Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 34

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 34

Namun Swat Lian, yang tentu saja tidak mau diam dan memaki sambil memburu, akhirnya menemukan sebatang pohon pisang. Ia langsung membabatnya dan membuat sebuah rakit.

Dengan cepat dan darurat, ia menyambung-nyambung batang pisang itu.

Akan tetapi, ketika rakit itu hendak dilempar ke sungai dan ia siap menumpanginya, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan jerit kesakitan dari belakang.

"Aduh, ampun ...... tobat........!"

"Aduh, mati aku... . . . ...!"

Swat Lian tertegun.

Dari arah jurang tempat pertama kali ia datang bersama suhengnya, ternyata berlari puluhan orang yang tunggang langgang.

Mereka jatuh bangun dan menjerit-jerit, sementara di belakang mereka terdengar geraman dan bentakan.

Ketika matanya terbelalak melihat orang-orang itu berlari-larian saling bertubrukan, tampak sesosok tubuh tinggi kurus menggeram-geram di belakang mereka.

"Kalian tikus-tikus busuk, pergi...!"

Swat Lian terkejut.

Orang yang menggeram-geram itu menggerak-gerakkan kedua lengannya. Angin pukulan dahsyat menyambar, dan orang-orang itu pun terpelanting.

Ada yang bisa bangun, tetapi ada pula yang tidak. Yang malang itu mengerang dan merintih karena kaki atau tangan mereka patah.

Swat Lian terbelalak.

Karena orang-orang itu mendekatinya, dan beberapa di antaranya melihat dirinya dan mengenalnya, maka salah seorang di antara mereka berteriak, "Hu siocia, tolong. Kami diamuk Cam-kong."

Swat Lian tersentak.

Sekarang ia mengenal orang yang berada di belakang itu adalah Cam-kong, tokoh dahsyat dari Himalaya, tokoh Barat. Jadi, ia adalah salah satu dari sekian manusia luar biasa dari golongan Tok ong dan lain-lainnya itu.

Mengingat suhengnya, Hauw Kam dan Gwan Beng, diculik oleh dua di antara empat tokoh mengerikan ini, mendadak Swat Lian melengking dan menerjang tokoh itu, laki-laki tinggi kurus yang mukanya pucat serta bermata cekung.

"Cam-kong, kau iblis jahanam keparat. Mampuslah!"

Cam-kong, si Pembunuh Petir, tertegun.

Swat Lian memapak dan menyambarnya, tidak lari, justru menyerang. Iblis itu heran dan kaget.

Namun, mendengus dan mengibaskan lengannya dari jauh, tiba-tiba iblis itu membentak dan menggeram.

"Plakk!" Swat Lian tunggang-langgang.

Gadis itu menjerit dan terlempar bergulingan. Pukulannya tadi disambut pukulan jarak jauh dan ia terlempar. Gadis itu sangat kaget.

Akan tetapi, ketika ia melompat bangun dan menyerang lagi, tiba-tiba terdengar suara lembut yang bernada memerintah, "Cam-kong, di wilayah ini kau tak boleh membunuh. Kalau ingin datang ke puncak, datanglah baik-baik, jangan kotori dengan darah!"

Cam-kong, si Pembunuh Petir, terkejut. Ia mengeluarkan suara aneh dari hidungnya. Pukulan Swat Lian dielak. Lalu, melengking dan mengeluarkan suara mirip tangis, mendadak tokoh itu berkelebat dan hinggap di atas air, di permukaan sungai.

"Bu beng Sian-su, kau kakek keparat. Di mana-mana bertemu selalu memerintah....ittttt!" Dan meringkik mirip kuda yang dicambuk pantatnya, sekoyong-konyong kakek itu menggerakkan kedua lengannya.

Lalu, sementara Swat Lian dan yang lain tertegun, tiba-tiba kakek itu meluncur maju dan sudah terbang di atas air, menghilang!

"Iblis.....!"

"Kakek luar biasa..!"

Swat Lian dan yang lain bengong. Mereka tidak melihat lagi kakek itu. Cam-kong, atau Pembunuh Petir, ini telah melayang atau berjalan di atas air. Itulah kesaktian luar biasa dari ilmu meringankan tubuh atau ginkang yang sudah mencapai puncaknya.

Dengan kaki dan tanpa bantuan apa pun, Cam-kong lenyap di kejauhan sana. Tak lama kemudian, terlihat sebuah titik kecil di atas bukit, itu pun tidak lama karena kemudian titik ini pun lenyap lagi.

Ketika semua orang mendongok dengan kagum dan gentar, mendadak Swat Lian meloncat dan hinggap pula di atas rakit pisangnya. Ia mengayuh dan membentak, dan sebentar kemudian gadis itu mengejar Cam-kong.

Orang-orang berseru tertahan karena itu pun perbuatan berbahaya. Arus sungai itu deras, dan perahu biasa pun dapat pecah dihantam batu hitam.

Swat Lian tentu saja harus berhati-hati dan mengemudikan perahu anehnya ini dengan cermat. Dan ketika gadis itu menggerak-gerakkan kedua tangannya, tanpa dayung di tangan pun ia dapat menyelinap di arus yang deras dan akhirnya menghilang di kejauhan sana, orang pun menjadi kagum dan takjub. Beberapa di antaranya mencoba tetapi terguling. Sungai terlalu berbahaya untuk diseberangi!

Karena orang-orang ini sebagian besar hanya terdiri dari orang-orang kang-ouw tingkat rendahan dan mereka tidak dapat ke Bukit Malaikat, maka hanya beberapa gelintir yang memiliki kepandaian cukup saja yang dapat menyeberang. Beberapa di antaranya mencari jalan lain, tetapi di belakang bukit adalah rawa, ini pun berbahaya dan tidak kalah gawat. Kembali, hanya orang-orang yang berkepandaian cukup yang dapat melewati semua halangan itu.

Ketika orang-orang sibuk sendiri dan sebagian besar akhirnya menjauh dari tempat berbahaya itu, di sana Swat Lian telah berhasil menyeberang dan naik ke Bukit Malaikat. Apa yang dicari? Tentu saja suhengnya Gwan Beng dan Hauw Kam. Tadi, dua orang suhengnya itu diculik nenek Dewi Api dan kakek cebol.

Swat Lian tersentak karena ia teringat Hek-bong Siauw jin. Keparat! Suhengnya dalam bahaya dan ia harus menolong. Akan tetapi, ketika ia berkelebat di atas bukit itu dan memaki-maki memanggil lawannya, mendadak sesosok bayangan berkelebat dan Kim-mu-eng muncul.

"Adik Swat Lian tunggu,,,,. Jangan terus naik ke atas ..!"

Swat Lian tertegun. Di depannya telah berdiri orang yang selama ini mengganggu tidurnya. Kim-mu-eng tampak kurus namun gagah. Pendekar Rambut Emas itu agak kusut, namun sinar matanya tajam bersinar-sinar.

Ketika Swat Lian berhenti dan Kim-mu-eng berdiri di depannya, tiba-tiba gadis itu terisak dan teringat kenangan lama. "Kim-twako, kau....?"

"Ya, jangan ke puncak, Swat Lian. Terlalu berbahaya dan gawat. Suhu memerintahkan aku agar mencegah siapa pun datang ke sana. Tokong dan teman-temannya memasang ranjau.....!"

Baru kata-kata ini selesai diucapkan, mendadak terdengar dentuman dan jerit di sebelah kiri. Tiga sosok tubuh melesat di udara, pekik mengerikan itu menyayat telinga. Ketika sosok tubuh itu terbanting dan Swat Lian terkejut, mendadak terdengar lagi geledekan di sebelah kanan dan jerit serta pekik kematian mengguncang bulu kuduk.

"Keparat, Tok-ong dan kawan-kawannya benar-benar keji!" Kim-mu-eng berkelebat, Swat Lian disambar, dan cepat mereka sudah berada di tempat kejadian itu.

Enam potong tubuh tergeletak di sana-sini. Swat Lian bergidik. Darah dan potongan kaki berceceran di situ, sungguh keji. Mengerikan.

Akan tetapi, ketika Swat Lian hendak melepaskan diri dan bertanya tentang sesuatu, mendadak berdesir tiga angin dingin dan dua orang tosu serta seorang hwesio muncul.

"Omitohud, inikah kau, kim taihiap? Mana gurumu Bu beng Sian-su?"

"Sian cai, perbuatan Tok-ongkah ini, taihiap? Mana empat datuk iblis yang jahat itu?"

Kim-mu-eng dan Swat Lian tertegun. Di depan mereka berdiri tiga orang gagah yang matanya tajam berkilat-kilat. Dapat datang ke tempat itu saja sudah menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Kim-mu-eng atau Pendekar Rambut Emas tercekat.

Namun sebelum dia menjawab, tiba-tiba Swat Lian yang maju mendahului dan rupanya mengenal hwesio di depan bertanya, "Maaf, bukankah ini Bi Kong lo-suhu dari Siu-lim?"

"Benar, dan kau Hu-siocia, nona? Mana ayahmu?"

"Ah!" Swat Lian yang terkejut tapi girang tiba-tiba berseru, bertanya lagi. "Apakah lo-suhu terlibat dua suhengku dalam perjalanan ke mari? Tidakkah bertemu nenek siluman Dewi Api atau iblis cebol Hek-bong Siauwjin?"

"Omitohud, tidak, nona. Apakah maksudmu saudara Gwan Beng dan Hauw Kam?"

"Ya, benar, mereka itu!"

Namun belum gadis ini melanjutkan, Kim-mu-eng sudah menyentuh lengannya dan maju ke depan. "Maaf, ketua Siu-lim rupanya. Lo-suhukah yang bernama Bi Kong Hwesio? Dan siapakah dua ji-wi locianpwe ini?"

"Siancai, aku Yang Te Cinjin, Kim-taihiap. Dan ini rekanku Ciu Sek Tosu."

"Aih. Ketua Hng-san dan Liong San kiranya. Maaf, aku tak tahu......!" Dan Kim-mu-eng, yang tampak terkejut, buru-buru menjura lalu menghadapi tiga ketua partai itu dengan muka tegang. Baru sekarang ia tahu bahwa inilah ketua-ketua dari partai persilatan terkenal, satu di selatan, sementara yang lain terletak di barat, di perbatasan Himalaya, bersebelahan dengan Kun-lun.

Ketika tiga orang hwesio dan tosu itu balas menjura, dan Swat Lian tertegun, maka Bi Kong Hwesio, hwesio yang pertama itu merangkapkan lengannya kembali, tokoh atau orang pertama dari Siu-lim.

"Taihiap. Benarkah hari ini gurumu yang terhormat Bu-beng Sian-su akan mengadakan keramaian? Bolehkah kami bertiga bertemu dan memperkenalkan diri?"

"Maaf, hari ini suhu tak mengadakan apa-apa, l-suhu. Hanya empat iblis dari Timur dan Barat itulah yang mengacau. Mereka ingin membalas dendam, kini datang dan membuat keonaran. Kalau sam-wi (kalian bertiga) ingin bertemu tentu saja tak ada yang menolak tapi keadaan sekarang gawat!"

"Pinto (aku) sudah mendengar," Yang Te Cinjin, ketua Hng San, berkata. "Kami semua sudah mendengar itu, taihiap. Dan kami juga mendengar janji gurumu untuk memberi Cermin Naga. Terus terang, kami ingin melihat dan berkenalan. Kalau perlu melihat dan menemui Hek-bong Siauw jin dan lain-lainnya itu untuk membuktikan apakah benar mereka masih hidup atau hanya omong kosong!"

"Mereka benar masih hidup," Kim-mu-eng menjawab. "Tapi sepak terjang atau tindak-tanduk mereka luar biasa, totiang. Aku sendiri belum berhadapan tapi hari ini mereka berjanji datang!"

"Apakah sebenarnya yang terjadi? Bolehkah jauh-jauh kami mendengar?"

"Maaf, suhu belum menjelaskannya secara lengkap, totiang. Tapi kalau kalian ingin ke puncak, boleh kuantar. Mari....!"

Namun belum Kim-mu-eng berkelebat, tiba-tiba Swat Lian menegur. "Kim twako, apakah mayat-mayat ini akan dibiarkan saja?"

"Ah," Kim-mu-eng sadar. "Betul, Swat Lian, tapi...."

"Biar pinto bersihkan!" Bi Kong Hwesio, tokoh atau ketua Siu-lim, tiba-tiba bergerak. Ia mencabut sebatang dahan dan langsung menusuk tanah, mencongkel. Sebentar kemudian, lubang besar yang cukup untuk beberapa mayat itu tersedia.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment