Chapter 28
Ketika Gwan Beng memuji dan takjub akan kemajuan pesat sumoinya, Hauw Kam yang berada di belakang pun berseru penuh kekaguman.
"Wah, hebat sekali sumi kita, suheng. Lima atau enam tahun lagi kita masih bukan tandingannya!"
"Tentu, suhu mendidik siang dan malam, sute, dan sumi juga menggembleng diri tanpa lelah. Mana mungkin tidak maju pesat kalau begitu? Ha-ha, kita sebagai suhengnya tetap setingkat di bawah sumi, sute. Jangan menyesal dan jangan iri!"
"Ha-ha, tidak iri, suheng. Hanya kagum dan takjub. Kalau sumi menghadapi langsung Pendekar Rambut Emas itu, barangkali dia akan bertekuk lutut dan roboh!"
"Sudahlah, kenapa kalian hanya bercakap-cakap saja, suheng? Ayo percepat lari kalian dan tancap gas!"
Swat Lian tertawa, berkelebat, dan kedua suhengnya mengejar. Hauw Kam dan kakaknya mati-matian menyusul gadis itu, tetapi jarak mereka tetap sama. Akhirnya, sedikit demi sedikit, Swat Lian justru semakin meninggalkan mereka. Gwan Beng berseru memperingatkan agar sumoinya tidak terlalu jauh di depan. Kagum dan bersinar, Swat Lian pun menurut. Gadis itu memperlambat larinya, dan akhirnya jarak mereka kembali sama. Kedua pemuda di belakang mandi keringat.
Ketika Swat Lian terkekeh dan mereka berlari cepat tanpa berhenti, pagi-pagi menjelang hari kedua mereka sudah menginjak daerah bangsa Tartar, tempat Kim-mou-eng.
"Hati-hati, kita sudah memasuki daerah musuh!"
Yang lain mengangguk. Swat Lian dan suhengnya memperingan langkah, berkelebat, dan akhirnya tiba di perkampungan bangsa Tartar. Awalnya mereka berdebar karena Kim-mou-eng dan istrinya tentu akan menyambut. Swat Lian sudah memerah mukanya dan berapi-api, teringat Salima. Kebencian dan ketidaksenangannya timbul. Namun, ketika mereka masuk di perkampungan itu dan disambut beberapa orang yang memergoki mereka, Swat Lian dan suhengnya tertegun mendengar Kim-mou-eng tidak ada.
"Kim-taihiap pergi, kami enggan menyambut tamu."
"Hm, kalau begitu suruh istrinya keluar, penjaga. Kami dari Cebung ingin bertemu dan berbicara!" Swat Lian bersikap keras dan kaku.
"Hujin pun tidak ada."
"Bohong!" Swat Lian membentak, sudah mengibas penjaga itu. "Kau dan suku bangsamu tidak dapat dipercaya, tikus busuk. Kalau begitu, kami masuk ke dalam dan mencari sendiri."
Namun, belum saja Swat Lian meloncat dan orang yang dikibas terpelanting sambil menjerit, belasan orang muncul. Salinga pun menegur.
"Siapa ini? Kalian dari mana?"
"Kami dari Cebung," Gwan Beng cepat-cepat maju, maklum watak sumoinya yang berangasan dan keras. "Mohon dipertemukan dengan Kim-mou-eng atau istrinya, sobat. Kami datang dari jauh ingin bertemu dan bercakap soal pribadi."
"Kim-taihiap tidak ada." Jawaban yang sama terdengar. "Dan istrinya pun telah meninggal dunia. Maaf, siapa nama kalian dan ada maksud apa?"
***
Jilid V Koleksi Kolektor Ebook
"Meninggal dunia?" Tiga seruan berbareng terdengar hampir bersamaan. Swat Lian dan dua kakaknya terkejut, serentak berseru.
"Apakah kau tidak berbohong?"
"Hm, aku wakil Kim-taihiap di sini, nona. Tak perlu bohong dan tidak usah bohong. Maaf, kutanya kembali, siapakah nama kalian dan ada perlu apa?"
"Aku Swat Lian. Hu Swat Lian......" Swat Lian tergetar, entah kenapa tiba-tiba ada semacam kegirangan dan rasa puas. "Aku putri Hu Beng-kui, sobat. Dan mereka ini dua suhengku."
