Chapter 29
Maka, begitu terdengar kabar bahwa kakek dewa ini akan muncul di Bukit Malaikat dan menghadiahkan sepasang benda aneh yang disebut-sebut sebagai cermin ajaib, berduyun-duyunlah orang-orang kangouw berdatangan untuk menyaksikan sekaligus mendapatkan hadiah itu.
Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang melepas kabar berita ini?
Tak ada yang tahu secara pasti.
Namun, ada berita santer bahwa Bu Beng Sian Su bertemu empat tokoh luar biasa dari timur dan barat.
Tokoh-tokoh yang diibaratkan dewa dan konon hampir setingkat dengan kakek mahasakti itu sendiri, konon adalah paman-paman atau bibi seperguruan dari empat di antara Tujuh Iblis Dunia, yakni Siauwbin Kwi dan kawan-kawannya yang tewas itu.
Dan ketika berita itu berkembang dari mulut ke mulut dan menjadi ramai serta santer, kisah yang sudah dibumbui serta ditambah-tambahi ini menjadi buah bibir bagai dongeng di antara orang-orang kangouw itu. Apa yang terjadi?
Bagaimana sebenarnya?
Marilah kita tengok kejadian di antara orang-orang luar biasa itu.
Di barat, jauh tersembunyi di puncak Pegunungan Himalaya, terdapat wilayah sangar yang ditakuti orang.
Wilayah ini terletak di Puncak Siluman, sebuah puncak di antara sederetan puncak lainnya yang banyak terdapat di Himalaya, puncak tertinggi dipandang dari arah utara.
Dan karena puncak ini tak pernah didatangi orang karena terkenal angker dan penuh suara-suara siluman, tak ada seorang penduduk pun yang ada di daerah Pegunungan Himalaya berani mendekat.
Sudah bertahun-tahun ini, bahkan puluhan tahun, di Puncak Siluman terdengar suara-suara aneh mirip hantu atau iblis menangis.
Orang kadang-kadang melihat adanya sinar merah atau kuning berkelebatan di Puncak Siluman itu.
Kadang-kadang warnanya demikian terang, begitu terang hingga menyilaukan mata dalam jarak ratusan kilometer.
Tapi kadang-kadang begitu redup hingga nyaris merupakan dian atau pelita yang mau padam, berkedip-kedip dan akhirnya hilang setelah dua atau tiga jam.
Dan karena semuanya itu selalu diiringi dengan suara mirip tangis atau jerit iblis, maka puncak itu dinamakan Puncak Siluman.
Memang, siapa berani mendatangi puncak ini?
Tempatnya yang tinggi dan terjal saja sudah cukup membuat orang merinding, belum hawanya yang begitu dingin menggigit tulang. Pernah ada seorang laki-laki nekat, mencoba mendekat dan suatu hari ingin mengetahui apakah sebenarnya sinar-sinar yang berkelebatan itu, juga suara-suara yang mendirikan bulu kuduk.
Tapi ketika laki-laki itu akhirnya tinggal mayat tanpa kepala yang kaku kedinginan di bawah Puncak Siluman, tak ada yang berani mendekat dan coba-coba.
Sampai akhirnya, karena suara-suara dan sinar yang berkelebatan itu tak dapat didekati dan kadang-kadang juga terdengar semacam raungan yang mendirikan bulu kuduk di Puncak Siluman, penduduk akhirnya menganggap tempat itu sebagai wilayah sangar yang harus dijauhi.
Tak ada seorang pun berani mendekat.
Puncak Siluman adalah puncak mengerikan yang pantang didekati.
Dan ketika puluhan tahun semuanya itu berjalan seperti biasa dan orang tak tahu apa yang sebenarnya ada di puncak itu, Puncak Siluman tetap merupakan misteri dan rahasia besar bagi penduduk.
Sebenarnya, apakah yang ada di sana?
Benarkah tempat itu merupakan sarang iblis atau siluman?
Memang benar, tapi juga tidak.
Di sana tinggal seorang tokoh luar biasa yang sudah tidak lagi berkeliaran.
Tokoh ini amat sakti, usianya mendekati dua ratus tahun, jadi kira-kira seangkatan dengan Bi Kim dan Bi Lin, sepasang Dewi Naga yang membunuh Salima.
Dan karena tokoh ini merupakan generasi tua yang mungkin sudah "kedaluwarsa", maka orang tak ingat lagi siapa dia.
Namun, bagi orang-orang seangkatan Dewi Naga atau yang lain, yang sayangnya sudah meninggal semua, tokoh ini adalah tokoh yang mengerikan.
Dulu, hampir dua ratus tahun yang lalu, orang mengenal Camkong Ho Hong Siu, si Pembunuh Petir.
Orang ini tokoh luar biasa, kepandaiannya tinggi, tapi wataknya kejam bukan main. Ia mempunyai murid, tapi muridnya itu dibunuh.
Dia membunuh murid sendiri hanya karena persoalan sepele; si murid menikah, tapi Camkong atau sang Pembunuh Petir ini melarang.
Baginya, pantang pewaris ilmunya menikah, tak boleh punya keturunan, dan biar mereka meneruskan kepandaian dengan mengambil orang lain saja, tak perlu keturunan sendiri.
Dan karena murid ini tak dapat menerima dan akhirnya diam-diam menikah, namun diketahui sang guru, maka Camkong Ho Hong Siu membunuh muridnya itu dan habislah keturunan pewaris tokoh yang luar biasa ini. Memang aneh.
Tokoh Pembunuh Petir ini memang jalan pikirannya tidak sama dengan orang-orang lain.
Baginya, menikah adalah perbuatan yang harus dijauhi, entah kenapa dia bisa begitu.
Dan ketika dulu muridnya membantah dan mencoba mendebat ini, maka dengan acuh dan dingin dia menjawab.
"Untuk apa menikah?
Bukankah tanpa pernikahan laki-laki juga dapat menikmati wanita?
Di dunia ini banyak perempuan cantik, muridku.
Kalau sekadar ingin melampiaskan birahi dan bercinta, ambil saja mereka itu dan buang setelah selesai!" "Tapi teecu (aku, murid) ingin menikmati sebuah keluarga.
Bukan sekadar melepas birahi atau nafsu syahwat!" "Hm, kau membantah?
Ingin melawan?
Bagiku, apa yang sudah kuputuskan tak boleh kau langgar, murid kurang ajar.
Atau kau menerima akibat, dan pasti kubunuh!" Sang murid, yang mengkeret tapi tak percaya ancaman gurunya, menganggap suara gurunya itu gertak sambal saja.
Dia murid satu-satunya, tunggal, pewaris, dan kelak akan menggantikan gurunya kalau gurunya meninggal.
Masa akan dibunuh dan dihabisi nyawanya?
Dan karena menganggap gurunya tak mungkin membunuhnya kalau dia membangun keluarga, maka murid ini coba-coba menyerempet bahaya dan nekat, namun secara diam-diam dia menikah.
Tapi apa lacur, sang guru tahu dan Camkong Ho Hong Siu murka.
Tokoh ini benar-benar membunuh muridnya, dua tahun setelah menikah.
Kebetulan sekali muridnya itu telah berputra, seorang anak laki-laki.
Dan ketika murid itu ditangkap dan baru untuk pertama kalinya mempercayai ancaman sang guru, maka di depan matanya gurunya itu membunuh anak istrinya sebelum dia sendiri dibunuh! Begitulah, kekejaman Camkong Ho Hong Siu ini memang luar biasa.
Orang menjadi heran, tapi juga muak oleh sepak terjangnya.
Tapi karena yang dibunuh adalah muridnya sendiri dan itu urusan pribadi, maka orang tak bersuara dan membiarkan semuanya itu terjadi.
Hanya, ada pertanyaan menyelinap di hati.
Kenapa Camkong Ho Hong Siu itu benci pada sebuah pernikahan?
Kenapa dia membunuh murid sendiri hanya karena sang murid jatuh cinta dan membangun rumah tangga?
Ini tak diketahui orang.
Camkong Ho Hong Siu mempunyai sebuah cacat, dan cacat inilah yang memengaruhi jiwanya hingga dia begitu bengis pada murid sendiri.
Dan karena cacat ini merupakan rahasia pribadi dan tak ada orang tahu tentang itu, maka tindak-tanduk dan sepak terjang yang aneh dari si Pembunuh Petir ini menjadikan orang bertanya-tanya.
Apa cacat tokoh ini?
Bukan lain adalah karena kelumpuhannya sebagai lelaki, Camkong Ho Hong Siu ini tidak perkasa sebagai lelaki, dia tak perkasa dalam urusan birahi.
Alias penderita impoten.
Dan karena itu merupakan pukulan jiwa dan Pembunuh Petir ini benci terhadap keadaannya sendiri, maka dia akan selalu marah dan benci pula kalau melihat sepasang laki-laki dan perempuan membangun rumah tangga, apalagi muridnya sendiri.
Maka, begitu sang murid melanggar dan ini merupakan pantangan besar baginya, tak ayal tokoh itu membunuh muridnya sendiri dan sekaligus anak istrinya!
Kini, kembali pada Puncak Siluman, maka tokoh yang luar biasa ini ada di situ.
Sudah seratus tahun lebih dia menetap di sana, tinggal dan melewatkan masa tuanya.
Memang ganjil, orang yang mengharap-harap umur panjang tak mendapatkan itu, sementara Camkong Ho Hong Siu sendiri mengumpat-umpat setiap hari karena tak mati-mati.
"Keparat, kau ke mana, Giam Lo Ong (Raja Akherat)?
Kenapa tidak datang dan menjemput nyawaku?
Ayo, datang kemari, Giam Lo.
Ambil dan cabut nyawaku si tua bangka ini!" Begitu orang akan mendengar kalau kebetulan dia dekat Camkong Ho Hong Siu ini.
Setiap hari pekerjaannya mengumpat si Raja Akherat, tapi karena Giam Lo Ong sendiri agaknya enggan dan tidak menghampiri, maka umur panjang yang diterima Camkong Ho Hong Siu ini disambut makian dan sumpah serapah.
Anehkah itu?
Agaknya tidak.
Dalam kondisi seperti itu, di mana segala-galanya terasa tawar, maka Ho Hong Siu memang memilih mati ketimbang hidup.
Bayangkan, siapa mau dekat dengannya?
Waktu muda pun tak ada kesenangan yang diperoleh, apalagi di waktu tua.
Maka daripada hidup lebih lama, memang sebaiknya dia mati dan bebas.
Begitu pendapatnya.
Dan hari itu, ketika malam melingkup tiba dan Puncak Siluman kembali dipenuhi sinar merah dan kuning yang berkelebatan menari-nari, mendadak tokoh ini kedatangan tamu, tepat tengah malam.
Saat itu, ia sedang melatih Camkong ciangnya (Tangan Pembunuh Petir), sinar merah dan kuning yang berkelebatan itu keluar dari sepasang lengannya, menyambar dan berseliweran di puncak.
Tapi ketika ia sedang asyik dan tenggelam melatih ilmunya ini, mendadak terdengar kekeh dan tawa lembut.
"Hi-hik, kau kiranya, Camkong?
Kau masih hidup?
Heh-heh, hebat Pembunuh Petir, tapi aku datang ingin mencoba... Blar!" Dan Puncak Siluman yang tiba-tiba berguncang dan meledak serta bergemuruh mendadak seakan dilanda gempa ketika sesosok tubuh muncul, menerima dan menangkap sinar merah dan kuning itu.
Camkong Ho Hong Siu terkejut.
Tak disangka-sangka, orang asing sekonyong-konyong datang ke tempatnya, padahal selama ini belum pernah ada yang menyatroni.
Tapi begitu sadar dan menggeram marah, tiba-tiba Pembunuh Petir ini membentak mendorongkan kedua lengannya, melihat seseorang bersembunyi di balik tabir asap hitam.
"Pengacau busuk, mampuslah!" Cahaya atau sinar merah dan kuning kembali berkelebat.
Kali ini, hawa panas ikut menghembus pula, salju yang ada di puncak tiba-tiba mencair dan meleleh.