Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 38

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 38

Dan inilah yang menjadi inti dari semua kejadian yang telah lewat maupun yang akan datang." Bi Kong Hwesio jadi kebingungan.

"Pinceng tidak paham," katanya gugup.

"Pinceng merasa bebal!" "Ya, dan pinto juga, Lo Suhu. Apa yang dikatakan Sian-su, pinto pun tidak mengerti!" Yang Te Cinjin berseru.

"Hmm, bagaimana mengerti kalau kejadiannya belum terbuka?" Bu-beng Sian-su tersenyum.

"Mengerti apa yang belum dimengerti memang tidak mungkin, Cinjin. Tapi kuberitahukan saja pada kalian bahwa di dunia kangouw akan terjadi ketidakadilan."

"Ketidakadilan tentang apa?"

"Yah, tentang banyak hal, Cinjin. Termasuk kalian barangkali juga akan melakukan hal yang sama!"

"Pinto juga melakukan ketidakadilan?"

"Ha-ha, semua orang bisa melakukan itu, Cinjin. Tidak perlu kaget. Maka menyadari dan mengerti akan hal ini adalah sebuah perubahan mendasar!" Yang Te Cinjin pucat. Tiba-tiba dia seakan ditodong sebuah persoalan tajam oleh kakek dewa itu, tidak mengerti namun tergetar oleh ucapan kata-kata itu.

"Sian-su, dapatkah kau jelaskan kepada kami apa yang sesungguhnya kau maksudkan? Kenapa pula Hek-bong Siauwjin dan teman-temannya itu datang?"

"Mereka datang karena ingin membalas dendam, Cinjin. Dan menjelaskan apa yang sesungguhnya kumaksudkan juga tidak mungkin, waktunya belum tiba."

"Bagaimana ini?"

"Begini saja, kalian pulang dan kembali ke tempat masing-masing. Lihat dan dengarkan apa yang terjadi. Jika saatnya tiba dan kalian mengingat pesanku, kalian boleh datang ke sini dan mendengar apa yang tersembunyi."

"Tapi kau belum menjawab tuntas pertanyaan pinceng!" Bi Kong Hwesio tiba-tiba berseru. "Kau tidak menjawab apakah Cermin Naga benar dapat menahan sepak terjang orang-orang jahat atau tidak, Sian-su. Masakan kita semua harus pulang?"

"Hm," Kakek itu bersinar-sinar. "Menahan sepak terjang orang jahat atau tidak bukanlah masalah mendasar, Lo Suhu. Yang penting adalah kita masing-masing harus mampu menahan sepak terjang sendiri, yang tidak baik, yang tidak sehat!"

"Jadi cermin itu tidak membawa faedah? Salahkah pendengaran pinceng bahwa Cermin Naga akan mampu meningkatkan kesadaran seseorang dan menahan sepak terjang orang jahat?"

"Meningkatkan kesadaran seseorang barangkali betul, Lo Suhu, tapi barangkali juga tidak. Telah kusebutkan di atas bahwa daya tangkap atau daya terima seseorang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Itu semua tergantung dari masing-masing individu. Dan kalau cermin itu mampu menahan sepak terjang orang jahat, maka ini pun tergantung kalian sendiri!"

"Bagaimana ini?" Bi Kong Hwesio berkeringat. "Pinceng tidak puas, Sian-su. Jawabanmu kabur!"

"Hm, kabur karena kau belum mengerti, Lo Suhu. Kalau sudah, tentu tidak kabur. Kuulangi lagi, kalian pulang dan lihat saja apa yang akan terjadi. Dunia kangouw dan dunia orang biasa akan mendapat sebuah pelajaran. Cermin Naga akan menjelaskan pada kalian dan kelak kalian akan mengerti."

"Tapi cermin itu katanya berisi syair," Ciu Sek Tosu kini tiba-tiba bicara, teringat akan keistimewaan manusia dewa ini membuka syairnya. "Apakah kami tidak boleh tahu apa isi syair itu, Sian-su?"

"Benar," Swan Cong Tojin tiba-tiba nimbrung, ikut bicara pula. "Kau biasanya memberi wejangan kehidupan dengan syair-syair, Sian-su. Apakah pinto juga tidak boleh tahu dan melihat?"

