Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 27

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 27

Gwan Beng menyentil dan senjata lawan pun terpental. Empat pembantu Koang-san Tojin marah dan terkejut. Tapi ketika mereka mempercepat gerakan dan tetap saja pemuda itu melayang-layang di tengah mereka, akhirnya sama seperti sang ketua mereka, ini pun ngos-ngosan diburu napas.

"Sudahlah, kalian berhenti, Koang-san To-jin. Aku tak mau membalas karena tak mau menyakiti kalian." "Keparat, biar pinto roboh kehabisan tenaga, anak muda. Atau kau robohkan kami dan mampus!" "Hm, aku tak suka mengikat permusuhan, Tojin. Kenapa ngotot dan tak tahu diri? Kalau kalian ingin kehabisan napas, biarlah kubuat kalian begitu. Mari!"

Dan Gwan Beng, yang mempercepat gerakannya hingga mata lawan berkunang-kunang, akhirnya mendengar seorang di antaranya ambruk sendiri. Seorang pembantu Kang-san Tojin tak kuat, kepalanya pusing, dan Gwan Beng tertawa. Dan ketika pertandingan masih berjalan terus dan Koang-san Tojin nekat, maka kembali seorang pembantunya roboh dan terguling.

"Aduh, aku tak kuat. Pemuda itu siluman!" Penonton kagum. Dalam gebrak cepat berikutnya, seorang pembantu lagi dari Koang-san Tojin roboh terguling, bukan oleh serangan pemuda ini, melainkan oleh kelelahannya sendiri mengejar bayang-bayang Gwan Beng. Pemuda itu berkelbatan demikian cepatnya di antara keroyokan lawan, tak sanggup dia melanjutkan serangannya lagi.

Dan ketika empat orang pembantu tosu itu akhirnya roboh semua dan tinggal Koang-san Tojin sendiri yang terhuyung-huyung dan limbung menyerbu ke sana ke mari, maka penonton mulai memaki melibat sikap tak tahu diri tosu ini. "Menyebalkan, tak tahu malu. Tosu itu seharusnya dilempar!" "Ya, robohkan saja dia, anak muda. Lempar dan tendang pantatnya agar tahu diri!" Gwan Beng tersenyum.

Untuk ini dia sudah berjanji tak akan balas menyerang, janji itu pun ditepatinya, dan tak akan dia menyerang tosu itu. Biarlah Koang-san Tojin berhenti sendiri dan ambruk. Dan ketika benar saja napas tosu itu memburu hebat dan serangan-serangannya tak dapat menyentuh lawan, akhirnya Koang-san Tojin mengeluh dan roboh terguling ketika serangan terakhirnya dikelit, ambruk, dan tidak sadarkan diri lagi, saking bernafsunya dia menyerang, kehabisan tenaga, dan penonton bersorak.

Saat itu, di sebelah lain juga terdengar suara gedebuk dan jerit kesakitan. Pek-tung Lo-kai dan Hwa-i-pangcu roboh terbanting, dua orang itu mengeluh dan tidak dapat berdiri lagi. Kiranya Hauw Kam dan Swat Lian pun telah menyelesaikan pertandingan masing-masing. Dan ketika dua orang itu roboh hampir bersamaan dan Swat Lian serta Hauw Kam mengusap peluh muka, sorak dan teriakan kagum meledak di sana-sini. "Aiihh, hebat. Mengagumkan!" "Ya, hebat sekali. Luar biasa...." Hauw Kam dan sumoinya tersenyum.

Swat Lian malah tersenyum mengejek, tidak seperti Hauw Kam yang tersenyum malu-malu. Pemuda itu tak suka disanjung. Dan ketika mereka mendapat pujian dan Gwan Beng berkelebat mendekati mereka, tiba-tiba pemuda itu berkata, melihat Koang-san Tojin dan lain-lain ditolong pembantunya. "Sute, smoi, mari kita pergi. Jangan lama-lama lagi..... Wuss!" Pemuda itu mendahului, lenyap, dan mengajak dua adiknya mengikuti.

Gerakannya ini sudah disusul Hauw Kam yang mengangguk, tidak oleh Swat Lian yang lebih dulu menendang Pek-tung Lo-kai hingga lawannya itu mencelat. Baru kemudian mengikuti suhengnya, dan penonton bersorak. Dan ketika Swat Lian menjejakkan kakinya dan lenyap pula mengikuti kakak seperguruannya, maka tiga muda-mudi itu tak kelihatan bayangannya lagi, dan beberapa di antara penonton berteriak. "Hei, tunggu. Kami ingin berkenalan....!" "Benar, jangan pergi dulu, sobat-sobat gagah. Kami ingin tahu tentang kalian!"

Seseorang tiba-tiba memotong, menjawab teriakan itu, dan orang-orang tertegun. Yang berteriak tadi tiba-tiba mendelong, terkejut. Tapi ketika sadar dan berubah mendengar disebutnya nama ini, tiba-tiba dia bertanya, ingin lebih tegas lagi. "Hu-taihiap? Hu Beng Kui si jago pedang dari Ce-bu itu?" "Ya, memangnya siapa lagi? Adakah jago pedang yang melebihi Hu-taihiap itu?" "Ah, pantas.... pantes kalau demikian lihai!" Dan orang itu pun yang mengangguk-angguk dan kagum, tapi juga ngeri, akhirnya tidak bertanya lagi dan menyelinap pergi.

Nama atau kehadiran murid-murid Hu-taihiap itu mendadak membuat hati semua orang keder. Betapapun orang-orang kang-ouw ini ingat akan peristiwa tak lama berselang yang terjadi di Ce-bu, perebutan Sam-kong kiam atau Pedang Tiga Dimensi. Pertandingan mati hidup antara si jago pedang itu dengan musuh-musuhnya, antara lain Siauw bin-kwi dan kawan-kawannya, yang semua tewas dalam peristiwa menggegerkan itu.

Dan ketika semua orang kagum dan terkejut oleh berita ini, maka hari itu rumah makan itu menjadi populer dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang akan pertempuran yang baru saja terjadi, antara puteri dan dua murid utama si jago pedang itu melawan Hwa-i-paicu dan Koang-san Tojin serta Pek-tung Lo-kai. Betapa mereka dirobohkan dengan mudah dan dua di antaranya bahkan tak pernah membalas. Ini cerita mengagumkan.

Dan ketika hari itu semua orang bicara tentang keramaian ini dan tiga murid Hu Beng Kui itu dipuji-puji, maka yang bersangkutan sendiri telah jauh meninggalkan tempat itu. "Huh, menyebalkan. Kalau tidak ingat laranganmu, tentu sudah ku bunuh mereka itu, suheng. Benar-benar si katak yang coba bersikap sombong!" "Sudahlah, tak perlu semuanya itu, sumoi. Bukankah mereka telah kalah dan tak mungkin berani mengganggu lagi? Dulu mereka dirobohkan mendiang kakakmu, belum berkenalan dengan kita sendiri. Kalau sekarang sudah tahu dan jelas kalah, tentu mereka tak akan macam-macam lagi dan sombong. Marilah, kita terus ke utara dan melanjutkan rencana kita!"

"Tak beristirahat dulu?" "Bukankah sudah cukup di rumah makan tadi?" "Baiklah, mari, suheng. Aku juga ingin cepat-cepat ke bangsa Tar-tar itu dan menemui orang yang kita cari!" Percakapan berhenti. Gadis di tengah tiba-tiba melesat, cepat dan luar biasa sekonyong-konyong ia meninggalkan suhengnya. Tapi ketika suhengnya menyusul dan pemuda kedua, Hauw Kam berseru perlahan, tiba-tiba pemuda ini menggapai. "Sumoi, suheng, berhenti dulu. Aku ingin bicara!"

Luar biasa sekali. Gadis yang sudah melesat itu sekonyong-konyong berhenti. Gerakannya seperti di rem dan berhenti begitu saja. Dan ketika dua suhengnya berkelebat dan sudah berada di sampingnya, maka gadis ini bertanya. "Ada urusan apa? Bicara apa?" "Nanti dulu. Tidak ingatkah kau akan pembicaraan di rumah makan tadi, sumoi. Apakah kita ingin melihat-lihat?" "Hm," Gadis ini teringat, mengangguk. "Bagaimana menurut Gwan suheng? Apakah kita menunda perjalanan?"

Gwan Beng, pemuda pertama, mengerutkan kening. "Sumoi, kita mendapat tugas shu untuk mencari Kim-mau-eng. Ilmu pedang kita Giam lo Kiam-sut telah diperdalam sedemikian rupa hingga suhu yakin kita sekarang mampu mengalahkan Kim-mou-eng itu. Apakah urusan ini harus kita tunda dan melihat yang lain?" "Jadi suheng menghendaki perjalanan diteruskan?" "Begitu menurut pendapatku, sumoi. Tugas ulama ini kita laksanakan dulu dan baru setelah itu yang lain-lain menyusul."

"Tapi di Bukit Malaikat Bu-beng Sian su akan muncul, tidakkah ini menarik perhatian mu untuk melihat, suheng?" Hauw Kam, pemuda kedua, bertanya, timbul keinginan tahunya yang besar. Tapi sang suheng yang tersenyum dan menggeleng menjawab datar. "Itu dapat kita ikuti kemudian, sute. Meskipun menarik tapi seyogyanya tugas utama ini dilaksanakan dulu. Dua tahun suhu menggembleng kita, keinginan ya lebih besar untuk melihat kita mengalahkan Kim-mou-eng. Apakah keinginan ini harus dikalahkan oleh keinginan kita ke Bukit Malaikat?"

"Jadi kita tetap meneruskan perjalanan?" "Ya, kita secepatnya ke bangsa Tar-tar itu, sute, baru setelah itu kita kembali ke sini dan belum terlambat. Maksudmu?" "Kaudengar sendiri bahwa Sian su akan muncul di bukit Malaikat empat hari lagi. Kalau kita dapat mempercepat perjalanan dan belum dua hari sampai di bangsa Tar-tar itu, maka kita dapat kembali sebelum hari keempat...." "Kalau tak ada halangan di jalan!" Hauw Kam memotong. "Ya, kalau tak ada halangan di jalan, sute. Tapi bukankah kita bertiga dan dapat mengatasi itu kalau ada halangan?"

"Bagaimana menurut pendapat sumoi?" "Aku tertarik untuk mendengar dan melihat Sian-su di bukit Malaikat, suheng, terutama oleh cermin yang disebut-sebut itu. Tapi kalau dua suheng menyuruh kita melanjutkan perjalanan, tentu saja aku menurut. Terserah kalian saja." "Bagaimana suheng?" Hauw Kam kini memandang kakaknya. "Kita terus, sute. Dan usahakan agar belum dua hari kita sampai di tempat Kim-mou-eng. Aku juga tak ingin mengecewakan kalian untuk melihat Sian-su. Marilah secepatnya kita ke bangsa Tar-tar itu dan secepatnya pula kita kembali."

"Baiklah, mari, suheng!" Dan Swat Lian yang berkelebat mendahului dan tampaknya tidak banyak bicara lagi, tiba-tiba sudah terbang meninggalkan dua suhengnya, disambut senyum, dan Gwan Beng serta sutenya saling pandang. Mereka menjejakkan kaki dan melesat pula. Dan ketika dua pemuda itu menyusul dan Swat Lian menambah kecepatannya, maka Gwan Beng tertawa berkata gembira. "Mari, sute. Kita kejar sumoi!" Hauw Kam mengangguk. Dia sudah tancap gas mengejar sumoinya itu, Gwan Beng pun menggerakkan ginkangnya dan berkelebat menghilang.

Bagai siluman-siluman saja, tiga orang ini berkejaran. Tap ketika Swat Lian tetap di depan dan Gwan Beng serta adiknya tak dapat mengejar, maka pemuda ini kagum berseru keras. "Sumoi, kau hebat. Aih, hebat sekali...!" Swat Lian di depan tersenyum gembira. Dia melambai dan menyuruh dua suhengnya mengejar, mereka bertiga tiba-tiba sudah saling beriring dengan Swat Lian tetap di depan. Gwan Beng dapat menyusul sutenya, tapi tak dapat menyusul Swat Lian, Hauw Kam berada di belakang sekitar dua tiga meter saja di belakang suhengnya, Gwan Beng. Sementara Gwan Beng sendiri tertinggal sekitar sepuluh atau dua puluh meter di belakang sumoinya, bukan main.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment