Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 36

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 36

Dan ketika Swat Lian berbisik bahwa dia baru saja ke tempat pendekar itu tetapi Kim Mou Eng tidak ada, Pendekar Rambut Emas tertegun menatap heran.

"Kau ke suku bangsa Tartar?"

"Ya, dua hari yang lalu, Twako."

"Untuk apa?"

"Mencari dirimu."

"Ya, aku tahu. Tapi untuk apa?"

"Disuruh Ayah, Twako. Menebus kekalahannya dua tahun yang lalu dan mengajakmu bertanding!"

Kim Mou Eng tersentak. Tiba-tiba dia teringat akan rasa penasaran jago pedang itu; Hu Beng Kui merasa tidak puas dan ingin menebus kekalahannya. Benar, kini dia mengutus putrinya, dan Kim Mou Eng tertegun. Namun, karena saat itu mereka tidak dapat berbicara banyak, ditambah lagi Bi Kong Hwesio serta yang lainnya juga berada di situ, Kim Mou Eng segera melepaskan pegangannya ketika mendengar Yang Te Cinjio terbatuk-batuk.

"Maaf," Pendekar ini memerah mukanya. "Aku sedang kalut, Swat Lian. Biarlah lain kali kita bicara lagi."

Setelah melepaskan gadis itu, Pendekar Rambut Emas dan yang lainnya kembali memperhatikan suasana di atas. Mereka melihat nenek Dewi Naga bersiap-siap, sementara Hek Bong Siauwjin dan yang lainnya berteriak-teriak. Baru tahulah semua orang bahwa tokoh-tokoh luar biasa dari dunia hitam ini rata-rata melindungi diri dengan semacam uap hitam sehingga masing-masing tidak akan terlihat oleh mata biasa. Itulah semacam kekuatan sakti yang mirip dengan ilmu menghilang.

Hek Bong Siauwjin tampak paling pendek di antara semuanya, sementara Cam Kong tampak paling jangkung. Tok Ong adalah yang paling tinggi besar dan menyeramkan; iblis inilah yang menghentak-hentakkan kakinya hingga bumi bergetar seakan dilanda gempa. Saat mereka semua memperhatikan keenam tokoh sesat itu mengitari lapangan sambil memanggil-manggil Sian Su, mendadak muncullah kakek dewa itu seolah keluar dari dalam bumi. Dia muncul tertutup halimun putih sementara wajahnya tidak kelihatan.

"Hm, aku sejak tadi di sini, Siauwjin. Tidak terlihatkah oleh kalian?"

Keenam tokoh itu kaget. Bi Kong Hwesio dan teman-temannya juga terkesiap. Mereka tidak melihat dari mana Bu Beng Sian Su muncul, dan tahu-tahu kakek dewa itu telah bersila tenang di tengah-tengah kepungan lawannya. Begitu tenang dan agung!

Saat mereka terbelalak—dan itu adalah pertama kalinya Bi Kong dan yang lainnya melihat Bu Beng Sian Su—Hek Bong Siauwjin dan teman-temannya membentak.

"Sian Su, kau kakek tua tidak tahu aturan! Kenapa hendak menyerahkan Cermin Naga kepada orang lain? Berikan kepada kami, atau kau kami bunuh!"

"Benar, dan aku akan menggeragoti jantungmu, kakek keparat! Berikan, atau kau selamat namun Cermin Naga menjadi milikku!"

"Tidak, cermin itu menjadi milik bersama, Tok Ong. Jangan serakah dan tak tahu diri!"

"Hm...!" Bu Beng Sian Su, kakek di tengah lingkaran itu, tiba-tiba bangkit berdiri. "Kalian semua amat beringas dan haus darah, Tok Ong. Kenapa begitu keji dan garang? Cermin Naga memang akan kukeluarkan, tapi bukan diminta dengan paksa."

"Berikan padaku!"

"Tidak, padaku, Sian Su! Atau..."

"Ha-ha, kakek ini tidak mungkin memberikannya kepada kita, Dewi Api. Lebih baik serang dan bunuh dia!" Siauwjin, si Manusia Busuk Dari Kubur, tiba-tiba menukas. Dia langsung berkelebat dan menyelinap di bawah selangkangan kakek dewa itu. Dengan ganas dan keji dia merenggut bagian bawah kakek itu; kebiasaannya yang mengerikan dengan mencomot anggota rahasia ternyata tidak segan-segan dilakukannya kepada kakek dewa itu.

Tapi ketika tangannya merogoh dan kakek itu membiarkannya, sekonyong-konyong iblis ini menjerit karena tempat itu kosong dan jarinya menyentuh benda panas yang membakar lengannya seperti api.

"Aduh, keparat...!" Hek Bong Siauwjin terguling-guling. Dia kaget dan marah, heran tapi juga gentar. Saat iblis itu melompat bangun dan yang lain terbelalak melihat kejadian itu, Tok Ong dan nenek Dewi Api melejit ke depan.

"Sian Su, mana Cermin Naga itu?"

"Kau tidak memberikannya kepada kami?"

"Hm," kakek dewa itu bersikap tenang. "Hawa dan nafsu jahat mengotori kalian, Dewi Api. Kalian semakin tersesat. Cermin Naga akan kulempar, siapa yang mendapatkannya, dialah yang beruntung."

"Tidak, orang lain tidak boleh mendapatkannya, kakek keparat! Serahkan pada kami atau kau kubunuh!"

"Benar, dan kau juga berutang sesuatu, kakek busuk. Kau merusak wajah kami berdua!" Sepasang Dewi Naga, Bi Kim dan Bi Lin, membentak. Mereka biasanya jerih jika harus menghadapi lawan hanya berdua, namun kini mereka berani karena ada banyak teman, berjumlah enam orang.

Karena Hek Bong Siauwjin dan kawan-kawannya merasa lebih kuat dengan bantuan Sepasang Dewi Naga, Tok Ong menggeram dan menghentakkan kakinya. "Bu Beng Sian Su, kau masih tidak ingin mengeluarkan cerminmu?"

Bu Beng Sian Su sekonyong-konyong tersenyum. Sepasang sorot cahaya tiba-tiba keluar dari matanya. Bi Kong Hwesio dan yang lainnya terkejut karena mendadak merasa silau. Meski telah mengerahkan tenaga batin, mereka tetap tidak kuat dan terkesiap kaget. Mata mereka tiba-tiba terpejam dan air mata mengalir pedih. Mereka tidak kuat beradu pandang dengan sorot yang amat tajam itu.

Ketika mereka menutup mata, sekonyong-konyong terdengar pukulan dahsyat saat Tok Ong menerjang, disusul bentakan yang lain dan bunyi berdering dari lengan kakek dewa itu. Kim Mou Eng dan Swat Lian yang tidak memandang langsung sorot mata sakti itu selamat. Mereka melihat kakek dewa itu mengeluarkan sepasang cermin. Begitu melihatnya, Tok Ong langsung menubruk. Kakek tinggi besar ini menerkam seperti singa haus darah, mencoba merebut cermin itu. Namun, karena teman-temannya yang lain juga bermaksud sama, mereka pun melengking dan berkelebat ke depan. Enam orang itu serentak merebut dan menyerang.

"Berikan padaku...!"

"Tidak, aku saja!"

Keenam orang itu berkelebat bersama untuk merebut dan menghantam kakek dewa tersebut. Pukulan mereka sangat cepat dan dahsyat, tetapi Bu Beng Sian Su masih berdiri tegak. Kakek itu seolah tidak tahu bahaya atau sengaja menerima serangan tersebut. Kim Mou Eng sampai terkesiap. Namun, karena Bu Beng Sian Su adalah kakek mahasakti, ketika semua serangan itu datang, tiba-tiba kakek ini meniup dan... enam orang itu justru saling berhantam sendiri. Tubuh Bu Beng Sian Su seolah tembus saat dipukul, membuat Hek Bong Siauwjin dan kawan-kawannya terpekik kaget.

"Heii... plak, dess!"

Tok Ong dan lima temannya terjungkal. Tadi mereka merasa telah menghantam tubuh lawan, entah kenapa tiba-tiba pukulan itu tembus dan kosong. Kakek itu seperti roh halus saja, membuat mereka berenam menjerit. Namun, karena mereka juga orang-orang luar biasa, Hek Bong Siauwjin segera membentak dan meloncat bangun. Iblis cebol ini dan kelima temannya kembali menyerang dan berkelebat lagi.

Tamparan atau pukulan mereka membuat pohon di sekitar berderak roboh dan bumi bergetar. Bi Kong Hwesio serta yang lainnya yang berada di dalam gua terpelanting; sungguh hebat kekuatannya! Ketika ketua Siauw-lim itu dan kawan-kawannya berteriak tertahan dan melompat terhuyung, di luar terdengar ledakan dan dentuman dahsyat. Mereka melihat, tetapi yang tampak hanyalah bayang-bayang yang kabur. Pandangan dikerahkan, tetapi tetap saja mata tidak mampu melihat dengan jelas. Hek Bong Siauwjin dan kawan-kawannya hanya berupa bayangan yang berseliweran dan berubah-ubah seperti bayangan iblis, sungguh mengejutkan.

Ketika mereka mencoba mempertajam pandangan, kepala mereka tiba-tiba pening, dan mendadak Bi Kong Hwesio serta teman-temannya ambruk!

"Jangan melihat pertempuran itu! Semua bersila...!" Kim Mou Eng berseru kaget melihat semua yang ada di sana, kecuali dia dan Swat Lian, satu per satu roboh terguling. Bayangan yang tidak dapat diikuti itu membuat kepala berputar, bahkan para ketua partai persilatan terkenal itu pun roboh.

Kim Mou Eng sendiri cepat memejamkan mata dan duduk bersila. Dengan cara inilah dia "melihat" jalannya pertandingan. Di luar terdengar dentuman dan gemuruh bagai hutan yang diamuk hantu. Orang tidak melihat betapa Bu Beng Sian Su tiba-tiba berubah menjadi enam; masing-masing Bu Beng Sian Su menghadapi seorang lawan. Hek Bong Siauwjin dan kawan-kawannya terpekik, tentu saja mereka kaget dan gentar. Ini adalah ilmu siluman, padahal mereka sendiri merasa sebagai siluman!

Ketika hantaman atau pukulan meledak di tempat itu, orang-orang di bawah bukit melihat kilatan cahaya atau api yang menyambar-nyambar di puncak, membuat mereka tercengang dan bengong.

"Iblis! Yang bertempur itu benar-benar bukan manusia...!"

"Ya, dan Bu Beng Sian Su hanya tampak sebagai bayangan putih, Kawan-kawan. Yang hitam dan berkelebat itu tentu Tok Ong dan teman-temannya!"

"Aih, hebat. Aku belum pernah melihat pertandingan macam begini. Luar biasa, aku... hei...!"

Orang di bawah bukit tiba-tiba berteriak. Di puncak terdengar bentakan dan suara gemuruh; api dan petir sekonyong-konyong meledak. Awan hitam bagai mendung tiba-tiba memenuhi puncak, datang berkumpul dari mana-mana hingga akhirnya Bukit Malaikat menjadi gelap gulita.

Ketika orang-orang di bawah ternganga dan tidak tahu apa yang terjadi, sekonyong-konyong hujan api dan petir menyambar ke bawah, disusul derak tanah yang membuat bumi bergoyang. Hek Bong Siauwjin dan teman-temannya telah mengerahkan ilmu hitam; iblis dan siluman dipanggil untuk membantu mereka. Di tengah pekikan orang-orang, batu-batu besar meluncur turun dan pohon-pohon tumbang, disusul oleh hujan deras!

"Awas, air bah! Menyingkir...!"

Orang-orang itu panik. Seakan berada dalam mimpi buruk, semuanya berlarian mencari selamat. Saat mereka berlindung dari hujan dan batu yang seolah ditumpahkan dari langit, mendadak dari puncak Bukit Malaikat yang gelap gulita muncul sepasang sinar terang yang berkilauan mengatasi segalanya. Sinar itu mendesing dan berputar, dibarengi dengan gerengan serta teriakan marah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment