Chapter 35
Cepat sekali kerjanya, juga luar biasa.
Dan ketika Swat Lian menutup hidung tak tahan oleh keadaan mayat yang terpotong-potong itu bergerak membantu, tak dinyana hwesio ini telah menggerakkan kakinya dan... mayat-mayat itu pun masuk semua ke lubang yang dibuat, tak ada satu menit! Lalu ia membersihkan bajunya dari kotoran yang melekat.
Hwesio itu berkata, "Nah, sekarang kita siap, Nona. Tapi beberapa sahabat rupanya keburu datang...!" Angin berkesiur dan beberapa bayangan berkelebat.
Swat Lian sebenarnya juga sudah mendengar itu, kagum pada ketajaman hwesio ini. Muncullah di situ beberapa orang yang gagah dan keren; satu di antaranya memiliki kumis panjang sampai di bawah dagu, seorang tosu semacam Ciu Sek atau Yang Te Cinjin.
Dan ketika Bi Kong Hwesio membalik dan tentu saja tak jadi pergi, maka hwesio ini terkejut buru-buru merangkapkan kedua tangannya.
"Aih, Swan Cong Tojin kiranya! Omitohud, kau juga datang kemari, Totiang? Bersama Kwi Hiang Hosiang? Ah, Buddha yang welas asih mempertemukan kita. Omitohud...!" Hwesio ini menjura dalam-dalam. Swat Lian dan Kim-mou-eng terkejut karena itulah ketua-ketua Kun-lun dan Go-bong-pai.
Mereka tertegun dan seketika terbelalak, tentu saja terkejut.
Dan ketika Bi Kong Hwesio memberi hormat dan cepat dibalas, maka Swan Cong Tojin, ketua Kun-lun itu, merangkapkan kedua tangannya.
"Sianai, tak diduga kau ada di sini pula, Bi Kong Lo Suhu. Dan ini agaknya rekan Yang Te Cinjin dan Ciu Sek Tosu?"
"Benar, kami datang bersama Kwi Hiang Lo Suhu. Barangkali saja kita seiring dan setujuan. Dan ini Kim-mou-eng, bukan?"
Kim-mou-eng mengangguk, cepat memberi hormat.
"Totiang, jauh-jauh kau datang kemari, tentu mendengar tentang desas-desus itu dan tertarik. Totiang ingin mencari siapa?"
"Siancai, pinto ingin bertemu gurumu, Taihiap. Dan juga Tok-ong dan kawan-kawannya itu. Benarkah mereka ada dan masih hidup?"
"Suhu mengatakannya begitu, Totiang. Tapi aku pribadi belum bertemu sendiri."
"Dan Nona ini, bukankah puteri Hu Taihiap?"
"Benar, aku Swat Lian, Totiang. Bagaimana kau mengenal aku?"
"Ah, pinto mendengar sepak terjangmu di Cinong, Nona. Dan kebetulan juga melihat bayanganmu waktu melewati orang-orang di jalan itu. Kau hebat, ginkangmu mengagumkan! Tapi mana dua suhengmu?"
"Mereka diculik Dewi Api dan Hek-bong Siauwjin, Totiang. Empat tokoh itu benar ada dan masih hidup. Aku melihat sendiri!"
"Omitohud, begitukah?" Hwesio di sebelah Swan Cong Tojin tiba-tiba berseru.
"Kalau begitu dunia dalam bahaya, para pendekar sekalian. Kita harus mencegah itu dan membasmi mereka!"
"Siancai, pinto datang juga dengan maksud itu. Dan Bu-beng Siansu yang terhormat katanya akan memberi petunjuk!" Ciu Sek Tosu berseru.
"Ya, dan pinto juga ingin melihat apa yang diberikan Siansu, Tojin. Katanya hari ini Cermin Naga akan dikeluarkan. Pinto ingin melihat dan menyaksikan benda itu!"
Semua kini bicara. Ternyata orang-orang itu adalah para ketua partai yang diam-diam tertarik oleh berita besar ini. Tentu saja mereka tak tampak di Cinong karena malu harus terlihat atau berada di tengah-tengah orang banyak. Betapapun mereka harus menjaga kedudukan sendiri.
Dan ketika semua saling sahut dan Kim-mou-eng bingung harus bicara kepada siapa, mendadak di puncak terdengar geraman dan bentakan.
"Siansu, keluarlah. Kami sudah datang!"
Semua orang terkejut. Swat Lian mengenal geraman itu, bentakan atau geraman Can Kong, si Pembunuh Petir. Tentu saja dia bergerak dan tiba-tiba melengking, berkelebat menuju puncak.
Tapi baru dia menjejakkan kaki dan membentak memaki iblis itu, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat dan menyambar punggungnya.
"Swat Lian, jangan lewat jalan itu. Berbahaya...!"
Dan ledakan yang mengejutkan semua orang disusul pekikan Swat Lian tiba-tiba membuat semua orang terkesiap karena tanah di depan ambles. Kim-mou-eng keburu menyambar punggung gadis itu dan melempar Swat Lian kembali ke tempat semula. Pendekar Rambut Emas sendiri sudah berjungkir balik lima kali sebelum jatuh di rombongan Bi Kong Hwesio, mukanya pucat dan mengusap keringat dingin, peluh sebesar jagung menitik dari dahinya.
Dan ketika Swat Lian sendiri mencelos dan hampir mati kaget melihat kesembronoannya, maka di puncak terdengar kekeh dan tawa yang panjang.
"Hi-hik, kau boleh mampus, bocah. Siapa sembrono akan mendapat hadiahnya!"
"Ya, dan kau suruh gurumu keluar, Kim-mou-eng. Kami sudah datang!"
Kim-mou-eng dan lain-lain marah. Mereka kini tahu bahwa tokoh-tokoh sesat yang kepandaiannya luar biasa sudah ada di puncak. Kim-mou-eng mengepal tinju dan berang. Tapi belum dia mengajak yang lain, terdengar lagi teriakan dari puncak, kini ditujukan kepada Swat Lian!
"Sumoi, jangan datang kemari. Turun!"
"Benar, jangan kemari, Sumoi. Pergilah!"
Swat Lian pucat. "Itu Hauw Kam Suheng dan Gwan Beng Suheng. Mereka ada di sana!" serunya. "Ah, apa yang harus kulakukan, Kim-Twako? Apakah harus membiarkannya saja?"
Tapi baru gadis ini selesai bicara, tiba-tiba terdengar seruan lembut dari atas, mengusap semua telinga orang, begitu menyejukkan.
"Kim-mou-eng, bawa teman-temanmu ke lorong bawah tanah. Boleh ke puncak, tapi sembunyikan diri!"
Kim-mou-eng girang. "Ini suara Suhu," serunya. "Mari, ikuti aku, para pendekar sekalian. Semua menjadi satu dan jangan sendiri-sendiri!"
Kim-mou-eng sudah berkelebat, menguak sebuah semak belukar, dan di situ terlihat sebuah gua atau lorong bawah tanah. Di sini Kim-mou-eng menyerahkan beberapa batang lilin dan bergeraklah pendekar itu merunduk dan melompat. Bi Kong Hwesio dan lain-lain mengikuti. Dengan tegang namun gembira, mereka berjalan di belakang Kim-mou-eng. Tempat yang gelap tak menjadi halangan karena masing-masing telah menyalakan lilin pemberian Kim-mou-eng.
Dan ketika sembilan orang itu mulai bergerak dan merunduk serta berlari kecil di dalam gua yang akhirnya menanjak ke atas ini, maka Bi Kong Hwesio dan teman-temannya kagum karena tak lama kemudian mereka tiba di sebuah tempat yang lapang. Lilin mulai tak dipakai lagi karena cahaya matahari tampak menerobos masuk di celah-celah gua, meskipun lemah.
Dan ketika setengah jam kemudian mereka semakin ke atas dan akhirnya berhenti mendapat aba-aba, maka mereka merasa tanah bergetar dan bergoyang ketika di atas sana terdengar bentakan dan gedrukan kaki.
"Semua jangan keluar, boleh mengintai tetapi jangan menampakkan diri," suara halus tiba-tiba menyusup kembali di dalam telinga, tak diketahui dari mana asalnya, tetapi Bi Kong Hwesio dan lain-lain bergidik. Sebenarnya sejak tadi mereka itu seolah diamati sepasang mata tajam, entah di mana mata itu. Pokoknya diamati dan dua kali Bi Kong Hwesio merasa diusap punggungnya ketika tadi hampir dia terpeleset. Hwesio ini terlampau buru-buru dan tegang sewaktu menelusuri lorong bawah tanah itu. Kebetulan dia akhirnya di belakang karena membantu yang lainnya masuk. Hanya hwesio inilah yang merasa didorong punggungnya dan bergidik!
Dan ketika suara yang lembut itu kembali bicara, dan kini mereka mengenal sebagai suara Siansu, maka Kim-mou-eng mengibas ke samping dan rontoklah beberapa dinding gua yang terkupas.
"Suhu memerintahkan kita tak boleh keluar. Sementara ini kalian mengintai saja di beberapa tempat!"
Bi Kong Hwesio dan lain-lain mengangguk. Mereka sebenarnya ingin keluar. Perintah ini agak merendahkan derajat mereka sebagai ketua-ketua partai. Namun, karena mereka adalah tamu dan betapa pun telah memasuki wilayah Bukit Malaikat, maka Bi Kong dan temannya mencari tempat pengintaian dan menempelkan muka. Sebelumnya mereka saling pandang, dan Ciu Sek serta Yang Te Cinjin memberi isyarat. Agaknya ketidakpuasan dua ketua Hong San dan Liong San ini tak dapat disembunyikan. Tapi karena Bi Kong mengedip dan ketua Siu-lim ini menyuruh sabar, maka dua ketua itu mengangguk dan mengintai, kebetulan mendapat celah paling jelas dan posisi paling menguntungkan.
Dan begitu mereka mengintai melihat ke depan, tiba-tiba keduanya berseru tertahan dan melotot. Apa yang dilihat? Tak ada apa-apa! Di situ hanya tampak sebuah tempat datar yang sekelilingnya penuh pohon, jadi semacam lapangan kecil berbentuk lingkaran. Tempat itu kosong, tetapi bentakan atau geraman terdengar di sini, bahkan gedrukan-gedrukan itu pun terdengar di sini. Suaranya menggetarkan gua bawah tanah, dan siapa yang tak menempel erat-erat di dinding pengintai barangkali akan jatuh seperti cecak diketapel. Menyeramkan sekali!
Dan ketika yang lain-lain juga terbelalak dan keheranan karena tempat itu kosong, maka Kim-mou-eng tiba-tiba berseru.
"Kerahkan tenaga batin, jangan melihat dengan mata biasa!"
Orang-orang terkejut. Mereka baru sadar bahwa yang mereka hadapi ini adalah tokoh-tokoh tak lumrah manusia. Hek-bong Siauwjin dan teman-temannya itu adalah iblis-iblis yang berkepandaian luar biasa. Maka begitu mereka mengerahkan tenaga batin dan mata telanjang mulai menembus disertai kekuatan dalam, tiba-tiba mereka tertegun melihat apa yang ada.
Sekarang tampaklah itu. Tiga pasang kakek-nenek, bukan empat melainkan enam. Dan Kim-mou-eng yang terkejut serta kaget melihat dua nenek baru di rombongan iblis ini mendadak berseru tertahan.
"Sepasang Dewi Naga!"
Yang Te Cinjin dan lain-lain tersentak.
"Sepasang Dewi Naga, Taihiap?"
"Ya, dua nenek itu ternyata telah bergabung dengan iblis-iblis ini, Totiang. Pantas kalau mereka berani lagi datang dan menantang Suhu!"
"Diakah yang menculik anakmu?" Swat Lian tiba-tiba bertanya, terkejut.
"Ya, tapi... ah!" Dan Kim-mou-eng yang hampir melompat keluar, tetapi ingat pesan gurunya, tiba-tiba menggigit bibir dan sudah dicengkeram lembut jari-jari halus yang digetarkan Swat Lian.
"Twako, aku turut berduka oleh musibah yang menimpamu. Tenanglah, aku pasti membantu."
Dua pasang mata beradu pandang. Swat Lian segera menunduk ketika sepasang mata Pendekar Rambut Emas bergetar penuh perasaan. Kim-mou-eng tiba-tiba balas mencengkeram dan bertanya dari mana gadis itu tahu.