Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 37

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 37

Sepasang benda yang berputar-putar di atas bukit ini melesat.

Lalu, ketika orang di bawah melongo dan bengong, mendadak sepasang benda itu meluncur dan terbang ke utara dan selatan.

"Sepasang Cermin Naga, kejar...!" Orang tak tahu siapa yang berseru itu.

Mereka seakan terpaku, tapi tiba-tiba kaget, berjengit, dan semuanya lari ke arah benda terbang itu.

Ratusan orang kang-ouw melesat dan memburu.

Cermin Naga sudah keluar, terlempar dari puncak Bukit Malaikat.

Dan ketika semua orang berlarian dan saling mendahului, maka di puncak terdengar pekik dan kilatan halilintar.

"Sian-su. Kau kakek keparat. Jahanam...! Kejar, Cermin Naga itu harus kita dapatkan...!" Orang tak tahu apa yang terjadi.

Di puncak Bukit Malaikat terdengar dentuman dahsyat, suaranya begitu menggelegar, dan langit serta bukit seakan ambruk.

Orang di bawah yang sedang berlarian mendadak terguling. Mereka tadi merasa tanah bergoyang dan berderak, puluhan di antaranya seketika roboh berbareng.

Bukan main dahsyatnya pengaruh getaran yang berasal dari puncak itu.

Dan ketika mereka berteriak kaget, dan cermin yang mereka kejar itu masih mendesing di udara dan melesat ke utara dan selatan, maka di Bukit Malaikat yang gelap gulita terdengar keluhan dan bantingan tubuh disertai erangan dan umpatan.

"Aduh...!" "Bangsat...!" Orang juga tak tahu apa yang terjadi.

Di atas sana hanya terdengar rintihan itu. Cermin Naga melayang-layang di udara dan meneruskan perjalanannya.

Aneh bin ajaib, cermin itu tidak segera jatuh dan meluncur kian jauh dengan masing-masing berlawanan arah, tetap ke utara dan selatan.

Dan ketika orang-orang yang roboh terguling terlompatan bangun dan terhuyung memandang cermin itu, maka di puncak terlihat enam bayangan yang melarikan diri dan meluncur ke bawah.

"Kejar Cermin Naga, dapatkan itu...!" Orang di bawah bengong.

Mereka hanya melihat enam bayangan meluncur ke bawah bukit, diiring umpatan dan makian, juga rintihan.

Dan ketika enam bayangan itu tiba di bawah dan tiba-tiba memecah menjadi dua, mendadak tiga di antaranya melesat ke utara, sementara yang tiga lagi melesat ke selatan, mengejar Cermin Naga!

"Ah, mereka mendahului. Habis harapan kita...!" Seorang di antara orang-orang di bawah berteriak, seruannya mengandung kecewa dan putus asa.

Yang lain mengangguk dan bengong bagai mimpi saja.

Tapi seorang lainnya yang rupanya berpendapat lain dan masih melihat sepasang cermin itu melayang-layang di udara, mendadak melompat dan berseru.

"Tidak, Cermin Naga tak segera jatuh. Ayo, kita ikuti dan kejar...!" Dan mendahului yang lain dan bersemangat tinggi, tiba-tiba orang ini sudah mengejar ke depan, ke utara. Yang selatan tak dihiraukan karena betapa pun dia memang harus memilih satu di antara dua.

Yang lain-lain terkejut tapi bangkit semangatnya.

Dan ketika orang itu sudah mendahului dan puncak Bukit Malaikat mulai terang, maka yang lain-lain pun segera mengejar dan berteriak. Rombongan mendadak menjadi dua dan orang-orang kang-ouw ini pun mengejar Cermin Naga.

Yang merasa lebih dekat dengan selatan mengejar cermin kedua itu, memburu, sementara yang sudah berlari ke utara juga mengejar cermin pertama.

Orang-orang itu tiba-tiba pecah dan masing-masing sudah melaksanakan keinginannya sendiri-sendiri.

Dan ketika semua mengejar Cermin Naga dan puncak Bukit Malaikat terang kembali, maka aneh bin ajaib suara-suara, gemuruh, dan halilintar itu pun lenyap. Tak ada lagi hujan atau pun api!

"Siancai, ini bagai mimpi...!" Yang Te Cin Jin, ketua Hong-san-pai, berseru takjub.

Dia tadi bersama kawan-kawannya berkutat melawan pengaruh di atas bukit yang begitu dahsyat. Duduk bersila, namun dua di antara mereka terguling, yakni wakil atau sute dari Swan Cong To Jin, ketua Kun Lun, dan wakil atau sute dari ketua Go Bong, adik perguruan Kwi Hiang Hosiang.

Dari sini dapat dibuktikan betapa dahsyat pertempuran di atas puncak Bukit Malaikat itu. Semuanya gemetaran dan menggigil.

Hampir saja mereka tak kuat bertahan lagi. Hanya Kim Mou-eng serta Swat Lian saja yang dapat sedikit lebih tenang, meski pun keduanya juga berkeringat dan mengerahkan seluruh kekuatan batin untuk melawan.

Suara gemuruh dan ledakan petir di atas sana terlalu hebat, begitu hebat hingga mungkin Yang Te Cin Jin dan lain-lainnya itu akan pingsan kalau pertempuran tidak segera berhenti.

Bu-beng Sian-su rupanya berhasil mengalahkan lawan-lawannya itu. Hek Bong Siauw Jin dan kawan-kawan terbanting roboh ketika semua pukulan mereka membalik atau "menembus" Kakek dewa itu.

Yang dihadapi seakan bukan jasad kasar, melainkan roh!

Dan karena Bu-beng Sian-su sendiri memecah dirinya menjadi enam, dan semua pukulan membalik atau menembus sia-sia, maka enam iblis itu menjadi keder dan gentar, akhirnya tunggang-langgang dan memaki-maki kakek dewa itu.

Bu-beng Sian-su benar-benar kakek dewa maha sakti, begitu sakti hingga dikeroyok enam tetap saja mereka kalah. Padahal mereka adalah tokoh-tokoh luar biasa yang ada pada zaman itu.

Dan ketika Cermin Naga mencelat dan terlempar dari atas bukit ketika pertempuran berlangsung, maka akhirnya enam iblis itu melarikan diri dan mengejar sepasang cermin yang anehnya terbang berlawanan arah itu, satu ke utara, sedang yang lain ke selatan.

Dan karena cermin itu berisi ilmu pamungkas untuk "menundukkan" ilmu mereka, maka Hek- Bong Siauw Jin dan lima kawannya mengejar dan tak aneh kalau mereka mati-matian menghendaki cermin itu dan meninggalkan lawan yang tak dapat mereka kalahkan!

"Omitohud, pinceng juga takjub...!" Bi Kong Hwesio, yang kini bangkit berdiri dan agak terhuyung, juga berseru.

Setelah tadi Yang Te Cin Jin mengucapkan seruan dan mereka semua mengangguk, memang masing-masing harus mengakui itu.

Apa yang dilihat dan didengar adalah suatu kejadian menakjubkan yang belum tentu seratus tahun sekali disaksikan. Itu mimpi luar biasa bagi mereka.

Dan ketika Kwi Hiang Hosiang dan Swan Cong To Jin selesai menolong sute mereka dan dua orang itu berdiri limbung, maka Kim-Mou-eng melompat bangun berseru perlahan.

"Kita keluar, sekarang aman...!"

Namun angin berkesiur lembut.

Sesosok bayangan menembus celah dinding, begitu luar biasa dan mengagetkan.

Dan ketika orang-orang terbelalak dan tersentak, nyatalah Bu-beng Sian-su, kakek dewa itu, telah berada di depan mereka menggoyang lengannya.

"Tak perlu, biar di sini saja!" Orang-orang terkejut.

Mereka memandang celah yang dilalui kakek dewa ini, tertegun dan terkesiap karena celah itu hanya selebar mata kucing, tak lebih dari seinci.

Dan ketika mereka tertegun dan terkesima, maka kakek dewa ini telah menyuruh mereka duduk.

"Kalian tenang saja, ingin bertemu dengan aku bukan? Nah, kalian boleh bicara. Bi Kong loo-suhu. Atau Yang Te totiang ini juga boleh mendahului."

"Ahh!" Dan dua ketua itu yang tiba-tiba terhenyak dan melipat tubuh dalam-dalam, tiba-tiba merasa didahului dan kaget, cepat-cepat memberi hormat.

"Sian-su, maafkan pinceng. Kiranya kau pun telah mengetahui apa yang ada di hati pinceng."

"Ya, dan pintuh telah melihat semuanya di puncak bukit, Sian-su. Sungguh kepandaian pintuh dan kawan-kawan terasa rendah sekali dibandingkan kesaktianmu!"

"Ah, kalian tak usah berbasa-basi. Mari, keluarkan apa yang ingin dibicarakan dan boleh tanya apa yang kalian suka."

"Omitohud...!" Bi Kong Hwesio bersinar-sinar.

"Kalau begitu pinceng ingin mendahului, Sian-su. Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Cermin Naga itu kau lepaskan!"

"Ya, dan pintuh juga ingin bertanya kenapa kau melepaskan pula enam iblis itu, Sian-su. Bukankah mereka dapat kau bunuh dan habisi!"

"Hm, kau Bi Kong lo suhu, dan kau pula Yang Te Cin Jin. Apa yang terjadi adalah takdir dan tak seorang pun dapat mengubah semuanya itu. Hek Bong Siauw Jin dan kawan-kawan adalah manusia, mati hidup bukanlah di tangan manusia lainnya pula....."

"Tapi kau dewa, kau bukan manusia biasa!" Yang Te Cin Jin memotong.

"Hm," Kakek ini tersenyum lebar. "Apa yang kau katakan tak perlu kujawab, Cin Jin. Tapi dewa pun tak berhak mencabut nyawa manusia. Aku datang bukan untuk membunuh atau menghabisi, melainkan menyadarkan dan membantu manusia lainnya."

"Baiklah, kalau begitu bagaimana pertanyaan ku tadi, kejadian tadi, Sian-su? Apa yang sebenarnya dan kenapa kau lepaskan Cermin Naga itu? Betulkah cermin itu sakti dan dapat menahan sepak terjang orang-orang sesat?" Bi Kong Hwesio bertanya, mengajak yang lain memusatkan dulu konsentrasi ke sini, dan Yang Te Cin Jin pun sadar.

Memang saat itu pertanyaan Bi Kong Hwesio belum dijawab, sebagai orang kedua dia harus menunggu giliran.

Dan ketika Bu-beng Sian-su tertawa dan mengebutkan lengannya, maka kakek ini bersila, tapi anehnya tak sedikit pun kakinya menyentuh lantai, mengambang!

"Bi Kong lo-suhu, dan kau Yang Te totiang, sebaiknya kalian dengar apa yang akan ku katakan ini. Cermin Naga berisi tentang sesuatu yang hidup yang ada di permukaan hidup ini. Dan karena cermin itu berkaitan erat dengan orang atau seseorang, maka cermin itu sesungguhnya bukan barang yang terlampau istimewa meski pun barangkali benar menyimpan beberapa ilmu silat tinggi, bagi yang mengerti dan mampu memahaminya."

"Pinceng tak mengerti," Bi Kong Hwesio mengernyitkan kening. "Apakah Cermin Naga itu barang biasa saja, Sian-su?"

"Biasa atau luar biasa tergantung dari yang menerima, lo-suhu. Pendapat atau daya terima seseorang berlainan antara yang satu dan yang lain."

"Pinceng masih bingung, dapatkah kau terangkan lebih jelas? Lo-suhu," Kakek dewa itu tertawa.

"Yang jelas Cermin Naga itu menyimpan sebuah syair akan kehidupan. Syair, inilah yang penting dan perlu disadari. Tapi karena benda itu telah terbang jauh dari sini, maka percuma juga ku terangkan kepada kalian. Hanya tak lama lagi akan muncul gelombang di dua golongan. Satu golongan dunia kang-ouw, dan yang lainnya adalah golongan orang biasa."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment