Chapter 32
Letupan bagai gunung dihantam roket menggetarkan tempat itu.
Cam-kong dan Dewi Api memekik, mereka merasa diperdayai dan diadu.
Dan ketika mereka meluncur turun dan memaki lawan maka Tok-ong terbahak-bahak sudah menggulingkan tubuh dan meloncat jauh di sana, masih asyik menggerogoti jantung dan paru-paru.
"Keparat, kau busuk, Tok-ong. Jahanam!" Dewi Api membentak, gusar.
"Ya, dan kau pengecut, Tok-ong. Licik mengadu kami!" Cam-kong yang marah dan mendelik juga membentak.
Tadi mereka hampir diadu oleh Raja Racun itu, tapi Raja Racun sendiri yang terbahak-bahak dan tertawa bergelak tiba-tiba mengeluarkan suaranya yang parau.
"Hee, kau Cam-kong, siapa suruh menyerang aku? Dan kenapa Dewi Api itu juga ikut-ikutan menyerang? Bukankah sepantasnya kalau pukulan kalian kukembalikan berikut bunga? Haha, tak perlu melotot, Cam-kong. Kita boleh bertanding kalau ingin melihat siapa yang kuat....ger!" Tawa Raja Racun itu tiba-tiba berubah menjadi geraman, jantung dan paru-paru sudah habis dilahap dan laki-laki mengerikan ini mengusap mulut yang penuh darah, matanya meliar dan berputar-putar.
Tapi Hek-bong Siauwjin yang mencelat dan tertawa aneh tiba-tiba berseru.
"Stop, tahan! Tak perlu bertempur kalau kita sesama golongan!" Dan tertawa memandang semuanya. Iblis cebol ini melanjutkan.
"Cam-kong, dan kau Dewi Api. Ternyata kita berempat masih hidup dan segar bugar. Bagaimana kalau sekarang kita mencari Bu-beng Sian-su itu dan menantangnya? Kita semakin kuat, nenek siluman. Tak mungkin kakek itu dapat menghadapi dan memenangkan kita!" "Hm. Terserah Cam-kong. Apakah Singa Lapar ini perlu diikutkan?" "Heh, aku telah mendengar semua percakapan kalian di puncak, Dewi Api. Kalau aku tak boleh ikut maka kau harus berhadapan dulu dengan aku dan bertanding. Atau Pembunuh Petir ini kurogoh jantungnya dulu dan biar dia kutahan di sini!" "Keparat!" Cam-kong mendelik. "Kau selamanya sombong, Tok-ong. Dapatkah kau membunuhku dan menahanku? Mari, kita boleh bertanding, Tok-ong. Lihat siapa yang akan roboh, kau ataukah aku!" "Tidak, jangan!" Hek-bong Siauwjin buru-buru mengangkat kedua lengannya mencegah. "Kita masing-masing setingkat, Cam-kong. Sekali bertanding tentu tak mau sudah kalau belum seorang di antaranya roboh. Kau dan Tok-ong bisa sama-sama mati, rugi aku dan nenek siluman itu nanti. Tidak, kita berdamai dan musuh kita adalah Sian-su!" "Hm!" Dewi Api mengangguk, sadar. "Apa yang diomongkan Siauwjin memang benar, Cam-kong. Sekali kita bertanding dan ribut sendiri tentu semuanya akan sampyuh. Musuh utama kita masih hidup, sebaiknya tak perlu cekcok dan biar Tok-ong bersama kita!" "Bagaimana?" Siauwjin kini berseri-seri. "Dewi Api telah mendukungku, Cam-kong. Kita harus bergabung dan berempat menghadapi Sian-su tentu kita berhasil!" "Terserah Singa Lapar itu," Cam-kong mendengus. "Aku tak keberatan kalau dia tak macam-macam, Siauwjin. Tapi kalau dia mau coba-coba denganku tentu saja boleh!" "Heh, kalian tak usah berpanas-panasan," Dewi Api meledakkan rambutnya. "Tok-ong dan kita semua satu, Cam-kong. Kita harus bersahabat dan menghadapi Bu-beng Sian-su!" "Benar," Hek-bong Siauwjin tertawa. "Tak usah mendongkol oleh sikapnya, Cam-kong. Kau selamanya tahu bahwa Tok-ong memang begitu. Sudahlah, kita bersatu dan jangan hiraukan omongan Tok-ong." "Ya, dan aku pemimpin," Tok-ong tiba-tiba menyela, melompat maju. "Kalian semua tunduk perintahku, Siauwjin. Atau...." Dewi Api meledakkan rambutnya, marah dan akhirnya tak tahan juga. "Kau tak perlu pongah, Tok-ong. Atau kau kami keroyok dan bunuh!" "Hm," Siauwjin akhirnya mendongkol juga. "Kau tak perlu memimpin, Tok-ong. Kita semua setingkat dan sama rata. Kalau kau macam-macam tentu kami tak dapat mengampunimu dan membunuhmu. Apakah kau perlu dihajar?" "Kalian mau mengeroyok?" Raja Racun itu tertawa bergelak. "Boleh, Siauwjin. Hayo coba-coba dan mari berhantam!" Dan Raja Racun itu yang tiba-tiba berkelebat menghantam iblis cebol ini tahu-tahu sudah menyerang dan melepas pukulan ke arah temannya itu, dikelit, dan pukulan meledak. Raja Racun ini menerjang kembali, tapi dua kali pukulannya menghantam, dua kali pula Iblis Busuk Dari Kubur itu mengelak.
Dan ketika Hek-bong Siauwjin melotot juga dan memberi tanda pada teman-temannya maka Dewi Api dan Pembunuh Petir bergerak, maju membentak, dan melepas pukulan ke Raja Racun itu. Repotlah Raja Racun ini. Dia sebenarnya main-main, tentu saja tak sungguh-sungguh. Dan ketika dia dikeroyok dan berganti-ganti Siauwjin dan dua temannya melepas pukulan dari tiga penjuru, akhirnya iblis berpakaian hitam ini berkaok-kaok dan jatuh bangun, menyatakan takluk, dan akhirnya melesat melarikan diri. Siauwjin yang tertawa melihat itu menyuruh dua temannya berhenti menyerang, sesungguhnya Tok-ong tadi menguji kepandaian dengan mereka bertiga, mendapat kenyataan bahwa mereka berimbang dan satu dikeroyok tiga, tentu saja iblis ini berat.
Dan ketika lawan melarikan diri dan dari jauh Raja Racun itu menyatakan tahu di mana Bu-beng Sian-su berada maka Cam-kong dan teman-temannya mengejar, bukan untuk menyerang melainkan mengikuti Raja Racun itu. Tak lama kemudian mereka berendeng dan masing-masing sama tertawa, aneh orang-orang ini. Dan karena mereka bukan manusia-manusia biasa dan ilmu lari cepat mereka tak lumrah manusia lainnya maka bagai terbang saja akhirnya Tok-ong dan teman-temannya ini menuju ke selatan, berbelok dan akhirnya lenyap di antara lebatnya hutan-hutan besar. Mereka itu hanya tampak melesat dan hilang di kejauhan, akhirnya orang tak tahu ke mana mereka pergi.
Dan ketika orang di kota Ci-bong mendengar dentuman atau ledakan-ledakan di Bukit Malaikat maka akhirnya orang tahu bahwa semalam Bu-beng Sian-su menghadapi lawan-lawan tangguh dan empat orang itu mundur setelah kalah. Tersebar berita bahwa Bu-beng Sian-su menjanjikan sepasang cermin yang katanya berisi ilmu kesaktian untuk mengalahkan empat orang lawannya itu. Cam-kong dan kawan-kawannya hanya dikenal sebagai tokoh Barat dan Timur, orang tak banyak tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Bukit Malaikat itu. Dan ketika cerita itu tersebar dari mulut ke mulut dan cerita yang sudah dibawa orang ini ditambah atau dikurangi menurut watak masing-masing maka hari itu semua orang menuju ke Bukit Malaikat untuk menagih janji Sian-su!
"Begitulah, ini yang kami dengar, nona. Katanya Bu-beng Sian-su menghadapi tokoh-tokoh amat luar biasa dan hari ini akan memberikan cerminnya. Kami tak tahu benar atau tidak tapi nyatanya orang-orang kangouw berdatangan dan telah berkumpul," Begitu Swat Lian mendengar cerita seorang tamu penginapan, kebetulan pengunjung atau bekas penonton kejadian di Ce-bu dulu. Swat Lian dan suhengnya dikenal dan segera orang itu mendekat. Orang ini adalah pengagum keluarga Hu. Dan ketika orang itu menyelesaikan ceritanya dan Swat Lian tertarik maka gadis memandang dua suhengnya dengan mata bersinar-sinar.
"Bagaimana, suheng? Kita bergerak sekarang juga?" "Hm, masih terlampau pagi, sumoi. Tapi tak apa kalau kau mau." "Sian-su akan muncul pagi ini, siauw-hiap. Katanya sebelum matahari panas benar!" Orang ini yang banyak bercerita dan memberi tahu tiba-tiba menimpali. "Aku juga akan ke sana dan kalau boleh bergabung dengan kalian!" Swat Lian saling pandang. "Apakah suheng setuju?" "Maaf." Gwan Beng bicara. "Kau boleh saja ikut rombongan kami, saudara. Tapi keselamatan dan lain-lain kami tak berani tanggung. Dan lagi ilmu lari cepatmu itu tak dapat mengimbangi kami." "Ah,..." Orang itu sadar. "Baiklah, siauw-hiap, aku mengerti. Kalau begitu biar aku jalan sendiri dan mudah-mudahan kita bertemu lagi di Bukit Malaikat." "Kau bilang Bukit Malaikat terhalang jurang, dapatkah kau melompati itu?" "Aku akan mencoba, siauw-hiap. Tapi kalau gagal biarkan aku menjadi penonton dari jauh." Gwan Beng tersenyum, merasa kasihan.
Pagi itu percakapan berhenti dan mereka pun berkemas, orang itu tahu diri dan Gwan Beng lega. Memang, membawa orang yang kepandaiannya masih rendah dan coba bergabung dengan mereka tentu hanya merepotkan saja. Sute dan sumoinya tentu tak suka, perjalanan jadi terganggu dan syukur orang itu tahu diri, tidak tersinggung ataupun marah setelah mendengar kata-katanya tadi. Dan ketika pagi itu mereka siap dan cerita tentang Bu-beng Sian-su telah mereka dengar secara singkat maka pagi itu juga Gwan Beng mengajak Sute dan sumoinya berangkat, bukan untuk memperoleh cermin seperti yang diidam-idamkan orang banyak melainkan semata hanya ingin melihat dan mengikuti keramaian. Apalagi tokoh dewa macam Bu-beng Sian-su dikabarkan akan muncul di sana, tentu ramai.
Dan ketika mereka berkelebat dan pagi itu juga, meninggalkan penginapan maka di sepanjang jalan mereka melihat ratusan orang berbondong-bondong ke satu arah. "Hm, tak kurang dari tiga ratus orang. Mungkinkah semuanya mampu ke bukit itu?" "Entahlah, kita lihat saja, sumoi, dan mari kita dahului mereka itu!" Gwan Beng berkelebat, mengajak sumoinya mengerahkan ginkang dan orang-orang di sepanjang jalan terbelalak dan terpekik melihat berkelebatnya bayangan tiga muda-mudi ini. Mereka hanya merasa angin berkesiur di samping mereka, bayangan pun lenyap dan tahu-tahu tiga orang muda itu telah berada jauh di depan. Dan ketika beberapa di antaranya ada yang mengenal Swat Lian dan Gwan Beng sebagai orang-orang muda yang mengalahkan Hwa-i Pai Cu dan Pak-tung Lo-kai maka mereka berseru tertahan.
"Aih, murid Hu-taihiap...!" "Ya, dan puterinya juga, Hu-siocia!" Swat Lian dan suhengnya tak menghiraukan. Mereka hanya tersenyum saja dan melesat mengerahkan ilmu lari cepat. Bukit Malaikat tahu-tahu telah berada di depan mata dan mereka berpacu. Dan ketika tak lama kemudian mereka tiba di bawah bukit itu dan benar saja sebuah jurang yang dalam ada di bawah bukit itu maka Swat Lian dan suhengnya berhenti dan melihat puluhan orang telah berada di sini pula.