"Kalian serius?"

"Tentu saja. Kami telah mendengar keistimewaanmu memberi nasihat, Sian-su. Daripada pulang tidak membawa apa-apa, lebih baik beri kami sedikit pengetahuan dan kami renungkan di rumah!"

"Baiklah, kalau begitu simpan ini sebagai bekal, Swan Cong Totiang. Barangkali ada gunanya, dan lihat serta dengarlah baik-baik," Bu-beng Sian-su tertawa, menjelaskan bahwa sesuatu yang berhubungan erat dengan "keadilan" akan dan sedang terjadi.

Kakek dewa itu tidak memberi tahu banyak dan tiba-tiba tangannya bergerak ke belakang. Dan ketika jari-jari menggurat dan sekejap kemudian kakek itu menghentikan gerakannya, maka di dinding gua, tepat di belakang kakek dewa ini, muncul sebuah syair yang terdiri dari tiga bait:

Angkat kepala, busungkan dada,

Acungkan tinju, pekikkan kata,

Tuntut sesuatu demi sesama,

Itulah pahlawan harapan kita!

Air beriak di tengah telaga,

Berguncang lembut membuai sukma,

Jebak-menjebak membodohi kita,

Pudarlah pahlawan harapan jaya!

Adil-tak adil permainan belaka,

Jujur seiring, itulah surga.

Terpeleset jua si manusia loba,

Rusaklah sudah, hancur semua!

"Nah, kalian mengerti?" Kakek itu tertawa.

"Tidak," Swan Cong menggeleng. "Pinto tidak mengerti akan apa yang kau tulis, Sian-su. Maksud pinto, ini sukar dan tidak tertangkap inti sarinya."

"Sudah kubilang kalian tidak mengerti karena belum terjadi, Totiang. Kenapa bersikeras memaksa diri? Inti syair ini bicara tentang keadilan. Lebih baik kalian pulang dan ingat saja baik-baik. Kalian pun suatu ketika akan mengalami dan mengerti hal itu."

"Hm!" Bi Kong Hwesio berkedip-kedip. "Apakah Sian-su hendak maksudkan bahwa kejadian itu akan terjadi dan berhubungan dengan Cermin Naga?"

"Ya."

"Padahal Cermin Naga ada dua, lalu cermin yang manakah yang ada kaitannya?"

"Dua-duanya berkait, Bi Kong Lo Suhu. Dan dua-duanya berhubungan satu dengan yang lainnya!"

"Manakah yang lebih penting?"

"Tidak ada yang lebih penting, dua-duanya sama penting!"

"Hm, kalau begitu coba sebutkan keadilan apa yang hendak kau maksudkan di sini. Bersifat perorangan ataukah umum, hanya perlu untuk satu dua orang ataukah semuanya!"

"Ha-ha, bersifat umum, Lo Suhu. Untuk semuanya!"

"Begitukah?"

"Ya!"

"Dan kami semua akan membuktikan?"

"Ya, kalian semua akan membuktikan, Lo Suhu. Dan lihat apa yang terjadi!" Bu-beng Sian-su tiba-tiba menoleh pada Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas. "Kim-mou-eng, kau akan menjadi saksi pertama untuk cermin yang melayang di utara. Dan kau, Nona...." Dia menuding Swat Lian. "Kau saksi pertama untuk cermin yang melayang di selatan. Nah, kalian semua sudah mendengar. Kukira cukup, dan marilah kita kerjakan pekerjaan masing-masing......."

"Wuss!" Dan Bu-beng Sian-su yang tidak tampak bergerak tapi menghilang dari situ mendadak sudah lenyap dan keluar melalui celah dinding tempat ia pertama kali masuk, menghilang dan tidak diketahui ke mana perginya. Kim-mou-eng berteriak.

Pendekar ini terkejut melihat gurunya pergi, begitu tiba-tiba. Dan ketika ia melompat bangun dan memburu ke luar, ternyata gurunya yang maha sakti itu sudah tidak ada dan entah ke mana.

"Suhu, bagaimana dengan urusan teecu? Bagaimana dengan putra teecu?" Tidak ada jawaban. Bu-beng Sian-su lenyap cepat dan seperti iblis, semuanya terjadi begitu tidak diduga. Dan ketika Bi Kong Hwesio dan lain-lain melompat keluar dan berada di belakang pendekar ini, maka hwesio ketua Siu-lim itu merangkapkan kedua lengannya.

"Amitābha, kepandaian Sian-su benar-benar menakjubkan. Sungguh bagaikan dewa!"

"Ya, dan pinto juga kagum, Lo Suhu. Semoga pertemuan hari ini membawa manfaat. Siancai...!" Yang Te Cinjin, ketua Hong San, juga berseru.

Mereka semua seperti kehilangan sesuatu dan mimpi. Kakek maha sakti itu datang dan pergi tidak dapat mereka ikuti, padahal mereka rata-rata adalah ketua partai persilatan terkenal. Dan ketika hari itu semua orang menyatakan kagum dan syair di dalam gua diingat-ingat, akhirnya Bi Kong Hwesio dan lain-lain pamit, meninggalkan tempat itu, dan tinggallah Kim-mou-eng bersama Swat Lian.

Dua orang itu saling pandang, dan Swat Lian menunduk; tatapan tajam dari Pendekar Rambut Emas membuat gadis itu berdebar. Tapi ketika Kim-mou-eng memegang lengannya dan Swat Lian menengadah, maka gadis ini gemetar mendengar kata-kata lembut, "Lian-moi, kukira kita masing-masing tidak dapat lama berkumpul. Aku akan mencari anakku, sedang kau tentu mencari suhengmu. Begitu, bukan?"

"Ya."

"Dan maaf aku tidak dapat memenuhi keinginan ayahmu, Lian-moi. Sampaikan saja penyesalanku dan biar lain kali kucoba ilmu pedangmu. Tampaknya kau memiliki kemajuan pesat, daya tahan dan sinkangmu sudah setingkat dengan yang kupunyai!"

"Dari mana kau tahu?"

"Kejadian di dalam gua tadi, Lian-moi. Bukankah kau dapat bertahan sementara yang lain hampir roboh? Hm, kau hebat. Kepandaianmu sekarang agaknya sudah melebihi mendiang kakakmu dulu."

"Kim-twako," Swat Lian terisak. "Jangan sebut-sebut lagi mendiang kakakku. Aku menyesal atas kematiannya. Sudahlah, kau pergi dan biar sementara kutunda keinginanku untuk melaksanakan pesan ayah."

"Terima kasih, dan kita masing-masing dinyatakan sebagai orang yang akan menjadi saksi utama dari kebenaran Cermin Naga, Lian-moi. Aku tidak tahu maksud suhuku, tetapi agaknya akan jelas di kemudian hari."

"Ya, dan kau hati-hatilah, Twako. Kudoakan putramu selamat dan kau dapat bertemu lagi." Swat Lian tiba-tiba meremas lengan pendekar itu. Dengan mata terpejam dan air mata menitik, gadis itu menggumamkan sesuatu, tiba-tiba menekan dan meloncat pergi.

Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan terkejut, tahu-tahu gadis itu telah lenyap dan meluncur di bawah Bukit Malaikat.

"Kim-twako, aku akan selalu menunggumu." Kim-mou-eng tergetar. Kata-kata itu mempunyai dua arti, mengandung dua makna. Menunggu untuk bertanding ataukah menunggu untuk menumpahkan rindu dan kecewa. Kim-mou-eng tersentak karena betapapun ia tahu apa yang terjadi di hati gadis itu.

Swat Lian mencintainya, jauh sebelum ia menikah dengan sumoinya yang sudah tewas. Dan ketika hari itu Swat Lian meninggalkannya dan Kim-mou-eng berdiri mendelong, tiba-tiba pendekar itu pun menggerakkan kaki dan sadar. Sadar bahwa ia harus mencari anaknya, Dailiong. Putranya itu belum diketahui keberadaannya, sementara Nenek Dewi Naga tidak tampak bersama putranya itu. Keparat, dua nenek iblis itu harus dimintai pertanggungjawabannya. Dan karena urusan ini menggelisahkan hatinya dan persoalan Swat Lian tiba-tiba lenyap, mendadak Pendekar Rambut Emas turun bukit dan terbang ke utara. Swat Lian ke selatan, dan gadis itu pun mencari kedua suhengnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment