bahkan menghantam jidat kakek itu sendiri.

Pek-tung Lo-kai memekik dan berkelebatan dengan tongkatnya. Pertandingan di depan rumah makan itu akhirnya menjadi tontonan orang banyak. Mereka kagum akan kepandaian Swat Lian yang luar biasa, tetap bertangan kosong menghadapi lawan. "Sumoi, jangan emosi. Tahan kemarahan dan jangan bunuh kakek itu!" Seruan Gwan Beng itu membuat Pek-tung Lo-kai mendelik.

Kata-kata itu seolah terang-terangan menyatakan dia kalah. Si gadis memang lihai, tetapi dia masih kuat menyerang. Pengemis ini mengerang dan mukanya merah padam, nyaris hitam saking marahnya. Tapi karena lawan berkelit lincah dan tongkat yang ditangkis membuatnya tergetar hingga lama-lama tangannya terasa pedas, akhirnya kakek ini gusar dan meneriaki dua temannya yang sedang menonton.

"Tojin, dan kau, Pangcu! Kenapa termenung saja dan tidak menghajar dua orang yang lain itu? Jangan menonton, Tojin! Serang dan bunuh mereka!"

Koan-san Tojin dan Hwa-i-paicu terkejut. Mereka sadar akan kemarahan teman mereka. Pek-tung Lo-kai tersinggung dan marah kepada mereka; memang tak seharusnya mereka membiarkan kawan bertempur sendiri. Maka, sambil membentak dan melolos pedangnya, tiba-tiba Hwa-i-paicu menerjang dan menusuk Hauw Kam. "Baik, kami akan membunuh mereka, Lo-kai! Lihat, kami tidak tinggal diam! Singgg!"

Pedang menyambar menuju tenggorokan Hauw Kam, tiba-tiba menusuk dan mendekati kulit leher pemuda ini. Hauw Kam mengelak dan mengerutkan kening. Dia tidak terkejut dengan serangan tiba-tiba itu; sejak tadi dia sudah waspada dan siap diserang. Tapi ketika pedang mengejar lagi dengan cepat dan bertubi-tubi, Hauw Kam akhirnya berloncatan dan menangkis.

"Pangcu, kau sombong. Kau tak dapat membunuh kami... Cringgg!"

Pedang itu disentil. Kuku jari pemuda itu bertemu dengan pedang tajam, membuat wanita cantik itu terkejut. Penonton juga terkejut dan kagum. Namun, karena Hauw Kam bertangan kosong dan tidak memiliki senjata, ketua Hwa-i Kai-pang ini melengking tinggi dan menerjang lagi, berkelebat lenyap dalam serangan-serangannya yang ganas. Wanita cantik itu menyerang lawan dengan cepat dan kuat. Tapi karena Hauw Kam bukan pemuda sembarangan dan selalu menyentil pedang dengan kuku jarinya, setiap serangan lawan terpental dan pedang sering berdenting nyaring. Hal ini membuat ketua Hwa-i Kai-pang marah dan menyerang lagi bagai harimau kelaparan.

Ketika Hauw Kam harus berloncatan lebih cepat dan mulai menerima bacokan atau tikaman, lawan terkejut karena dengan tangan telanjang pemuda itu mampu menyambut pedangnya tanpa terluka. Kebal!

"Ah, kau sombong, Bocah! Coba kulihat bagaimana kalau mata atau lubang telingamu kutusuk!" teriak Ketua Hwa-i Kai-pang, kaget sekaligus kagum meskipun darahnya mendidih. Apa yang ditunjukkan lawannya dianggap sebagai ejekan. Pedangnya seolah dianggap benda tumpul yang tak dapat melukai lawan. Ketua Baju Kembang ini gusar, membentak, dan mengarahkan tusukannya ke mata atau lubang telinga. Untuk serangan ini, Hauw Kam tak berani menerima langsung dan terpaksa menangkis.

"Cring-trangg...!" Penonton mendapat suguhan menarik. Hauw Kam melayani lawan dengan mudah. Mata dan telinganya adalah bagian yang tak dapat dilindungi sinkang, sehingga dia terpaksa menangkis. Sentilan kuku jarinya membuat ketua Hwa-i Kai-pang memekik. Semakin sering lawan mengincar mata atau telinganya, semakin sering pula Hauw Kam menyentil pedang lawan. Akhirnya, Ketua Baju Kembang ini hampir menangis karena serangannya selalu kandas.

"Keparat, jahanam! Jangan menangkis saja, Bocah! Ayo balas dan robohkan aku!"

Hauw Kam menggeleng. "Tidak, aku ingin kau roboh sendiri, Pangcu. Biarlah kau lelah dan kehabisan tenaga."

"Keparat, kalau begitu kau akan kubunuh! Aku akan menggunakan segala cara!" Hwa-i-pangcu melengking tinggi dan tiba-tiba memanggil pembantunya. Dia bersuit, dan lima wanita berbaju kembang meloncat maju mengikuti aba-aba isyarat yang tidak diketahui orang luar. Hauw Kam tiba-tiba dikeroyok oleh enam lawan sekaligus.

"Hm, ini anak buahmu?" Hauw Kam tak gentar. "Bagus, boleh mereka maju semua, Pangcu. Tapi aku akan membiarkan kalian semua roboh tanpa kubalas."

Benar saja, Hauw Kam hanya mengelak dan berkelebat cepat. Dengan ringan namun cekatan, dia menyentil pedang lawan-lawannya hingga berdenting dan terpental. Lima wanita berbaju kembang itu terpekik saat pedang yang mereka genggam bergetar; telapak tangan mereka terasa pedas dan sakit. Hebat pemuda itu. Namun, karena sang ketua membentak marah dan menyuruh mempercepat gerakan, Hauw Kam pun dikurung sambaran pedang dari enam penjuru.

"Ha-ha, adikmu hebat, Bocah! Sekarang pinto akan mencoba-coba denganmu... wuut!" Koan-san Tojin tiba-tiba membentak. Tubuhnya berkelebat menyerang Gwan Beng. Trisula di tangannya menyambar leher pemuda itu, nyaris menyerupai sinar putih yang tak kelihatan.

Gwan Beng dengan tenang mengelak dan mundur selangkah, membuat senjata lawan lewat di sisinya dan hanya mengenai angin kosong. "Koan-san Tojin, kita sebenarnya tidak bermusuhan. Baiklah, kuikuti jejak suteku; aku tidak akan membalas semua seranganmu!"

"Hah, kau begitu sombong? Baik, awas Bocah! Pinto menyerang dan jangan salahkan kalau kau roboh!" Tosu ini marah karena merasa direndahkan. Dia menubruk untuk kedua kalinya; trisula di tangannya membalik dan menyerang lagi. Tapi ketika Gwan Beng kembali mengelak dan senjata itu meluncur tanpa hasil, tosu ini menggeram dan membanting kaki.

"Bocah, kau lihai! Tapi awas, kali ini aku akan mengurungmu!" Benar saja, trisula di tangan tosu itu tiba-tiba mendengung berputar dan menusuk bertubi-tubi. Bagai payung lebar, senjata itu berubah menjadi cahaya putih yang berkelebat di sekitar lawannya. Gwan Beng tak dapat mengelak selain menangkis karena jalan keluarnya telah dikurung.

Ketika trisula menusuk cepat dari delapan penjuru arah angin dan Gwan Beng telah dikurung sinar putih keperakan, akhirnya dia menggerakkan kuku jarinya. Sama seperti Hauw Kam, dia menangkis dengan mengerahkan sinkang. "Cringgg!" Trisula itu terpental. Koan-san Tojin kaget dan berseru marah, menyerang lagi, namun pemuda itu kembali menyentilnya.

Untuk kedua kalinya terdengar suara "cring" dan senjata di tangan tosu itu terpental. Koan-san Tojin terkejut karena dari sentilan itu dia merasakan tenaga sinkang yang hebat sekali. Kuku jari itu mampu membuat senjatanya tertolak. Tosu ini terkesiap, tetapi karena Gwan Beng belum membalas serangannya, dia penasaran dan kembali menyerang dengan tikaman bertubi-tubi. Gwan Beng berloncatan mulai mendemonstrasikan kepandaiannya. Dengan cepat dan akurat, pemuda ini selalu menyentil trisula lawan hingga Koan-san Tojin terbelalak.

Pertandingan berjalan cepat dan Gwan Beng mulai mengimbangi lawan. Akhirnya, Koan-san Tojin membentak dan tubuhnya tiba-tiba lenyap, berputar mengelilingi lawan. "Bocah, pinto akan merobohkanmu!"

Gwan Beng tak menjawab. Setelah menangkis dan mengetahui kepandaian lawan, diam-diam dia merasa geli dan hampir tertawa. Namun, karena tidak ingin menyinggung perasaan, dia tetap melayani lawan. Begitu lawan lenyap, dia pun berseru keras dan ikut berkelebat cepat mengikuti gerakan lawan. "Koan-san Tojin, kau boleh merobohkanku kalau bisa. Tak perlu merobohkan, cukup sentuh bajuku saja, maka aku akan mengaku kalah!"

Koan-san Tojin memekik. Setelah lawan berkelebat mengikuti gerakannya, tosu ini menjadi bingung. Gwan Beng kini bagaikan bayang-bayang yang tak dapat disentuh, selalu berada di luar jangkauan. Setiap kali trisula mendekat, kuku jarinya selalu menyentil senjata itu. Tosu ini kaget dan memperhebat serangan setelah mendengar tantangan Gwan Beng, namun lawannya benar-benar seperti iblis.

Gwan Beng mempercepat gerakannya hingga hilang dari pandangan tosu itu. Padahal, Koan-san Tojin sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, namun dia tetap kalah cepat hingga napasnya memburu seperti kuda yang dikuras tenaganya. Gwan Beng tersenyum melihatnya. Karena tosu itu tidak mampu menyentuh bayangan lawannya, empat orang pembantunya akhirnya membentak maju untuk membantu.

"Suheng, biar kubantu kau... wut-siuuttt!" Tiga senjata lain menyambar, disusul sebuah senjata lagi, sehingga Gwan Beng dikeroyok lima orang. Berbeda dengan Hauw Kam yang dikeroyok wanita-wanita cantik, pemuda ini dikerubuti tosu-tosu tangguh yang rata-rata berusia empat puluh tahun lebih. Karena Gwan Beng telah berjanji tak akan membalas serangan, dia hanya mempercepat gerakannya. Baju biru pemuda itu berkelebatan di antara pakaian putih lima orang lawannya. "Cring-cranggg!" Sesekali terdengar suara dentingan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment