Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 33

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 33

"Berhenti, jangan menarik perhatian!" Gwan Beng mengembangkan lengannya, menyuruh sute dan sumoinya berhenti. Mereka bertiga pun sudah tak jauh dari Bukit Malaikat.

Bukit itu tidak begitu tinggi, namun karena terbilang curam dan melewati jurang itu saja sudah merupakan pekerjaan sukar, maka walhasil hanya orang-orang berkepandaian tinggi saja yang akan dapat menyeberang.

Gwan Beng mengerutkan keningnya sejenak.

"Bagaimana?" Hauw Kam, sang sute, bertanya. "Apakah kita lewat dan membuat tali tambang?"

"Hmm, membuat tambang tentu dapat ke sana, Sute. Tapi perbuatan kita akan diketahui orang banyak dan ini hanya menarik perhatian saja."

"Kalau begitu, kita turun ke jurang itu, naik, dan merayap di dinding sebelah sana."

"Benar," Swat Lian yang pernah menuruni jurang berseru. "Aku pernah memasuki jurang itu, Suheng. Kita dapat bergerak di bawah dan melompati dinding sebelahnya."

"Ini pun akan diketahui orang," Gwan Beng tak setuju. "Sebaiknya kita memutar, Sumoi. Coba lihat barangkali di sebalik bukit itu ada jalan lain."

Hauw Kam dan sumoinya mengangguk. Mereka mengikuti jejak kakak tertua itu. Gwan Beng berkelebat dan menghilang ke kiri. Di situ mereka memutar dan mencoba mencari jalan di seputar bukit.

Tetapi ketika tak ada jalan lain karena di bagian ini pun terdapat sungai yang deras arusnya, Gwan Beng tertegun sementara belasan orang berperahu tiba-tiba muncul di sungai itu.

"Hei, kalian mau ke mana? Mari ikut kami, Nona manis. Perahu kami masih besar dan cukup untuk menampung seorang!"

"Haha, benar! Tapi yang seorang itu harus kau, Nona. Jangan dua temanmu itu. Kami tak butuh laki-laki!"

Swat Lian merah mukanya. Orang-orang kurang ajar yang ada di atas perahu itu berteriak padanya, semuanya cengar-cengir. Hampir saja dia menggerakkan lengan. Dari jarak jauh dia dapat menjungkirbalikkan perahu itu.

Namun sebelum dia bergerak dan menghajar orang-orang itu, mendadak Hauw Kam menuding dan berseru, "Eh, Kim-mou-eng (Pendekar Rambut Emas)!"

Swat Lian terkejut. Bersama tua-hengnya dia cepat menoleh, melihat sebuah bayangan berkelebat cepat di seberang sungai. Orang-orang di atas perahu itu pun menengok dan tertegun. Seorang pemuda berambut keemasan meluncur dan mendaki bukit. Entah dari mana dia datang, dengan cepat ia menghilang di atas bukit itu.

Dan ketika Swat Lian tertegun dan suhengnya juga terbelalak, mendadak terdengar jerit dan pekik orang-orang di atas perahu itu.

"Hei, awas...!"

Swat Lian dan suhengnya terkesiap. Mereka melihat perahu yang ditumpangi belasan orang itu tiba-tiba menghantam batu besar. Tadi batu itu tertutup arus yang bergelombang dan kini kelihatan setelah gelombangnya surut. Sekejap saja kejadian itu berlangsung, perahu tiba-tiba pecah dan berantakan.

Orang-orang ini tadi tertegun memandang bayangan di atas bukit itu, bayangan yang disangka Kim-mou-eng. Dan ketika perahu berserak patah dan orang-orang itu terpelanting, semuanya tercebur ke sungai dan hanyut.

"Eh, tolong... tolong...!"

Swat Lian terkesiap. Jiwa kemanusiaannya langsung bangkit, dia mau bergerak dan menolong. Tapi sebelum dia berkelebat, tiba-tiba belasan orang yang terseret arus ini terbanting batu-batu yang mencuat dan mengeluh. Enam di antaranya menjerit dan tenggelam; kepala mereka terkena benturan keras dan pingsan. Celakalah orang-orang itu. Dalam keadaan pingsan mereka terbawa arus dan tenggelam, tak ada harapan untuk hidup.

Dan ketika Swat Lian tertegun dan mau melompat, tiba-tiba yang lain ditumbuk sebuah perahu hitam yang dikemudikan seorang kakek berpakaian hitam yang muncul di situ dan tertawa bergelak.

"Haha, mampus kalian, cecunguk-cecunguk busuk! Siapa suruh kalian datang kemari? Hayo, menghadap Giam Lo Ong. Pergi ke neraka!"

Jerit dan pekik terdengar di situ. Kakek itu menggerakkan lengannya dua kali, orang-orang itu pecah kepalanya dan tenggelam. Air menjadi merah. Secepat kedatangannya, tahu-tahu kakek di atas perahu itu telah menghilang. Semua ini bagai mimpi saja dan membuat Swat Lian serta suhengnya terkejut. Apa yang dilihat itu bagai mimpi buruk yang sungguh mengejutkan.

Dan ketika Swat Lian dan suhengnya bengong, tiba-tiba terdengar kekeh wanita dan sebuah perahu lain muncul tanpa penumpang!

"Hi-hik, kau menakut-nakuti orang, Tokong. Kenapa begitu telengas dan kejam? Aih, kau terlalu. Lihat, ada penonton yang bengong!"

Swat Lian dan suhengnya terkesima. Mereka bergidik tapi juga heran melihat ada perahu dapat meluncur di tengah-tengah arus sungai yang deras tanpa penumpang maupun pengemudi. Tapi begitu Swat Lian mengerahkan pandangannya dan dua suhengnya juga mengerahkan kekuatan batin, mendadak mereka melihat sesosok asap hitam berada di atas perahu itu. Sosok yang tidak jelas tapi menyerupai manusia, bentuk seorang wanita.

"Dewi Api Naga Bumi...!" Hauw Kam tertegun. Dialah yang berseru tadi karena teringat cerita di rumah penginapan.

Perahu di tengah sungai itu tiba-tiba berhenti begitu saja, seolah direm. Tentu orang biasa akan terkejut melihat kejadian luar biasa itu. Sebuah perahu berhenti di tengah-tengah arus yang deras tanpa penumpang, atau penumpangnya barangkali makhluk halus!

Dan ketika Hauw Kam mengeluarkan seruannya dan dua saudaranya yang lain bengong, mendadak terdengar kekeh itu lagi dan perahu kini berputar ke arah Hauw Kam serta suheng dan sumoinya!

"Hi-hik, kau mengenal aku, anak muda? Itu sebuah kehormatan. Ayo ikut kemari dan naiklah...!"

Hauw Kam berteriak. Tiba-tiba dia merasa serangkum angin dahsyat menyambar ke arahnya. Hauw Kam berkelit tapi roboh terguling. Dan ketika pemuda itu menjadi kaget dan mencelos, sekonyong-konyong tubuhnya tertarik naik dan terbang ke perahu yang tidak ada orangnya itu.

"Suheng...!" Swat Lian pucat bukan main. Dia melihat suhengnya terbanting di atas perahu itu dengan suara berdebuk, dan suhengnya mengeluh. Lalu, sementara Swat Lian terkesiap dan Gwan Beng juga tersentak, mendadak perahu itu berputar haluan dan meluncur menjauhi mereka.

"Suheng...!" Untuk kedua kalinya Swat Lian berteriak. Gadis ini melengking gelisah, kini mencelat dan berjungkir balik mengejar perahu itu.

Tapi ketika dia melayang dan berjungkir balik di udara, tiba-tiba kekeh itu terdengar lagi dan Swat Lian mendengar kata-kata lirih, "Pergilah!"

Hanya itu yang didengar Swat Lian. Setelah itu dia tak tahu apa yang terjadi karena tubuhnya didorong sebuah tenaga dahsyat, begitu dahsyat hingga tubuhnya terlempar kembali ke darat. Gadis ini terbanting dan terguling-guling di tanah. Dan ketika dia mengeluh dan Gwan Beng berseru keras memburu sumoinya, maka Swat Lian melompat terhuyung dan merasa pening.

"Aih, celaka. Ji-heng diculik siluman!"

"Hmm," Gwan Beng menangkap lengannya, lebih memperhatikan gadis ini. "Kau tidak apa-apa, Sumoi?"

"Tidak, tapi... eh, kenapa kepalaku pening? Aduh, bumi rasanya berputar, Suheng. Aku tak tahan!"

Swat Lian tiba-tiba terguling. Suhengnya terperanjat dan Gwan Beng cepat menotok pundak sumoinya itu. Entah dengan pukulan atau ilmu siluman apa sumoinya ini diserang nenek dahsyat itu, cepat-cepat Gwan Beng menyalurkan sinkang dan mengeluarkan obat penawar racun. Barangkali sumoinya tadi mendapat serangan beracun.

Tak lama kemudian sumoinya bangun berdiri dengan wajah pucat dan memandang ke depan. Swat Lian sudah merasa sehat kembali dan tidak pening.

"Iblis, nenek itu benar-benar iblis!"

"Kau tidak apa-apa?" Gwan Beng tetap lebih memperhatikan sumoinya daripada yang lain. "Kau sudah sembuh, Sumoi?"

"Ya, tapi kenapa kau tak mengejar Ji-heng, Suheng? Kenapa kau membiarkan dia diculik orang?"

"Sabar, semuanya berlangsung cepat, Sumoi. Aku tak menduga kalau Kam-sute dapat dibawa begitu mudah. Dewi Api Naga Bumi kiranya betul-betul nenek dahsyat, dia muncul dan sungguh bukan dongeng. Bagaimana kalau kita mencari perahu?"

"Ya, cepat, Suheng. Kita harus mencari Kam-suheng dan mengejar nenek iblis itu. Dia tadi berlindung di balik asap, dia iblis berbahaya yang harus kita waspadai!"

"Benar, tapi jangan sembrono, Sumoi. Sekarang kita kehilangan seorang teman dan tinggal kita berdua. Ayo, kita cari perahu dan kejar nenek itu!"

Gwan Beng juga gelisah. Bingung dia mencari perahu, tapi tak ada sebuah pun kendaraan air di situ. Sungai itu hampir tak dapat direnangi, cukup lebar dan kuat arusnya. Satu-satunya jalan memang harus berperahu, dan itu pun harus hati-hati. Di tengah banyak batu mencuat, hitam, serta tajam yang ujungnya tergerus setiap hari oleh arus sungai yang kuat.

Dan ketika mereka kebingungan dan gugup mencari perahu, tiba-tiba muncul seorang kakek cebol dengan perahu pendek yang kedua sampingnya diberi batang pisang sebagai pengimbang.

"Heh-heh, mencari apa kalian, anak-anak?"

Gwan Beng terkejut. Seperti siluman atau hantu saja, tahu-tahu kakek cebol di atas perahu pendek itu sudah ada di dekatnya, begitu dekat hingga sekali raih agaknya kakek itu dapat menyambarnya!

Gwan Beng terkesiap. Dan ketika dia terbelalak dan mundur secara otomatis, mendadak kakek itu mengulurkan lengan dan tertawa.

"Naiklah, mari kita bersama!"

Gwan Beng seperti disengat listrik. Lengan si kakek sudah menjulur dekat. Dia mundur, tapi lengan itu memanjang. Bukan main, lengan ini seperti karet! Dan ketika Gwan Beng membentak dan tentu saja menangkis, tahu-tahu lengan yang terulur itu melejit dan dia pun sudah terangkat lalu terlempar ke dalam perahu.

"Bluk!" Gwan Beng terbanting bergulingan. Kejadian itu luar biasa cepat dan dia tak dapat mengelak. Pemuda ini terkesiap sementara sumoinya di sana berteriak tertahan. Swat Lian kaget bukan main melihat suhengnya roboh.

Tetapi ketika gadis itu membentak dan mau menyerang, sekonyong-konyong perahu berputar dan meluncur jauh, terbang di atas permukaan air, lalu lenyap di kejauhan.

"Heh-heh, kau ikut aku, anak muda. Selamat bertemu!"

Swat Lian memekik. Dia pun ditinggal sendirian di tempat itu. Perahu sudah menghilang dan dia tidak dapat mengejar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment