Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 30

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 30

Tapi ketika bayangan di balik asap hitam itu terkekeh dan menggerakkan kedua lengannya pula, tiba-tiba dentuman bagai gunung dihantam roket menggetarkan tempat itu.

"Blangg!" Si Pembunuh Petir tersentak.

Dia terdorong setengah langkah.

Matanya membeliak dan seruan aneh keluar dari mulutnya.

Bayang-bayang di balik tabir juga terhuyung, ada tawa kaget di situ.

Tapi karena Cam-kong Ho Hong Siu penasaran, marah, serta gusar, tiba-tiba tokoh ini sudah mencelat dan menghantam lagi. Serangannya ditangkis, dan kali ini semburan api menyambar dari depan.

Pembunuh Petir terpekik.

Dan ketika dia menghantam lagi, namun lawan di depan berjungkir balik tinggi dan menangkis serta menghantam pula, maka Puncak Siluman bagai gunung runtuh ketika digetarkan dentuman dahsyat di mana batu besar dan kecil berguguran dan ambrol ke bawah.

"Blarrr...!" Sinar warna-warni mencuat ke atas.

Lidah api dan sinar merah-kuning berkelebat sekejap, Puncak Siluman benar-benar terang dalam waktu beberapa detik.

Tapi ketika semua cahaya dan lidah api itu lenyap, maka keadaan gelap kembali menyelubungi tempat itu. Namun, mata awas Cam-kong Ho Hong Siu melihat adanya seorang nenek yang bergoyang-goyang di depannya, sekitar sepuluh tombak.

"Dewi Api Naga Bumi...!" Suara terkekeh menyambut seruan Cam-kong Ho Hong Siu itu.

Pembunuh Petir ini tertegun, ia mengenal siapa lawannya sekarang, dan nenek di depan tertawa.

Tubuh yang bergoyang-goyang itu sudah berhenti.

Dan ketika Ho Hong Siu bingung, dan nenek ini mengibaskan rambut, sekonyong-konyong ia mencelat dan sudah berada di depan Pembunuh Petir.

"Hih-heh, kau masih mengenal aku, Hong Siu?

Kau tidak lupa?

Heh-heh, bagus, Pembunuh Petir.

Kiranya ingatanmu masih tajam dan kuat!" Hong Siu, Pembunuh Petir ini, terkesima.

Seorang nenek riap-riapan berdiri di depannya, pinggangnya masih ramping dan indah.

Hanya kulit tubuh dan muka yang berkeriput itu menunjukkan ketuaannya.

Tapi Hong Siu yang sadar dan mundur tiba-tiba mengeluarkan seruan heran dan memukul pipinya tiga kali.

"Heh, kau ini, Pek Kiok?

Kau belum mampus?

Kau masih hidup?

Ha-ha, sungguh luar biasa.

Pek Kiok.

Kiranya kau datang dan belum dicabut Giam Lo Ong...

hichh!" Cam-kong Ho Hong Siu yang tiba-tiba meringkik dan tertawa seperti kuda mendadak mencelat dan menubruk lawannya itu, menghantam namun lawan menangkap.

Si nenek menggerakkan dua tangannya mencengkeram, rambutnya dikelebatkan dan meledak menyambar pelipis Hong Siu.

Dan ketika tubrukan itu diterima dan Hong Siu disambar rambut, maka benturan dan ledakan kembali terjadi.

"Plak-plak!" Dua orang laki-perempuan ini bersatu. Pembunuh Petir telah memeluk lawannya, tentu saja bukan sembarang pelukan karena seluruh buku-buku di tangan Pembunuh Petir itu berkeretak.

Suaranya bagai jagung dibakar.

Tapi ketika Dewi Api Naga Bumi menyambut dan mencengkeram pula pundak lawannya, maka kedua orang itu bersitegang, dan untuk sejenak saling meremas dan ingin menghancurkan.

"Krek-krek!" Tulang dan buku-buku jari seakan hancur.

Masing-masing meremas dan menggencet.

Tapi ketika masing-masing merasa perlawanan yang kuat dan daging atau tubuh yang dicengkeram mengeluarkan tenaga dahsyat menolak serangan, akhirnya Ho Hong Siu tertawa panjang melepaskan gencetannya, lalu menendang.

"Pek Kiok, kau hebat...! Dess!" Namun, Hong Siu yang terhuyung dan lawan yang juga terdorong akhirnya menyadari kenyataan bahwa mereka berimbang!

