Chapter 31
"Tidak, aku lebih dulu, Hong Siu. Lihat, aku lebih segar dan sehat!" Namun, ketika keduanya saling melotot dan tak mau kalah, tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang berkesiur bagai siluman. Tahu-tahu ia telah berdiri di situ.
"Heh, kalian, Hong Siu? Dan kau, Dewi Api?"
Kedua orang ini terkejut. Di tengah mereka telah berdiri seorang kakek berambut gimbal, tubuhnya cebol dan pendek. Kepalanya besar dan bulat, begitu bulat hingga biji matanya tertutup pipi yang tembem, hampir tidak kelihatan. Namun begitu mereka menoleh dan terkejut, tiba-tiba Hong Siu si Pembunuh Petir berseru, "Hek-bong Siauw-jin (Manusia Busuk Dari Kubur)!"
"Heh-heh, kau mengenal aku, Cam-kong! Bagus, kita semua ternyata masih hidup!" Dan kakek gimbal yang mendadak menyelinap dan bergerak maju itu tiba-tiba sudah berada di dekat Hong Siu dan menarik anggota rahasia si Pembunuh Petir itu.
"Kurang ajar... plak!"
Hong Siu membentak dan mengayunkan kakinya untuk menendang, membuat kakek gimbal itu mencelat dan terguling-guling. Sang kakek terkekeh lalu melompat bangun, sementara wajah Hong Siu merah padam. Sebagian celananya sobek, persis di bagian bawah, tetapi untunglah miliknya yang paling berharga tidak sampai dicomot oleh si Manusia Busuk Dari Kubur itu.
Hek-bong Siauw-jin terbahak-bahak. Namun, ketika Hong Siu menggeram dan hendak menyerangnya, tiba-tiba kakek cebol ini mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berseru, "Hei, jangan marah. Tunggu, Cam-kong! Aku hanya main-main saja!"
Sambil berpura-pura mengibaskan tangannya, manusia aneh itu menyambung, "Aku datang untuk berkawan, bukan bermusuhan. Sebaiknya kuberi tahu bahwa Siauw Bin Kwi, murid keponakanmu itu, mampus!"
"Hm, aku sudah tahu." Hong Siu melotot. "Kau tidak usah memberi tahu, iblis cebol. Tapi apa maksudmu datang ke mari? Mau bertanding dan mencari mati?"
"Ha-ha, tidak perlu sombong, Cam-kong. Kau tahu bahwa tidak mungkin kau dapat membunuhku, seperti halnya aku tidak dapat membunuhmu. Jauh-jauh dari timur aku datang, bukan untuk mencari permusuhan, melainkan semata karena mendengar kau mendekam di sini. Aku ingin membuktikan, dan ternyata benar kau masih hidup. Heh, bagaimana si nenek siluman ini juga ada di sini? Kau masih segar, Dewi Api?"
"Cih!" Si Dewi Api, nenek yang baru bertempur itu, meludah. "Kau tidak perlu bertanya kalau sudah melihat sendiri, Siauw-jin. Matamu tidak buta, jadi tidak perlu kujawab!"
"Heh-heh, Dewi Api masih angkuh! Tapi tidak apa-apa, tujuanku datang mungkin sama dengan maksudmu, nenek siluman. Kalau kalian berdua sudah berada di sini dan agaknya bertempur pula, tentu tidak perlu kuberi tahu bahwa murid keponakanmu, Tok-gan Sin-ni, sudah mampus menyusul Siauw Bin Kwi. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau diam saja dan tidak ingin membalas?"
"Hm, Cam-kong sudah kuberi tahu tentang kematian murid keponakannya. Dan kini rupanya kau pun tahu tentang kematian murid keponakanku. Baiklah, kau tentu tahu pula tentang mampusnya dua murid keponakanmu, Hek-bong Siang-lo-mo, bukan? Atau kau pura-pura tutup mata tentang hal ini?"
"Ya, aku tahu. Tapi, heh-heh... apakah kau tahu siapa pembunuhnya?"
"Kim-mou-eng!"
"Benar. Tapi bocah itu tidak perlu digubris, Dewi Api. Yang lebih penting lagi adalah..."
"Bu-beng Sian-su!" potong Hong Siu sambil memekik tinggi. "Apakah kau tahu di mana musuh nomor satu kita itu, Siauw-jin? Di mana dia?"
"Hmm...!" Dewi Api menyela sambil mengibaskan rambutnya. "Agaknya manusia cebol ini datang untuk mencari bantuan, Hong Siu. Coba tanya apa maksudnya ke mari kalau bukan untuk itu!"
"Benar," mata si Pembunuh Petir bersinar-sinar. "Sebutkan dulu apa maksudmu ke mari, setan cebol. Atau kau akan kuusir dari sini!"
"Heh-heh, tidak perlu galak-galak, Cam-kong. Memang jujur saja kuberitahukan, maksudku datang adalah untuk mengajakmu membekuk manusia menyebalkan, Bu-beng Sian-su itu. Kematian murid keponakanku adalah tanggung jawabnya pula. Kim-mou-eng kita tangkap dan kita cari si Bu-beng Sian-su itu!"
"Kau cari sendiri!" Hong Siu mendengus. "Aku tidak mau membantumu, Siauw-jin. Kau selalu banyak akal dan curang kepada kawan!"
"Eh-eh, jangan begitu. Beranikah kau menghadapi Bu-beng Sian-su sendirian? Tidakkah kau ingat kekalahanmu dulu?"
"Hm, kau tidak perlu mengungkit-ungkit kekalahanku, Siauw-jin. Kau pun tidak dapat menandinginya dan jatuh roboh!"
"Sudahlah," Dewi Api memotong. "Kita semua tidak perlu menyombongkan diri, Cam-kong. Kita semua setingkat dan masing-masing tidak pernah menang menghadapi kakek dewa itu. Aku datang memang untuk mengajakmu menghadapi Bu-beng Sian-su. Kalau Siauw-jin datang dan iblis busuk ini mengetahui kematian muridnya pula, maka kebetulan kita dapat bergabung mencari musuh kita itu. Jangan bertengkar dan berolok-olok. Kita hadapi Bu-beng Sian-su dan satukan kekuatan untuk merobohkannya!"
"Ha-ha, setuju!" Hek-bong Siauw-jin bersorak. "Aku memang ingin menyatukan kekuatan, Dewi Api. Kalau kita dapat bergabung menghadapi kakek dewa itu, maka kita dapat menebus kekalahan sekaligus sakit hati!"
"Ya, aku juga penasaran selama ini. Tapi sebelum semuanya mengeroyok, biar satu per satu kita coba dulu menghadapi kakek dewa itu."
"Benar, Cam-kong-ciangku jauh lebih dahsyat dibanding puluhan tahun yang lalu, Pek Kiok. Ingin kujajal dan kubuktikan dulu kepandaianku sekarang!" Cam-kong, si Pembunuh Petir, berseru.
Dewi Api mengangguk. Si Manusia Busuk Dari Kubur juga tertawa. Mereka bertiga tiba-tiba merasa gatal tangan untuk mencoba kemampuan Bu-beng Sian-su seorang demi seorang sebelum melakukan pengeroyokan. Namun, ketika masing-masing sedang menyombongkan kesaktiannya dan bersiap turun gunung, tiba-tiba terdengar jeritan dan teriakan mengerikan dari bawah.
"Keparat, siapa itu?"
"Mari lihat, ayo adu cepat, Cam-kong...!" Hek-bong Siauw-jin melesat dan lenyap mendahului yang lain, mengajak dua temannya berlomba.
Dewi Api dan Pembunuh Petir mengangguk. Dewi Api mengibaskan rambutnya dan menghilang, sementara Cam-kong Ho Hong Siu mendengus lalu lenyap pula. Gerakan ketiga orang ini sungguh luar biasa dan tidak seperti manusia pada umumnya. Hanya tampak tiga titik meluncur dari puncak dan tahu-tahu mereka sudah berada di bawah. Begitu cepatnya, sungguh seperti iblis.
Ketika mereka tiba di bawah hampir bersamaan, Cam-kong dan kedua rekannya tertegun melihat seorang laki-laki menjerit-jerit sambil bergulingan.
"Aduh, ampun... ampun...!"
Tidak tampak apa-apa di situ. Orang tidak akan mengerti mengapa laki-laki ini bergulingan seperti orang gila; bajunya robek-robek dan seluruh tubuhnya penuh luka cakar. Lukanya seperti baru saja diserang harimau atau singa, bersimbah darah dan mengerikan.
Saat Cam-kong dan kawan-kawannya tertegun membelalakkan mata, mendadak terdengar geraman dan sebuah sinar hitam mencelat.
"Grrrr!"
Laki-laki itu menjerit. Bayangan hitam yang tidak jelas wujudnya itu tahu-tahu menyambar. Laki-laki itu mencoba menangkis, tetapi tiba-tiba terdengar suara "krak" dan lengannya pun putus. Mengerikan sekali, darah menyembur dan laki-laki itu roboh berteriak ngeri, sementara bayangan hitam tersebut lenyap. Laki-laki itu bergulingan merintih.
Ketika kembali terdengar geraman dan bayangan itu muncul kembali menyambar untuk kedua kalinya, laki-laki ini mengeluh saat lengannya yang satu lagi buntung, copot begitu saja dari pundaknya. Kejadian ini sungguh mengerikan; laki-laki yang merintih itu kini kehilangan kedua lengannya.
Saat laki-laki itu terguling dan hendak pingsan, sekonyong-konyong bayangan itu muncul untuk ketiga kalinya dan menyambar dada laki-laki itu.
"Augh...!"
Jeritan mengerikan ini memecah kesunyian lembah. Laki-laki itu akhirnya ambruk dengan dada berlubang. Bayangan hitam yang menyambar dadanya itu langsung merogoh dan mencabut segumpal jantung serta paru-paru yang masih bersimbah darah. Kini terdengar tawa bergelak yang mendirikan bulu kuduk.
Ketika bayangan itu berhenti dan tegak di depan laki-laki yang sudah tidak bernyawa, barulah tampak jelas siapa makhluk mengerikan ini.
"Tok-ong-hang-sai (Singa Lapar Raja Racun)...!" Seruan itu keluar dari mulut Cam-kong dan kawan-kawannya.
Di depan mereka telah berdiri seorang kakek tinggi besar yang rambutnya riap-riapan dan berpakaian serba hitam. Namun, tokoh yang dipanggil itu tidak menggubris. Dia tertawa terbahak-bahak memandangi jantung dan paru-paru yang penuh darah itu, dua buah organ yang masih segar dan berdenyut-denyut, lalu memakannya.
"He-he, siapa mau menikmati makanan segar ini? Siapa mau?" Kakek mengerikan itu seolah berbicara pada Cam-kong dan teman-temannya. Ia bertanya tanpa menoleh sedikit pun, mulutnya asyik menggerogoti dan memamah jantung serta paru-paru tersebut. Orang biasa pasti akan muntah melihatnya.
Namun, Cam-kong dan Dewi Api yang tiba-tiba terkekeh mendadak berkelebat dan menghantam. Dewi Api menyambarkan rambutnya ke arah wajah laki-laki tinggi besar itu.
"Tok-ong, aku mau. Coba berikan padaku... wuttt!"
Rambutnya melecut ke arah muka lawan, meledak dan menyambar. Sementara itu, Cam-kong menggerakkan kedua tangannya ke depan; angin berkesiur dan pukulannya menghantam dahsyat. Dua pukulan menyerang dari kanan dan kiri.
Tok-ong yang sedang asyik memamah tentu menyadari serangan itu. Tiba-tiba ia mengerang dan menggerakkan siku ke kanan dan kiri, sementara mulutnya masih menggerogoti jantung dan paru-paru.
"Des-plak!"
Ketiga orang itu mengeluarkan seruan aneh. Tok-ong dan lawannya tergetar. Mereka tampak mengerahkan tenaga, dan tiba-tiba Tok-ong membungkuk. Secepat kilat, Raja Racun ini memiringkan kaki. Sambil membentak dan tertawa aneh, sekonyong-konyong ia menyalurkan pukulan Dewi Api untuk menyambut hantaman Cam-kong.