"Oh, Hu-taihiap maksudmu?" Salinga tertegun, terkejut juga. "Ah, maaf, nona, kami tidak tahu dan tidak sopan menyambut. Mari, kita ke dalam dan silahkan masuk."
Tapi Swat Lian yang menggeleng dan tersenyum aneh menolak. "Tidak, kami hanya mencari Kim-mou-eng, atau istrinya, sobat. Kalau mereka tidak ada, biarlah kami pergi!"
"Nanti dulu! Tapi Hu-taihiap....."
"Maaf," Gwan Beng memotong. "Kau siapakah, sobat? Dan bagaimana Kim-hujin (nyonya Kim) tiba-tiba meninggal?"
"Hm, aku Salinga, siauw-hiap (pendekar muda). Dan hujin meninggal karena dibunuh. Kami bangsa Tartar berkabung dan Kim-taihiap kini mencari pembunuhnya!"
Gwan Beng tertarik. "Bolehkah kami tahu?"
Salinga mengangguk. Sebagai pembantu dekat Kim-mou-eng, tentu saja ia tahu nama besar Hu-taihiap, si jago pedang Hu Beng-kui. Dan karena tiga tamu ini menyebut sebagai murid-murid jago pedang itu, serta Salinga pernah mendengar hubungan Kim-mou-eng dengan keluarga di Cebung itu, laki-laki ini lalu bercerita. Swat Lian yang tadinya pura-pura acuh tak acuh ternyata menaruh perhatian. Tak ada satu pun yang tahu betapa diam-diam rasa girang dan kelegaan besar mengamuk di hati putri Hu Beng-kui itu, bukan oleh kepergian Kim-mou-eng, melainkan oleh tewasnya Salima. Berarti Kim-mou-eng kini sendiri dan hidup sebagai duda! Ah, tergetar hati gadis itu. Dan karena api asmara di hati gadis ini belum padam, serta sesungguhnya diam-diam ia kecewa melihat Tiat-ciang Sian-li Salima menjadi istri Pendekar Rambut Emas, maka di antara cerita dan kisah sedih yang dipaparkan Salinga, gadis ini hampir tidak peduli oleh kematian Salima sendiri. Lebih menaruh perhatian pada kepergian Kim-mou-eng yang mencari pembunuh istrinya. Bagian ini didengarkan dan Swat Lian pasang telinga baik-baik. Tak aneh. Putri Hu Beng-kui itu memang selama ini mengalami patah hati besar, nyaris tenggelam dalam kesedihan kalau ayahnya tak sering menghibur. Ikatan cinta antara Kim-mou-eng dengan istrinya membuat gadis ini terpukul, pedih.
Dan ketika bagian demi bagian didengarkan Swat Lian, dan hanya bagian Kim-mou-eng saja yang diperhatikan baik-baik, akhirnya gadis ini bertanya ketika Salinga selesai bercerita.
"Lalu kemana dia? Kemana mencari nenek siluman itu?"
"Kami tidak tahu, nona. Kim-taihiap juga tidak bercerita. Hanya mungkin ke pedalaman atau mungkin menemui gurunya, Bu-beng Sian-su."
"Hm!" Swat Lian tercekat. "Bu-beng Siansu?" Ia memandang suhengnya, teringat pembicaraan hangat tentang Bukit Malaikat. "Apakah kita harus kembali?" Omongan ini lebih ditujukan pada suhengnya.
Gwan Beng dan adiknya mengangguk. Dan ketika Salinga tidak mengerti dan mengerutkan kening, pemuda yang menjadi murid utama Hu-taihiap itu berkata, "Baiklah, kalau begitu kami kembali, Salinga. Sampaikan saja pernyataan bela sungkawa kami atas kematian Kim-hujin. Permisi."
"Eh!" Salinga menahan. "Kalian sebenarnya ada keperluan apa? Bolehkah kami tahu?"
"Tidak usah, Salinga. Tapi sampaikan saja pada Kim-mou-eng bahwa kami datang hanya untuk melaksanakan janji guru kami. Hutang di Cebung ingin dibayar!" Lalu berkelebat dan memutar tubuhnya, tiba-tiba pemuda ini lenyap meninggalkan lawan, disusul Hauw Kam dan sumoinya yang bersinar-sinar. Swat Lian mendadak menjadi gembira dan aneh.
Dan ketika tiga muda-mudi itu lenyap di luar sana, akhirnya Salinga tertegun dan bingung, tidak tahu apa yang dimaksud "hutang" itu. Tak paham karena ia tidak mengerti, tidak tahu bahwa sebenarnya yang dimaksud adalah kekalahan yang ingin dibayar Hu-taihiap lewat murid-muridnya ini. Dulu, dua tahun yang lalu, jago pedang itu kalah oleh Kim-mou-eng. Tapi karena kekalahannya dianggap tidak memuaskan dan jago pedang ini dalam keadaan buntung, maka selama itu Hu Beng-kui penasaran dan menaruh rasa geram. Semuanya ini sudah diceritakan dalam kisah "Pedang Tiga Dimensi".
Sekarang, ke mana Swat Lian dan suhengnya pergi? Tentu saja kembali. Mereka langsung ke kota di mana mereka bertempur melayani Pek-tung Lo-kai dan kawan-kawannya itu, menuju Bukit Malaikat. Dan karena munculnya Sian-su mendebarkan mereka, serta kehadiran kakek dewa itu selalu menarik perhatian orang banyak, maka ke situlah mereka terbang dan berlari cepat, mengejar waktu agar tidak ketinggalan.
Swat Lian mengajak suhengnya untuk lebih cepat lagi. Mereka beriringan hampir sepanjang jalan. Tak ada yang tahu betapa diam-diam gadis ini ingin bertemu Kim-mou-eng di sana, siapa tahu Pendekar Rambut Emas itu akan muncul bersama gurunya. Dan ketika mereka mengerahkan segenap kepandaian dan terbang bagai iblis-iblis kesiangan, tiga muda-mudi ini lenyap dan muncul lagi di hutan-hutan yang mereka lalui. Begitu terus-menerus dan akhirnya menjelang hari keempat mereka tiba juga di kota yang mereka singgahi dulu, kelelahan, dan malam itu mereka langsung beristirahat. Betapapun perjalanan pulang-balik yang mereka lakukan memang berat, jauh, dan melelahkan. Dan begitu ketiganya menunggu hari esok untuk melihat apa yang terjadi, maka malam itu mereka tertidur pulas dan benar-benar mengembalikan tenaga untuk memulihkan yang sudah kecapaian.
***
Apa yang terjadi? Di mana letak Bukit Malaikat? Kalau orang memandang jauh ke depan, maka di antara sebuah lembah yang dialiri sebuah sungai tampaklah sebuah bukit yang tidak begitu tinggi. Di sebelah utara kota Ci-nong. Kota inilah yang mengawali kegegeran antara Swat Lian dan Pek-tung Lo-kai serta kawan-kawannya itu. Hari itu kota ini penuh, ratusan orang hilir-mudik di dalamnya. Semua memandang ke Bukit Malaikat itu, bukit yang tampak lebih kecil lagi bila dipandang dari situ, bukit biasa yang ditumbuhi pohon-pohon pek yang besar serta semak-semak lebat yang mencuat di sana-sini. Dari kejauhan, bukit ini biasa-biasa saja. Tapi kalau orang mau mendekat dan mengunjungi bukit itu, maka orang akan tertegun karena bukit ini terhalang jurang. Itulah Jurang Malaikat, satu dari sekian tempat tinggal yang dihuni Sian-su, kakek dewa mahasakti yang kepandalannya sukar diukur. Dan karena bukit ini terletak di depan Jurang Malaikat yang terkenal itu, maka orang pun lalu menamakan bukit itu sebagai Bukit Malaikat.
Sebenarnya, Bu-beng Sian-su sendiri tidak tinggal di bukit itu. Kakek dewa ini tidak memiliki tempat tinggal tetap; di mana dia berada, di situlah dia tinggal. Tapi karena tidak ada seorang pun yang dapat mengikuti jejak kakek dewa itu, dan juga sukar menemui kakek ini, maka adalah sebuah kehormatan sekaligus keuntungan kalau manusia dewa itu dapat dijumpai. Ini sudah dimengerti orang.