"Heh-heh, kau ingin membunuh aku, Hong Siu?" "Hm!" Hong Siu, si Pembunuh Petir, kagum.

"Kau hebat, Pek Kiok.

Tapi katakan sekarang apa maksudmu datang ke mari!" "Aku ingin mengajakmu melemaskan otot..." "Mau bertanding?" Hong Siu memotong, matanya pun berkilat.

"Boleh, Dewi Api.

Tapi jangan harap dapat mengalahkan aku!" "Hih-hik," Sang nenek terkekeh, masih merdu.

"Kau salah, Hong Siu.

Bukan berlawan melainkan berkawan.

Aku mau memberi tahu bahwa murid keponakanmu, Siauw-bin-kwi, mampus!" "Apa pedulinya?" Tokoh ini mendengus.

"Aku tak peduli dia mampus atau tidak, Pek Kiok.

Semua orang pasti mampus dimakan usia!" "Tapi ini bukan mati tua, melainkan dibunuh!" "Hm, aku tak peduli, Pek Kiok.

Aku bosan menghadapi dunia dan ingin tenang di sini." "Bodoh!

Kau seperti kerbau, Hong Siu.

Tak mau dengar dan buru-buru memotong pembicaraan dulu. Dengarlah, bukankah kau bosan hidup dan ingin mati?

Bukankah setiap hari kau mencaci Giam Lo Ong agar mengambil nyawamu?" Tokoh ini bersinar-sinar.

"Memangnya kenapa?" "Heh-heh, inilah kesempatan baik, Hong Siu.

Kau harus turun gunung dan mati di tangan seseorang!" Pembunuh Petir itu tertawa mengejek.

"Dewi Api, di dunia ini tak ada orang yang sanggup membunuh aku, biar kau sekalipun.

Kentut busuk apa yang kau keluarkan ini?" "Nanti dulu, jangan sombong.

Cam-kong.

Kalau kusebut sebuah nama, beranikah kau bertaruh?" "Siapa?" "Taruhan dulu, beranikah kau?" "Hm...!" Pembunuh Petir ini tertegun juga.

"Kau tampaknya serius, Pek Kiok.

Tapi coba sebutkan taruhan apa yang kau minta." "Serahkan Cam-kong-ciangmu kalau kalah!" "Baik!" Dan Cam-kong Ho Hong Siu yang langsung mengiyakan dan mengangguk tiba-tiba bertanya.

"Nah, sebutkan siapa orang itu dan biar kudengar siapa dia!" "Hih-hik, Bu Beng Sian Su, Cam-kong, manusia inilah yang dapat membunuhmu dan tak mungkin kau menang!" "Ah.

Bu Beng Sian Su?" Cam-kong mencelat mundur.

"Ya, bukankah dia yang paling kau takuti?

Nah, serahkan Pembunuh Petirmu, Hong Siu.

Atau kau kuhajar!" Cam-kong tertawa bergelak.

Setelah kaget dan bingung sejenak, tiba-tiba ia tertawa. Mula-mula biasa namun semakin lama semakin tinggi.

Suaranya melengking dan tajam menusuk telinga.

Disebutnya nama Bu Beng Sian Su membuat tokoh ini tersentak.

Memang, itulah yang paling ditakuti.

Teringat dia akan kekalahannya yang berkali-kali dengan manusia dewa ini, yang anehnya tak pernah membunuhnya.

Dan ketika lawan menagih janji dan Dewi Api itu bersiap menerima ilmunya, mendadak tokoh ini mencelat dan menghantamkan kedua lengannya ke depan. Suara tawanya berubah menjadi jerit yang mendirikan bulu kuduk, menggetarkan puncak sampai jauh di kaki gunung.

"Pek Kiok, terimalah!" Bentakan itu disusul berkelebatnya sinar merah dan kuning. Pembunuh Petir melancarkan serangannya.

Tetapi bentakan dan pukulan kedua tangannya yang jelas menyambar dahsyat dan merupakan pukulan maut tiba-tiba dikelit dan disambut pekikan Dewi Api.

"Heh, menerima serangan?

Kau mau membunuh aku, Hong Siu?

Keparat, kau pembohong... siut-dar!" Dan si nenek yang membalas dan mengelebatkan rambutnya menghantam pinggang lawan tiba-tiba melejit dan sudah menyerang si Pembunuh Petir, merasa ditipu karena Hong Siu tidak memberikan ilmunya.

Apa yang dilakukan tokoh itu adalah justru menyerang dan menghantam; itu adalah pemberian yang kurang ajar.

Dan karena nenek ini tahu apa arti "pemberian" itu, dan jelas harus mengelak dan memaki, maka Puncak Siluman digetarkan dentuman dahsyat ketika masing-masing saling menangkis, menyerang, dan menangkis lagi, dan akhirnya keduanya pun bertanding.

Malam itu Puncak Siluman seakan dijatuhi peluru meriam, ledakan dan gelegaran silih berganti mengguncang tempat itu.

Hong Siu si Pembunuh Petir sudah mengerahkan Cam-kong-ciangnya yang hebat dan bertubi-tubi, namun si nenek Dewi Api dapat melayani dengan baik.

Nenek itu menggerakkan kedua tangannya pula, dan pukulan atau sambaran angin dahsyat menahan pukulan Cam-kong, bahkan mendorong dan membuat Cam-kong berkali-kali berseru kaget. Dan ketika kedua orang itu bertempur dahsyat dan malam pun berganti pagi, maka pohon dan batu-batu di sekitar sudah berhamburan dan terbang dihantam pukulan kedua tokoh ini.

Lalu, karena pertempuran dilanjutkan dan masing-masing pihak juga sama-sama penasaran, maka Puncak Siluman menjadi gemuruh.

Orang di kaki gunung melihat berkelebatnya sinar merah-kuning disusul ledakan-ledakan. Suaranya menggetarkan jantung dan beberapa kilatan api juga terlihat. Pendeknya, puncak itu benar-benar seakan diserbu iblis.

Gegap-gempita dan gemuruh.

Dua hari dua malam penduduk di bawah gunung dibuat ternganga, mereka ketakutan, dan akhirnya melarikan diri.

Gunung Himalaya dianggap mau meletus.

Tapi ketika pada hari ketiga suara-suara itu berkurang dan kepundan atau Puncak Himalaya tetap biasa-biasa saja, maka orang pun berdegupan namun belum mau kembali ke tempat tinggal masing-masing, tak lagi mendengar suara itu. Akhirnya, pada hari keempat pun suara-suara itu lenyap. Puncak Siluman menjadi sunyi dan sepi seperti biasa.

Dan ketika malam kembali tiba dan penduduk berdebar-debar, maka di atas sana terdengar erangan dan umpatan.

Apa yang terjadi?

Berakhirnya pertandingan dan tokoh luar biasa itu.

Ho Hong Siu tak dapat mengalahkan lawannya, sementara nenek Dewi Api juga tergolek kelelahan.

Tiga hari tiga malam bertanding melawan Si Pembunuh Petir itu menghasilkan pertandingan seri, mereka seri.

Tak ada kalah atau menang.

Dan ketika Ho Hong Siu juga tertatih-tatih di sana dan terhuyung serta jatuh terduduk lagi, maka kedua orang ini saling memaki dan saling mengumpat.

"Pek Kiok, kau masih hebat.

Jahanam, terkutuk kau!" "Hih-hik, kau pun tua bangka sialan, Hong Siu.

Cam-kong-ciangmu ampuh tapi tak dapat membunuh aku." "Hm, Tee-sin-kangmu (Pukulan Bumi) luar biasa.

Kalau tidak karena itu kau tentu mampus."

"Mau dilanjutkan kembali?

Ayo, aku siap, Hong Siu.

Biar kita mati salah satu atau bersama!" "Mana mungkin?" Hong Siu mendengus.

"Berdiri pun kau tak bisa, Pek Kiok.

Jangan takabur dan sombong!" "Hih-hik.

dan kau pun tak bisa berdiri pula.

Lihat, duduk saja roboh!" Kedua orang itu saling memaki.

Mereka mengejek dan merendahkan yang lain.

Tetapi karena masing-masing tak dapat bangun dan sehari itu mereka harus bersila memulihkan tenaga, maka baru pada hari ketujuh, tepat seminggu setelah pertandingan, mereka baru bisa sama-sama bangun!

"Nah, aku lebih kuat!" Hong Siu berdiri tegak, mengejek lawannya.

Tapi baru dia bicara begitu, tiba-tiba di sana pun lawannya sudah mencelat bangun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment